Ma Queen ROSE

Ma Queen ROSE
Rose: Permintaan Yang Gagal


__ADS_3

Di markas Queen Ma, terlihat Mona yang sedang duduk seorang diri di atas ranjang. Tatapan matanya kosong dengan pandangan lurus ke depan. Entah apa yang sedang di pikirkan oleh gadis culun itu sampai-sampai tidak menyadari kalau Rolland sedang berjalan ke arahnya.


"Hai ... Mona. Bagaimana keadaanmu?" tanya Rolland pelan.


Pertanyaan pertama di abaikan begitu saja oleh Mona. Rolland yang melihat hal itupun berinisiatif untuk menyentuh lengan gadis yang sedang diam melamun.


"Mona, kau baik-baik saja?"


"Haaa??"


Mona terperanjat kaget ketika merasakan satu sentuhan di lengannya. Dia langsung menepis sentuhan tersebut kemudian beringsut menjauh begitu menyadari ada seorang laki-laki yang sedang berdiri di sebelahnya.


"Jangan takut. Ini aku, Rolland!" ucap Rolland sambil mengangkat kedua tangannya ke atas. Dia cukup kaget dengan reaksi yang di tunjukan oleh Mona.


"Rolland?" beo Mona lirih.


"Iya, ini aku."


"M-mau apa kau datang ke kamarku?" tanya Mona gugup. Dia langsung ingat dengan kemarahan saudara kembarnya Rose yang begitu menakutkan.


Ya Tuhan, kali ini apa yang akan Rolland lakukan padaku? Apakah dia ingin memaksaku untuk menjauhi Rose? Bagaimana ini? Siapapun tolong aku. Aku takut.


Tatapan Rolland menyendu saat mendengar apa yang sedang di pikirkan oleh Mona. Sebegitu menakutkankah dirinya sampai gadis ini menyimpan trauma? Andai saja Rolland tahu lebih awal tentang keadaan mental Mona yang telah di rusak paksa, dia pasti tidak akan berbuat kasar padanya malam itu. Kini Rolland hanya bisa merutuki kecerobohannya sendiri dalam diam.


"Mon, aku datang kemari karena ingin meminta maaf padamu. Aku menyesal karena waktu itu langsung melakukan penghakiman tanpa mendengar penjelasanmu. Gara-gara aku kau jadi diculik oleh anak buahnya Agler. Tolong maafkan aku ya!" ucap Rolland menghiba.

__ADS_1


"M-maaf? Land, apa aku tidak salah dengar?" tanya Mona syok. "Kau tidak lupa kan dengan pengakuan yang aku ucapkan malam itu? Aku menyukai Rose. Aku mencintai saudara kembarmu. Kau yakin meminta maaf padaku?"


"Aku tidak lupa dan aku tidak salah karena meminta maaf padamu. Bohong kalau aku tidak marah saat tahu kau menyukai adikku. Aku sangat murka, Mona. Aku bahkan sangat ingin membunuhmu!" jawab Rolland jujur. "Tapi setelah aku pikir kembali, aku tidak seharusnya menganggap perasaanmu sebagai sesuatu yang rendah. Kau punya hak untuk mencintai siapapun, termasuk Rose. Kemarahanku waktu itu reflek terjadi karena aku sangat tidak menyangka di balik kedekatan kalian ada rasa berbeda yang tumbuh di hatimu. Tapi saat melihat Rose yang begitu mengkhawatirkan keselamatanmu, aku jadi merasa sangat bersalah. Ternyata kalian sama-sama saling menyayangi. Hanya saja kau sedikit kebablasan dengan rasa sayang tersebut. Sekali lagi aku minta maaf padamu, Mon. Aku sudah egois terhadapmu."


Mona tercengang kaget mendengar jawaban Rolland. Dia tidak menyangka kalau laki-laki ini akan menunjukkan reaksi yang sangat jauh berbeda dengan malam itu. Curiga kalau Rolland sedang melakukan sebuah trik untuk memisahkannya dengan Rose, Mona segera memastikan apakah ada yang tahu tentang pertengkaran mereka atau tidak. Dia takut Rolland sudah memberitahukan hal itu pada Rose dan keluarganya.


"Land, apa ada orang lain yang mengetahui tentang perasaanku pada Rose?" tanya Mona penuh selidik.


"Tidak ada yang tahu selain Brenda dan kita berdua," jawab Rolland. "Kau tenang saja. Aku pastikan Brenda tidak akan pernah membahas masalah ini di depan orang lain."


"Kau yakin?"


Rolland mengangguk.


"Kenapa kau tidak mengatakan hal itu pada Rose ataupun keluargamu? Dengan begini kan kau bisa memisahkan aku darinya. Kenapa tidak kau lakukan?"


"Tidak mudah untukku melakukan semua itu, Mona. Ada banyak perasaan yang akan terluka jika aku sampai memberitahu semua orang. Aku tidak sekejam itu untuk menyakiti hati kakek dan nenekmu. Juga Rose dan keluargaku. Kau paham kan maksud ucapanku?"


Kepala Mona tertunduk ke bawah. Jari-jari tangannya yang terbungkus perban nampak memelintir ujung selimut yang menutupi tubuhnya. Entahlah, Mona tidak tahu apakah sekarang harus merasa senang atau tidak saat tahu kalau Rolland tidak mengungkapkan penyebab pertengkaran mereka malam itu. Sebelum Rolland datang ke kamar ini, Mona sebenarnya sedang membayangkan kejadian buruk yang akan terjadi pada semua orang jika seandainya Rolland sampai mengatakan apa yang menjadi pemicu pertengkaran mereka. Hati kakek dan neneknya pasti akan sangat hancur jika tahu kalau Mona mengalami kelainan s*ksual dimana dia jatuh cinta pada sahabatnya sendiri. Tapi untungnya Rolland tidak mengatakan apapun pada mereka. Jadi Mona bisa merasa sedikit lebih lega sekarang.


"Mona, aku tidak menyalahkan apa yang kau rasa untuk adikku. Akan tetapi bisakah kau mencoba untuk melupakannya? Kau adalah wanita yang cantik dan juga hebat, Mon. Aku yakin ada banyak pria baik yang sedang menantimu di depan sana," ucap Rolland dengan lembut.


"Jangan memintaku untuk melakukan hal itu, Land. Aku tidak bisa!" sahut Mona kemudian menutup kedua telinganya. "Duniaku selalu berputar pada Rose. Aku tida bisa jika tidak ada dia. Tolong jangan paksa aku untuk menjauhinya, Rolland. Karena aku lebih baik mati daripada harus meninggalkan dia. Aku tidak mauuu!"


Suara alarm tiba-tiba berbunyi dengan sangat kencang saat Mona mulai histeris. Rolland yang mengetahui hal itupun segera menahan tangan Mona yang ingin menyakitinya tubuhnya sendiri. Di saat yang bersamaan masuklah beberapa dokter ke dalam ruangan. Mereka ikut membantu Rolland menangani Mona yang mulai lepas kendali.

__ADS_1


"Tuan Rolland, anda sebaiknya keluar saja dari sini. Nona Mona butuh ruang untuk menenangkan diri. Sekarang!"


"Baiklah, aku keluar!" sahut Rolland kemudian segera berjalan keluar dari ruangan tersebut.


Sesampainya Rolland di luar, dia di sambut oleh wajah-wajah sendu yang berasal dari kakek dan neneknya Mona. Juga kedua orang tua beserta kakek dan neneknya juga.


"Aku tidak berhasil meyakinkan Mona, Mom. Dia bereaksi terlalu keras saat aku memintanya untuk menjauhi Rose," ucap Rolland lirih.


Grizelle dengan lembut memberikan pelukan pada putranya yang sedang bersedih. Dia tahu kalau hal ini pasti tidak akan mudah. Sepertinya obsesi Mona pada putrinya sudah masuk terlalu jauh ke dalam pikirannya. Dia jadi merasa sangat prihatin akan hal itu.


"Semuanya tidak bisa di selesaikan dengan cara yang instant, Land. Selama ini Mona selalu menganggap kalau Rose adalah segala-galanya dalam hidupnya. Wajar kalau dia bereaksi seperti tadi. Dia pasti sedang kesakitan sekarang," ucap Grizelle pelan. "Tidak apa-apa. Ada banyak jalan yang masih bisa kita coba untuk menyadarkan Mona dari perasaan salah itu. Kita hanya perlu waktu dan juga kesabaran. Jangan menyerah ya, kita semua akan bersatu membantu Mona agar bisa kembali normal."


"Iya, Rolland. Paman yakin Mona pasti akan secepatnya menyadari kalau rasa yang dia simpan untuk Rose adalah salah. Lebih baik sekarang kita biarkan Mona untuk tenang sementara waktu. Nanti biar Rose saja yang memberikan arahan pada kita semua!" timpal Kakek Niel ikut menenangkan Rolland.


Semua orang setuju dengan perkataan Grizelle dan Kakek Niel. Ya, satu-satunya hal yang bisa mereka lakukan sekarang hanyalah membiarkan Mona menstabilkan emosinya. Karena yang sedang mereka hadapi adalah seorang gadis polos dimana otaknya telah di cuci habis-habisan oleh seorang bajingan yang berkedok psikiater.


Tuhan, tolong bantu cucuku keluar dari belenggu penuh dosa ini, Tuhan. Izinkanlah cucuku yang malang itu merasakan kehidupan yang normal seperti para gadis lainnya. Aku mohon Tuhan ... tolong sadarkan cucuku agar bisa kembali ke jalan yang seharusnya ....


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


...๐ŸŒนJangan lupa vote, like, dan comment...


...ya gengss๐Ÿ”ช๐Ÿ”ช๐Ÿ”ช...


...๐ŸŒนIg: rifani_nini...

__ADS_1


...๐ŸŒนFb: Rifani...


__ADS_2