
Dengan hati-hati Rose turun dari ranjang. Dia tersenyum samar saat mendengar igauan suaminya yang sedang mengumpati seseorang. Sebelum pergi ke kamar mandi, Rose merapihkan selimut ke tubuh Adam terlebih dahulu. Setelah itu barulah dia pergi membersihkan diri.
Di dalam kamar mandi, Rose terdiam lama. Lagi-lagi dia memimpikan mimpi yang sama seperti apa yang dia lihat saat berada di studio tatto milik Raina. Rose bingung kenapa nama Rolland terus muncul dalam mimpinya.
"Aku tidak bisa diam begini. Sepertinya aku memang harus mencari tahu ada hubungan apa antara aku dengan Rolland dan keluarganya. Atau jangan-jangan ini terjadi karena aku yang terlalu banyak bertanya pada Brenda? Omong kosong!" ucap Rose sembari melumuri tubuhnya dengan busa sabun.
Selama ini, sering kali Rose memimpikan sesuatu yang mana mimpi tersebut akan menjadi nyata. Aneh, tapi dia sendiri tidak tahu kenapa hal-hal seperti itu bisa terjadi. Mungkin jika tentang si pahit lidah, dia pernah mendengarnya. Tapi jika tentang orang yang bisa melihat masa depan, dia sedikit tidak mempercayainya. Bukan apa, bagi Rose takdir Tuhan tidak ada orang yang tahu. Namun apa yang dia alami seringkali membuat Rose sakit kepala memikirkannya.
Ceklek
Rose yang sedang melamun sedikit kaget saat pintu kamar mandi di buka. Dia kemudian menoleh, mengangkat sebelah alisnya ketika mendapati sang suami tengah menatapnya dengan wajah masam.
"Kenapa meninggalkan aku?" tanya Adam sambil melucuti pakaiannya sendiri.
"Aku tidak mungkin mandi di atas kasur" jawab Rose asal.
"Tapi setidaknya kau kan bisa memberitahuku dulu" sahut Adam lalu ikut bergabung di bawah shower. "Astaga, kau kenapa mandi air dingin sepagi ini? Bagaimana kalau kau sakit?.
Rose diam tak menanggapi omelan Adam. Mata tajamnya hanya memperhatikan Adam yang sedang mengganti air dengan air yang hangat.
Kali ini tak ada n*fsu. Adam yang sebenarnya masih mengantuk hanya memandangi tubuh polos istrinya. Di bawah guyuran air hangat, mereka berdua saling memeluk tanpa ada yang bicara. Saling tenggelam dalam pikiran masing-masing.
"Hon, setelah ini aku akan kembali pergi ke lokasi proyek. Tidak apa-apa kan kau kutinggal sendirian lagi?" tanya Adam setelah terdiam cukup lama.
"Apa tidak bisa istirahat sehari saja dulu?.
Seringai muncul di bibir Adam. Tapi seringai tersebut langsung hilang begitu Rose melanjutkan kata-katanya.
"Kau kurang istirahat."
"Ck, aku pikir kau ingin bilang kalau kau tidak mau di tinggal" gerutu Adam.
Rose tersenyum. Dia melepaskan diri dari pelukan Adam kemudian menatapnya.
"Aku bukan anak TK yang harus selalu di temani, Dam. Pekerjaanmu sekarang memang lebih penting daripada aku, hanya saja aku tidak ingin kalau kau sampai sakit di buatnya."
"Huh, gara-gara Kenzo sialan itu waktu kita jadi terganggu. Brengsek!. Adam mengumpat.
__ADS_1
Rose tak menyahuti umpatan Adam. Karena tanpa di ketahui oleh suaminya, pria bernama Kenzo sejak subuh tadi sudah menjadi gelandangan. Kekesalan Rose semakin besar saat Adam mengatakan kalau perbuatan pria itu telah menelan banyak korban jiwa, dan salah satu dari korban tersebut sampai harus meninggal dunia karena terjebak dalam reruntuhan.
"Honey, semalam apa saja yang kau lakukan di hotel?" tanya Adam dengan tatapan menyelidik ke arah istrinya.
Tangan Rose yang saat itu hendak mengambil sabun mandi langsung terhenti. Matanya menajam, tapi dia tak langsung berbalik menatap Adam. Rose sadar kalau dia diam-diam sedang di awasi oleh suaminya. Dan sepertinya anak buahnya luput menyadari hal ini.
Jadi Adam mempunyai mata-mata juga untuk mengawasiku? Jangan-jangan dia sudah tahu kalau aku adalah ketua Queen Ma?.
"Hon, kenapa tidak menjawab?.
"Aku jenuh, kemudian memutuskan keluar hotel untuk mencari udara segar. Dan aku bertemu Brenda" jawab Rose jujur sambil membalurkan busa ke tubuh suaminya. "Dia gadis yang manis."
"Brenda?.
"Iya. Kami tidak sengaja bertabrakan di depan lift, Brenda lalu mengajakku untuk berkenalan."
"Apa dia seorang wanita?" tanya Adam cemburu.
"Apakah kata gadis yang manis tidak cukup menggambarkan siapa Brenda?" sahut Rose balik bertanya.
Namun, yang tidak di ketahui oleh Adam adalah... bukan ibu tirinya yang harus dia hindari, melainkan ayahnya sendiri. Vanya hanyalah pion yang menjadi tempat bersembunyi wajah Zidane yang sesungguhnya. Zidane sengaja melakukan hal itu untuk menutupi rahasia besar hidupnya, juga untuk terus memantau segala pergerakan Adam. Dia yang sangat terobsesi dengan kekayaan membuatnya mampu bersikap bengis terhadap siapa pun yang dia rasa ingin menjadi penghalang. Termasuk juga dengan menyakiti putranya sendiri.
"Ada apa?" tanya Rose saat menyadari kalau sejak tadi Adam terus menatapnya.
"Aku sedang berpikir apakah saat Tuhan sedang menciptakanmu dia melakukannya sambil tersenyum atau bagaimana. Kau sangat cantik Hon, benar-benar sangat cantik" jawab Adam berkilah dari apa yang sedang dia pikirkan.
Rose tersenyum kecil. Dia lalu menarik tubuh Adam yang berlumuran busa sabun ke bawah shower untuk membilasnya. Rose sama sekali tidak merasa salting di puji seperti itu oleh suaminya. Hanya saja ada bagian dari hatinya yang terasa hangat.
"Honey, kapan kau akan pulang?" tanya Adam sambil membelai dada istrinya.
"Besok,"
"Cepat sekali. Bisa tidak kau menambah libur satu hari lagi? Aku sepertinya masih akan lama berada di negara ini, Hon. Di tambah lagi sekarang proyeknya bermasalah. Akan semakin lama kita bisa bersama lagi" keluh Adam mencoba membujuk istrinya.
"Tidak bisa, Dam. Beberapa hari lagi ada kegiatan di kampus dan aku akan tampil sebagai pengisi acara!" jawab Rose.
"Acara apa?.
__ADS_1
Adam menatap seksama ke manik mata istrinya. Dia penasaran dengan acara yang di maksud oleh Rose.
"Acara perpisahan sebelum wisuda" jawab Rose. "Aku sudah lulus kuliah di sana, dan pihak kampus memintaku untuk tampil menghibur para mahasiswa yang lain sebagai kenang-kenangan terakhir."
"Astaga Hon, aku lupa menanyakan hal ini. Selamat ya untuk pencapaianmu. Aku ikut bahagia mendengarnya" ucap Adam kemudian mencium lama kening istrinya.
"Terima kasih,"
Dan akhirnya, Adam dan Rose larut dalam pembicaraan tentang acara kampus yang mana Rose di minta untuk memainkan bakatnya sebagai seorang pianis. Adam yang memang sudah mengetahui tentang kemampuan istrinya nampak begitu antusias. Dalam hatinya, dia berjanji akan pulang untuk melihat bagaimana istrinya menghipnotis semua orang. Dan Adam sangat berharap kalau masalah di proyek ini bisa segera terselesaikan sebelum acara di kampus istrinya di gelar.
Setelah selesai mandi, Rose dengan telaten membantu Adam memakai jas dan dasinya. Sementara dia sendiri hanya mengenakan baju handuk yang mana memperlihatkan pahanya yang putih mulus.
"Jangan hilang fokus gara-gara melihat pahaku!" tegur Rose pelan.
Adam tergelak. Setelah itu dia tertawa sambil mengusap pipinya Rose.
"Kau mau sarapan apa, hm?.
"Apa saja,"
"Baiklah, aku akan memesannya untukmu" ucap Adam kemudian meraih gagang telepon.
Rose dengan cepat menarik telpon dari tangan Adam kemudian menatapnya penuh perasaan.
"Untuk kita" imbuh Rose membenarkan perkataan sang suami.
Seperti es krim yang mencair, hati Adam langsung meleleh saat Rose menyebut kata untuk kita. Itu terdengar begitu manis. Sungguh, Adam benar-benar sangat beruntung telah menikahi wanita yang menjunjung tinggi harga kebersamaan dalam berumah tangga.
๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น
...๐นJangan lupa vote, like, dan comment...
...ya gengss ๐ช๐ช๐ช...
...๐นIg: rifani_nini...
...๐นFb: Rifani...
__ADS_1