
📢📢📢 Bom komentarnya bestie 💜
***
Lorus, Reina dan juga Resan menatap datar ke arah Tuan mereka yang sedang berjalan mondar-mandir dengan raut wajah yang terlihat sangat khawatir. Ketiganya terpaksa datang kemari untuk memberitahukan kabar tentang Rose yang belum bisa datang menemuinya.
"Coba kalian katakan penyebab mengapa Rose tidak bisa datang menemuiku. Aku ingin mendengarnya!" perintah Philippe sambil menatap tiga serangkai yang sedang duduk diam di sofa hotel.
"Tuan, sepertinya fakta tentang seseorang yang umurnya sudah tua akan menjadi pikun itu memang benar adanya. Tadikan kami sudah bilang kalau Rose sedang ada urusan mendesak, makanya dia belum bisa menemuimu sekarang. Kau belum sepenuhnya tuli bukan?" sahut Reina dengan sarkasnya. Dia lalu mengerucutkan bibir saat Resan berdecak pelan. "Resan, aku hanya mengatakan kebenarannya saja. Lagipula kita kan memang sudah memberitahu pak tua ini tentang penyebab mengapa Rose tidak bisa datang. Kenapa kau malah memarahiku? Di mana letak kesalahanku, hem?"
"Reina, bersikaplah sopan pada Tuan Philippe. Nona bisa marah nanti jika tahu kalau kau bicara seenaknya pada Tuan. Mengertilah!" sahut Resan dengan lembut menegur Reina.
"Jangan khawatir, Rein. Kali ini aku mendukungmu," ucap Lorus yang tiba-tiba berpihak pada Reina. Otot-otot di tubuhnya terus terasa kaku setiap kali bertemu dengan Tuan Philippe. Pria tua ini lemah, tapi masih saja suka bersikap angkuh dan sok berkuasa. Makanya Lorus langsung berpihak pada Reina setelah melihatnya bersikap masa bodo pada Tuan Philippe. Ini menyenangkan.
"Nah, kau lihat sendiri kan, Res? Bahkan si manusia batu ini setuju dengan sikapku. Kenapa kau tidak?"
Resan tampak menghela nafas panjang saat Reina dan Lorus sama-sama memiliki niat untuk menentang Tuan Philippe. Tak mau menyinggung pemilik kamar, dengan sopan Resan pun meminta maaf. Dia tak mau sikap kedua rekannya ini membuat Tuan Philippe merasa tak senang hati di mana nanti hal tersebut akan berimbas pada Nona-nya.
__ADS_1
"Tuan, saya harap anda bisa memaklumi kedua rekan saya ini. Mereka itu sebenarnya baik, hanya mulut mereka saja yang terkadang suka bicara jujur. Mohon anda tidak memasukkan kata-kata mereka ke dalam hati ya?"
"Kalian tiga serangkai ini bagaimana bisa sekompak itu mengerjaiku, hem? Rose benar-benar beruntung memiliki rekan yang sangat menjunjung tinggi arti sebuah kesetiaan!" jawab Philippe yang tidak merasa tersinggung mendengar obrolan ketiga bawahan Rose. Sudah terbiasa, itu kata yang cocok di peruntukkan bagi Philippe dalam menghadapi ketiga serangkai ini.
"Kalau begitu terima kasih banyak atas pujiannya, Tuan. Kami merasa sangat amat tersanjung mendengarnya," ucap Resan.
Philippe kemudian mendudukkan bokongnya ke atas sofa. Dia lalu menatap bergantian ke atas Resan, Lorus, dan juga Reina. Dengan pandangan mata yang cukup sedih, Philippe menanyakan sesuatu pada mereka bertiga. Dan di dalam hatinya, Philippe terus meramalkan doa agar salah satu dari mereka bersedia menberikan jawaban yang selama ini sangat di tunggu-tunggu oleh Philippe.
"Dia ... baik-baik saja bukan? Nona kalian menjaganya dengan benar bukan?"
Ekpresi di wajah Reina dan Lorus langsung berubah dingin begitu mereka mendengar kata "dia" keluar dari mulutnya Philippe. Sedangkan Resan, bibirnya memang tersenyum, tapi siapalah yang tahu apa isi hatinya.
"Lorus, aku sudah tidak tahan lagi. Bertahun-tahun aku menantikan pertemuan dengan Rose hanya untuk mengetahui kabar tentangnya saja. Dan begitu harinya tiba untuk kami bertemu, malah kalian bertiga yang datang menemuiku. Jadi kalian tidak boleh menyalahkan aku jika aku bertanya tentang dia. Yang salah itu Rose karena dia sudah tak tepat waktu. Paham kau?!" sahut Philippe sedikit terpancing emosi melihat sikapnya Lorus. Dia menantikan malam ini sudah seperti orang gila. Jadi wajar saja bukan kalau Philippe tak bisa lagi menahan diri untuk tidak bertanya?
Reina dengan cepat mengalungkan kedua tangannya ke bahu Lorus saat melihatnya hendak menyerang Tuan Philippe. Paham kalau rekannya ini merasa tersinggung akan kata-kata pria tua itu, dengan santai Reina berdiri kemudian berjalan mendekati Tuan Philippe. Setelah itu Reina duduk di sebelahnya, membiarkan ujung jari telunjuknya bergerak menelusuri leher ayahnya Adamar.
"Tuan, hari ini sikapmu cukup melewati batas. Kau dengan begitu berani menyalahkan kesayanganku meski kami telah memberitahukan alasan ketidakhadiran Rose di sini. Jika bukan karena mendesak, Rose kami tidak akan mungkin mangkir dari janji yang sudah dia buat sendiri. Dia juga pasti paham kalau kau begitu ingin mengetahui kabar tentangnya. Namun, dengan kau menyinggung kami bertiga, percaya tidak kalau dia akan mati detik ini juga?" ucap Reina dengan halus menggertak Tuan Philippe. Dia lalu menyeringai samar melihat jakun Tuan Philippe yang bergerak dengan sangat cepat, menandakan kalau pria tua ini sedang ketakutan. "Tuan, tidak perlu terburu-buru. Setelah Rose selesai dengan urusannya, dia pasti akan langsung datang menemuimu. Jangan khawatir, di tangan kami semua dia masih baik-baik saja. Jadi lebih baik kau menjaga sikapmu sendiri agar nantinya tidak menjadi boomerang untuk keselamatannya. Kau paham 'kan?"
__ADS_1
"Apa kalian sedang mengancamku?" tanya Philippe sambil menelan ludah.
Dasar k*parat. Berani-beraninya kalian bersikap lancang pada seorang Philippe Lorenzo. Jika Marcellino mengetahui perbuatan kalian, dia pasti akan langsung menghabisi kalian dengan cara yang sangat sadis. Huhhh.
"Hoho, kami mana mungkin berani melakukan hal seperti itu kepadamu, Tuan. Akan tetapi jika kau menolak untuk sadar diri, kami juga tidak keberatan jika harus menghabisinya. Benar begitu kan Res, Lorus?" tanya Reina sembari meniup daun telinga milik Tuan Philippe. "Hati-hati, Tuan. Lorus sekarang sudah begitu ingin menyerangmu. Aku sarankan kau sebaiknya jangan sampai salah bicara jika masih ingin hidup di dunia ini. Paham?"
Setelah berkata seperti itu Reina mengajak Resan dan Lorus untuk pergi dari sana. Dia sudah sangat muak melihat keangkuhan pria tua ini. Resan dan Lorus pun dengan senang hati mengikuti langkah Reina untuk keluar dari dalam kamar hotel itu. Mereka juga sama muaknya seperti apa yang dirasakan oleh Reina. Tuan Philippe sungguh tidak tahu diri. Dia berani mencari tahu sesuatu yang selama ini hanya boleh Nona mereka saja yang membahas. Lancang sekali bukan?
"Kalau tak ingat dia adalah ayah mertuanya Rose, aku pasti sudah menghajarnya sampai babak belur tadi. Heh!" gerutu Reina sesaat setelah masuk ke dalam mobil.
"Akupun sama. Sudah sejak hari itu malah aku terpikir untuk menghilangkan nyawanya. Sayang Nona memintaku agar bersikap sopan padanya. Jika tidak, habislah dia di tanganku!" sahut Lorus ikut menggerutu.
"Sudahlah. Lebih baik kalian berdua simpan tenaga kalian untuk peperangan nanti. Begitu Nona sehat kembali, dia pasti akan langsung memburu Royce. Kalian tahukan apa yang akan terjadi ketika dua kubu yang sama-sama kuat saling beradu tanduk?" timpal Resan mengingatkan kedua rekannya agar tidak membuang tenaga hanya untuk mengeluhkan sesuatu yang tidak penting.
Reina dan Lorus mengangguk patuh akan apa yang dikatakan oleh Resan. Setelah itu mereka bertiga segera pergi dari parkiran hotel, meninggalkan bayang-bayang Tuan mereka yang tengah berdiri di samping jendela kamar hotel yang di tempatinya.
Sungguh tiga serangkai yang begitu setia. Hmmm.
__ADS_1
***