
Di kediaman keluarga Clarence, terlihat Zidane dan Vanya yang tengah duduk tanpa saling bicara. Keduanya sama-sama sedang memikirkan masalah yang sangat serius. Apalagi jika bukan tentang Rose yang tiba-tiba saja sudah menjadi menantu di keluarga ini. Namun apa yang ada di dalam pikiran Zidane tidak hanya sesederhana itu. Benaknya di liputi rasa ketakutan yang begitu besar karena bagaimana pun Rose memegang semua kartu as yang selama ini dia sembunyikan. Termasuk juga tentang keberadaan Karina, ibu kandungnya Adam.
"K*parat, kenapa aku bisa tidak menyadari tujuannya datang menghampiriku malam itu? Kalau saja aku tahu dia sudah menikah dengan Adam, di bunuh pun aku tidak akan sudi untuk membuka mulut. Kau benar-benar k*parat, Rose. Brengsek!" umpat Zidane tanpa sadar.
Vanya yang mendengar umpatan lirih suaminya seketika menoleh. Dia lalu mengerutkan kening melihat raut wajah Zidane yang begitu buruk.
"Barusan kau bicara apa, Zid?" tanya Vanya penasaran. Dia menatap suaminya penuh selidik.
"Tidak bicara apa-apa. Sudah, jangan meggangguku dulu. Kau urus saja urusanmu sendiri!" jawab Zidane malas. Dia sedang tidak ingin berbicara dengan wanita tidak berguna ini.
"Heh, jangan sok malas bicara denganku ya. Aku yakin sekarang kau pasti sedang memikirkan hal yang sama sepertiku. Benar tidak?"
"Maksudnya apa?"
"Rose. Kau merasa kesal pasti karena sedang memikirkan wanita itu, bukan?"
Zidane mendengus. Tentu saja dia sedang memikirkan wanita licik itu, siapa lagi memangnya. Meski malas untuk meladeni, Zidane akhirnya memutuskan bicara pada Vanya tentang apa yang sedang mengganggu pikirannya. Tapi tidak dengan rahasia itu ya.
"Aku tidak tahu pelet apa yang di gunakan oleh Rose untuk menjerat Adamar. Putraku tidak mungkin luluh begitu saja jika Rose tidak melakukan sesuatu yang salah terhadapnya. Benar tidak?"
"Em, masuk akal juga. Tapi masa iya wanita lemah seperti Rose mampu melakukan hal seperti itu pada putra kita, Zid? Adamar adalah pria yang kuat, rasanya mustahil kalau dia sampai tidak berdaya di hadapan Rose!" sahut Vanya ragu.
Rose itu tidak selemah yang kau pikir, Vanya. Dia dan teman-temannya adalah sekumpulan iblis yang sangat kejam dan menjijikkan. Aku dan Eroz saja sampai tidak bisa berkutik dibuat oleh mereka. Huftttt, tapi bagaimana caraku memberitahu Vanya tentang siapa Rose sebenarnya ya? Rahasiaku bisa-bisa terbongkar jika Vanya sampai menanyakan kenapa aku dan Rose bisa sampai bertemu? Aarrgghhhh.
__ADS_1
"Zid, pernikahan Adam dan Rose itukan belum mereka publikasikan ke media. Bagaimana kalau perjodohan dengan Gheana tetap kita di jalankan saja?" tanya Vanya. "Begini. Selain keluarga kita, sepertinya belum ada orang luar yang tahu kalau kita sebenarnya sudah mempunyai menantu. Nah, agar si Rose tidak meraja di rumah ini, kita buat conferensi pers saja kalau Adam akan segera menikah dengan putri dari keluarga Lutfer. Bagaimana? Kau setuju tidak?"
"Kau sudah tidak waras ya. Kau pikir Adam akan semudah itu menerima Gheana sebagai istri keduanya? Belum lagi dengan keluarga Lutfer. Aku yakin mereka tidak akan mengizinkan putri semata wayang mereka untuk menikah dengan Adamar. Kalau mau mengatakan sesuatu itu coba di pikirkan baik-baik dulu, Vanya. Sembarangan!" omel Zidane tak habis fikir dengan ide gila yang di ucapkan oleh istrinya.
"Sembarangan bagaimana. Coba kau pikirkan baik-baik, Zidane. Jika Adam berkenan untuk menikah dengan Gheana, maka kita akan mempunyai kesempatan besar untuk menyingkirkan Rose dari rumah ini. Gheana adalah gadis yang sangat cerdas, aku yakin dia pasti bisa merebut Adam dari cengkeraman Rose. Dan nama baik keluarga kita tidak akan tercoreng, Zid. Kita tidak akan di olok-olok jika semua orang tahu kalau yang menjadi menantu di keluarga Clarence adalah wanita yang berasal dari keluarga terpandang, bukan gadis desa miskin yang tidak mempunyai pengaruh apa-apa di negara ini. Sekarang sudah paham belum maksud dari perkataanku tadi?"
Zidane terdiam. Ide Vanya lumayan menarik juga. Peran Gheana akan sangat membantu dalam menyingkirkan Rose dari rumah ini. Akan tetapi apa hal ini bisa dilakukan mengingat kalau Adam begitu mencintai wanita iblis itu? Belum lagi dengan anak buahnya Rose. Zidane jadi meragu. Dan sedetik kemudian dia langsung menelan ludah saat teringat dengan ancaman yang di ucapkan Rose saat mereka bertemu di club malam itu.
Tidak-tidak. Lebih baik aku tidak menyinggung Rose untuk sekarang-sekarang ini. Dia dan anak buahnya memegang kartu as-ku. Harga diriku benar-benar akan hancur jika aku sampai salah bersikap. Tidak boleh, Zidane. Kau tidak bisa menyingkirkan Rose melalui Gheana. Karena yang ada kau sendiri lah yang akan tersingkir dari dunia ini. Rose adalah iblis, dia bukan manusia yang bisa kau anggap remeh.
"Ma, hentikan keinginan gila Mama yang ingin memisahkan Kak Adam dengan Rose. Aku tidak setuju!"
Gracia berkata lantang sambil menatap tajam ke arah kedua orangtuanya. Dia sejak tadi mendengarkan pembicaraan kedua orang ini yang ternyata tengah membahas tentang Rose.
"A-APA?!! Rose hamil?" pekik Vanya syok. Dia kemudian melihat ke arah suaminya untuk memastikan apakah kabar tersebut benar atau tidak. "Zidane, apa benar Rose hamil?"
Sebelum menjawab, Zidane mengusap wajahnya terlebih dahulu hingga memerah. Saking sibuknya dia memikirkan cara untuk menyingkirkan Rose, dia sampai lupa kalau sebentar lagi keluarga Clarence akan segera memiliki cucu.
"Ya. Rose sedang hamil anaknya Adamar sekarang."
"Gila, ini benar-benar gila. Anak itu tidak boleh lahir, dia harus ....
"Ma, jangan coba-coba menyakiti calon keponakanku. Kalau Mama berani macam-macam, aku sendiri yang akan turun tangan untuk menghajar Mama. Sudahi obsesi Mama yang ingin menjodohkan Kak Adam dengan Gheana. Mereka itu tidak cocok!"
__ADS_1
Dada Gracia sampai naik turun saking kesalnya dia pada sikap sang ibu. Sebagai adik yang baik, Gracia tidak akan membiarkan ibunya mengacaukan kebahagiaan rumah tangga Rose dengan sang kakak. Dia akan pasang badan jika ibu dan ayahnya sampai nekad ingin melakukan sesuatu pada mereka. Terlebih lagi pada calon keponakannya. Gracia tidak akan tinggal diam.
"Grace, kau ini kenapa hah! Bukankah selama ini kau sangat membenci Rose? Kenapa sekarang kau malah balik membelanya?" tanya Vanya heran.
"Itu dulu, Ma. Sekarang tidak. Mama mau tahu kenapa?"
Tanpa sadar Vanya menganggukkan kepala. Dia penasaran hal apa yang sudah dilakukan oleh Rose hingga mampu membuat putrinya jadi berubah haluan seperti ini.
"Karena di saat aku sedang berada di titik paling bawah, Rose adalah satu-satunya orang yang memberiku semangat. Berkat Rose juga hubunganku dengan Kak Adam menjadi jauh lebih baik. Dulu dia adalah musuhku, tapi sekarang dia adalah orang yang akan aku perjuangkan. Di balik sikapnya yang dingin dan acuh, dia sebenarnya sangat peduli padaku, Ma, Pa. Rose jauh lebih baik jika di bandingkan dengan kalian berdua. Dan jika Papa dan Mama berniat mengusik rumah tangganya Rose dan Kak Adam, maka aku akan menjadi orang pertama yang menentang keinginan kalian. Aku tidak akan membiarkan Papa dan Mama menghancurkan kebahagiaan mereka dan juga calon keponakanku. Tidak akan!"
Setelah berkata seperti itu Gracia langsung pergi dari hadapan ayah dan ibunya. Dia harus melakukan sesuatu untuk mencegah semua ini agar tidak terjadi.
Tenang saja keponakan, Bibi tidak akan membiarkan Kakek dan Nenekmu merusak kebahagiaan keluarga kecilmu. Bibi sangat menyayangi Mama dan Papamu, dan Bibi berjanji akan melindungi mereka sampai kau lahir ke dunia ini. Bibi janji.
๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น
...๐นJangan lupa vote, like, dan comment...
...ya gengss ๐ช๐ช๐ช...
...๐นIg: rifani_nini...
...๐นFb: Rifani...
__ADS_1