Ma Queen ROSE

Ma Queen ROSE
Rose: Lelah Berpura-pura


__ADS_3

Setelah kembali dari perusahaan, Zidane mulai merasa tidak tenang. Kepalanya terus memikirkan perkataan Adamar yang ingin membawa seorang wanita pulang ke rumah ini.


"Apakah mungkin wanita itu adalah Rose? Tapi Eroz bilang dia tidak pernah menemukan kebersamaan mereka dimana-mana. Lalu siapa wanita yang di maksud oleh Adam?" gumam Zidane bingung.


Andai memang benar kalau wanita itu adalah Rose, maka Zidane akan langsung menolaknya secara terus terang. Dia tidak bisa membiarkan putranya menikah dengan wanita yang tidak mempunyai latar belakang yang jelas. Mungkin memang benar kalau Rose adalah gadis yang sangat jenius. Akan tetapi gadis itu tidak memiliki patokan kriteria calon menantu untuk keluarga Clarence yang selama ini sangat di idam-idamkan oleh Zidane.


"Kalau sampai Adamar membawa gadis itu pulang ke rumah ini, aku bersumpah akan langsung menendangnya keluar. Bagaimana mungkin seorang Zidane Clarence mendapatkan calon menantu yang berasal dari rakyat jelata yang bahkan orangtua saja tidak punya? Hah, orang-orang pasti akan langsung menghinaku begitu Rose melangkahkan kaki untuk masuk ke rumah ini. Benar-benar menjengkelkan meski aku hanya membayangkannya saja."


"Kau sedang bicara dengan siapa, Zid?"


Vanya yang baru selesai mandi menatap aneh ke arah suaminya yang sedang bicara di depan cermin. Dia lalu berjalan mendekat sambil mengeringkan rambutnya memakai handuk kecil.


"Kenapa diam saja? Jangan bilang kau sedang bicara dengan bayanganmu sendiri," ledek Vanya sambil tersenyum genit.


"Omong kosong!" sergah Zidane menahan jijik dengan apa yang sedang dilakukan oleh istrinya. Mati-matian dia menahan tangannya agar tidak mencekik leher si p*lacur ini. "Berhenti tersenyum seperti itu padaku, Vanya. Kau terlihat mengerikan!"


"Cihh, tolong hati-hati saat bicara ya. Aku tidak percaya kau sanggup berkata kasar pada istrimu sendiri, Zid. Sungguh suami yang sangat kejam."


Sambil memasang wajah masam, Vanya segera berganti pakaian. Malam ini dia memiliki janji dengan brondong sewaannya. Jadi Vanya mencari gaun terbaik yang bisa membuatnya terlihat jauh lebih muda dan juga menarik.


"Kau mau pergi kemana?" tanya Zidane santai. Dia sama sekali tidak merasa cemburu melihat istrinya mengenakan pakaian yang begitu seksi. Karena pakaian Zidane sendiri jauh lebih seksi dan berkelas jika di bandingkan dengan baju-baju milik Vanya. Upsss, bukan Zidane deng, tapi Zalina ๐Ÿ˜…


"Um aku ada arisan dengan teman-temanku, Zid. Kenapa memangnya?" jawab Vanya sembari memoles make-up di wajahnya.


"Apa arisan akan dilakukan setiap malam?"

__ADS_1


"Tentu saja iya. Semakin sering di kocok maka silaturahmi di antara kami akan terjalin semakin erat," jawab Vanya bohong. "Zidane, tumben sekali kau menanyakan kemana aku akan pergi. Biasanya kan kau acuh-acuh saja meski aku tidak pulang sampai pagi. Aneh."


Dasar tua bangka penyakitan, kau mana mungkin bisa memuaskan aku dengan kondisimu yang sudah imp*ten itu, heh. Dan yang aku maksud di kocok itu bukan nomor arisan, melainkan kenikmatan ranjang yang akan di berikan oleh para brondongku. Aih, aku sudah tidak sabar ingin segera berbagi kehangatan ranjang dengan mereka. My baby, tunggu aku ya ....


Setelah selesai bersiap, Vanya bergegas pergi meninggalkan kamar. Dia benar-benar tidak mempedulikan Zidane yang saat itu masih memandanginya dengan sorot mata yang sangat aneh.


"Huh, kalau aku tidak mencari kepuasan dari para pria muda itu aku pasti akan mati karatan karena tidak mendapat jatah dari si tua bangka sialan itu. Heran, aku inikan istrinya. Dulu dia begitu memujaku, tapi setelah aku melahirkan Grace kenapa sikapnya jadi berubah dingin ya? Zidane bahkan tak pernah lagi menyentuhku. Untung kau kaya, Zid. Jadi aku bisa menggunakan uangmu untuk mencari kepuasan di luar sana. Hmmm."


Gracia yang kebetulan hendak masuk ke kamarnya menatap penuh keheranan pada sang ibu yang sedang menggerutu sambil menuruni anak tangga. Melihat penampilan cetar nan menor di diri sang ibu, raut wajah Gracia langsung berubah sendu. Lagi-lagi ibunya ini akan pergi menghabiskan malam dengan para pria yang usianya hampir setara dengannya. Bahkan pernah beberapa kali Gracia mendapati ibunya kencan dengan seorang remaja yang baru berumur dua puluh tahun. Malu, itu sudah pasti. Namun Gracia tak bisa menyalahkan sang ibu sepenuhnya karena dia sadar ayahnya tak bisa lagi melakukan kewajibannya sebagai seorang suami. Jadilah Gracia hanya diam saja sambil berpura-pura tidak mengetahui apapun.


"Oh sayang, kenapa kau melamun di situ?" tanya Vanya kaget melihat keberadaan putrinya. "Kau kumat lagi?"


"Tidak, Ma. Tadi aku baru saja dari dapur dan ingin kembali masuk ke dalam kamar. Akan tetapi aku merasa seperti telah melupakan sesuatu. Makanya aku diam seperti sedang melamun," jawab Gracia berkilah. Suaranya hampir tercekat karena dia menahan tangis.


Langkah Vanya terhenti saat lengannya ditarik oleh Gracia. Dia lalu menatap putrinya sambil mengerutkan kening.


"Ada apa?"


"Sampai kapan Mama akan terus seperti ini?"


"Maksudnya?"


"Papa ada di rumah tapi kenapa Mama malah ingin pergi keluar? Belum lagi cara berdandan Mama yang seperti biduan cafe. Mama ingin jual diri atau bagaimana?" cecar Gracia habis kesabaran. Dia lelah terus berpura-pura baik-baik saja.


Plaaakkkk

__ADS_1


"Jaga kata-katamu, Grace. Aku ini Mama-mu, kau tidak seharusnya bicara kurang ajar seperti tadi!" amuk Vanya.


Sudut bibir Gracia terluka. Sayangnya luka itu tak sebegitu menyakitkan jika di bandingkan dengan kekecewaan yang dirasa olehnya. Hati Gracia hancur, keluarga ini sudah seperti neraka baginya. Mungkin orang di luaran sana menganggap kalau dia adalah gadis paling beruntung karena terlahir di keluarga Clarence. Namun kenyataan yang sebenarnya Gracia sangatlah mengutuk nasibnya yang harus menjadi saksi betapa menjijikkan sikap orang-orang yang tinggal di sini. Terkecuali sang kakak tentunya.


Dengan mata berkaca-kaca Gracia mengusap darah yang menetes di sudut bibirnya. Dia lalu menatap sang ibu yang terlihat biasa saja tanpa ada raut bersalah setelah memukulnya dengan sangat keras.


"Aku tahu semua yang Mama lakukan bersama pria-pria itu, Ma. Aku juga tahu kalau selama ini Mama-lah yang memelihara mereka. Mau sampai kapan, Ma. Sampai kapan!! Apa Mama tidak malu jika hal ini sampai di ketahui oleh khalayak ramai. Apa Mama tidak takut suatu hari nanti Papa akan mengetahui semua perbuatan bejat yang selama ini Mama lakukan. Apa Mama tidak takut, hah!"


Vanya tersentak kaget mendengar teriakan Gracia. Dia tidak menyangka kalau putrinya ini sudah mengetahui apa yang dia lakukan bersama para daun muda itu. Kikuk dengan suasana canggung yang ada di sana, Vanya akhirnya memutuskan untuk pergi. Sudah kepalang tanggung, dia tak peduli. Lagipula semua ini adalah salahnya Zidane yang tidak pernah lagi memberikan nafkah batin padanya. Vanya adalah wanita normal. Dia butuh kasih sayang dan juga kehangatan dari seorang pria.


"Hiksss ... Kak Adam, aku tidak kuat lagi untuk tinggal di rumah ini. Aku tidak tahan," isak Gracia sambil memegangi pipinya yang memerah.


Tanpa di sadari oleh Gracia dan juga Vanya, sebenarnya sejak tadi Zidane mendengarkan pertengkaran mereka. Namun dia hanya diam saja tanpa ada niat untuk melerai. Biar saja, toh memang benar kalau dia tidak pernah bisa menjalankan tugasnya sebagai seorang suami. Karena sejatinya Zidane adalah seorang wanita yang bernama Zalina.


"Maafkan Papa yang tidak sempurna ini, Grace," gumam Zidane sambil berjalan menuju ruang rahasia dimana jati diri seorang Zalina berada.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


...๐ŸŒนJangan lupa vote, like, dan comment...


...ya gengss๐Ÿ”ช๐Ÿ”ช๐Ÿ”ช...


...๐ŸŒนIg: rifani_nini...


...๐ŸŒนFb: Rifani...

__ADS_1


__ADS_2