
Rose dengan sigap segera membereskan ranjang setelah Adam berangkat ke lokasi proyek. Wajahnya sedikit bersemu saat menemukan pakaian dalam milik suaminya yang tergeletak di bawah selimut.
"Kau ini kenapa Rose" gumam Rose sambil meletakkan barang keramat tersebut ke dalam kotak pakaian kotor.
Ddrrttttt, ddrrttt
Saat Rose ingin kembali merapihkan ranjang, ponselnya bergetar. Dia segera meraihnya lalu melihat siapa yang menelpon.
"Lorus, kenapa dia menelponku?"
Penasaran, Rose akhirnya mengangkat panggilan tersebut. Dia berjalan ke dekat jendela, menikmati pemandangan siang itu sambil berbicara dengan anak buahnya.
"Ada apa?" tanya Rose dingin.
"Nona, ada seseorang yang sedang menyelidiki CCTV tempat Nona menginap. Sepertinya mereka ingin mencari tahu tentangmu."
Ekpresi di wajah Rose langsung berubah begitu dia mendengar laporan itu. Rahangnya mengetat, dia sangat tidak suka jika ada orang luar yang ingin mencari tahu tentang identitasnya.
"Hapus semua rekaman yang memperlihatkan aku di dalamnya. Ah satu lagi, kemarin malam ada beberapa orang yang mengambil video tentangku, apa Resan sudah membereskannya?"
"Sudah, Nona. Video itu sudah tidak ada lagi karena Resan langsung memblokir nomor dan akun media sosial mereka. Dan untuk rekaman-rekaman yang ada di hotel, sebenarnya kami sudah menghapusnya dari awal. Tapi mereka rupanya bisa memulihkannya lagi meskipun tidak semua. Resan kemudian melacak lokasi dari orang itu, dan keberadaannya sedikit aneh, Nona."
"Aneh? Aneh bagaimana?"
Rose kian merasa penasaran dengan orang yang sedang menyelidikinya. Selama ini, tak pernah ada orang yang mampu membuka kembali video yang sudah dihapus oleh Resan. Tapi orang ini... orang ini pasti bukan orang sembarangan. Resan adalah kaki tangan Rose yang paling handal dalam mengutak-atik mesin kotak itu. Tapi sekarang sepertinya ada orang lain yang ingin menyaingi kejeniusan Resan dalam meretas.
"Resan bilang lokasi orang itu berada di antara perbukitan. Tapi saat dia menelisik lebih dalam, titik lokasinya hilang begitu saja. Besar kemungkinan lokasi orang ini tidak berada di atas bumi seperti kita, Nona. Bisa jadi dia tinggal di ruang bawah tanah yang dijaga dengan keamanan tinggi."
"Kirimkan lokasinya padaku. Biar nanti aku sendiri yang akan mencari tahu di sana" ucap Rose geram.
"Baik, Nona."
Rose menggenggam ponselnya dengan sangat kuat setelah panggilan terputus. Benaknya mulai bertanya-tanya tentang siapa orang tersebut.
"Aku harus segera mencari tahu siapa dia. Bisa gawat kalau orang ini sampai membongkar identitasku sebagai Mr.X" gumam Rose kemudian segera berbalik untuk berganti pakaian.
Hanya dalam waktu singkat Rose sudah selesai bersiap. Tanpa riasan dan hanya mengikat rambut panjangnya ke atas. Rasa penasaran Rose kian memuncak ketika Lorus mengirim pesan dan mengatakan kalau ada beberapa orang asing yang datang ke hotel. Tak ingin keberadaannya diketahui, Rose pun memakai masker untuk menutupi wajahnya. Setelah itu dia baru keluar dari dalam kamar.
__ADS_1
Oh, jadi ini orang-orang asing yang dimaksud oleh Lorus?
Di dalam lift, saat ini Rose bergabung dengan beberapa pria berpakaian hitam. Dia dengan tenang berdiam di sana, mengabaikan tatapan menyelidik dari pria-pria tersebut.
Pintu lift terbuka. Dengan santai Rose melangkah keluar, ekor matanya melirik melalui pantulan kaca untuk memastikan apakah pria-pria itu mengikutinya atau tidak.
"Dasar bo doh,"
Di luar hotel, anak buah Rose sudah siap dengan mobilnya. Mereka pun bergegas pergi dari sana setelah Rose datang. Dalam perjalanan, Rose membaca alamat yang dikirimkan oleh Lorus. Keningnya mengernyit.
"Kalau tidak salah ini adalah kawasan termahal yang ada di negara ini. Tapi kenapa pemiliknya sampai menyelidiki identitasku? Ada urusan apa mereka?"
Sambil terus memikirkan alasan tersebut, mobil akhirnya sampai di lokasi yang dituju. Mata tajam Rose memperhatikan dengan seksama bangunan megah yang ada di hadapannya.
"Retas semua CCTV yang ada di tempat ini. Ingat, semuanya!" ucap Rose memberikan perintah saat menyadari kalau kedatangan mereka diawasi oleh banyak mata.
"Baik, Nona."
Jari-jari Rose segera berseluncur dilayar ponsel untuk mencari tahu siapa pemilik dari bangunan megah yang ada di hadapannya. Mungkin karena posisi lokasi ini berada di tempat yang paling antimainstream, dengan cepat Rose menemukan identitas sang pemilik.
"Liona Serra Zhu dan Greg Ma. Siapa mereka?" gumam Rose keheranan.
"Nona, ada yang datang."
"Nona, apa kita perlu keluar untuk bertanya pada mereka?"
"Tidak usah. Kita tidak tahu apa yang sebenarnya mereka inginkan. Lebih baik kita tetap di sini, kita lihat dulu apa yang akan mereka lakukan!" jawab Rose sambil terus memperhatikan orang-orang yang berjejer rapi di dekat pintu gerbang.
Karena masih penasaran dengan nama pemilik bangunan itu, Rose kembali berselancar untuk mencari tahu. Tapi baru saja dia hendak mengetik nama Liona, mendadak kepalanya terasa begitu sakit seperti di hantam batu besar. Ponsel di tangan Rose terjatuh, dia langsung memekik kesakitan sambil memegangi kepalanya yang terasa seperti akan pecah.
"Aaakkhhk!"
"Nona!" teriak anak buahnya panik. "Obat, cepat ambilkan obat untuk Nona!"
Dengan cepat salah satu pengawal Rose keluar dari dalam mobil kemudian masuk ke kursi belakang. Rose yang sedang kesakitan hanya bisa pasrah saat tangannya ditarik agar tidak menjambaki rambutnya lagi. Tadi, saat Rose ingin mencari tahu tentang wanita bernama Liona Serra Zhu, tiba-tiba saja ada satu bayangan melintas di matanya. Hal itulah yang membuatnya kesakitan seperti ini.
"Sa-kit!" ucap Rose dengan wajah pucat pasi dan di banjiri keringat dingin.
"Nona, minum obatnya dulu!"
__ADS_1
Sambil menahan rasa sakit yang mendera kepalanya, Rose menelan satu pil penenang yang menjadi obat paling ampuh setiap kali rasa sakit ini datang. Tak lama kemudian obatnya pun mulai bereaksi. Rasa sakit di kepala Rose mulai berkurang, menyisakan rasa lemas dan juga rasa kantuk yang mulai menyerang.
"Kembali ke hotel" ucap Rose setengah berbisik.
"Baik, Nona."
Si pengawal kembali ke kursi depan setelah membubuhkan selimut ke tubuhnya Rose. Sebelum pergi, Rose masih sempat memperhatikan ke arah orang-orang yang masih setia berdiri di sana. Bahkan ada di antara mereka yang terlihat panik, terutama pria tua yang berdiri paling depan.
"Apa kalian tahu siapa Liona Serra Zhu?" tanya Rose saat mobil mulai bergerak pergi.
"Nyonya Liona Serra Zhu adalah nenek dari Tuan Muda Rolland, Nona. Orang yang menjadi partner bisnis Tuan Adam di negara ini."
Mata Rose terbelalak lebar. Lagi-lagi ini semua berhubungan dengan Rolland, bahkan sekarang neneknya sampai ikut campur.
"Tapi untuk apa neneknya Rolland menyelidiki aku sampai seperti ini? Yang berhubungan dengan Rolland kan hanya Adam saja, bukan aku. Lalu kenapa neneknya bersikap seperti ini?"
"Nanti kami akan menyelidikinya, Nona. Jangan khawatir, sebaiknya Nona sekarang istirahat saja. Akan kami bangunkan jika sudah sampai di hotel!"
Rose diam tak menjawab. Pikirannya melayang kemana-mana, bingung memikirkan alasan kenapa neneknya Rolland bisa begitu tertarik kepadanya.
Sepeninggal Rose, dari dalam rumah muncul sepasang tua yang datang dengan airmata berlinang. Ya, mereka adalah pemilik dari rumah megah tersebut, Liona Serra Zhu dan Greg Ma.
"Hiksss, Rosalinda kita sudah kembali, Greg. Cucu kita kembali, mawar kita sudah pulang."
"Iya Hon, mawar kita tahu kemana harus pulang" imbuh Greg sambil memeluk istrinya yang sedang terisak-isak.
"Tuan, Nyonya, sepertinya ada yang salah dengan keadaan Nona Muda!" ucap Hansen melaporkan apa yang tadi dia lihat.
Tubuh Greg dan Liona langsung menegang.
"Kita bahas masalah ini di dalam saja!" sahut Greg kemudian mengajak semua orang untuk masuk ke rumah.
"Baik, Tuan!"
๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น
...๐นJangan lupa vote, like, dan comment...
...ya gengss ๐ช๐ช๐ช...
__ADS_1
...๐นIg: rifani_nini...
...๐นFb: Rifani...