Ma Queen ROSE

Ma Queen ROSE
Rose: Manusia Setengah Iblis


__ADS_3

Rose keluar dari dalam mobil setelah Adam membukakan pintu untuknya. Dia lalu menatap lekat ke arah Reina yang mengenakan pakaian serba merah. Sepertinya Reina sedang kesal pada seseorang. Warna merah yang melekat di tubuhnya menandakan kalau emosinya baru saja tersulut.


"Rose, Mona benar-benar telah menyakiti hatiku. Aku tidak mau lagi bertemu dengannya!" ucap Reina langsung mengadu begitu kesayangannya datang ke markas. Bibirnya cemberut.


"Apa yang dia lakukan?" tanya Rose. Dia lalu berjalan menghampiri Reina, mengabaikan Adam yang hendak memeluknya.


Ck, lagi-lagi aku di abaikan demi orang lain.


"Mona bilang dia ingin mengakhiri hidupnya supaya tidak di kejar-kejar lagi oleh mereka. Dia sama sekali tidak menghargai semua usaha yang kita lakukan untuknya selama ini. Makanya sekarang aku kesal sekali padanya," jawab Reina sambil memainkan rambutnya Rose yang di biarkan tergerai.


Rose menghela nafas. "Mereka di mana sekarang?"


"Ada di dalam. Sedang berbincang dengan Resan!"


"Reina, aku tidak tahu bagaimana cara mengakhiri perjanjian dengan iblis itu. Sebisamu tolong bantulah aku menjauhkan Mona dari mereka. Aku tahu ini tidak akan berlangsung lama, tapi setidaknya kita bisa membuat Mona merasakan kehidupan normal seperti manusia yang lain. Kau mau 'kan?"


"Bagaimana ya, Rose. Aku bukannya tidak mau membantu ataupun menolong Mona, tapi kan kau tahu sendiri kalau pasangan itu tidak bisa kita bunuh. Percuma. Ruh yang mendiami tubuh mereka bukan lagi ruh manusia, tapi iblis. Jadi mustahil untuk kita bisa terus menyembunyikan Mona. Merekalah yang paling kaya, dan mereka jugalah yang manusia abadi. Kita yang hanya manusia biasa mana mungkin sanggup menghadapi manusia yang sudah hidup selama beratus tahun lamanya. Jadi di ketat apapun kita berusaha untuk menyembunyikan Mona, pasangan itu pada akhirnya akan mengetahuinya juga. Para iblis mana mungkin melepaskan keturunan dari para penyembah yang sudah lebih dulu menikmati kemakmuran yang mereka beri. Dan meskipun Mona tidak ikut menjadi penyembah, darah yang mengalir di tubuhnya berasal dari mereka juga. Sedikit banyak ibunya Mona pasti sudah mencicipi kemakmuran yang di berikan oleh para iblis itu, makanya mereka merasa berhak untuk memiliki Mona!" jawab Reina dengan berat hati mengingatkan Rose kalau tidak ada jalan keluar untuk menyelamatkan Mona dari jerat para sekte. Ruh gadis itu sudah terikat.


"Mungkin kita bisa bernegosiasi dengan mereka dulu, Hon. Siapa tahu mereka bersedia melepasi Mona dengan beberapa tebusan!" ucap Adam ikut menimpali pembicaraan yang sedang berlangsung antara Reina dan istrinya. Dia kemudian duduk, menepuk pahanya agar Rose duduk di atasnya. "Kau sedang hamil, Honey. Tidak baik berdiri terlalu lama."


"Terima kasih," ucap Rose kemudian mendudukkan bokongnya di atas pangkuan Adam.


"Adam, kau pikir bernegosiasi dengan manusia setengah iblis itu hal yang mudah apa. Bagaimana jika nanti mereka meminta ganti rugi berupa nyawa dari orang-orang terdekat kita. Memangnya kau rela memberikan Rose pada mereka?" ucap Reina kesal mendengar saran dari Adam. Bisa-bisanya pria ini mengatakan ide yang membuat orang lain berada dalam bahaya.


"Jangan sembarangan bicara kau, Reina. Kalaupun benar mereka meminta tumbal, aku akan langsung memberikan Zidane dan Vanya pada mereka. Mereka berdua merupakan orang terdekatku!" sahut Adam ikut kesal. Dia menatap galak ke arah Reina yang terlihat acuh setelah bicara seperti itu.


"Cihhh, Zidane dan Vanya?" beo Reina sembari berdecih sinis. "Kau lupa atau bagaimana kalau di antara kalian itu tidak ada hubungan darah, hah? Kau pikir para iblis itu mudah untuk di bohongi. Iya?"

__ADS_1


Adam menghela nafas panjang. Sungguh, dia tak habis pikir dengan orang-orang yang semasa hidup rela menggadaikan ruhnya hanya demi sebuah kemakmuran dan juga kekayaan. Apa mereka itu tidak berpikir kalau dampak dari perjanjian yang mereka lakukan bisa menyengsarakan anak cucu mereka di masa depan. Mona contohnya. Sebagai seorang cucu yang tak pernah mengenal keluarga dari pihak ibunya, Mona harus rela terus bersembunyi di sana sini demi untuk menghindari kehausan para penganut sekte sialan itu. Dan jika Adam yang ada di posisinya Mona, dia mungkin akan memilih untuk bunuh diri saja daripada harus di kejar-kejar dan tidak memiliki ketenangan dalam hidup ini. Ya, Adam pasti akan melakukan hal itu.


"Sudahlah, jangan bahas masalah ini lagi. Aku khawatir Mona atau Dante menguping pembicaraan kita!" ucap Rose meminta semua orang untuk diam. "Lorus apa kabar? Apakah dia sudah menemui Tuan?"


"Seperti biasa. Lorus selalu bisa kita andalkan, baby. Kau jangan cemas," jawab Reina seraya mengedipkan mata.


Cemas? Heh. Bukan Rose yang harus merasa cemas, tapi si Tuanlah yang seharusnya merasa demikian. Karena ....


"Rose?"


Semua pandangan teralih ke arah Dante yang tengah berjalan keluar sambil di papah oleh Resan. Di belakangnya terlihat Mona yang berjalan dengan ekpresi wajah yang aneh.


"Ternyata kau cukup kuat juga menahan pukulan Reina, Dante. Aku pikir sekarang kau tidak kuat untuk bangun!" ejek Rose dengan sengaja. Dia pura-pura mengabaikan Mona yang kadang menatapnya dan kadang menundukkan kepala. Rose maklum dan juga sangat amat paham apa penyebabnya.


Sebelum membalas perkataan Rose, Dante menatap sekilas ke arah Reina. Dia lalu menarik nafas panjang. "Semalam aku sekarat. Tenaga wanita cantik bergaun merah itu cukup meremukkan tulang-tulang di tubuhku. Aku jadi penasaran apakah dia dulunya adalah seorang mantan algojo atau bagaimana, Rose!"


"Aku hanya berandai saja, tidak benar-benar menganggapmu seperti itu!"


"Heh,"


"Mona, apa kau tidak ingin berpamitan padaku?" tanya Rose memecah kecanggungan di diri Mona. "Mungkin kita akan lama baru bisa bertemu kembali. Tidakkah kau merasa berat hati meninggalkan sahabatmu ini?"


Mona yang sedang menundukkan kepala langsung melihat ke arah Rose dengan pandangan bimbang. Dia ingin mendekat, tapi Adam ada di sana. Mona khawatir Adam akan merasa tersinggung kemudian marah pada Rose. Karena biar bagaimanapun Adam juga mengetahui tentang perasaannya yang tidak lazim ini. Jadi Mona merasa sungkan.


"Rose, terima kasih banyak atas semua kebaikan yang telah kau berikan padaku selama ini. Jujur, aku sebenarnya berat untuk pergi dari sini. Akan tetapi jika aku tidak pergi, maka aku pasti akan membuatmu merasa semakin kecewa. Dan juga ....


Ucapan Mona terjeda sejenak. Dia kemudian tersenyum sebelum melanjutkan kata-katanya. " Aku akan berusaha memperbaiki diri di tempat baruku nanti, Rose. Aku juga akan mulai berusaha untuk melupakan rasa yang pernah aku pendam untukmu. Maaf jika sikapku dulu sedikit kekanakan, itu semua terjadi karena aku yang menolak untuk melepaskan diri. Tapi setelah Nona Reina menegur dan memarahiku, aku akhirnya sadar kalau aku tidak boleh seperti ini terus. Akan ada banyak orang yang kecewa jika aku tidak segera menyudahi kegilaan ini. Jadi ... tolong beri aku kesempatan ya? Aku janji aku akan berubah menjadi pribadi yang lebih baik lagi untuk ke depannya!"

__ADS_1


Setelah berkata seperti ini Mona langsung berjalan masuk ke dalam mobil. Dia masih belum terlalu kuat berdamai dengan perasaannya.


Dante yang melihat Mona pergi menghindar segera menatap lekat ke arah Rose. Dia paham kalau Rose sebenarnya juga merasa sangat sedih di tinggal oleh Mona. Namun apa mau di kata, hanya ini jalan terbaik agar Mona bisa menjalani kehidupannya secara normal.


"Resan, kau yang bertanggung jawab atas keselamatan Mona dan Dante!" ucap Adam meminta Resan agar segera mengantarkan Mona dan Dante ke landasan pesawat. Ekor matanya tertuju ke sebuah arah.


"Baik, Tuan Adam," sahut Resan patuh.


"Rose, Adam, aku pergi dulu. Dan besok aku akan menunggu kedatangan kalian di Negara N. Persiapkan diri kalian dengan baik karena di sana nanti kalian berdua pasti akan menjadi pusat perhatian semua orang. Aku pergi!" ucap Dante kemudian meminta Resan untuk memapahnya menuju mobil.


Reina berjalan beberapa langkah ke depan sambil menatap mobil yang sedang bergerak pergi membawa Dante dan Mona menuju landasan pesawat. Tak lama kemudian pandangan mata Reina yang biasanya terlihat genit kini langsung berubah dingin saat menyadari ada mata asing yang sedang mengawasi.


"Rose, mereka datang!"


"Aku tahu," sahut Rose. Dia lalu mengelus pelan pipinya Adam. "Itulah kenapa Adam meminta Resan untuk segera membawa Mona pergi. Keluarlah, Rein. Sambut kedatangan mereka dengan ramah!"


"Baiklah!"


Terdengar helaan nafas panjang dari mulutnya Adam saat di hadapan Reina muncul sepasang suami istri yang tadi sempat di bicarakan oleh mereka sebelum Mona dan Dante pergi. Dia lalu mengeratkan rengkuhannya ke pinggang Rose.


"Harusnya mereka tidak memancing keributan, Honey,"


"Kau tenang saja, Dam. Pasangan itu bahkan jauh lebih tenang dari yang kita pikirkan. Berusahalah agar kau tidak terprovokasi. Okey?"


"Baiklah. Aku menurut saja apa katamu,"


Rose tersenyum. Namun senyumnya sarat akan sebuah kemisteriusan.

__ADS_1


***


__ADS_2