
Dante diam memperhatikan Mona yang tengah berkemas di dalam kamarnya. Malam ini adalah malam terakhir Mona berada di markas Queen Ma. Entah apa yang terjadi, tiba-tiba saja gadis itu memutuskan untuk pulang ke rumahnya. Dante yang baru saja mendapat amanah untuk membantu Mona kembali ke jalan yang lurus tentu saja merasa dilema. Dia tidak mungkin kan terus datang berkunjung ke rumahnya dengan alasan ingin melakukan pendekatan? Secara, mereka baru saja saling kenal dan Mona pun terlihat begitu dingin padanya. Dante rasa akan sangat sulit untuk menaklukkan diri gadis ini jika jarak menjadi penghalang di antara mereka.
"Lakukan seperti yang ada di dalam pikiranmu, Dante. Jangan khawatir, Niel dan Shiren sudah tahu tujuanmu yang sebenarnya. Kau tidak perlu sungkan pada mereka!" ucap Liona yang sejak tadi terus memperhatikan gerak-gerik Dante.
"Oh, Nenek ada di sini. Sejak kapan?" tanya Dante setelah berbalik ke belakang.
"Sejak kau terus memperhatikan Mona," jawab Liona. "Kenapa? Apa ada yang mengganggu pikiranmu?"
Dante mengangguk. Dia kembali berbalik kemudian menatap Mona yang kini tengah duduk diam sambil menatap lurus ke arah depan. Sepertinya gadis itu sedang melamun.
"Mona sangat dingin padaku, Nek. Jika dia keluar dari sini, aku rasa rencana kita tidak akan berjalan lancar. Mona pasti akan menjaga jarak dariku!" ucap Dante menjelaskan kekhawatiran yang dia rasa.
"Itulah alasan kenapa kami memanggilmu kemari, Dante. Kami semua tahu cepat atau lambat Mona pasti akan meminta untuk pergi dari sini. Dengan dia kembali ke rumahnya, kau jadi memiliki banyak kesempatan untuk mengisi kekosongan hatinya. Memangnya kau tidak sadar ya kalau tujuan Mona pergi dari sini adalah untuk melepaskan perasaannya pada Rose? Dia sedang berjuang, Dante. Dan akan sangat bagus kalau kau muncul di saat-saat sulit dalam hidupnya!" sahut Liona.
"Aku ragu kalau hal ini akan berhasil, Nek."
"Dan kau ingin menyerah begitu saja?" sindir Liona. "Lebih baik kau mati jika hal begini saja kau tidak mampu melakukan. Mommy dan Daddy-mu pasti akan sangat marah jika mereka tahu kalau putranya tumbuh menjadi seorang pria pengecut!"
Dante langsung menelan ludah dengan susah payah. Tengkuknya terasa dingin ketika melihat tatapan tajam dari mata sang nenek. Menyesal Dante karena sudah berani merasa ragu. Dia sesaat lupa kalau neneknya ini sangat tidak suka pada orang yang mudah menyerah.
"Di dunia ini tidak ada kesuksesan yang bisa di raih dengan mudah, Dante. Perlu usaha dan kerja keras dalam mewujudkan semua itu. Begitu juga dengan tugasmu yang ingin membantu Mona sadar akan kodrat yang seharusnya. Kalau saja dia adalah gadis yang normal, dia tidak akan mungkin menyukai adikmu. Mona butuh bantuan kita semua, Dante. Dia perlu seseorang yang bisa membawanya kembali ke jalan yang benar. Paham kau?" ucap Liona penuh penekanan.
"Maafkan aku, Nek. Aku salah karena sudah menyerah di saat tugas ini saja baru akan di mulai," sahut Dante merendah.
"Kau tahu bukan kalau Nenekmu ini sangat amat membenci kata maaf? Jangan katakan itu lagi atau Nenek akan menggantungmu di luar sampai besok pagi."
Dante meringis takut sambil menggaruk kepala ketika di ancam oleh sang nenek. Sedetik kemudian dia tersadar akan sesuatu hal.
"Nek?"
__ADS_1
"Ada apa?"
Liona berdehem pelan.
"Jika nanti Mona sampai memendam perasaan lebih padaku bagaimana? Tujuanku mendekatinya bukanlah di dasari oleh perasaan suka, melainkan hanya ingin membantunya saja. Apa yang harus aku lakukan nanti jika Mona sampai salah paham mengartikan kedekatan kami?" tanya Dante dengan mimik wajah yang sangat serius.
"Jangan membayangkan sesuatu yang belum tentu kepastiannya, Dante. Kau cukup menyelesaikan tugasmu dengan baik. Lalu setelahnya biar waktu yang menjawab!" jawab Liona penuh maksud. Setelah itu dia berjalan mendekat ke arah Dante kemudian menepuk bahunya pelan. "Nenek paham akan kekhawatiranmu. Mona sendiri adalah gadis yang cantik dan baik. Tidak ada salahnya jika di antara kalian tumbuh perasaan saling sayang. Itu normal."
"Tapi, Nek. Aku ....
"Lakukan ini demi adikmu, Dante. Nenek tidak memaksamu untuk mencintai Mona, tapi Nenek harap kau bisa menempatkan nama adikmu saat ingin mengambil keputusan. Sampai saat ini Mona dan Rose masih sama-sama saling terikat. Nenek harap kau bisa membantu menyelesaikan permasalahan ini. Ya?"
Meski di benaknya ada sedikit keraguan, tapi nyatanya Dante tak mampu menolak keinginan sang nenek. Dia dengan pasti mengangguk setuju, siap menjadi tameng demi menyembuhkan kelainan yang di derita oleh Mona. Bukan maksud hati ingin menipu, niat semua orang tulus untuk membantu Mona keluar dari hipnotis sesat tersebut.
"Masuklah ke dalam. Siapa tahu kau bisa memberi sedikit penghiburan padanya," ucap Liona sembari melirik ke arah di mana Mona berada.
"Baiklah, Nek. Kalau begitu aku permisi."
"Kenapa buru-buru ingin pindah dari sini? Bukankah tempat ini sangat nyaman?"
Mona tak bergeming sedikit pun saat Dante bertanya kepadanya. Dia risih, jijik, dan juga kesal. Entah apa yang salah dengan otak pria ini. Sejak mereka bertemu, Dante terus saja mengajaknya bicara. Dia seperti sengaja mengakrabkan diri padanya.
"Jangan dingin beginilah. Santai saja, aku ini kan bukan orang jahat," ledek Dante sembari duduk di sebelah Mona. Dia melirik ke arah foto yang berada di genggaman gadis ini.
Ck, andai kau seorang pria, aku yakin Rose pasti akan memilihmu, Mona. Sayang, kau berjenis kelamin sama dengan adikku. Hmmm.
"Kita tidak saling kenal sebelumnya. Apa tujuan sebenarnya kau terus mendekatiku, Tuan Dante?" tanya Mona dingin.
"Dante saja."
__ADS_1
"Baik, Dante."
Sudut bibir Dante berkedut. Ternyata hanya tampilan luarnya saja Mona terlihat seperti gadis lemah. Sejatinya, Mona sangat galak dan juga dingin. Dante jadi penasaran dengan sikap lain yang masih tersembunyi di dari gadis ini. Menarik.
"Kau ingin aku bicara bohong atau jujur?"
"Jangan bertele-tele. Katakan tujuanmu yang sebenarnya."
Mona mendengus. Dia benci sekali berada dalam satu ruangan yang sama dengan pria ini.
"Aku ingin membantumu melupakan Rose. Bukan untuk menjadi pacar, tapi menjadi teman dekatmu. Maaf jika kata-kataku sedikit menyinggung perasaanmu, tapi kau tahu bukan kalau kejujuran itu selalu menyakitkan?" ucap Dante terus terang.
"Terima kasih untuk niat baikmu, Dante. Tapi maaf, aku bisa mengatasi masalahku sendiri. Jadi aku rasa kau tidak perlu membuang-buang waktu hanya untuk membantuku. Ini hidupku dan ini keputusanku, kau tidak berhak ikut campur!" sahut Mona langsung menyatakan keberatannya akan tujuan Dante mendekatinya.
"Aku memang tidak punya hak apapun pada hidupmu, Mona. Tapi aku berhak menjauhkan wanita sepertimu dari lingkup kehidupan adikku. Kalau kau keras kepala, maka aku akan seribu kali jauh lebih keras lagi. Dan kalau kau tetap kekeh pada keputusanmu, maka jangan salahkan aku jika aku menggunakan cara kekerasan untuk menjinakkanmu. Ingat Mona, aku pun tidak berminat untuk meladeni gadis gila sepertimu. Kalau bukan demi adikku, aku tidak akan sudi mendekati wanita sok keras kepala sepertimu. Camkan ini baik-baik!"
Setelah berkata seperti itu Dante langsung keluar dari kamar Mona. Dia sengaja bersikap keras agar tugasnya bisa segera selesai.
Apa Dante baru saja mengancamku? Aneh sekali. Dia yang datang sendiri, dia juga yang emosi sendiri. Sepertinya dia sudah gila.
πΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉ
Gengss.... Kalo kemarin MA QUEEN ROSE masih belum stabil jam up-nya harap maklum ya. Soalnya emak baru aja pulang liburan, otak masih ngelag buat mikir. Dan juga novel bergenre action kayak gini cukup menguras waktu dan pikiran. Novel genre ini gk segampang genre romantis kayak novel yang lain. Dan pemberitahuan juga kalo novel PESONA SI GADIS DESA hanya akan di tayangkan di youtube aja karena sesuatu hal. Bagi yang mau baca silahkan, bagi yang gk mau juga nggak papa, emak nggak maksa. ππ
...πΉJangan lupa vote, like dan comment...
...ya gengss πͺπͺπͺ...
...πΉIg: rifani_nini...
__ADS_1
...πΉFb: Rifani...