
Rose: Awasi kediaman kakekku dengan baik. Aku akan membunuh kalian semua jika sampai terjadi sesuatu padanya.
Mata Rose terpejam setelah dia mengirimkan pesan kepada Lorus. Sungguh, hatinya begitu was-was. Tadi, saat Rose sedang berlatih piano, bayangan aneh itu kembali muncul. Awalnya dia tak mau menggubris, Rose tidak ingin berprasangka buruk terhadap sesuatu yang belum tentu terjadi. Tapi karena bayangan itu terus bermunculan, mau tidak mau Rose akhirnya merespon. Dia mencoba berpikir positif kalau ini adalah pertanda yang diberikan oleh Tuhan supaya dirinya tidak terlambat menyelamatkan sang kakek.
"Siapa kalian sebenarnya? Kenapa kalian sampai mengincar nyawa kakekku?" gumam Rose lirih.
Rose menajamkan pendengarannya saat mendengar suara langkah kaki mendekat. Dia yang masih memejamkan mata mencoba untuk berpura-pura sedang tertidur. Rose ingin tahu manusia mana yang ingin bermain-main dengannya.
"Sssttt, pelankan langkah kaki kalian. J*lang ini sedang tertidur, dia bisa terbangun kalau kalian berisik!" omel Grace sambil memelototkan mata ke arah dua temannya. "Emm, karena j*lang ini terlihat begitu nyenyak, bagaimana kalau kita rusak saja wajahnya menggunakan kosmetik yang sudah kadaluwarsa? Aku rasanya sudah sangat muak melihat gadis sundal ini bertingkah sok paling cantik di kampus. Hitung-hitung sebagai balas dendam karena waktu itu dia sudah mempermalukan aku dan juga Mamaku,"
"Kau yakin ingin merusak wajahnya Rose, Grace? Bagaimana kalau dia mengamuk dan melaporkan kita ke pihak kampus? Kita bertiga bisa terkena masalah besar nanti."
Grace berdecak. Sebelum datang ke ruang musik, dia sudah lebih dulu menyuap security yang berjaga di ruang CCTV. Grace tentu tidak bodoh dengan membiarkan jejak kejahatannya di ketahui oleh pihak kampus. Apalagi sekarang ayahnya sudah mencabut segala wewenang yang dimiliki olehnya dan juga ibunya. Jadi dia harus pintar-pintar mencari kesempatan jika ingin mengerjai Rose.
"Kalian tenang saja, aku sudah menyuap bagian keamanan sebelum datang kemari. Jadi kita bertiga aman. Sekarang sebaiknya kalian berdua pergi mencari kosmetik kadaluarsa sebelum j*lang ini bangun. Aku sudah tidak sabar ingin segera melukis di wajahnya!"
Kedua teman Grace mengangguk. Mereka kemudian bergegas keluar dari sana untuk mencari apa yang diinginkan oleh Grace.
Rose yang mengetahui niat jahat Grace hanya tertawa dalam hati. Sekalipun gadis ini adalah adik iparnya, dia akan tetap memberikan sedikit pelajaran. Rose sangat membenci orang-orang yang menindas orang lain menggunakan kekuasaan yang mereka miliki. Andai saja Grace tahu kalau kakaknya adalah suami Rose, gadis ini pasti tidak akan berani mengusiknya. Rose tentu tahu kalau Grace sedikit takut pada Adam.
"Rose-Rose, tamat sudah riwayatmu setelah ini. Beraninya kau mencari panggung di daerah kekuasaanku," gumam Grace sambil memainkan ujung rambut Rose yang tersampir di sisi kepalanya.
"Riwayat siapa yang tamat?"
Grace terkesiap kaget saat Rose tiba-tiba berbicara. Seketika bulu kuduk Grace meremang begitu dia melihat tatapan dingin dari gadis yang kini tengah menatapnya tajam.
"K-kau bukannya sedang tidur?" tanya Grace gugup.
Rose segera menegakkan tubuhnya kemudian melipat tangan di atas perut. Dia hanya diam mengabaikan pertanyaan Grace.
__ADS_1
"Yakk, jangan mengacuhkan aku!" teriak Grace kesal.
"Panti rehabilitasi?"
Seulas senyum samar muncul di bibir Rose saat dia melihat tubuh Grace yang langsung menegang begitu dia menyebutkan kata rehabilitasi. Sebaik apapun Grace menutupi rahasianya, Rose akan tetap tahu. Sebenarnya dari awal Grace menjadi seorang pecandu Rose sudah mengetahuinya. Hanya saja dia memilih untuk abai karena tak mau ikut campur urusan orang lain walaupun Grace sendiri adalah adik iparnya. Juga karena Rose tak ingin Adam tahu kalau diam-diam Lorus dan Resan memperhatikan keluarganya. Bukannya apa, Rose hanya merasa ada yang salah dengan keluarga suaminya itu. Di tambah lagi dengan pengakuan Adam yang menyebut kalau ibu tirinya adalah orang yang cukup sulit. Ini semakin membuat Rose kian penasaran.
"B-bicara apa kau hah? Untuk apa kau menyebut tentang panti rehabilitasi? Aaa, aku tahu. Jangan-jangan kau adalah seorang pecandu. Benar kan?"
Sialan. Kenapa Rose tiba-tiba bisa bicara seperti ini ya? Dia tidak mungkin tahu kan kalau aku adalah seorang pecandu. Dasar brengsek!
"Apa tidak terbalik?" tanya Rose santai.
"Maksudnya?"
Rose menarik nafas pelan. Dia kemudian berdiri, menyambar tasnya kemudian melirik sinis ke arah Grace yang sedang berusaha menutupi kegugupannya.
"Sedalam apapun kau menyimpan bangkai, suatu saat aroma busuknya pasti akan tercium keluar. Dan secerdik apapun kau mencoba menyembunyikan kejahatanmu, pada akhirnya aku akan tahu juga!" ucap Rose sarat akan teguran. "Grace, sebenarnya aku tidak punya masalah apapun denganmu. Tapi kalau kau masih nekad menggangguku, maka jangan salahkan aku kalau rahasiamu bocor di muka umum."
"Kau pecandu."
Satu kata itu sukses membuat wajah Grace memucat. Tubuhnya bahkan seperti tidak bisa di gerakkan saat Rose mendekatkan wajah ke samping telinganya.
"Jika aku membongkar rahasia ini di depan semua orang, apa kau sudah siap menjadi seonggok sampah, Grace?"
Jeda sejenak.
"Reputasi keluargamu pasti akan hancur jika masalah ini sampai terdengar ke telinga para pemburu berita. Mari kita bertaruh. Aku yakin namamu pasti akan langsung di coret dari daftar ahli waris keluarga Clarence jika mereka tahu kalau kau adalah seorang pecandu. Bagaimana, apa kau berani?"
Setelah menggertak sedemikian rupa, Rose dengan santai melenggang pergi dari ruangan tersebut. Tepat di depan pintu, dia berpapasan dengan dua orang gadis yang menjadi teman dekatnya Grace.
__ADS_1
"R-R-Rose...!"
"Kalian itu masih muda. Berhentilah mengkonsumsi barang-barang yang hanya akan merusak masa depan kalian saja. Pikirkan orangtua kalian di rumah, jangan hanya memikirkan kesenangan sesaat!" tegur Rose dingin sebelum akhirnya benar-benar pergi dari sana.
Grace jatuh terduduk di lantai setelah sekian menit tidak bisa bergerak. Kedua kakinya terasa sangat lemas, tubuhnya juga bergetar hebat. Grace tidak menyangka kalau Rose ternyata mengetahui rahasianya. Dalam kekalutannya, Grace mencoba berpikir darimana Rose bisa mengetahui hal tersebut. Karena selama ini tidak ada orang luar yang tahu selain dia dan teman-temannya saja.
"Grace, apa yang terjadi saat kami tidak ada di sini? Kenapa j*lang itu bisa sampai tahu kalau kita adalah pecandu obat-obatan?" tanya salah satu teman Grace sambil membantunya berdiri.
"Seharusnya aku yang bertanya pada kalian. Bukankah kalian bilang hanya kita dan pengedar itu yang tahu tentang hal ini? Lalu bagaimana bisa si j*lang Rose mengetahuinya? Kalian sedang mempermainkan aku ya!" bentak Grace dengan nafas memburu.
"Kau jangan menuduh sembarangan, Grace. Memangnya kami berdua sudah gila apa memberitahu masalah ini pada orang lain, terlebih lagi pada Rose. Kami tidak sebo doh itu, Grace!"
Grace mendengus marah. Dia tidak terima. Ancaman yang tadi di lontarkan oleh Rose benar-benar membuatnya sangat ketakutan. Grace akan benar-benar ditendang oleh ayahnya jika Rose mengungkap semuanya di depan khalayak ramai. Tidak-tidak, Grace tidak boleh membiarkan mimpi buruk itu terjadi. Dia tidak mau hidup sengsara.
"Mulai sekarang sebaiknya kita jangan mencari masalah dulu dengan gadis itu sebelum menemukan kartu as yang bisa kita gunakan untuk mengancam balik. Nasib kita bisa tamat kalau rahasia ini sampai bocor keluar. Paham!" ucap Grace gusar.
"Kau yakin Rose akan tutup mulut?"
Grace terdiam. Dia tentu saja tidak yakin. Tapi untuk saat ini, mengalah adalah cara yang terbaik untuk melindungi diri. Karena sekarang masa depannya dan juga nasib hidup kedua temannya sedang di pertaruhkan.
Awas saja kau, Rose. Cepat atau lambat aku pasti akan menemukan kelemahanmu. Tunggu saja!
๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น
...๐นJangan lupa vote, like, dan comment...
...ya gengss ๐ช๐ช๐ช...
...๐นIg: rifani_nini...
__ADS_1
...๐นFb: Rifani...