Ma Queen ROSE

Ma Queen ROSE
Skipidadap


__ADS_3

Rolland terbengang kaget melihat sesosok wanita yang kini tengah tersenyum di hadapannya. Dia yang baru saja kembali ke hotel tidak menyangka kalau gadis ini akan menyusulnya kemari.


"Uuhh, ekpresimu menggemaskan sekali, Kak. Aku jadi semakin sayang," celetuk Brenda sambil menangkupkan kedua tangannya di pipi.


"Kenapa kau bisa ada di sini?" tanya Rolland datar.


"Ey, Kakak ini bagaimana sih. Calon suamiku ada di hotel ini lalu apa salahnya kalau aku datang menyusul? Presiden negara ini juga tidak melarangku untuk datang kok," jawab Brenda kemudian menarik kopernya masuk ke dalam kamar. "Wooaaahhh, kau benar-benar pandai memilih kamar pengantin kita, Kak. Aku pasti akan sangat betah tinggal di kamar ini."


Terdengar helaan nafas panjang saat Rolland mendengar ucapan aneh Brenda. Yang benar saja gadis ini menyebutnya sebagai kamar pengantin. Mereka pacaran saja tidak. Sepertinya hari-hari Rolland di negara ini akan sedikit terganggu dengan datangnya gadis yang selalu menganggapnya sebagai calon suami. Rolland kemudian berbalik menghadap ke arah Brenda saat gadis tersebut memanggilnya untuk ikut berbaring di ranjang.


"Calon suami, ayo sini tidur bersama. Memangnya Kak Oland tidak rindu setelah meninggalkan aku tanpa kabar? Aku hampir terkena stroke saat tahu kalau Kakak tiba-tiba menghilang dari Negara N. Aku pikir Kakak di bawa kabur oleh wanita lain."


"Berhenti bicara omong kosong, Brenda. Sekarang cepat keluar dari sini dan cari kamarmu sendiri. Aku tidak mau orang-orang menjadi salah paham jika tahu kalau kau ada di dalam kamarku,"


Bukannya pergi, Brenda malah dengan sengaja memasang pose yang sedikit menggoda sambil mengerlingkan mata ke arah Rolland. Entahlah, dia benar-benar bingung dengan pria ini. Mau di goda dengan cara apapun batu es yang ada di tubuhnya tidak juga mencair. Padahal Brenda sudah melakukan segala macam cara agar Rolland mau menyentuhnya. Ya itung-itung sebagai modal awal sebelum menjerat hatinya. Hehe.


"Kak Oland, aku cantik tidak?" tanya Brenda.


Tak ada jawaban yang keluar dari mulut Rolland. Dia hanya berdiri diam sambil menatap dingin ke arah Brenda.


Cantik.


"Iisshh, ayo jawab, Kak. Apa susahnya sih tinggal menjawab iya."


"Kau cantik jika sedang diam dan tidak membuat ulah. Tapi jika begini, kau malah terlihat seperti wanita murahan!" ucap Rolland sarkas.


"Menjadi wanita murahan juga tidak masalah asalkan bisa berduaan dengan Kakak di sini. Aku calon istri yang sangat setia bukan?"


Mau tak mau Rolland akhirnya tersenyum juga melihat kepercayaan tingkat dewa yang ada di diri Brenda. Dia kemudian menutup pintu kamar, setelah itu berjalan ke arah ranjang tanpa melepaskan tatapannya pada gadis yang tidak pernah lelah mengejar cintanya.


"Brenda?"


"Hmm, ada apa Kak?" sahut Brenda dengan polosnya.

__ADS_1


"Kau tahu tidak apa yang akan terjadi jika pria dan wanita berada di dalam ruangan yang sama?" tanya Rolland setelah duduk di tepian ranjang.


Ayolah kawan, Rolland adalah pria normal. Bohonglah kalau dia tidak merasa terpancing dengan gaya Brenda mengundangnya. Terlebih lagi sejak dinner malam itu Rolland memang sedikit lebih sering memikirkan gadis ini. Meskipun polos dan bodoh, Rolland sadar kalau Brenda begitu tulus padanya. Gadis ini bahkan tak pernah mundur meski berulang kali Rolland memberinya sikap yang sangat kasar.


"Temanku bilang jika dia menginap di hotel bersama kekasihnya mereka akan melakukan skipidadap, Kak," jawab Brenda tanpa menyadari maksudnya dari pertanyaan pria yang di sukainya ini.


"Skipidadap?"


Brenda mengangguk. Dia bergeser ke arah Rolland kemudian membaringkan kepala di pangkuannya. Sambil memainkan dasi di leher Rolland, Brenda bertanya tentang arti dari skipidadap. Jujur saja, Brenda itu sama sekali tidak mengerti arti dari kata tersebut.


"Kak Oland tahu tidak apa itu skipidadap?"


"Kau yang menyebut kau juga yang bertanya. Aku mana tahu apa arti dari kata nyeleneh itu, Brenda."


"Masa Kakak tidak tahu sih? Kata temanku, semua laki-laki itu sangat suka skipidadap dengan wanitanya."


"Temanmu sesat. Jangan di percaya."


Sebelah alis Rolland terangkat ke atas saat Brenda menarik dasinya hingga wajah mereka menjadi sangat dekat. Dia sudah pasti sangat paham arti dari skipidadap yang di maksud olehnya.


Cup


Pipi Brenda merona setelah mencium kilat bibirnya Rolland. Dia yang mencium, dia juga yang gugup. Apalagi sekarang Rolland hanya diam tak bereaksi sambil terus menatapnya lekat. Semakin membuat Brenda menjadi salah tingkah.


Entah dorongan darimana, Rolland ganti membalas perbuatan Brenda dengan gemas. Namun kali ini dia lakukan dalam durasi waktu yang sedikit lebih lama. Rolland membaringkan tubuh Brenda ke atas ranjang kemudian mulai menikmati bibir ranumnya. Seperti orang tidak sadar, satu tangan Rolland bergerak masuk ke balik pakaian Brenda. Akal sehatnya seperti tidak berfungsi saat tangannya menyentuh kulit perutnya yang sangat halus.


"Euuhghhhhhh ....,"


Brenda melenguh tertahan saat tangan Rolland meremas bagian dadanya. Perasaan Brenda serasa terbang ke awang-awang ketika Rolland terus memberinya sentuhan-sentuhan aneh yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Brenda kemudian melingkarkan tangannya ke leher Rolland dia ingin melepaskan ciuman mereka. Dia tidak rela jika kenikmatan ini harus terhenti.


"Lain kali jangan menggodaku. Kau bisa menyesal nanti," bisik Rolland sambil mengusap bibir Brenda yang sedikit membengkak. Nafasnya memburu.


"Aku tidak akan menyesal, Kak. Tapi ngomong-ngomong tadi itu sangat enak lho, Kak. Aku belum pernah mendapat perlakuan seperti ini dari pria lain. Sungguh!" sahut Brenda jujur.

__ADS_1


Rolland menelan ludah. Ini artinya dia yang pertama untuk Brenda. Ada rasa bahagia dan juga haru saat Rolland tahu kalau gadis ini ternyata menjaga kehormatannya dengan sangat baik. Tak ingin kembali kelepasan, Rolland akhirnya memutuskan untuk mandi terlebih dahulu. Dia butuh sesuatu yang dingin untuk meredakan gairahnya yang sempat membuncah tadi.


"Kakak mau kemana?" tanya Brenda.


"Mandi."


"Aku ikut ya?"


"Jangan gila, Brenda. Kau tunggu di situ saja."


Bibir Brenda mengerucut saat dia mendengar suara pintu kamar mandi yang sedang di kunci. Dia kemudian memegang bibirnya, sedikit kebas tapi dia suka. Brenda kemudian terpikir jangan-jangan ini adalah skipidadap yang di maksud oleh teman-temannya. Dia juga memegang dadanya yang tadi sempat mendapat sentuhan tangan Rolland.


"Pantas saja semua teman-temanku sangat suka menginap di hotel. Ternyata karena ini ya," gumam Brenda seraya mengangguk-anggukkan kepala. "Ah, moment ini tidak boleh di lewatkan begitu saja. Aku harus segera memberitahu mereka kalau baru saja melakukan skipidadap bersama Kak Oland di hotel. Dan setelah ini mereka pasti tidak akan berani mengejekku lagi. Hehehe....,"


Brenda segera turun dari ranjang kemudian mengambil ponselnya. Dia lalu mengirimkan pesan di grup chat pribadinya dimana isi dari pesan tersebut adalah sesuatu yang sedikit vulgar.


"Hei, aku ingin memberitahu kalian kalau aku baru saja skipidadap dengan Kak Oland di hotel. Kalian tahu tidak, bibirku sampai membengkak seperti di sengat lebah. Pria-ku sangat panas bukan?"


Setelah mengirim pesan, Brenda kembali berbaring di ranjang. Dia terus saja memegangi bibirnya sambil membayangkan wajah Rolland yang begitu bern*fsu saat menciumnya.


Mungkin di mata orang lain Brenda adalah gadis murahan. Dia dengan santainya masuk ke kandang macan untuk menyerahkan diri. Namun yang tidak kalian tahu adalah .... Brenda sama sekali tidak paham dengan yang namanya ****. Dia hanyalah gadis polos yang terjangkit virus mesum dari teman-temannya. Jika seandainya dia tahu apa arti dari skipidadap yang sebenarnya, mungkin Brenda akan merasa sangat malu pada Rolland. Karena itu artinya dia telah mengundang Rolland untuk mengajaknya bercinta. ๐Ÿคฃ


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


โœ…Gengss, jangan lupa mampir ke chanel yutup emak ye. Nama Chanelnya โ–ถMak Rifani


...๐ŸŒนJangan lupa vote, like, dan comment...


...ya gengss ๐Ÿ”ช๐Ÿ”ช๐Ÿ”ช...


...๐ŸŒนIg: rifani_nini...


...๐ŸŒนFb: Rifani...

__ADS_1


__ADS_2