
Setelah puas menertawakan Gheana yang jatuh ke sungai, Reina dan Lorus bergegas kembali ke markas. Mereka penasaran hal penting apa yang ingin di bicarakan oleh Adamar.
"Oh, kalian sudah kembali ternyata!" ucap Adam yang saat itu sedang membelai-belai rambut Rose. Wanita hamil tersebut saat ini tengah terlelap di pelukannya setelah makan malam bersama yang lain.
"Kami sudah berada di depanmu, Adam. Itu artinya kami sudah kembali!" seloroh Reina sembari menatap lekat ke arah Rose. Sudut bibirnya sedikit berkedut melihat pipinya Rose yang semakin berisi.
Hihihi, lucu sekali pipimu, Rose. Kau terlihat seperti kue donat yang begitu kenyal dengan pipi gembil seperti itu.
Adam segera mengikuti kemana arah mata Reina memandang. Dia lalu mengeratkan rahang, kesal karena ternyata wanita jadi-jadian ini sedang memandangi istrinya.
"Ekhmmm ... aku rasa sangat tidak sopan menatap istri orang tepat ketika suaminya berada di sebelahnya!" sindir Adam.
"Ekhmmm ... dan aku rasa sangat tidak pantas bagi seseorang membatasi hubungan dekat antara dua sahabat yang sudah lama terjalin erat bahkan sebelum orang tersebut datang!" sahut Reina tak ragu untuk membalas sindiran Adam. Setelah itu dia berkacak pinggang sambil memperlihatkan ekpresi yang sangat dongkol. "Kau jangan tidak tahu diri ya, Dam. Jauh sebelum kau mengenal Rose, aku dan dia sudah lebih dulu saling berbagi rasa. Jadi meski sekarang kalian sudah menikah, kau tetap tidak mempunyai hak untuk melarangkumengangumi kecantikan sahabatku. Kau tahu tidak kalau kau itu ....
"Kau cerewet sekali, Rein. Suaramu itu sangat keras seperti petir yang sedang mengincar kelabang. Diamlah, nanti Nona terbangun!" omel Lorus tak tahan mendengar rentetan kalimat yang di ucapkan Reina dalam satu kali tarikan nafas.
"Sialan kau!"
"Aku tahu. Karena itu kuncilah mulutmu agar aku tidak semakin sialan. Paham?"
Reina mendengkus. Selalu, selalu berakhir seperti ini jika dirinya sedang bersama Lorus. Entah kenapa hati pria busuk ini tak pernah sekalipun tergerak untuk membelanya. Berbeda dengan Resan. Reina akan selalu dimanja oleh pria baik hati tersebut, bahkan seringkali Resan memperlakukannya bak seorang ratu. Sungguh rekan yang begitu perhatian bukan?
"Aku meminta kalian untuk segera datang kemari adalah untuk membantu Resan mengurus Zidane. Aku ingin malam ini dia menangis dalam kesakitan!" ucap Adam setelah Lorus dan Reina berhenti bertengkar.
"Oh wow, ini menyenangkan!" sahut Reina sembari menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya. "Baiklah Tuan Marcellino Altezza Lorenzo, bantuan seperti apa yang kau inginkan dari kami, hm? Menjadikan Zalina-Zalina itu kambing guling atau kambing goreng? Aku siap melakukannya."
"Nama siapa yang kau sebut barusan, Reina?"
Sebelah alis Adam terangkat ke atas. Dia cukup kaget karena ternyata Reina mengetahui siapa nama aslinya. Sambil mengelus rambutnya Rose, Adam menantikan jawaban seperti apa yang akan keluar dari mulut wanita jadi-jadian tersebut.
__ADS_1
"Ochhh, aku kelepasan. Maaf ya," sahut Reina sambil terkikik pelan. Sedetik kemudian dia langsung terdiam saat Lorus mendelikkan mata ke arahnya. "Galak sekali."
"Nona pasti akan sangat marah jika tahu kalau kau baru saja menyinggung sesuatu yang tidak seharusnya kau singgung. Kau kan tahu sendiri kalau kita di larang untuk mencari tahu tentang siapa Marcellino Altezza Lorenzo. Kenapa kau malah menyebutnya langsung tepat di depan orangnya? Kau bosan hidup atau bagaimana?" cecar Lorus dengan sengaja menegaskan kalau mereka sudah tahu jati diri sebenarnya dari pria yang menjadi suami Nona mereka.
"Aku tidak peduli darimana kalian tahu siapa aku. Yang jelas, malam ini aku ingin kalian membuat bajingan itu tidak bisa tidur nyenyak. Pastikan dia seperti berada di dalam neraka yang sangat mengerikan. Paham?" perintah Adam dingin.
"Itu masalah gampang, Tuan Adam. Menciptakan neraka untuk orang-orang seperti Zidane bukanlah hal yang sulit untuk kami berdua. Tapi sebelum neraka tersebut terjadi, bisakah kau menjawab kemana perginya Cesar? Dia adalah penjaga bayangan yang sangat sadis. Rasanya lucu jika tidak ada dia dalam menjalankan permainan menyenangkan ini!" tanya Lorus penasaran.
"Dia sedang berada di apartemen. Jadi untuk malam ini kalian bertiga saja yang pergi bersenang-senang. Di lain waktu aku janji akan mengikutsertakan Cesar dalam hal ini. Toh Zidane belum akan mati sekarang bukan?" jawab Adam menjanjikan.
"Tentu saja tidak. Nona kami sangat pantang menghabisi seorang pendosa dalam waktu yang singkat. Nona biasanya akan terus mengulur waktu hingga membuat pendosa tersebut merasa benar-benar menyesal karena sudah terlahir ke dunia ini. Jadi kau tenang saja, Tuan Adam. Aku berani jamin si Zalina itu akan berumur panjang. Dan aku juga pastikan bajingan itu akan menderita di setiap tarikan nafasnya."
"Baguslah. Semakin kejam kalian menyiksanya, maka aku dan Rose akan semakin bahagia. Kalian harus benar-benar memastikan kalau Zidane menerima penyiksaan yang sama seperti apa yang sudah dia lakukan pada Mamaku. Jika sempat, tolong jadikan moment penyiksaan tersebut ke dalam sebuah video agar aku dan Mamaku bisa ikut menyaksikan penderitaan yang dia rasakan."
Lorus mengangguk. Jiwa psikopat di dalam dirinya langsung menguar kuat. Jika sudah berurusan dengan hal yang berbau penyiksaan, Lorus akan menjadi begitu bersemangat. Di dalam kepalanya sudah langsung terpikir gaya seperti apa yang akan dia gunakan untuk uji coba. Sedangkan Reina, mata wanita itu akan bersinar dengan sangat terang saat membayangkan suara jeritan yang akan keluar dari mulut Zalina. Sungguh, dia benar-benar sudah sangat gatal ingin segera menyapa rekan satu spesiesnya itu.
"Pergilah!" ucap Adam.
"Uhhh, aku sudah sangat tidak sabar, Lorus. Kira-kira gaya apa ya akan kita lakukan untuk pemanasan? Mencabut kuku jarinya kah?"
"Terserah kau ingin melakukan apa, Rein."
"Reina. Ishh, kenapa sih kau selalu membuang kata terakhir dari namaku? Menyebalkan sekali!"
Adam terus memperhatikan kepergian Reina dan Lorus yang masih terus berdebat. Lucu juga melihat orang-orang mengerikan seperti mereka bertengkar hanya karena hal sepele. Adam jadi sedikit penasaran dengan masa lalu dari para anggota Queen Ma.
"Honey, kenapa kau terbangun, hm? Apa pembicaraan kami barusan mengganggu tidurmu?"
Sadar kalau suaminya sudah tahu dirinya bangun, Rose dengan perlahan-lahan membuka matanya. Dia kemudian tersenyum, merasa malu karena ketahuan berbohong.
__ADS_1
"Apa sangat kentara?" tanya Rose.
"Tentu saja. Suara nafasmu begitu berbeda, jadi mana mungkin aku tidak tahu kalau sebenarnya kau sudah bangun?" jawab Adam gemas melihat tingkah malu-malu istrinya. "Ingin apa, hm? Apa anak kita mengidam lagi?"
Rose menggeleng.
"Lalu?"
"Dam, bisakah kita pulang sekarang? Aku rindu ranjang kita. Aku juga mengkhawatirkan keadaan Gracia sekarang. Dia pasti sedang menangis kesakitan, efek dari pelatihan yang di berikan oleh Cesar tadi siang. Kita pulang ya?"
"Baiklah. Sesuai yang kau inginkan, ma queen."
Ma Queen? Kenapa kata ini terdengar sangat familiar ya? Dimana aku pernah mendengarnya?
"Honey, ada apa?" tanya Adam cemas melihat Rose yang malah diam sambil mengerutkan kening.
"Em Dam, darimana kau menemukan kata ma queen?" sahut Rose balik bertanya.
"Kata itu aku peruntukan bagi ratu yang akan menemaniku duduk di singgasana. Ma Queen Rose, itu dirimu, Honey. Kau adalah ratu dari segala ratu yang ada di dunia ini. Di mataku, kau adalah sebuah maha karya Tuhan yang begitu sempurna. Ma Queen Rose, adalah ratunya Marcellino Altezza Lorenzo."
Ma Queen Rose? Astaga, aku pernah mendengar dan melihatnya. Seorang pria berkuasa berpakaian serba hitam yang mengulurkan tangannya ke arahku. Apakah itu Adamar? Ya Tuhan, sebenarnya apa yang terjadi pada diriku? Bagaimana bisa aku melihat sesuatu yang bahkan aku sendiri belum mengalami? Apakah aku cacat mental?
๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น
...๐นJangan lupa vote, like dan comment...
...ya gengss ๐ช๐ช๐ช...
...๐นIg: rifani_nini...
__ADS_1
...๐นFb: Rifani...