
Mata semua orang terpejam saat menikmati alunan musik yang di mainkan oleh Rose di atas panggung. Ya, hari ini adalah hari perpisahan di kampus. Nampak semua orang duduk dengan begitu khidmat begitu Rose mulai memainkan sihir kesepian yang selalu menjadi andalannya. Dari sekian banyak acara, hanya penampilan si jenius inilah yang paling tunggu-tunggu. Baik itu dari para mahasiswa maupun para guru, mereka semua begitu menantikannya. Tak terkecuali juga dengan keluarga Clarence. Juga keluarga Osmond dan keluarga Ma yang ikut hadir di sana sebagai tamu undangan khusus dari pemilik saham terbesar di universitas ini.
"Kak, ternyata calon adik iparku begitu mempesona ya saat berada di atas panggung," bisik Brenda tanpa melepaskan pandangannya dari arah Rose.
Rolland mengangguk bangga. Dia tak mempedulikan lagi anggapan Brenda yang menyebut jika Rose adalah calon adik iparnya. Em, mungkin bisa jadi Rose memang akan menjadi adik iparnya Brenda sih karena sekarang tangan Rolland terus menggenggam tangan gadis yang semalam sibuk mengajaknya untuk berskipidadap.
"Untung saja dia kembaran Kak Oland. Jika tidak, maka posisiku akan berada dalam bahaya. Rose begitu mempesona, bisa-bisa Kak Oland berpaling padanya kemudian pergi meninggalkan aku. Huftt, tapi kali ini aku tidak perlu repot-repot memikirkan cara untuk menyingkirkan benalu karena benalu itu adalah calon adik iparku sendiri. Hihihihi, leganya," celetuk Brenda yang tidak menyadari kalau ucapannya membuat keluarga Rolland tersenyum kecil.
Oland, apa semalam telah terjadi sesuatu antara kau dan Brenda? Kenapa Mommy merasa kalau saat ini kita tengah berada di musim semi? Kau bahkan sejak tadi terus menggandeng tangan Brenda. Mungkinkah kalian.....
Rolland langsung menoleh ke arah sang ibu saat di goda melalui pikiran. Dia kemudian tersenyum, dengan bangga membalas godaan tersebut dengan mencium pelan tangan Brenda yang sedang dia genggam.
Apakah jika seperti ini Mommy dan Nenek akan merasa bahagia? Dulu aku pernah berjanji jika Rose di temukan, aku baru akan membuka hati untuk wanita lain. Dan sialnya wanita yang tidak pernah meninggalkan aku hanya ulat bulu satu ini. Dia bahkan dengan gilanya datang menyusul kemari hanya karena tidak bisa menemukan keberadaanku di Negara N. Manis sekali bukan?
Grizelle dan Liona hampir saja tertawa jika tidak mendengar suara tepuk tangan dari orang-orang. Mata mereka langsung tertuju ke arah panggung dimana Rose tengah tersenyum sambil melihat ke arah mereka. Sesuai kesepakatan, semua orang di larang menunjukkan diri sebagai keluarganya Rose dengan alasan yang tidak mereka ketahui. Bahkan Adam sendiri di larang untuk bersikap layaknya suami di hadapan penghuni kampus. Terlebih lagi sekarang Tuan Zidane dan Nyonya Vanya ada di sini, semakin Rose memintanya untuk bersikap seolah mereka tak saling kenal. Sungguh, nasib Adam sangat malang bukan?
"Lagi... lagi... lagi,"....
Sudut bibir Rose tertarik ke atas saat dia mendengar suara teriakan teman-temannya yang meminta agar dia kembali memainkan piano. Ekor matanya kemudian melirik ke arah Adam yang nampaknya cemberut di sebelah ayah mertuanya. Ya, sejak tadi Rose diam-diam terus memperhatikan ayahnya Adam yang sikapnya begitu tenang. Tapi entah kenapa dia merasa kalau ayahnya Adam ini tengah memendam rasa cemburu yang begitu besar terhadapnya. Hal ini sangat aneh, dan Rose tidak bisa menemukan dimana letak keanehan tersebut.
__ADS_1
Lamunan Rose buyar saat suara teriakan kembali terdengar. Tanpa banyak bicara, Rose akhirnya kembali memainkan piano sambil terus mengawasi keluarganya dari atas panggung. Matanya kemudian memicing saat tidak sengaja melihat pergerakan seseorang yang sedikit mencurigakan.
Oh, jadi kalian sudah muncul. Baguslah, dengan begini aku tidak perlu repot-repot memancing kalian untuk keluar. Tunggulah aku selesai bermain piano, baru kita akan menyelesaikan urusan.
Alunan melodi kesepian kembali membius orang-orang yang ada di sana. Bahkan Adam sampai memejamkan mata saking khidmatnya dia menikmati permainan piano sang istri. Ya, pagi tadi dia langsung datang ke kampus setelah semalam ayahnya menelpon dan memintanya untuk ikut menghadiri acara ini sekaligus mencari bibit unggul yang akan di tarik ke CL Group. Dan kemungkinan besar istrinya akan masuk sebagai kandidat pertama karena sejak tadi ayahnya terus memperhatikannya.
"Dam, gadis ini harus bisa menjadi bagian dari CL Group. Nanti kau bicarakan hal ini dengan pihak kampus," ucap Zidane.
"Papa yakin ingin Rose bekerja di perusahaan kita?" tanya Adam pura-pura meragu. Padahal di dalam hatinya dia sudah begitu girang.
"Iya, Dam. Jika kita tidak bergerak cepat, dalam waktu singkat Rose pasti akan langsung di rekrut oleh perusahaan lain. Rose sangat jenius, bisa rugi banyak jika kita membiarkan mahasiswi berbakat seperti dia lolos begitu saja. Kau pahamkan apa maksud Papa?" jawab Zidane.
Vanya dan Grace yang menguping pembicaraan Zidane dan Adam nampak mengepalkan kedua tangan. Mereka sangat iri pada Rose. Ingin rasanya Vanya mengutarakan ketidaksukaannya pada Zidane kalau dia tidak ingin Rose bergabung dengan CL Group. Dia tidak rela jika gadis itu sampai memiliki status yang lebih tinggi darinya. Namun Vanya tidak berani untuk mengatakannya karena sudah tahu kalau Zidane akan tetap pada keputusan tersebut.
Hmm Honey, tanpa harus bersusah payah lagi kita akan bekerja di tempat yang sama. Bahkan ini Papa sendiri yang memintaku untuk menarikmu masuk ke perusahaan. Benar-benar sesuatu yang sangat menggembirakan untuk kita berdua, Hon.
Di sisi lain, Mona terus melirik ke arah Adam. Dia sama sekali tidak fokus pada penampilan Rose di atas panggung. Sesekali tangannya juga nampak terkepal kuat, juga terlihat ada gurat kebencian di sana. Meskipun sudah meminta maaf pada Rose, nyatanya Mona masih memendam cemburu pada hubungannya dengan Adam. Hatinya sangat sakit, dia masih merasa di khianati.
"Sayang, ada apa?" tanya Nenek Shiren.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, Nek."
Nenek Shiren menarik nafas panjang. Dia sangat tahu kalau cucunya diam-diam tengah memandangi pria yang telah membuatnya patah hati. Rasanya sungguh tidak tega, tapi Nenek Shiren tidak bisa melakukan apa-apa karena Adam adalah suaminya Rose. Dia tidak mungkin merusak rumah tangga mereka.
"Bu, kejadian ini sama persis seperti yang aku lihat dalam mimpi ketika sedang mengandung Rose dan Oland dulu. Musik kesepian ini ternyata adalah suatu pertanda yang mengerikan sekaligus menggembirakan. Andai saja Mark masih hidup, dia pasti akan sangat bangga karena muridnya bisa memainkan musik tersebut dengan sangat baik. Rose kita adalah juaranya," bisik Grizelle sambil menyeka cairan bening yang menggenang di pelupuk mata.
"Yang buruk jangan di ingat-ingat lagi, Zel. Karena sekarang rasa sakit yang kita alami sudah usai. Rose sudah kembali pada kita, dia bahkan memainkan musik menyedihkan itu dengan penuh kebahagiaan. Jadi mari kita semua melupakan kenangan pahit yang kita lewati selama tujuh belas tahun ini. Bisa?" sahut Liona penuh haru.
Greg, Drax, Ethan dan yang lainnya langsung mengangguk setuju dengan ucapan Liona. Mereka semua kemudian kembali fokus ke arah panggung dimana ada seorang gadis cantik yang tengah fokus memainkan denting piano. Gadis itu sangat cantik. Namun di balik kecantikannya tersimpan sesuatu yang cukup mengerikan. Ma Queen, satu kematian yang akan mendatangi seseorang jika berani menyinggung sang ketua. Rosalinda Osmond, istri kesayangan Adamar Clarence dan cucu kebanggaan Liona. ๐
๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น
...๐นJangan lupa vote, like, dan comment...
...ya gengss ๐ช๐ช๐ช...
...๐นIg: rifani_nini...
...๐นFb: Rifani...
__ADS_1