Ma Queen ROSE

Ma Queen ROSE
Rose: Mati Kutu


__ADS_3

Nasi yang Zidane telan seperti berubah menjadi tumpukan duri ketika menyaksikan betapa Adam begitu perhatian pada Rose. Semua urat di tangannya menimbul saking geramnya dia melihat apa yang sedang terjadi di sana.


"Jangan terlalu tegang, Pa. Nanti tekanan darahmu naik," sindir Rose dengan santai.


Rose tentu saja bisa merasakan aura panas yang menguar dari tubuh ayah mertuanya. Upss, ayah mertua palsu lebih tepatnya. Sambil menikmati es kelapa yang tadi dia minta, Rose kembali menyindir dengan perkataan yang menjurus pada rahasia yang paling di takuti oleh mertua palsunya tersebut.


"Oh ya Dam, kemarin aku sempat melihat seorang wanita yang begitu cantik di sebuah club. Dia sedang bersama kekasihnya, dan mereka terlihat sangat mesra. Aku jadi iri jika mengingatnya!" ucap Rose sambil melayangkan tatapan teduh pada suaminya yang tengah memotong daging.


Jangan tanya betapa gugupnya Zidane sekarang. Bahkan dia sampai tidak bisa mengambil makanan dengan garpu di tangannya saking paniknya Zidane ketika Rose mengungkit pertemuan mereka di club malam itu. Gracia yang melihat kegugupan di diri sang ayah tampak mengerutkan kening. Dia heran kenapa ayahnya bisa bereaksi seperti ini ketika mendengar ucapan Rose. Aneh.


"Hon, kapan kau pergi ke club? Kenapa aku tidak tahu?" tanya Adam yang kaget mendengar perkataan istrinya.


"Em, kalau tidak salah beberapa malam yang lalu. Waktu itu Reina yang mengajakku. Dia bilang sedang galau, dan aku merasa kasihan. Jadi ya sudah, aku temani dia pergi sebentar. Siapa yang menyangka kalau di sana aku akan melihat pasangan itu. Sungguh sangat romantis asal kau tahu, Dam," jawab Rose.


Eh, jadi Adamar tidak tahu siapa Rose sebenarnya? Gawat, ini artinya Adam telah termakan jebakan perempuan siluman ini. Tidak bisa di biarkan. Aku harus sesegera mungkin memberitahu Adam kalau Rose itu bukan wanita baik-baik. Dia harus secepatnya berpisah dari Rose sebelum rahasiaku terbongkar.


"Pa, Papa baik-baik saja?" tanya Gracia sambil mengelus pelan tangan sang ayah. Dia terkejut ketika merasakan tangan ayahnya yang begitu dingin.


"Jangan ganggu Papa, Grace. Makan saja makan malammu dan jangan banyak bicara," sahut Zidane cetus seraya menepis tangan Gracia dari atas tangannya. Dia lalu kembali menikmati makanannya sambil berpikir keras bagaimana cara menyadarkan Adamar dari jerat Rose.


Kenapa aku merasa kalau Papa dan Rose saling menutupi sesuatu ya? Apa yang sebenarnya terjadi? Dan juga Kak Adam. Dia itu kan sangat cerdas, aku tidak percaya dia tidak mengetahui apapun tentang Papa dan Rose. Tapi kenapa Kak Adam tadi terlihat seperti kaget saat Rose mengatakan kalau dia pergi ke sebuah club? Ini benar Kak Adam tidak tahu atau hanya pura-pura tidak tahu? Kenapa jadi misterius begini sih?


"Kau itu sekarang sudah menjadi istriku, Hon. Ada baiknya kau meminta izin padaku terlebih dahulu sebelum pergi. Bukannya aku ingin membuat batasan, aku hanya tidak mau kau kenapa-napa. Apalagi sekarang kan sudah ada junior. Aku bisa mati jika sampai terjadi sesuatu pada kalian berdua!" ucap Adam penuh maksud.


"Junior?"

__ADS_1


Zidane menyela ucapan Adam sambil menatap bergantian ke arah putranya dan juga ke arah Rose. Jantungnya kini berdetak begitu kuat. Dia amat sangat tidak berharap kalau apa yang sedang dia pikirkan adalah benar. Zidane tidak siap jika Adam dan Rose memiliki ....


"Sesuai dengan apa yang Papa pikirkan. Aku hamil anaknya Adam," ucap Rose langsung menjawab apa yang sedang di pikirkan oleh mertuanya itu.


Brraaakkkk


"Lancang! Kau benar-benar lancang, Rose!" teriak Zidane murka sambil menggebrak meja.


Tatapan mata Adam menggelap melihat kasarnya sikap sang ayah pada istrinya. Aura yang tadinya sudah memanas kini semakin bertambah panas saat Adam berjalan menghampiri kursi ayahnya. Gracia yang sadar akan terjadi pertengkaran antara ayah dan kakaknya pun mencoba melerai. Dia segera berdiri menghadang sang kakak sebelum sampai di kursi ayah mereka.


"Tolong Kak, tahan dulu emosimu. Papa hanya syok saja mendengar kabar kehamilan Rose. Tolong pahami perasaannya!" ucap Gracia dengan tatapan menghiba.


"Menyingkir dari jalanku sebelum aku membantingmu ke atas meja!" sahut Adam dingin tanpa mengalihkan tatapan matanya dari sang ayah yang kini tengah menatap datar ke arahnya.


Selama ini Adam sudah cukup sabar menghadapi keegoisan ayahnya, tapi tidak dengan sekarang. Istri dan calon anaknya adalah segala-galanya bagi Adam. Dia bahkan bersumpah untuk sedikit melunak karena tak ingin anak dan istrinya terluka. Tapi sekarang ayahnya malah dengan terang-terangan berani memaki dan bersikap kasar di hadapan kedua belah hatinya. Suami mana yang tidak meradang jika melihat hal tersebut terjadi tepat di depan matanya sendiri.


"Biarkan saja, Gracia. Malah bagus kalau bayi itu mati sebelum lahir. Kau jangan menghalangi kemarahan kakakmu lagi. Biarkan dia mau melakukan apa!" teriak Zidane dengan sengaja membumbui amarah putranya agar semakin besar.


"PAPA!"


"Namanya Zalina. Dan laki-laki yang menjadi pasangannya bernama Eroz. Kau tahu tidak, Dam. Sebenarnya mereka itu bukan pasangan normal seperti kita. Tapi mereka itu adalah pasangan yang di ciptakan tidak untuk bersama!"


Glukkkk


Tubuh Zidane kaku saat nama sejatinya di sebut. Seketika dia merasa seperti sedang berdiri di pinggiran neraka. Perkataan Rose berhasil menyiutkan nyali Zidane yang tadi begitu semangat memancing kemarahan Adam dengan harapan kalau hal tersebut bisa membuat Rose keguguran. Tapi apa yang terjadi sekarang? Kenapa malah harga diri yang selama ini sangat dia banggakan yang hampir gugur? Sungguh, Zidane benar-benar sudah mati kutu sekarang. Tak ada lagi celah untuknya bisa menyingkirkan Rose dari hidupnya Adam.

__ADS_1


"Kenapa kau terus saja membahas tentang mereka, Hon? Apa kau mengenal mereka?" tanya Adam keheranan.


"Mungkin iya, mungkin juga tidak!" jawab Rose tanpa menghiraukan keterkejutan di wajah sang mertua. "Dam, tolong bantu aku memotong daging ini. Aku dan bayi kita masih lapar."


Setelah berkata seperti itu Rose tersenyum ke arah mertuanya. Namun senyum itu bukan senyum biasa. "Diam, atau aku akan membongkar semuanya di hadapan anak-anakmu saat ini juga". Kira-kira seperti itulah maksud dari senyum yang di tunjukkan oleh Rose. Jujur saja, dia sedikit panik mendengar perkataan Gracia kalau tumbuh kembang bayinya bisa saja terganggu jika Adam tidak bisa mengontrol emosinya.


"Baiklah. Seperti yang kau inginkan, Hon," ucap Adam kemudian kembali duduk untuk memenuhi keinginan istri tersayangnya. Seolah tak terjadi apapun, Adam dengan sigap segera memotong daging lalu menyuapkannya ke dalam mulut Rose. Dia lalu tersenyum sambil melihat ke arah perut istrinya dimana sang junior tinggal. "Sepertinya anak Papa sangat menyukai daging. Benar tidak?"


"Benar sekali, Papa. Nanti saat aku lahir tolong belikan daging dengan kualitas terbaik ya supaya aku bisa tumbuh besar dengan cepat," sahut Rose berceloteh menggantikan anaknya bicara.


Gracia menarik nafas lega karena sang kakak tak lagi emosi. Setelah itu dia segera menghampiri ayahnya yang lagi-lagi bersikap aneh setelah Rose menyebut nama Zalina.


"Pa," ....


Zidane mendengus. Dia lalu memutuskan untuk pergi dari ruang makan. Zidane tak berani lagi berhadapan dengan Rose setelah nama Zalina dan Eroz di sebut. Dia sangat takut kalau Adamar dan Gracia menyadari jika nama itu adalah nama miliknya dan nama kekasihnya.


Kau benar-benar brengsek, Rose.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


...๐ŸŒนJangan lupa vote, like, dan comment...


...ya gengss ๐Ÿ”ช๐Ÿ”ช๐Ÿ”ช...


...๐ŸŒนIg: rifani_nini...

__ADS_1


...๐ŸŒนFb: Rifani...


__ADS_2