
Di markas Queen Ma, semua orang terlihat cemas melihat Rose yang mengamuk seperti orang gila. Mona kini tengah berada di ambang kematian akibat banyaknya darah yang terkuras dari tubuhnya. Bahkan anggota Queen Ma yang tadi membawanya ke markas tak luput dari amarah ketua mereka.
"Rose tenang dulu. Mona pasti bisa melewati ini semua. Dia adalah gadis yang kuat!" ucap Grizelle mencoba menenangkan amarah putrinya.
"Bagaimana mungkin aku bisa tenang setelah melihat keadaannya yang seperti itu. Kalau saja Rolland tidak menghina Mona, dia pasti tidak akan berakhir seperti ini. KACAU! SEMUANYA KACAU GARA-GARA DIA!" teriak Rose menggila.
"Iya Mommy tahu Rolland salah, tapi dia tidak sengaja melakukannya, sayang. Tolong jangan marah padanya lagi ya. Mommy mohon!"
Seakan tersadar, tubuh Rose langsung luruh ke lantai. Dia menangis tersedu-sedu sambil menatap ke dalam ruangan dimana Mona berada. Bertahun-tahun Rose menjaga gadis ini, hanya karena ketidaksengajaan saudaranya Mona langsung berada di ambang kematian. Rose sadar kalau semua ini bukan salah Rolland seutuhnya, akan tetapi dia seakan tidak bisa lagi menahan emosi dan juga kepanikannya yang mana membuatnya jadi menyalahkan Rolland. Rose tidak bisa melihat dewi penyelamatnya menderita seperti ini. Dia tidak bisa.
"Hiksss, aku gagal menyelamatkannya. Untuk yang kedua kali aku gagal menyelamatkan Mona. Aku tidak pantas untuk hidup, aku tidak pantas. Hiksss!" ratap Rose dengan berlinang airmata.
Suasana mencekam yang tadi menyelimuti tempat itu langsung berganti suasana sedih ketika mereka mendengar isak tangis Rose yang begitu memilukan. Semuanya terlukai, apalagi setelah mendengar pengakuan Rose tentang kejadian yang membuatnya tidak bisa berada jauh dari Mona. Sungguh, apa yang telah Agler lakukan benar-benar telah menghancurkan mental kedua perempuan ini. Sangat kasihan.
"Rose, jangan menangis. Kau sama sekali tidak gagal menyelamatkan Mona, kita hanya kalah beberapa detik dari waktu yang seharusnya. Coba lihat kedua telapak tanganmu, kau sudah berhasil membalaskan dendam kalian pada Agler. Dia sekarang sudah berkumpul dengan arwah para gadis yang telah di bunuhnya. Tidak apa-apa, aku yakin Mona pasti bisa melewati semua ini. Dia tidak selemah yang kita lihat. Oke sayang," hibur Reina sembari mengusap-usap punggung Rose. Hatinya begitu sakit melihat wanita ini menangis dengan begitu sesak.
"Hiksss... Reina, kalau Mona tidak selamat, aku lebih baik mati bersamanya. Aku tidak bisa jika tidak ada dia, aku tidak bisa Reina. Nyawaku adalah miliknya, aku tidak pantas hidup jika tidak ada dia di sini."
Greg dan Drax langsung menahan bahu Adam saat dia hendak maju mendekat. Mereka tahu kalau pria ini tidak bisa menerima ucapan yang baru saja Rose lontarkan.
"Kau jangan memperkeruh keadaan, Dam. Rose sedang kalut, dia tidak bisa berpikir jernih!" bisik Drax memberi teguran kecil pada menantunya.
"Tapi Dad, aku tidak mau Rose pergi meninggalkan aku. Dia tidak boleh pergi dariku!" sahut Adam gusar.
__ADS_1
"Apa kau pikir kami rela? Tidak Dam, sedetikpun kami tidak ada yang rela untuk berpisah dari Rose. Tapi untuk sekarang, kau sebaiknya jangan bicara macam-macam dulu. Batin Rose sedang bergejolak, tolong kau jangan egois. Biarkan dia mengeluarkan apa yang sedang menyiksa hatinya, dengan begitu emosinya bisa sedikit mereda. Kau mencintainya bukan?"
Sebelum menjawab, Adam terlebih dahulu menatap ke arah istrinya yang masih terisak-isak sambil terus memanggil nama Mona. Ya, dia sangat mencintai wanita ini. Hatinya seperti di iris melihatnya begitu menderita.
"Tenangkan dirimu. Daddy yakin Rose tidak sungguh-sungguh dengan ucapannya, dia hanya terlalu merasa bersalah atas apa yang terjadi pada Mona. Jangan khawatir, oke?"
"Daddy-mu benar, Dam. Beri Rose waktu untuk menenangkan diri, biarkan dia melepas semua tekanan yang selama ini dia simpan. Tugasmu sekarang hanyalah menjadi pendengar yang baik dan juga suami yang bisa menjadi sandaran untuk semua penderitaannya. Paham?" imbuh Greg ikut memberi saran.
"Aku sangat mencintai Rose Kek, Dad. Aku tidak tahan melihatnya seperti ini," ucap Adam sambil menarik nafas panjang.
Greg dan Drax sama-sama mengangguk. Mereka kemudian melihat ke arah Grizelle yang juga sedang menangis dalam pelukan ibunya.
"Kenapa Bu. Kenapa wanita-wanita di keluarga kita banyak yang mengalami penderitaan seperti ini? Karma apa yang telah diperbuat oleh leluhur kita sampai Rose juga harus mengalaminya?" tanya Grizelle menahan sesak menyaksikan betapa putrinya sangat tidak berdaya.
"Aku hancur melihat putriku terluka seperti ini, Bu. Rasanya aku seperti gagal menjadi seorang Ibu yang telah melahirkannya. Andai ....
"Jangan berandai-andai, Ibu tidak suka mendengarnya. Yang sudah berlalu biarkan menjadi masa lalu, tugas kita adalah menjaga diri sebaik mungkin agar kesalahan seperti dulu tidak terulang lagi di masa depan. Sekarang kau tenangkan dirimu dengan cepat, Rose membutuhkan dukungan kita semua!"
Grizelle mengangguk. Dia melepaskan diri dari pelukan sang ibu kemudian berjalan menghampiri Rose. Grizelle melihat ke arah Reina terlebih dahulu untuk memastikan apakah putrinya bisa dia sentuh atau tidak. Pahamlah, Rose memiliki batasan dimana dia tidak menyukai sentuhan orang asing. Meski dia ibunya, Grizelle tidak mau memaksakan kehendak karena dia sadar ingatan Rose masih bermasalah.
"Rose, bicaralah dengan Mommy Grizelle. Dia sangat khawatir padamu," ucap Reina paham akan keinginan dari wanita yang sedang duduk bersimpuh di sebelahnya.
Tidak ada jawaban yang keluar dari mulut Rose saat Reina berkata seperti itu. Namun dia juga tidak memberi penolakan ketika dia di peluk oleh ibunya. Masih dengan perasaan yang sangat kacau, Rose berusaha untuk mengungkapkan rasa sakit yang dia rasakan. Dia mendongakkan wajah menatap mata sang ibu, akan tetapi suaranya malah tercekat di tenggorokan. Hingga akhirnya Rose meraung dengan sangat kuat sampai membuatnya kesulitan bernafas.
__ADS_1
"Rose Rose.. Hei sayang, jangan begini Nak. Rose.. Ibuuu!!!" teriak Grizelle panik melihat mata putrinya membalik ke atas.
Seperti orang yang tidak sadar, Grizelle menepuk kuat kedua pipinya Rose ketika putrinya ini seperti hilang kesadaran. Dia terus menjerit, berteriak memanggil nama Rose dengan harapan agar putrinya bisa segera sadar.
"Rose jangan begini sayang. Mommy tahu kau kecewa, tapi tolong jangan begini Rose. Rose... buka matamu Nak, ini Mommy Nak. Buka matamu sayang!" teriak Grizelle menggila.
"Reina, apakah disini ada dokter selain mereka?" tanya Adam yang juga kacau melihat kondisi istrinya.
"Resan sedang memanggilnya. Kau... kau....
Reina tidak bisa bicara. Suasana di sini benar-benar sangat kacau. Ketua dari kelompok Queen Ma sedang berada di titik terendah dalam hidupnya, dan ini membuat semua orang menjadi kalut. Entah rasa sakit seperti apa yang di pendam oleh Rose hingga mampu membuatnya kolaps seperti ini. Bahkan ketika dulu dia mendapat luka tembak di tubuhnya Rose sama sekali tidak mengeluh kesakitan. Dan sekarang, hanya karena melihat Mona yang sedang kritis, wanita yang begitu dingin ini tidak sanggup menahan rasa sakit di dadanya? Mungkinkah memang benar kalau Rose tidak akan bisa hidup tanpa Mona?
Dalam keadaan setengah sadar, Rose masih bisa mendengar suara jeritan dan juga tangis sang ibu yang saat itu masih memeluknya. Ada perasaan hangat yang terukir di hati ketika dia merasakan ciuman bertubi-tubi di seluruh wajahnya. Dan kehangatan ini membawanya masuk ke alam mimpi dimana dia melihat sepasang anak yang tengah berlarian di tepi pantai bersama dua orang dewasa. Orang-orang ini terlihat begitu bahagia, dan tawa mereka membuat kesadaran Rose perlahan-lahan mulai menghilang.
"Mom, Dad, I love you," ....
๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น
...๐นJangan lupa vote, like, dan comment...
...ya gengss ๐ช๐ช๐ช...
...๐นIg: rifani_nini...
__ADS_1
...๐นFb: Rifani...