Ma Queen ROSE

Ma Queen ROSE
Rose: Keharuan


__ADS_3

Karina menatap penuh ketakutan ke arah pria yang tengah menatapnya tak berkedip. Tubuhnya yang begitu kurus nampak tercetak jelas di balik pakaian lusuh yang dia kenakan.


"Ma?"


Tertegun. Tubuh Karina kaku saat pria yang tengah menatapnya tiba-tiba memanggilnya dengan sebutan Ma. Mata yang tadinya terlihat panik dan sayu tanpa terasa mulai tergenangi cairan bening yang semakin lama semakin banyak.


Mungkinkah pria ini adalah anakku, Adamar? Jika iya, kenapa dia hanya diam saja dan menatapku seperti itu? Ya Tuhan, tolong jadikan ketidakmungkinan ini menjadi sebuah kenyataan yang membahagiakan. Aku rindu putraku, aku rindu Adamarku, Tuhan.


"Mama?"


Seorang Marcellino Altezza Lorenzo, atau yang biasa di kenal sebagai Adamar Clarence, dengan lemahnya menjatuhkan air mata begitu melihat keadaan sang ibu yang begitu memprihatinkan. Bertahun-tahun Adamar hidup dalam kepura-puraan akan rasa sayangnya terhadap Zidane Clarence, harus terbayar dengan rasa sakit yang begitu menyayat hati begitu dia melihat wanita yang telah melahirkannya hidup dalam kesakitan yang sangat di luar nalar. Adam menangis, tapi tidak ada sedikitpun suara yang keluar dari mulutnya. Menangis dengan cara seperti ini sangatlah menyakitkan, menandakan kalau orang tersebut benar-benar merasa sangat amat terlukai.


"Mama?" panggil Adam lagi. Dengan tangan gemetar dia menyeka cairan bening yang menetes di sudut matanya.


"A-Adamar? Ka-kaukah itu?" tanya Karina memberanikan diri mempercayai keyakinannya.


"Iya. Ini aku Ma, putramu," jawab Adam dengan suara tercekat.


Adam menguatkan langkah untuk mendekati sang ibu yang tengah meraung sambil menutupi wajah kumalnya. Airmata nampak terus mengalir deras dari sudut matanya Adam, membuat keadaan menjadi sangat amat menyedihkan. Rose yang saat itu menyaksikan pertemuan antara suami dan ibu mertuanya juga tak kuasa menahan air mata. Siapalah yang tidak ikut terbawa suasana mengharukan ini setelah perjuangan panjang Adam dalam mencari keberadaan sang ibu. Di tambah lagi wanita yang selama ini di cari-cari oleh suaminya itu di temukan dalam keadaan yang sangat jauh dari kata layak. Wajar saja jika kebekuan di diri suaminya sampai terpecah setelah melihat keadaan tersebut.


"Hiksss, Ma!" panggil Adam setelah sampai di dekat ranjang tempat ibunya berada. "Ma," ....


"Maafkan Mama, Nak. Maaf!" sahut Karina terisak-isak. Dia merasa amat sangat bersalah karena telah meninggalkan putranya di kala masih kecil.


Grreeppp


"Jangan meminta maaf padaku. Mama tidak salah apapun, bajingan itu yang seharusnya meminta maaf pada kita berdua."

__ADS_1


"Mama salah, Dam. Seharusnya waktu itu Mama tidak meninggalkanmu. Kau pasti mengalami waktu yang sangat sulit setelah Mama pergi. Iya kan?" tanya Karina sembari merabai punggung putranya yang begitu kekar. Tangisnya kian pecah saat Karina menyadari kalau putranya telah tumbuh dengan sangat baik.


"Sudahlah, Ma. Semua waktu menyedihkan itu sudah lama berlalu. Lupakan saja, sekarang kita ganti waktu yang telah hilang dengan kebersamaan yang jauh lebih membahagiakan. Ya?" jawab Adam sambil menahan sesak di dada.


"Tapi Dam, Papamu ....


"Bajingan itu tidak memiliki hubungan apa-apa denganku, Ma. Jadi jangan menyebutnya sebagai Papaku. Dia iblis. Iblis yang tidak akan pernah kuizinkan pergi ke neraka dengan mudah. Dia bukan Papaku, Ma!"


Tangis Adam langsung terhenti begitu sang ibu menyebut bajingan yang kini sedang di kurung di dalam salah satu peti berisi racun yang bisa membuat seluruh kulit melepuh. Ya, penyiksaan ini sengaja Adam lakukan sembari menunggu tempat dimana dulu sang ibu dulu pernah di sekap selesai di perbaiki. Tidak ada ampun. Zidane Clarence, bajingan ini Adam pastikan menerima balasan seribu kali lebih menyakitkan dari apa yang di rasakan oleh ibunya selama ini. Adam bahkan bersumpah tidak akan bisa hidup tenang jika tidak bisa mengirim Zidane ke alam baka dengan cara yang tak pernah di bayangkan oleh siapapun.


"Adam?"


Rose tersenyum. Dia sudah tidak sabar ingin segera menyapa sang ibu mertua jadi memutuskan untuk memanggil Adam terlebih dahulu.


"Ya, Hon," sahut Adam seraya menoleh ke arah belakang. Dia lalu tersenyum, melambaikan tangan meminta agar istri kesayangannya itu datang mendekat.


"Tidak apa-apa, Ma. Wanita cantik itu adalah istriku. Dia wanita yang sangat baik," ucap Adam tanggap akan ketakutan di diri sang ibu. "Wanita itu namanya Rose, dia sedang hamil cucu Mama."


"H-hamil?"


Adam mengangguk. Dengan penuh kesabaran Adam melepaskan cengkeraman sang ibu kemudian memegang tangan kurusnya dengan sangat hati-hati. Setelah itu Adam mengulurkan tangannya ke arah Rose.


"Honey, ini Mama. Sapalah."


"Halo Mama, aku Rose. Istrinya Adam," ucap Rose memperkenalkan diri.


"Rose? Namamu cantik sekali," sahut Karina lirih. Seulas senyum tipis muncul di bibirnya saat wanita yang di akui Adam sebagai istri mengusap tangannya pelan. Rose bahkan tidak ragu untuk memegang tangannya meski tangannya sendiri sangat kotor dan penuh luka membusuk.

__ADS_1


Rose dan Adam saling melirik ketika melihat senyum di bibir ibu mereka. Dalam hati masing-masing, keduanya merasa sangat lega karena ibu mereka tidak melakukan penolakan keras terhadap kehadiran Rose. Tak ingin mengusik kenyamanan yang tengah di bangun di diri Mama Karina, Adam memutuskan untuk berpindah duduk dari ranjang. Setelah itu dia membimbing Rose untuk duduk di sana. Khawatir kalau-kalau terlalu lama berdiri akan membuat Rose dan bayinya merasa kelelahan.


"Kau sedang hamil?" tanya Karina tiba-tiba.


"Iya, Ma. Janinnya masih sangat kecil, jadi kita masih belum tahu apa jenis kelaminnya," jawab Rose.


"Tidak apa-apa. Nanti seiring berjalannya waktu bayimu pasti akan membesar. Dulu saat Mama mengandung Adam juga seperti itu. Awalnya dia terlihat seperti biji kedelai yang sangat kecil, tapi secara bertahap bagian-bagian di tubuhnya mulai muncul dan membesar. Dan saat kandungan Mama berusia sembilan bulan, Adamar lahir ke dunia. Tapi sayang, Mama kehilangan banyak waktu untuk melihat tumbuh kembangnya gara-gara kesalahan yang ... yang ....


Dengan cepat Rose memeluk tubuh kurus ibu mertuanya kemudian mengelus punggungnya pelan saat ibu mertuanya ini mulai di landa ketakutan. Rose kemudian melihat ke arah Adam, memberi kode agar sang suami segera mengambilkan air minum.


"Di sana sangat gelap. Leher, kaki dan tangan Mama di ikat dengan sangat kencang oleh Zidane. Mama juga sering mendapat kekerasan fisik darinya dan juga dari pasangannya. Mama sangat tersiksa selama di sekap di dalam sana. Mama takut," ucap Karina dengan suara gemetar.


"Sssttt, jangan di ingat-ingat lagi ya, Ma. Yang terpenting sekarang Mama sudah tidak ada di sana. Sekarang Mama ada bersamaku dan Adam, Mama aman," sahut Rose menenangkan ibu mertuanya.


Tak tega melihat ibunya terus ketakutan, Adam akhirnya meminta obat pada Resan yang sedang berdiri di luar kamar. Dia ingin sang ibu bisa istirahat supaya tidak terus mengingat-ingat semua gambaran kekejaman yang telah dilakukan oleh Zidane.


Kau pasti akan merasa sangat menyesal karena sudah hidup di dunia ini, Zidane. Aku bersumpah untuk itu.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


...๐ŸŒนJangan lupa vote, like dan comment...


...ya gengss๐Ÿ”ช๐Ÿ”ช๐Ÿ”ช...


...๐ŸŒนIg: rifani_nini...


...๐ŸŒนFb: Rifani...

__ADS_1


__ADS_2