Ma Queen ROSE

Ma Queen ROSE
Rose: Tak Ada Kata Keberatan


__ADS_3

"Bagaimana, Hon. Apa kau sudah siap bertemu mereka?" tanya Adam sesaat sebelum keluar dari dalam mobil.


"Tentu saja aku sangat siap, Dam. Aku sudah sangat lama menantikan hari ini tiba," jawab Rose seraya tersenyum manis.


Adam merasa tersindir dengan jawaban istrinya. Salahnya sendiri karena baru akan mengenalkan Rose pada keluarganya sekarang. Untuk menutupi rasa bersalahnya, Adam membungkukkan badan kemudian menciumi perutnya Rose.


"Junior, katakan pada Mamamu Papa minta maaf. Harusnya sudah sejak lama Papa mengenalkan Mamamu pada Kakek Zidane. Tapi karena banyak masalah yang harus Papa urus dulu, pengenalan ini terpaksa baru bisa dilakukan malam ini. Tolong sampaikan pada Mamamu ya," bisik Adam dengan suara sedikit kuat.


Rose terkekeh mendengar perkataan Adam. Dengan penuh sayang dia membelai kepala pria yang masih betah menempelkan kepala ke perutnya. Rose tak pernah menyangka kalau dirinya akan mengalami situasi membahagiakan seperti ini. Bukannya dia tidak tahu jika pria dan wanita sudah berhubungan badan maka ada kemungkinan besar si wanita akan hamil. Rose hanya tidak menduga kalau dia akan hamil secepat ini. Wajarlah, selama ini Rose memang kurang memperhatikan hal-hal seperti itu karena dia sibuk dengan balas dendamnya. Makanya rasanya sungguh luar biasa begitu dia tahu kalau di dalam perutnya telah hadir seorang malaikat kecil yang akan menghiasi rumah tangganya bersama Adam.


"Kita keluar?" tanya Adam seraya menengadahkan wajah.


"Baiklah."


Adam meminta Rose untuk menunggu di dalam mobil terlebih dahulu. Setelah itu dia keluar, mengulurkan tangan bak seorang pangeran yang ingin menyambut kedatangan ratunya.


"Silahkan, my queen."


"Kau ini."


Rose menyambut uluran tangan suaminya sambil tersenyum manis. Dia lalu menarik nafas panjang begitu kakinya berpijak di atas bumi.


"Akhirnya aku membawa pulang istriku juga. Ayo Hon, aku akan memperlihatkan istana yang selama ini seperti neraka di hidupku. Aku harap kau kuat menghadapi wanita medusa yang mendiami tempat ini. Juga dengan kekeraskepalaan Papa yang begitu menggilai kasta dan tahta. Penolakan ini pasti terjadi mengingat kalau mereka belum tahu latar belakangmu yang sebenarnya. Kau tida keberatan bukan jika di dalam nanti mereka melontarkan kata yang sedikit tidak mengenakkan?" tanya Adam seraya membimbing Rose masuk ke dalam rumah.


"Keberatan? Kata-kata seperti itu tidak ada di dalam kamus hidupku, Dam. Di dunia ini tidak ada yang perlu aku takuti selain takdir Tuhan. Dan untuk Papa dan wanita medusa itu ... kita lihat akan seperti apa reaksi mereka nanti begitu tahu kalau yang pulang bersamamu bukanlah Gheana. Tapi aku!" jawab Rose sembari menyeringai samar.


Satu-satunya orang yang akan melakukan penolakan terhadap pernikahan kita hanyalah wanita medusa itu, Dam. Tidak dengan Grace, apalagi Papamu. Bahkan aku jamin Papamu tidak akan berani mengangkat wajah untuk sekedar menatapku begitu kita masuk ke dalam karena aku memegang kartu as-nya. Sedangkan Grace, dia cukup tahu diri untuk memilih siapa wanita yang pantas menjadi kakak iparnya.


Sementara itu di dalam rumah, Grace yang sedang sibuk mengatur ini dan itu langsung berlari ke kamar orangtuanya begitu pelayan mengabarkan kalau kakak dan kakak iparnya telah datang. Dia begitu antusias menyambut kedatangan mereka meskipun benaknya di penuhi rasa takut. Ya, Grace sangat takut kalau orangtuanya akan murka jika mereka tahu kalau Rose-lah yang di bawa pulang oleh sang kakak.

__ADS_1


Tok tok tok


"Pa, Ma, Kak Adam sudah sampai!" ucap Grace sambil melongokkan kepala ke dalam kamar. Dia sedikit bingung melihat ayah dan ibunya yang terlihat seperti sedang bertengkar. "Kalian kenapa?"


"Bilang pada Mamamu agar tidak terlalu memaksakan kehendaknya pada kakakmu. Katakan padanya kalau Adamar pasti akan sangat murka jika di paksa untuk langsung menikah dengan Gheana!" jawab Zidane sinis. Tangannya sudah sangat gatal ingin melenyapkan wanita murahan ini.


"Memangnya apalagi yang perlu Adam tunggu. Gheana begitu cantik dan multitalenta. Akan sangat bodoh kalau dia hanya membawanya pulang tanpa mengikatnya langsung. Tidak ada yang salah dengan keinginan Mama kan, Grace?" timpal Vanya tak kalah sinis seperti suaminya. Dia sudah berjanji pada Gheana kalau Adam akan segera meresmikan hubungan mereka. Toh dengan begini Vanya bisa mengeruk karta kekayaan Zidane lebih banyak lagi melalui hubungan Adam dengan Gheana. Dia sudah mengatur banyak rencana agar uang di rekeningnya semakin menggemuk.


"Kak Adam itu sudah dewasa. Dia bisa menentukan sendiri wanita mana yang akan dia nikahi. Kalaupun benar Kak Adam membawa pulang Gheana kemari, belum tentu juga dia akan setuju untuk menikah dengannya. Aku rasa sebaiknya Mama jangan terlalu mencampuri urusan pribadinya Kak Adam kalau tidak ingin terkena amarahnya," sahut Grace setuju dengan perkataan sang ayah.


Vanya ternganga begitu mendengar perkataan putrinya. Dia tidak menyangka kalau Grace akan lebih berpihak pada Zidane ketimbang dirinya. Sungguh, sejak Gracia ketahuan mengkonsumsi narkoba, sikapnya berubah seratus delapan puluh derajat. Putrinya ini menjadi sangat dingin, seolah tidak mempedulikan dia sebagai ibunya. Apakah ini juga karena kebejatannya yang sudah lama di ketahui oleh Grace? Entahlah, Vanya bingung.


"Pa, Ma, kalian segeralah turun ke bawah. Aku yakin Kak Adam pasti sudah menunggu kita semua di sana," ucap Grace mengingatkan.


"Kau turunlah dulu, Grace. Sambut mereka dengan jamuan yang sudah di sediakan oleh pelayan. Jangan lupa minta sekertaris Papa untuk membawakan anggur kemari. Papa butuh sesuatu yang segar sebelum menemui kakakmu dan wanitanya," sahut Zidane sambil melangkah masuk ke dalam kamar mandi.


"Baik, Pa."


"Kak Adam, Rose."


"Halo, Grace," sapa Rose seraya menampilkan senyum manis di bibirnya.


Hah? Rose tersenyum? Apa aku tidak salah lihat?


"Dimana Papa?" tanya Adam membuyarkan keterkejutan Gracia yang kaget atas perubahan sikap istrinya. Ya, semenjak hamil sikap Rose memang banyak berubah. Dia lebih sering tersenyum dan sikapnya menjadi sedikit lebih hangat. Tidak seperti dulu yang bagaikan beruang kutub betina.


"Papa dan Mama sedang bersiap di dalam kamar. Mungkin sebentar lagi mereka baru akan turun," jawab Gracia senang ketika sang kakak mau sedikit menunjukkan sikap baik terhadapnya. "Oh ya, Kak Adam ingin minum apa?"


"Kau ingin minum apa, Hon?" ucap Adam yang malah bertanya pada istrinya. Terlihat masih ada keengganan di mata Adam untuk menjaga jarak dengan adiknya. Dia masih belum terbiasa.

__ADS_1


"Em Grace, apa di rumah ini ada minuman es kelapa yang di campur dengan susu dan jelly?" tanya Rose yang tiba-tiba saja menginginkan minuman tersebut. Air liurnya seperti akan menetes hanya dengan membayangkannya saja.


"Es kelapa di campur susu dan jelly?"


Permintaan Rose sedikit aneh. Yang mana hal tersebut membuat Gracia merasa bingung. Namun sedetik kemudian Gracia tersadar akan sesuatu hal. Dia langsung menutup mulutnya sambil membelalakkan mata.


O my god, apakah keponakanku sudah lounching? Astaga astaga. Aaaa ... aku akan menjadi Bibi.


Adam sedikit geli melihat reaksi kaget adiknya. Dia lalu membisikkan kata di telinga Rose yang secara tidak langsung telah mengumumkan kehamilannya.


"Apa junior sedang mengidam?"


Rose langsung menganggukkan kepala.


"Hmmm, kau manis sekali jika sedang seperti ini. Tunggu sebentar ya, aku akan meminta pelayan untuk membuatkannya khusus untukmu."


Dan baru saja Adam hendak berdiri, dari arah tangga muncul ayahnya yang berjalan sambil memegang segelas anggur. Di belakangnya terlihat si wanita medusa yang muncul dengan bibir merah membara seperti j*lang.


"Adam, mana Ghea ....


Praaannngggg


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


...๐ŸŒนJangan lupa vote, like, dan comment...


...ya gengss ๐Ÿ”ช๐Ÿ”ช๐Ÿ”ช...


...๐ŸŒนIg: rifani_nini...

__ADS_1


...๐ŸŒนFb: Rifani...


__ADS_2