Ma Queen ROSE

Ma Queen ROSE
Rose: Misi Penting


__ADS_3

Dari dalam mobil, Rose mengawasi Zucca sembari menghisap rokok di tangannya. Matanya yang tajam terus menatap ke arah bangunan apartemen yang menjulang tinggi di hadapannya. Rose tersenyum, tidak menyangka kalau suaminya memiliki hubungan yang cukup dekat dengan mafia yang sedang dia buru.


"Ada apa ini, Rose. Kenapa nama suamimu jadi sering muncul di tengah-tengah musuh kita?" tanya Reina seraya memilin rambut panjangnya.


"Apa perlu aku menjawab?"


"Entahlah. Aku hanya bimbang bagaimana caraku memperlakukan Adamar ketika kita bertatap muka dengannya nanti. Haruskah memperlakukannya sebagai suamimu atau sebagai musuh. Ini sungguh membuatku bingung!"


Rose tersenyum miring setelah mendengar keluhan Reina. Dia lalu menghisap rokok dalam-dalam kemudian memainkan asapnya hingga membentuk lingkaran kecil. Reina, Lorus, dan Resan yang melihat tingkah ketua mereka cukup tahu kalau tidak ada kemarahan di sini. Wanita cantik berparas dingin tersebut terkesan cuek dan tenang.


"Perlakukan dia seperti yang biasa kau lakukan padanya. Aku percaya dia tidak akan berdiri sebagai musuhku!"


Tak lama kemudian, sebuah mobil sport bergerak mendekat ke arah mobilnya Zucca. Rose yang mengenali mobil tersebut hanya menghela nafas panjang. Dia kemudian menutup kaca jendela mobil lalu memejamkan mata sambil bersedekap tangan.


"Katakan padaku jika mereka sudah masuk ke apartemen milik Adam."


"Baik, Nona!"


Sementara itu, Zucca yang melihat kedatangan Adam nampak antusias. Dia segera keluar dari dalam mobil kemudian menghampirinya.


"Hei, ada apa dengan wajahmu? Kau terlihat seperti tidak berjumpa denganku!" tanya Zucca keheranan.


Adam menarik nafas. Dia lalu melirik ke arah mobil hitam yang terparkir tak jauh dari lokasinya sekarang. Tanpa di sadari oleh Zucca, satu seringai muncul di bibir Adam.


"Apa yang sedang kau lakukan di negara ini?" tanya Adam sembari mengunci mobil.


"Hmm, aku ada misi penting di sini. Dan misi ini akan sedikit memakan waktu," jawab Zucca.


Ada yang tidak beres, dan Zucca menyadari hal itu. Adamar terlihat cukup dingin, tidak royal dan ramah seperti yang biasanya. Zucca mulai menebak-nebak gerangan apa yang sudah membuat partner bisnisnya bersikap seperti ini. Padahal beberapa hari yang lalu mereka masih akrab dengan membicarakan bisnis ilegal yang selama ini menjadi salah satu sumber penghasilan terbesar mereka.


"Ayo masuk. Ada sedikit masalah di rumahku barusan, jadi aku agak sedikit lelah!" ajak Adam.


"Masalah apa?" tanya Zucca sambil berjalan mengikuti Adam yang sudah melangkah menuju pintu masuk apartemen.

__ADS_1


"Adikku tertangkap basah sedang melakukan transaksi narkoba di sebuah hotel. Dan Papa-ku marah besar. Kau tahulah seperti apa perangai seorang Zidane Clarence."


Ting


Zucca dan Adam sama-sama masuk ke dalam lift setelah pintunya terbuka. Mereka kembali mengobrol tanpa menghiraukan kamera CCTV yang mengawasi mereka dari sudut atas lift. Jika Zucca tidak menyadari sesuatu yang aneh dari CCTV tersebut, lain halnya dengan Adam. Dia sesekali melirik ke arah sana sambil tersenyum samar. Namun Adam bersikap senatural mungkin agar mafia ini tidak merasa curiga.


"Adikmu pemakai atau pengedar?" tanya Zucca penasaran.


Zucca sebenarnya sudah lama menaruh hati pada Gracia Clarence. Hanya saja dia tidak berani mendekatinya karena Zucca tahu kalau Adamar tidak akan membiarkannya melakukan hal itu. Meski banyak yang tahu kalau Adamar memiliki hubungan yang buruk dengan adik dan juga ibu tirinya, nyatanya pria ini masih memiliki hati nurani untuk melindungi sang adik dari kejaran cinta seorang mafia seperti Zucca.


"Pemakai. Dan itu belum lama."


Setelah pintu terbuka, Zucca mengikuti langkah Adamar menuju kamarnya. Dan seperti biasa, aset-aset milik pria ini tidak ada yang tidak mewah. Berada di lantai paling atas dengan model interior paling mencolok dari kamar-kamar lain.


"Kau ingin minum apa?" tanya Adam setelah sampai di dalam kamar.


"Seperti biasa," jawab Zucca seraya mendudukkan bokongnya di sofa.


"Justru karena itulah aku betah berteman denganmu, bung. Di sini aku bisa menikmati berbagai jenis minuman secara gratis. Memangnya kapan lagi aku bisa menikmati kekayaan seorang Adamar Clarence, pembisnis muda yang sangat kaya raya."


Adam tertawa mendengar perkataan Zucca. Dia kemudian berjalan ke arah lemari untuk mengambil dua buah gelas dan sebotol minuman. Dia lalu menuang minuman ke dalam gelas kemudian ikut duduk di seberang sofa.


"Hmm, Bombay Sapphire Revelation. Kau memang yang terbaik, Dam!" puji Zucca sebelum akhirnya menikmati minuman yang di suguhkan oleh si pemilik apartemen.


Sambil menikmati minuman, Adam bertanya pada Zucca tentang misi penting yang ingin dilakukannya di negara ini.


"Kali ini apa yang sedang menjadi targetmu, Zucca? Apakah itu adalah tangkapan ikan yang sangat besar?"


"Sebenarnya ini tidak bisa di sebut sebagai tangkapan, Dam. Karena misi yang ingin aku lakukan adalah misi balas dendam."


"Balas dendam? Memangnya kau sedang bermasalah dengan siapa?"


"Begini, kau tahu kelompok Queen Ma bukan? Awalnya aku dan salah satu petinggi negara berniat meminta kelompok mereka untuk membuatkan senjata. Tapi ketua mereka menolak begitu tahu kalau senjata yang kami pesan akan di kirim ke salah satu kelompok pemberontak. Mereka beralasan kalau kemampuan mereka dalam merakit senjata tidak di peruntukan bagi orang-orang yang ingin menindas rakyat yang tidak bersalah. Dan karena penolakan inilah aku sekarang bisa ada di sini!" jawab Zucca.

__ADS_1


"Oh, begitu ya. Tapi kenapa kau harus susah payah memburu mereka, Zucca? Kau kan tahu sendiri kalau kelompok Queen Ma itu sangat terorganisir. Tidak mudah untuk sekedar menemukan jejak mereka!" ucap Adam. "Lagipula kenapa kau dan orang-orang itu tidak mencari kelompok lain saja sih untuk membuatkan senjata. Di dunia ini bukan hanya mereka saja yang bisa."


Zucca tersenyum miring mendengar perkataan Adamar. Dia lalu meletakkan gelas minumannya yang sudah kosong.


"Dam, kau ini bodoh atau bagaimana. Bukankah kau tahu sendiri kalau senjata rakitan yang dibuat oleh kelompok Queen Ma adalah senjata yang paling di buru oleh semua orang. Karena hanya senjata buatan mereka saja yang bisa memberikan ******* memuaskan ketika peluru sudah menembus kepala lawan. Mereka mempunyai ciri khas sendiri yang tidak di miliki oleh kelompok lain!"


Itu sudah pasti. Siapa dulu ketuanya, batin Adam memuji kehebatan kelompok istrinya.


"Ngomong-ngomong kau tahu tidak dimana kelompok itu bersembunyi? Menurut jejak yang tertinggal mereka ada di negara ini," tanya Zucca dengan raut wajah yang serius.


"Aku tidak pernah memiliki urusan dengan kelompok itu, Zucca. Jadi aku tidak tertarik untuk mencari tahu," jawab Adam.


"Hmm, kali ini kau sangat menjengkelkan!"


Adam mengendikkan bahu. Dia memutar-mutarkan minuman di dalam gelas sambil melirik ke arah pintu apartemennya. Ya, Adam sedang menantikan kedatangan seseorang.


"Zucca, kalau aku boleh memberi saran, kau sebaiknya jangan memancing kemarahan ketua Queen Ma. Aku dengar dia adalah orang yang tidak memiliki hati nurani ketika membantai musuh. Mundur sajalah!"


Kening Zucca mengerut saat dia mendengar perkataan Adam. Raut wajah Adamar yang terlihat begitu aneh membuat Zucca yakin kalau memang benar ada yang tidak beres dengannya. Dan baru saja Zucca berpikir seperti itu, tiba-tiba saja dari luar ada yang menekan sandi untuk membuka pintu apartemen. Seketika Zucca langsung waspada.


"Kau ... Jangan bilang kau mengkhianati aku, Dam!" teriak Zucca emosi.


"Aku sama sekali tidak melakukannya," sahut Adam santai kemudian tersenyum menyambut seseorang yang tengah berjalan mendekat ke arahnya. "Welcome, Honey!" ....


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


...๐ŸŒนJangan lupa vote, like, dan comment...


...ya gengss...


...๐ŸŒนIg: rifani_nini...


...๐ŸŒนFb: Rifani...

__ADS_1


__ADS_2