
"Uhhh, sakit sekali. Kenapa harus jatuh di saat aku sedang gencar mendekati Cesar sih?" gerutu Gracia yang berjalan sambil berpegangan ke tembok. Dia baru saja keluar dari dalam kamar mandi setelah seharian hanya berbaring di ranjang.
Gara-gara terlalu heboh saat akan melakukan latihan bela diri, Grace sampai terpeleset jatuh hingga membuat bokongnya lebam-lebam. Dan akibat dari kecerobohannya itu hari ini Grace harus rela mendapat kata umpatan yang cukup nyelekit dari mulutnya Cesar. Padahal Grace sempat berharap kalau pria kejam itu akan datang menolong kemudian membawanya pergi ke dokter. Tapi nihil, harapan tetaplah harapan yang hanya akan indah dalam ingatan saja. Karena pada kenyataannya, bukan rasa simpatik ataupun kasihan yang Grace dapat dari Cesar, melainkan kata-kata kejam yang membuatnya merasa menyesal karena telah menghubungi pria jahat itu.
"Awas saja kau, Cesar. Bukan Gracia Clarence namaku jika aku tidak bisa menaklukanmu. Ciih, seenaknya saja ingin memakiku. Kau tahu tidak kalau aku melakukan hal ini demi bisa mendapat perhatian darimu. Tapi dasar kau berhati batu dan bermulut nuklir, bukannya kasihan kau malah mengataiku yang tidak-tidak. Lihat saja nanti. Lihat bagaimana aku akan membuatmu jatuh di bawah pesonaku. Hahahaha!"
Dan begitu Grace selesai bicara, dia di buat sangat kaget oleh kemunculan seseorang. Ekor mata Grace kemudian melirik ke arah pintu yang terbuka. Setelah itu dia menelan ludah.
Astaga, kenapa aku ceroboh sekali sih. Untung yang masuk bukan Cesar. Jika itu dia, aku pasti akan langsung di hajar babak belur olehnya. Aaaaaa....
"Apa bokongmu parah?" tanya Rose seraya menatap lekat ke arah Grace yang terlihat canggung karena ketahuan sedang menggunjingkan Cesar. Rose merasa tergelitik.
"T-tidak, kakak ipar. Hanya sedikit lebam dan juga pegal saja," jawab Grace tergagap. "Em, kapan kau pulang kemari? Bersama Kak Adam tidak?"
"Dia sedang bersama Cesar di ruang tamu. Kenapa? Apa kau berniat mencari perhatian dari Cesar? Hm?"
Gracia rasanya ingin sekali berkamuflase menjadi dinding begitu Rose menyinggung tentang niatannya yang ingin menarik perhatian Cesar. Sungguh, malam ini dia benar-benar sangat sial karena ada orang lain yang mengetahui rencananya. Ingin mengelak itu rasanya tidak mungkin. Di tambah lagi kakak iparnya ini bernama Rose. Sepertinya mustahil untuk bisa menghindar kalau dia sebenarnya memendam rasa untuk pelatih bela dirinya itu.
"Tidak ada yang salah, jadi kau tidak perlu merasa malu padaku. Cesar pria baik, dia juga cukup bertanggung jawab. Aku yakin kau aman di tangannya," ucap Rose sambil berjalan mendekat ke arah Grace. "Kau sudah besar. Wajar kalau kau tertarik pada lawan jenis."
__ADS_1
"Kakak ipar, apa kau akan memberitahu Kak Adam tentang hal ini? Jujur ... aku malu," tanya Gracia memberanikan diri.
"Adam suamiku. Akan tetapi ada batasan di mana aku tidak boleh mengatakan privasi orang lain padanya. Masalah kau yang menyukai Cesar, itu sama sekali tidak ada hubungannya denganku ataupun dengan Adamar. Lakukan saja. Selagi benar, kami pasti akan mendukung," jawab Rose dengan bijak. Dia cukup tahu maksud Gracia bertanya seperti ini padanya.
"Cesar adalah sahabat sekaligus orang kepercayaannya Kak Adam. Aku takut dia marah jika tahu aku menyimpan rasa pada sahabatnya itu!"
"Kalau berani, jangan coba-coba untuk mundur. Akan tetapi jika takut, aku sarankan jangan pernah mencobanya. Kau harus tahu, Gracia. Segala hal yang tidak dilakukan dengan sungguh-sungguh nantinya hanya akan membawa penyesalan yang sangat panjang. Kalau benar kau menyukai Cesar, maka perjuangankanlah rasamu itu. Tapi jika itu hanya rasa yang sekedar lewat saja, sebaiknya kau menjaga jarak. Karena nantinya kedua hal ini akan mendatangkan rasa sakit yang begitu dalam kalau kau tidak pandai-pandai mengendalikan perasaanmu sendiri!" ucap Rose memberikan masukan agar Gracia tidak ragu dengan pilihannya.
Gracia terdiam sejenak. Dia mencoba bertanya pada hatinya apakah benar dia menyukai Cesar atau hanya sekedar iseng saja. Karena di awal Gracia memutuskan untuk menaklukkan Cesar, hal itu di dasari karena keangkuhan Cesar yang terkesan meremehkan perempuan. Gracia marah dan tidak terima, tapi di tengah jalan perasaan Gracia tiba-tiba berbelok. Dia mulai merasa nyaman dengan sikap Cesar dan bahkan berharap lebih darinya meski terkadang kata-kata pria itu membuat Gracia sesak nafas.
Apa ini artinya alu jatuh cinta sungguhan ya? Ah ya ampun, aku jatuh cinta ternyata.
"Nasi goreng jamur?" beo Gracia curiga. "Benar-benar jamur atau jamur yang bernama cabai?"
"Jamur dan juga cabai."
"Haihhh, aku jadi curiga jangan-jangan kau itu sebenarnya ingin makan cabai goreng jamur, bukan nasi goreng jamur. Iya 'kan?"
Rose sedikit tersipu malu saat keinginannya di bongkar dengan begitu jelas oleh Gracia. Sambil terus menelan ludah, Rose akhirnya menganggukkan kepala.
__ADS_1
"Aku ingin makan yang pedas-pedas, Grace."
"Nak 'kan? Aku itu sudah sangat hafal dengan kelakuan calon keponakanku, kakak ipar," sahut Gracia seraya terkekeh lucu. "Ya sudah, kalau begitu aku ganti baju dulu ya. Setelahnya aku baru akan membantumu memasak nasi goreng jamur itu. Oke?"
"Baiklah. Pelan-pelan saja, nanti bokongmu semakin parah."
Grace mengangguk. Sambil berpegangan ke dinding dia berjalan menuju ke lemari pakaian. Grace terus saja tersenyum lucu saat membayangkan ekpresi di wajah Rose ketika ketahuan sedang berbohong. Jujur, itu terlihat sangat menggemaskan.
Sementara itu di ruang tamu, terlihat Adam dan Cesar tengah membicarakan sesuatu yang sangat amat serius. Keduanya saling berbalas kata dengan cepat, juga penuh teori yang hanya di mengerti oleh keduanya saja.
"Aku tidak bisa memilih, Dam. Semua sama beratnya," ucap Cesar seraya mengusap wajahnya.
"Aku tahu. Akan tetapi aku sarankan kau tetap dengan yang sekarang. Waktunya akan segera tiba, dan secepatnya Rose akan mengetahui di mana tempatku berada. Tolong kau pastikan tempat itu sudah menjadi milikku sebelum Rose naik ke tahtaku. Bisa 'kan?" tanya Adam.
"Akan aku usahakan, Dam. Tapi tidak bisa dalam waktu cepat karena tempat itu sangat berbahaya," jawab Cesar. Tugas ini lumayan berat, dan Cesar sudah mengukur besarnya bahaya yang bisa saja dia terima.
"Kau tenang saja, Ces. Aku juga tidak akan mungkin membiarkanmu menantang bahaya sendirian. Apapun yang kau butuhkan, aku akan selalu membantu dari awal hingga akhir. Karena tempat itu akan menjadi tujuan terakhir dari kelompoknya Rose, ratuku. Dia sedang hamil, jadi aku tidak akan membiarkannya menyentuh bahaya itu. Kau paham bukan?"
Adam menepuk bahu Cesar untuk meyakinkannya. Antara Adam dan juga Rose, Cesar ada di tengah-tengahnya. Dan di sini tidak ada yang tahu pada siapa sebenarnya Cesar bertuan. Penasaran? Sama, emak juga. 😅😅😅
__ADS_1
*****