Ma Queen ROSE

Ma Queen ROSE
Rose: Rasa Khwatir


__ADS_3

"Ibu, apa benar Mona akan pindah ke Negara N?" tanya Elea sambil menuangkan wine untuk ibu mertuanya. Dia kemudian duduk, menatap Lan yang sedang asik mengobrol dengan Tora.


"Iya, sayang. Lagipula siapa yang mampu melawan perintahnya Rose. Keponakanmu itu terlalu menyeramkan jika sedang marah," jawab Liona seraya tersenyum kecil. Dia lalu menyesap minuman miliknya, sedikit melirik ke arah Elea yang diam melamun. "Ada apa, Elea? Apa yang sedang mengganggu perasaaanmu?"


Elea menghela nafas dalam. Dia kemudian menoleh, menatap lekat ke wajah ibu mertuanya.


"Bu, aku sebenarnya sangat amat berharap kalau Rose dan Adam bisa ikut berkumpul dan menetap di Negara ini. Akan tetapi aku pernah tidak sengaja bermimpi kalau di antara anakku dan anaknya Grizelle akan terjadi kericuhan karena berebut kekuasaan. Aku takut, Bu!" ucap Elea memberitahukan kekhawatiran yang dia rasa.


"Bibi Elea, apa yang Bibi takutkan?"


Brenda yang malam ini memutuskan untuk menginap di rumah Nenek Liona tiba-tiba menyeletuk saat tak sengaja mendengar perkataan Bibi Elea. Segera dia bertanya karena tak ingin mati penasaran.


"Hantu di film horor, Brenda," jawab Elea spontan.


Kedua sudut bibir Liona tertarik ke atas. Pasti akan ada obrolan seru jika kedua wanita ini sudah bergabung.


"Film horor?" beo Brenda. "Dengan siapa Bibi menonton?"


"Tentu saja dengan suamiku. Kenapa? Apa kau ingin ikut bergabung?" tanya Elea.


"Em, memangnya boleh?" jawab Brenda antusias.


"Boleh-boleh saja sih. Akan tetapi Kak Iel itu terkadang suka asal menyentuhku, apa kau tidak akan terkena serangan jantung jika melihat Kak Iel yang tiba-tiba menciumku?"


Bluusssshhhh


Pipi Brenda langsung merona saat mendengar perkataan frontal dari mulut Bibi Elea. Setelah itu Brenda menyelipkan rambut ke belakang telinga sambil mengusap bibir menggunakan jari telunjuknya.


"Hei, kenapa pipimu memerah? Apa kau dan Rolland baru saja berciuman?" tanya Elea tanpa basa basi.

__ADS_1


"Hanya sedikit, Bibi. Dan itupun Kak Oland yang memaksa," jawab Brenda malu-malu.


"Yakin Rolland yang memaksa? Setahu Bibi kaulah yang genit dan suka menyosor duluan. Benar 'kan?"


"Hehee, benar sih memang aku yang menggoda Kak Oland lebih dulu. Tapi kan tetap saja Kak Oland yang menciumku,"


"Wahhh, itu bagus. Tandanya Rolland sudah ada kemajuan karena berani menciummu lebih dulu. Pertahankan!"


Wine yang sudah hampir di telan oleh Liona langsung menyembur keluar begitu dia mendengar perkataan Elea. Sungguh, entah ilmu mana yang di pelajari oleh Elea sampai-sampai dia meminta Brenda untuk mempertahankan kegenitannya.


"Ibu, Ibu baik-baik saja 'kan?" tanya Elea khawatir.


"Iya. Nenek baik-baik saja 'kan?" timpal Brenda ikut merasa khawatir.


"Hmmm, apa kalian sudah selesai mengobrol?" tanya Liona.


"Sudah," jawab Elea dan Brenda berbarengan.


Brenda mengangguk. Segera dia pergi memanggilkan kedua mertuanya seperti yang di perintahkan oleh Nenek Liona. Sementara Elea, dia enggan pergi dari sana. Raut wajahnya menggambarkan kalau dia juga perlu bicara dengan adik iparnya itu.


Sembari menunggu Drax dan Grizelle datang, Liona mencoba mencairkan suasana dengan terus mengajak Elea bicara. Dia tahu betul kalau menantunya ini diam-diam merasa sangat tertekan atas mimpi yang dilihatnya. Hingga tak lama berselang kedua orang yang mereka tunggu-tunggu pun akhirnya datang.


"Ibu, kakak ipar. Kalian mencari kami?" tanya Grizelle sembari duduk bersebelahan dengan Drax. Dia menatap bergantian ke arah Ibu dan kakak iparnya.


"Izel, kita langsung bicara saja," jawab Liona. "Apa tanggapan kalian jika seandainya nanti antara anak kalian dan juga anak-anaknya Elea terlibat perseteruan dalam perebutan harta di keluarga kita? Mungkinkah kau dan Drax akan memihak pada anak kalian atau malah kalian akan menjadi penengah jika seandainya hal tersebut benar terjadi. Tolong jawab agar kakak iparmu tidak terus-terusan merasa tertekan!"


Grizelle tersentak kaget mendengar perkataan sang ibu. Dia lalu menoleh, menatap seksama ke arah Drax yang juga kaget mendengar perkataan tersebut.


"Apakah ini antara Rose dengan Bern?" tanya Drax.

__ADS_1


"Ya, itu mereka," jawab Elea lirih.


"Di mana Gabrielle?"


"Kak Iel sedang dalam perjalanan kemari. Hari ini ada meeting tahunan di kantor, jadi dia tidak bisa absen!"


Drax mengangguk. Dia diam sejenak sebelum memberikan jawaban atas pertanyaan ibu mertuanya.


"Kakak ipar, aku tahu masalah apa yang terjadi dengan anak-anakmu. Tapi kau juga perlu tahu kalau Rose dan anak buahnya sangatlah mengerikan Aku sebenarnya bisa saja menghalau perang antar saudara ini agar tidak terjadi. Akan tetapi jujur, aku tidak sanggup jika harus membiarkan putriku di sakiti setelah sekian tahun kami hidup terpisah!" ucap Drax dengan tegas. "Namun, di sisi lain aku percaya kalau Rose dan Adam bukanlah orang yang tamak akan kekayaan. Bahkan aku sangat yakin kalau kekayaan mereka sendiri hampir sama besarnya dengan kekayaan yang dimiliki kita di sini. Jangan cemas, walaupun Rose baru beberapa kali bertemu dengan si kembar, aku yakin hatinya tidak akan sekejam itu untuk meladeni kearoganan Bern. Rose jauh lebih tua darinya, dia pasti bisa sedikit mengalah!"


"Apa kau yakin dengan perkataanmu, Drax? Aku ... benar-benar sangat takut. Aku mungkin memang memiliki kelebihan seperti itu, tapi aku tidaklah mempunyai kekuasaan untuk menentukan apa yang harus dan tidak harus terjadi. Semuanya ada di tangan Tuhan, aku hanya bisa berusaha agar kejadian buruk tersebut tidak menjadi kenyataan. Dan itupun jika aku tidak salah mengambil tindakan karena bagaimana pun aku hanyalah seorang manusia biasa dengan seribu kelemahan di diriku. Sungguh, aku sangat tidak ingin anak-anak kita terlibat pertengkaran. Aku tidak mau itu terjadi!"


Melihat kakak iparnya yang mulai terpancing emosi, Grizelle segera berpindah duduk ke sebelahnya kemudian memeluknya dengan erat. Selama ini Grizelle mungkin menderita karena harus menanggung pesakitan akibat hilangnya Rose. Akan tetapi Grizelle juga tahu benar kalau batin kakak iparnya jauh lebih tersiksa akibat kelebihan yang dimilikinya.


"Kakak ipar, kau dan aku bukanlah orang lain. Anakmu adalah anakku, dan anakku adalah anakmu juga. Kalaupun benar nantinya Rose dan Bern akan terlibat perseteruan besar, aku yakin mereka tidak akan sampai pada titik di mana mereka akan tega untuk saling menyakiti. Biar bagaimana pun di tubuh mereka masih mengalir darah antara aku dengan Kak Iel, yang artinya mereka tidak akan mungkin sanggup untuk saling membunuh. Yakin dan percayalah kalau semua itu hanya penglihatanmu yang keliru!" ucap Grizelle berusaha menenangkan kakak iparnya yang sedang kalut.


"Bern terlalu arogan, Zel. Aku selalu tak bisa tidur setiap kali memikirkannya," sahut Elea dengan mata berkaca-kaca.


Ekpresi di wajah Liona langsung berubah sendu melihat bagaimana anak dan menantunya berpelukan seperti itu. Entah kenapa dia merasa menjadi orang yang paling bertanggung jawab atas kehidupan karma yang di tanggung oleh Bern. Cucunya itu kini tumbuh layaknya monster yang siap menghabisi siapapun yang berani menghalangi jalannya dalam berbisnis. Liona bagai berkaca dengan dirinya yang sebagai Jendral Liang Zhu di mana dulu dia begitu suka ketika sedang membantai para musuh di medan peperangan.


"Bern," gumam Liona lirih.


"Apa Ibu baru saja menggumamkan sesuatu?" tanya Drax.


"Hanya ingin menyebut nama Bern saja, Drax. Walaupun sikapnya sedikit mengecewakan, Ibu tetaplah sangat menyayanginya," jawab Liona. Dia meminum habis wine yang ada di dalam gelasnya, kemudian tersenyum kecil sembari menatap Grizelle dan juga Elea. "Mari lupakan kegelisahan ini sejenak. Niel dan Shireen ada bersama kita di sini, Ibu tidak ingin mereka sampai merasa tak nyaman. Oke?"


"Baiklah, Ibu!"


Liona kemudian mengajak semua orang untuk pergi dari sana. Dia perlu udara segara untuk menyejukkan paru-parunya yang terasa sesak.

__ADS_1


*******


__ADS_2