
Adam dan Liona sama-sama melayangkan tatapan dingin saat mereka bertemu di markas Queen MA. Keduanya terlihat kokoh dengan aura masing-masing, seakan ingin menunjukkan pada semua orang kalau mereka memiliki kekuatan yang sama imbangnya.
"Ekhmm, tidak baik bersikap seperti ini pada keluarga istrimu, Dam. Kakek tidak suka!" tegur Greg yang paham akan permusuhan dingin di antara kedua orang ini.
"Aku hanya meladeni sambutan ramah yang di tunjukkan oleh Nenek Liona, Kek. Jadi jangan salahkan aku jika aku juga membalas sambutan ini dengan cara yang sama," sahut Adam tanpa mengalihkan tatapannya dari wajah neneknya Rose. Dia enggan untuk mengalah, apalagi setelah wanita beraura jendral ini mengetahui siapa dirinya.
"Apapun itu sikapmu tetap tidak bisa di benarkan. Kita adalah keluarga, tidak sepantasnya untuk bermusuhan."
Sebelah alis Adam tertarik ke atas. Dia kemudian menatap kakeknya Rose, tersenyum sambil mengusap dagu bawahnya. Sebenarnya sama sekali tidak ada masalah jika neneknya Rose mengetahui identitasnya. Adam hanya merasa tidak suka dengan cara wanita tua ini menggertaknya. Memang benar kalau posisi yang dimiliki Adam mempunyai resiko yang sangat berbahaya bagi keselamatan Rose dan juga anak-anak mereka nanti. Tapi bukan berarti Adam hanya akan diam membiarkan semua itu terjadi begitu saja. Sebagai seorang pewaris sekaligus suami dari wanita yang tengah mengandung anaknya, Adam tentu saja sudah mempersiapkan segalanya dengan sangat teliti. Dia mana mungkin membahayakan keselamatan Rose dan juga anak mereka. Jadi wajar saja bukan kalau Adam bersikap tegas begini. Dia tahu, sangat sangat tahu kalau Nenek Liona hanya ingin melindungi keselamatan cucu dan cicitnya. Tapi dia juga harus paham kalau Adam bukanlah orang yang mudah di gertak.
"Marcellino, apa itu kau?" tanya Liona. Hansen dan anak buahnya telah berhasil meretas secara lengkap semua data-data yang di sembunyikan oleh Adam. Jadi sekarang Liona tahu dengan detail siapa pria ini sebenarnya.
"Ternyata anak buahmu cukup cerdas dalam mengulik rahasiaku, Nenek!" sahut Adam sembari melirik ke arah Cesar. "Bagaimana ini, Ces. Sepertinya kau dan anak buahmu sudah kecolongan."
Cesar menyeringai. Sebelum bicara, dia menundukkan kepala ke arah wanita yang kemampuannya tidak bisa di remehkan. Cesar sebenarnya sudah mendapat laporan dari anak buahnya kalau ada seseorang yang sedang mencari tahu identitas Adamar. Namun dia memilih diam membiarkan karena ingin mengukur seberapa mengerikan kekuasaan orang tersebut. Dan ternyata, cukup membuat dia menjadi sedikit lebih waspada.
"Nyonya Liona, saya sangat tersanjung akan kesopanan anak buah anda dalam meretas data milik Marcellino. Harus saya akui kalau Tuan Hansen memiliki otak yang sangat jenius meskipun anak buah saya sudah menyerang balik untuk meretas sistem keamanan di komputer mereka. Dengan segala hormat, saya akan berterima kasih jika anda dan para anggota anda bersedia untuk tetap merahasiakan identitas Marcellino dari Rose."
"Why?"
Sambil tersenyum sinis, Liona menanyakan penyebab mengapa cucunya tidak di perbolehkan mengetahui identitas lain dari suaminya sendiri. Dia kemudian berjalan ke arah sofa, tanpa canggung langsung duduk di atas pangkuan Greg.
"Why, Cesar?"
"Karena belum waktunya untuk Rose mengetahui siapa Marcellino. Biarlah untuk sekarang ini dia mengenal Marcellino sebagai Adam. Saya harap anda bisa memahami situasinya, Nyonya Liona," jawab Cesar yang entah sejak kapan jadi bicara formal pada keluarganya Rose.
Grizelle yang tengah memangku kepala Rose hanya diam menyimak pembicaraan antara kubu orangtuanya dan kubu menantunya. Baik dia maupun Drax, mereka tidak bisa memihak karena kedua kubu tersebut sama-sama mengutamakan kepentingan Rose. Jadi sebisa mungkin Grizelle dan Drax bersikap netral agar masalahnya tidak semakin melebar.
__ADS_1
"Alasanmu terdengar sangat menggantung, Cesar. Jelaskan, atau kami akan membawa Rose pergi ke Negara N. Sekarang!" perintah Liona penuh nada penekanan.
Seketika suasana dalam ruangan tersebut berubah menjadi mencekam begitu Liona mengeluarkan aura kepemimpinannya. Greg yang tanggap kalau istri kesayangannya tengah menahan amarah dengan penuh perhatian mengusap-usap punggungnya. Wajar jika sekarang istrinya menjadi sangat marah akan sikap Adam yang tidak bersedia untuk jujur pada cucunya. Karena di saat kecelakaan itu terjadi, istrinya-lah yang menyaksikan dengan kedua matanya sendiri ketika pegangan tangan Rose terlepas hingga membuatnya hilang di telan ombak lautan. Mungkin rasa trauma inilah yang membuat istrinya jadi begitu posesif terhadap Rosalinda.
"Nenek, sadarlah dengan umur. Kau sudah tidak muda lagi, jadi aku harap kau jangan main-main dengan kami yang masih berjiwa garang. Rose adalah istriku, dan sekarang dia tengah mengandung calon penerusku. Meski kalian adalah keluarga kandungnya, kalian tetap tidak memiliki hak untuk memisahkan kami. Bukan tanpa alasan mengapa aku tidak mengatakan yang sebenarnya pada Rose. Karena sebenarnya, aku sudah lama menanti agar dia bisa segera tiba di singgasanaku. Tapi semua itu tidak semudah yang kalian kira. Rose memang mempunyai anggota yang kesetiaan dan kekuatannya tidak bisa di pandang sebelah mata, tapi bagiku semua itu belumlah cukup. Beri aku waktu untuk mematangkan segala persiapan untuk menyambut ratu di istanaku. Dan aku janji sebelum anak kami lahir Rose sudah akan mengetahui siapa aku sebenarnya. I'm promise!" ucap Adam yang akhirnya mengalah akan kekerasan hati Nenek Liona. Mau tidak mau Adam harus mau mengakui kalau tekanan yang di tunjukkan oleh Nenek Liona membuat tubuhnya bereaksi aneh. Semacam ada kekuatan besar yang memaksanya untuk segera tunduk.
"Hmmm, sebenarnya aku keberatan. Tapi selama kau mau berkata jujur pada cucuku, maka aku akan memberimu satu kesempatan. Ingat, Adam. Hanya satu kesempatan!" sahut Liona melonggarkan hati.
Adam mengangguk. Setelah itu dia melihat ke arah Rose yang sedang terlelap di pangkuan ibu mertuanya.
"Dia sangat nyenyak dalam tidurnya, Dam. Bayi kalian begitu manja hari ini," ucap Grizelle saat menyadari arah pandang menantunya.
"Apa sikapnya ada yang berbeda, Mom? Sepertinya kalian semua terlihat sangat bahagia," tanya Adam yang bisa merasakan kalau aura mencekam tadi telah berubah menjadi aura yang penuh kehangatan.
"Ada banyak hal yang berbeda sejak Rose hamil. Termasuk sikapnya yang tak lagi menganggap kami sebagai orang asing. Tadi Rose bahkan sempat merajuk pada Rolland karena dia terlambat memberikan respon atas kabar kehamilannya. Semuanya berubah total, tapi kami sangat menyukainya," jawab Rose penuh kebahagiaan. Dia lalu membelai kepala putrinya yang masih betah memejamkan mata.
"Jangan terlalu mengkhawatirkan sesuatu yang jelas-jelas sudah mengalami banyak perubahan, Dam. Rose mungkin telah kehilangan semua ingatannya, tapi kau jangan lupa kalau dia mempunyai kemampuan untuk melihat masa lalu dan juga masa depan!" ucap Liona saat melihat kekhawatiran di wajah Adam.
Cesar terbelalak begitu mendengar keistimewaan yang dimiliki oleh Rose. Dia kemudian menengok ke arah Adam, mencari kepastian kalau semua itu memang benar adanya.
"Aku akan menceritakan semuanya padamu nanti, Ces. Sekarang lebih baik kau pergi siapkan mobil karena aku akan membawa Rose pulang!" perintah Adam kemudian beranjak mendekat ke arah istrinya yang masih terlelap. "Gracia sedang menunggu di apartemen kami, Mom. Tidak apa-apa kan kalau aku membawa Rose pulang sekarang?"
Meskipun berat, Grizelle terpaksa merelakan Rose di bawa pergi oleh Adam. Dia dengan penuh sayang membantu Adam memindahkan Rose ke gendongannya.
"Kalian hati-hati ya. Jika terjadi sesuatu segera hubungi kami!" pesan Grizelle sebelum Adam melangkah pergi dari sana.
"Baik, Mom. Kalau begitu aku permisi!" pamit Adam seraya menganggukkan kepala pada semua orang.
__ADS_1
Merasa ada yang mengganggu tidurnya, mata Rose perlahan-lahan terbuka. Dia menatap lekat begitu mendapati wajah tampan Adam yang tengah menatapnya sambil tersenyum.
"Tidurlah lagi, Hon. Aku akan membangunkanmu setelah kita sampai di apartemen!" bisik Adam.
"Aku ingin minum es kelapa," ucap Rose yang tiba-tiba seperti ingin meneteskan air liur saat gambar buah kelapa hijau melintas di pikirannya.
"Akan siap begitu kita sampai di apartemen nanti."
"Terima kasih."
"Aku lebih suka kau berterima kasih dengan cara yang lain, Honey."
"Baiklah. Akan aku lakukan nanti malam."
"Aku tunggu."
Rose mengangguk. Dia lalu melesakkan kepalanya ke dada Adam, membaui wangi maskulin yang menguar kuat dari tubuh suaminya ini.
๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น
...๐นJangan lupa vote, like, dan comment...
...ya gengss ๐ช๐ช๐ช...
...๐นIg: rifani_nini...
...๐นFb: Rifani...
__ADS_1