
Setelah memastikan adiknya beristirahat dengan baik, Adam segera pergi menemui ayahnya. Dia rasa hal ini perlu untuk di bicarakan dengan serius.
"Pa, bisa kita bicara sebentar? Ini tentang Grace," tanya Adam seraya menatap sang ayah yang tengah berdiri di depan foto mendiang ibunya.
"Apalagi yang ingin dibicarakan, Dam. Semuanya sudah sangat jelas. Gadis tidak tahu di untung itu telah mencoreng nama baik keluarga Clarence!" jawab Zidane sengit.
Kasta, harta, dan tahta adalah harga diri yang sangat di junjung tinggi oleh Zidane selama ini. Dan sudah pasti apa yang baru saja dilakukan oleh putrinya membuat emosinya tersulut. Dia merasa terluka, juga kecewa karena telah membesarkan seorang anak yang tidak berguna seperti Gracia.
"Grace melakukan itu semua ada alasannya, Pa. Dia tertekan karena kalian tidak ada yang peduli dengannya. Itulah kenapa dia mengkonsumsi barang haram itu untuk menjadi pelarian!" ucap Adam mencoba menjelaskan keadaan yang terjadi.
"Omong kosong. Apanya yang tidak peduli, Dam. Jelas-jelas selama ini dia selalu mendapatkan apa yang dia mau. Menghamburkan uang, bertindak sesuka hati, bahkan tak peduli dengan pendidikannya sendiri. Apa menurutmu Papa masih kurang dalam memberinya kebebasan? Huh, sudahlah. Kau jangan membela gadis sundal itu lagi. Papa tidak mau dengar!"
Malas membicarakan tentang kebodohan putrinya, Zidane mengalihkan pembicaraan dengan menanyakan tentang Rose. Dia kembali mendapat laporan kalau Adamar diam-diam telah menjalin hubungan dengan gadis itu. Sayang sekali Rose harus berasal dari keluarga miskin. Andai dia berasal dari keluarga yang terpandang, Zidane pasti tidak akan menentang jika putranya ingin berhubungan dengannya. Karena Zidane tahu betul jika Gheana bukanlah wanita yang mudah. Dia tahu kalau wanita yang di jodohkan dengan putranya itu memiliki dua wajah. Anggun dan juga licik.
"Dam, kapan Rose akan mulai bekerja di perusahaan?"
"Masalah itu aku belum tahu, Pa. Kemungkinan besar setelah semua urusan di kampusnya selesai," jawab Adam. "Aku perhatikan Papa begitu tertarik pada Rose. Kenapa?"
"Apalagi jika bukan karena dia yang cantik dan juga cerdas. Papa butuh orang-orang seperti Rose untuk membantumu memajukan perusahaan. Kau tahu tidak Dam kalau Rose itu memiliki potensi yang sangat luar biasa. Otaknya begitu jenius dan gerak-geriknya begitu gesit. CL Group akan sangat di untungkan jika dia bisa bergabung bersama kita!" jawab Zidane menggebu-gebu.
Adam terdiam mendengar jawaban ayahnya. Dia sebenarnya sangat sadar kalau ada hal lain yang membuat ayahnya bisa menargetkan Rose. Adam mulai bertanya-tanya apakah mungkin ayahnya ini telah mengetahui hubungannya dengan Rose atau tidak. Karena jika di perhatikan baik-baik, mata ayahnya menyiratkan sebuah kecurigaan besar ketika sedang menyebut nama istrinya.
"Pa, Rose hanya akan bergabung dengan kita jika kita membiarkannya membawa Mona. Papa tahu kan siapa wanita bernama Mona ini?"
"Tentu Papa sangat tahu, Dam. Dia adalah gadis terbodoh di kelasnya Rose, dan hubungan mereka sangat dekat. Benar kan?" jawab Zidane. "Pihak kampus yang memberitahu Papa kemarin."
"Papa tidak keberatan kalau dia bergabung di perusahaan?" tanya Adam lagi.
__ADS_1
"Sebenarnya keberatan. Tapi jika itu menjadi syarat satu-satunya yang bisa membawa Rose ke CL Group ya mau tidak mau Papa harus legowo menerimanya. Nanti kau carikan posisi yang biasa saja untuk gadis bodoh itu. Jangan libatkan dia dengan hal-hal yang penting."
Hmm, andai saja Papa tahu kalau kekayaan Rose jauh melebihi kekayaan kita. Mungkin Papa akan jatuh pingsan mendengarnya. Batin Adam.
"Ini sudah malam. Aku pamit pulang dulu Pa," ucap Adam seraya melihat ke arah jam di tangannya.
"Tidak menginap saja?" tanya Zidane.
"Tidak. Dan satu lagi Pa, mungkin minggu-minggu ini aku akan membawa seseorang pulang ke rumah ini."
Tatapan mata Zidane langsung berubah dingin begitu mendengar ucapan putranya. Keyakinannya semakin bertambah kalau Adam memang mempunyai hubungan dengan Rose. Namun dia mencoba menutupi kemarahannya ini dengan berpura-pura mengangguk setuju. Zidane tidak mau kalau putranya sampai menaruh rasa curiga.
"Apakah itu Gheana?"
"Papa akan tahu sendiri nanti."
"Dimana istriku?" tanya Adam.
"Kami kehilangan jejak, Tuan Adamar. Sepertinya Nona Rose tahu kalau sedang kami ikuti."
"Tidak peduli dia tahu atau tidak. Aku hanya ingin mendengar dia ada dimana sekarang!"
Adam menyalakan mesin mobilnya kemudian mulai melaju meninggalkan pekarangan rumah ayahnya. Dia sedikit kesal karena anak buahnya bisa kehilangan jejaknya Rose. Adam khawatir, dia tahu jelas dengan siapa istrinya sedang berurusan. Karena sebenarnya Adam adalah....
"Nona Rose dan teman-temannya pergi mengunjungi sebuah bar, Tuan. Dan bar itu adalah milik salah seorang bandar judi kenamaan. Saat kami ingin masuk ke sana, kami tidak di izinkan karena tidak memiliki kartu anggota. Sepertinya di bar itu sedang ada pertemuan khusus."
"Kalian kembali saja. Percuma, jejak istriku tidak akan bisa kalian temukan lagi!" ucap Adam kemudian memutuskan panggilan.
__ADS_1
Sambil mengemudi, Adam berpikir keras kemana istrinya pergi. Dia takut kalau-kalau istrinya masuk ke tempat yang salah.
"Apa mungkin Rose sedang berencana untuk membunuh Agler? Tapi tidak mungkin. Malam ini Agler tidak akan keluar dari bar itu sampai satu minggu ke depan. Lalu dia pergi kemana? Apa ada orang lain yang sedang dia incar? Tapi siapa?"
Saat Adam sedang bertanya-tanya dalam hati, dia teringat dengan video yang dia tonton ketika sedang berada di markas Queen Ma. Dia menelan ludah.
"Zucca. Ya, itu pasti dia. Mafia itu sepertinya sedang ada di negara ini. Atau jangan-jangan Rose melihatnya datang mengunjungi bar itu juga? Owh shitt, kalau Zucca sampai tertangkap oleh Rose, maka matilah aku. Rose pasti akan sangat murka jika dia tahu kalau aku dan Zucca saling kenal. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Tidak mungkin aku mencari dimana keberadaan Zucca sekarang. Ini namanya bom bunuh diri!" umpat Adam sambil memukuli stir mobil.
Saat Adam melihat video percakapan Zucca di markas Queen Ma, dia sebenarnya sudah sangat gelisah. Zucca ingin memburu kelompok istrinya, dan kelompok istrinya ingin membunuhnya. Keadaan ini membuat posisi Adam seperti terjepit. Di satu sisi dia dan Zucca memiliki hubungan baik dalam berbisnis, tapi di sisi lain Rose adalah wanita yang sangat dia cintai. Ross adalah istrinya, dia dunianya. Adam sungguh bingung memikirkan hal ini. Dia tidak tahu harus bagaimana.
"Apa aku hubungi Zucca saja dan memberi tahu dia kalau ada bahaya mengancam atau bagaimana ya? Ck, kenapa posisiku jadi sulit begini sih!" ucap Adam bermonolog dengan dirinya sendiri.
Dan di saat Adam sedang kacau dengan pikirannya, sebuah pesan masuk ke ponselnya.Wajah Adam langsung berubah panik begitu dia membaca pesan tersebut.
"Halo teman, apa kabar? Aku sekarang sedang berada di depan apartemenmu. Bisakah kita bertemu untuk sekedar bersulang segelas minuman? Zucca.
"Sial! Arrggghhhh, bagaimana bisa Zucca tahu tempat tinggalku? Brengsek! Ya Tuhan, semoga saja Rose tidak mengikuti Zucca sampai ke sana. Dia bisa salah paham jika mengetahui hal ini!" teriak Adam panik.
Tak mau membuang waktu, Adam bergegas pergi menyusul Zucca di apartemennya. Dalam keadaan panik dan kacau, Adam terus menghubungi nomor istrinya. Tapi sayang, tak satupun dari panggilannya ada yang di jawab. Adamar sadar kalau saat ini dia sedang dalam masalah yang sangat besar.
๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น
...๐นJangan lupa vote, like, dan comment...
...ya gengss ๐ช๐ช๐ช...
...๐นIg: rifani_nini...
__ADS_1
...๐นFb: Rifani...