Ma Queen ROSE

Ma Queen ROSE
Rose: Harapan Yang Kandas


__ADS_3

Cesar terus memperhatikan Adam yang terlihat sangat bahagia setelah berkirim pesan dengan seseorang. Dia berpangku dagu sembari memilin bibir bawahnya.


"Dam, kau masih waras kan?.


Mendengar pertanyaan sarkas yang di arahkan padanya membuat Adam langsung terdiam kikuk. Saat ini dia tengah berada di restoran milik neneknya Rolland dimana semua orang yang berhubungan dengan mega proyek sedang makan siang bersama.


"Kau ini bicara apa sih. Memangnya aku kenapa sampai kau bertanya seperti itu padaku?" kesal Adam seraya menatap tajam ke arah Cesar.


"Kau tersenyum sendiri seperti orang gila, Dam. Padahal yang lainnya sedang sibuk berlomba menghabiskan semua makanan yang ada di atas meja ini!" jawab Cesar santai sambil mengetuk pinggiran meja. "Jadi bagaimana mungkin aku tidak menganggapmu gila kalau hanya kau saja yang melakukan perbuatan menyimpang dari apa yang seharusnya kau lakukan!.


Jawaban terus terang Cesar mengundang gelak tawa semua orang, tak terkecuali Rolland. Pria bermata tajam dan berwajah dingin itu nampak menggelengkan kepala melihat kelakuan Cesar yang selalu berkata semena-mena pada Adam yang notabenennya adalah atasannya sendiri. Terkadang pertemanan mereka sampai membuat Rolland merasa iri, dia juga ingin memiliki sahabat seperti Cesar.


"Aku benar-benar sangat ingin menjahit mulutmu sekarang juga, Ces!" geram Adam semakin kesal. "Dasar mulut bocor!.


"Masih untung mulut bocor Dam, bukan mulut robek. Bayangkan saja jika seandainya mulutku adalah mulut robek, semua orang pasti akan tahu kalau kau dan Rose sudah....


Perkataan Cesar terhenti ketika Adam menjejalkan selada ke dalam mulutnya. Dia kemudian mengomel yang mana membuat semua orang kembali terbahak-bahak di buatnya.


Saat semua orang sedang menertawakan Cesar, Adam tidak sengaja melihat sebuah foto keluarga yang tergantung di depan pintu masuk sebuah ruangan yang terpisah. Matanya menyipit, mencoba memperhatikan dengan seksama pada salah satu orang yang berada dalam foto tersebut.


"Itu adalah fotoku bersama Rose, Mommy, Daddy, kakek dan nenekku, Dam. Dan yang di sebelahnya adalah foto anak-anak yang dulu mendapat kelas memasak gratis bersama salah yang koki andalan restoran ini. Foto-foto itu di ambil tepat sebelum Rose menghilang dalam kecelakaan yang terjadi tujuh belas tahun lalu" ucap Rolland memberitahu tentang asal-usul foto yang terpajang di depan pintu ruangan pribadi milik keluarganya. "Karena merasa sangat bersalah, nenekku dengan sengaja meletakkan foto itu di sana agar beliau selalu ingat jika hari itu beliau telah gagal menjadi seorang nenek yang baik. Nenekku sama menderitanya seperti aku semenjak kepergian Rose, Dam. Kami semua merasa sangat kehilangan!.


Semua orang langsung terdiam begitu mendengar perkataan Rolland. Yah, siapa yang tidak tahu mengenai tragedi besar yang merenggut salah satu cucu kesayangan Keluarga Ma. Bahkan sampai sekarang masih ada orang yang membicarakan tentang tragedi tersebut. Wajarlah, karena yang hilang adalah anggota dari keluarga paling berpengaruh di negara ini, menjadikan nama Rose selalu di sebut-sebut oleh mereka yang ikut menyaksikan bagaimana hancurnya perasaan keluarga Rolland kala itu.


"Rose sangat menyukai restoran ini. Bersama anak-anak yang lain dia bisa tertawa lepas, Rose bermain dan juga bercanda tanpa memandang status mereka yang kebanyakan berasal dari anak jalanan. Rose kami begitu baik, tapi takdirnya kurang beruntung!" lanjut Rolland dengan mata sendu.

__ADS_1


Tak tega melihat Rolland yang kembali terlihat sedih, Adam segera menepuk bahunya pelan.


"Maaf, aku tidak bermaksud mengingatkanmu pada kejadian itu, Land. Tadi aku hanya tidak sengaja melihat foto-foto itu dan merasa sedikit penasaran. Makanya perhatianku jadi teralih kesana!.


"It's oke Dam, aku baik-baik saja."


"Land, apa aku boleh melihat foto itu dari jarak dekat? Aku sungguh penasaran dengan rupa kembaranmu?" tanya Adam meminta izin.


"Boleh, silahkan saja" jawab Rolland mempersilahkan.


"Aku ikut!" ucap Cesar ikut menimbrung.


Sebelum pergi, Rolland terlebih dahulu mempersilahkan pada yang lain untuk tetap melanjutkan makan siang. Dia lalu menemani Adam dan Cesar pergi melihat-lihat foto kenangan yang tergantung di depan pintu ruangan pribadi keluarganya. Mungkin jika di lihat dari luar, foto-foto itu tidak terhalang apa-apa. Tapi pada kenyataannya, Nyonya Liona Serra Zhu telah memasang dinding kaca yang sangat tipis untuk menjadi penghalang agar orang lain tidak mudah menyentuh foto kenangan itu. Dan di perlukan sidik jari dari anggota keluarga untuk membuka dinding kaca tersebut.


"Wow, luar biasa. Hanya demi melindungi foto-foto ini keluargamu sampai memasang keamanan yang sedemikian ketat, Land. Mana canggih pula!" celetuk Cesar takjub begitu dinding kaca terbuka.


"Yang mana adikmu, Land?" tanya Adam sambil memperhatikan satu foto dimana ada banyak anak-anak berpose dengan gaya khas mereka.


"Yang berdiri di samping koki, Dam" jawab Rolland. "Kami memang kembar, tapi bukan identik. Rose mewarisi hampir seluruh wajah Daddy-ku. Sedangkan aku lebih banyak mirip Mommy dan juga Nenek Liona. Mungkin jika hanya di lihat sekilas orang tidak akan menduga kalau kami adalah kembar, karena kami tidak sepenuhnya mirip!.


Adam dan Cesar menganggukkan kepala mendengar penjelasan Rolland. Pantas saja Adam kesulitan mengenali adiknya, rupanya karena mereka bukan kembar identik.


"Wahh, cantik sekali!" pekik Cesar setelah berhasil menemukan posisi adiknya Rolland. "Imut dan juga sangat dingin. Astaga, lihat matanya Dam. Kecil-kecil tapi sudah terlihat galak, apa jadinya dia kalau sudah besar ya? Mungkin gelar mafia cukup cocok untuknya!.


Adam menatap lekat kearah foto adiknya Rolland. Jakunnya nampak bergerak naik-turun dengan cepat. Yah, Adam menyadari sesuatu di sana. Wajah adiknya Rolland sedikit banyak terlihat mirip dengan wajah istrinya. Namun yang membedakan adalah bentuk wajah mereka. Wajah istrinya berbentuk lonjong dengan dagu yang runcing bak lebah bergantung, sedangkan wajah adiknya Rolland berbentuk oval dan pipinya sangat bulat.

__ADS_1


"Ada apa Dam?" tanya Rolland ketika mendengar isi pikiran sahabatnya. "Apa ada yang salah dengan foto-foto adikku?.


"Tidak Land, bukan begitu. Hanya saja wajah adikmu terlihat sedikit mirip dengan kekasihku."


"Benarkah?.


Mata Rolland langsung berbinar-binar. Dia kembali berharap kalau kekasihnya Adam adalah adiknya. Namun perkataan Adam selanjutnya bagai tamparan yang amat menyakitkan hati Rolland. Lagi-lagi harapannya di paksa kandas.


"Tapi tidak mungkin mereka orang yang sama, Land. Rose-ku dan Rose adikmu memiliki usia yang berbeda. Kau dan adikmu berusia dua puluh empat tahun, sementara Rose-ku berusia dua tahun lebih muda dari kalian. Mungkin saja kesamaan ini hanya kebetulan belaka, kemungkinan seperti itu bisa terjadi pada siapapun bukan?.


Cesar melirik penuh maksud kearah Adam. Dia kemudian beralih memperhatikan satu-persatu foto yang ada di sana. Kali ini Cesar enggan ikut campur, dia sadar kalau Adam sudah membangun jarak yang tak terlihat agar dirinya tak banyak bersuara dulu.


"Hmm, mungkin saja kau benar, Dam. Rose adikku tidak mungkin bisa berada di negaramu. Sorry ya, aku sempat berharap banyak tadi!" sahut Rolland sambil tersenyum getir.


Tak ingin kembali terbawa perasaan, Rolland memutuskan untuk mengajak Adam dan Cesar pergi dari sana. Foto kenangan ini terlalu menyakitkan untuk Rolland, di tambah lagi kalau tadi harapannya tentang kekasih Adam tidak terwujud. Semakinlah membuat dadanya terasa begitu sesak.


'Rose, dimana pun kau berada aku harap kau dalam kondisi baik-baik saja. Aku sangat merindukanmu, Rose. Cepatlah kembali, aku mohon!....


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


...๐ŸŒนJangan lupa vote, like, dan comment...


...ya gengss๐Ÿ”ช๐Ÿ”ช๐Ÿ”ช...


...๐ŸŒนIg: rifani_nini...

__ADS_1


...๐ŸŒนFb: Rifani...


__ADS_2