Ma Queen ROSE

Ma Queen ROSE
Rose: Barter Yang Menguntungkan


__ADS_3

"Sayang, apa tidak apa-apa kau keluar dari rumah sakit sekarang? Luka di tubuhmu masih belum kering, bagaimana kalau nanti malah terinfeksi? Kan bahaya?"


Gheana hanya tersenyum menanggapi kekhawatiran ibunya. Ya, setelah menerima pesan balasan dari Cesar, Gheana memaksa untuk keluar dari rumah sakit detik ini juga. Luka-luka di tubuhnya mungkin masih belum sembuh total, tapi apa yang akan terjadi nanti akan menjadi obat mujarab yang akan langsung menyembuhkan semua luka yang ada.


"Sayang, Ibu ....


"Bu, jangan khawatir. Aku akan tetap baik-baik saja meskipun keluar dengan kondisi luka yang masih belum terlalu kering!" ucap Gheana dengan cepat menyela perkataan sang ibu. Waktunya sudah tidak banyak lagi dan dia harus segera keluar dari rumah sakit ini secepatnya. Cesar sudah melakukan tugasnya, yang artinya kalau sebentar lagi Gheana akan segera menyaksikan kehancuran seorang Rose. Membayangkan kebahagiaan itu membuat Gheana menjadi semakin bersemangat. Dia sudah tidak sabar melihat Rose yang menggeliat kesakitan karena kehilangan bayinya.


Setelah selesai bersiap, Gheana meminta bantuan sang ibu untuk memapahnya pergi menuju mobil. Dia menekan emosinya dalam-dalam saat baju panjang yang menutupi lengannya tidak sengaja sedikit tersingkap.


Sialan kau, Rose. Ingat ya, secuilpun aku tidak akan pernah melupakan apa yang telah anak buahmu lakukan padaku. Aku bersumpah kalau semua rasa sakit yang berasal dari tato-tato sialan ini akan aku kembalikan seratus kali lebih menyakitkan padamu. Tunggu saja.


Tepat ketika Gheana dan ibunya hampir sampai, terlihat ada seseorang yang tengah mengawasi mereka dari pojok rumah sakit. Tatapan orang tersebut begitu dingin, dan dia datang dengan memakai hoodie hitam khas pemimpin kelompok Ma Queen.


"Target sudah keluar dari rumah sakit, Nona. Dan sekarang sedang berada di dalam mobilnya bersama seorang wanita tua!"


"Kau awasi saja kemana mereka pergi. Pastikan mereka masuk ke dalam jebakan yang sudah di rencanakan. Ingat, jangan sentuh dia. Karena wanita itu adalah milikku."


"Baik, Nona."


Setelah panggilan terputus, orang tersebut kembali mengawasi pergerakan dari wanita yang sedang menjadi targetnya. Dia baru beranjak dari sana setelah mobil yang di tumpangi oleh wanita tersebut bergerak pergi dari halaman depan rumah sakit.

__ADS_1


Kenapa perasaanku terasa tidak nyaman ya? Rasanya seperti ada yang sedang mengawasiku. Tapi siapa? Tidak mungkin anak buahnya Rose 'kan?


"Ghe, ada apa? Kenapa kau terus melihat ke belakang?"


"Oh, tidak apa-apa, Bu. Aku hanya merasa seperti ada seseorang yang tengah membuntuti mobil kita. Tapi ya sudahlah, mungkin ini terjadi karena aku yang terlalu lama berada di rumah sakit. Makanya jadi berhalusinasi seperti ini," jawab Gheana kemudian kembali berbalik menghadap ke arah depan. Dia lalu tersenyum ketika sang ibu menatapnya lekat.


"Ya ampun kau ini ya. Masa hanya beberapa hari menginap di rumah sakit kau sampai berhalusinasi begini sih? Ada-ada saja."


"Hehe, biasanya kan aku selalu sibuk kesana kemari mengurus pekerjaan, Bu. Wajarlah kalau efek rebahan di ranjang rumah sakit membuat pikiranku jadi sedikit oleng. Iya kan?"


"Hmmm, terserah apa katamu. Yang penting kau bisa segera sehat dan beraktifitas seperti biasanya."


"Iya, Ibu."


Selang beberapa menit kemudian, Gheana dan ibunya sampai di rumah mereka. Namun ketika sang ibu hendak membantu Gheana keluar dari dalam mobil, Gheana menolak. Oh, itu tentu saja. Karena setelah ini Gheana akan langsung pergi ke tempat di mana Rose akan di eksekusi oleh orang suruhannya Cesar.


"Maaf, Ibu. Aku baru saja menerima pesan dari bawahanku kalau ada masalah yang terjadi di kantor. Jadi aku harus secepatnya pergi ke sana untuk memeriksa apa yang sebenarnya terjadi," ucap Gheana beralasan pada sang ibu.


"Tapi kau itu baru saja keluar dari rumah sakit, Gheana. Ibu takut kau kenapa-napa kalau langsung pergi bekerja."


"Tidak apa-apa, Bu. Lagipula luka di tubuhku kan sudah tidak seserius waktu itu, jadi aman-aman saja untuk di bawa bekerja. Ibu jangan khawatir, di sana aku tidak sendirian. Ada banyak karyawan yang akan membantu menjagaku. Ya?"

__ADS_1


Setelah berkata seperti itu Gheana langsung pamit pergi pada sang ibu. Dia lalu merogoh ponsel dari dalam tas, mengirim pesan pada partnernya untuk menanyakan apakah dia sudah bisa melihat pertunjukan menyenangkan itu atau belum.


"Tuan Cesar, sudah sampai di mana persiapanmu? Aku sudah tidak sabar ingin segera melihat Rose menggeliat kesakitan saat kehilangan bayinya."


Sent, pesan terkirim.


"Rose-Rose, kau pikir dengan hanya membayar dua orang rendahan untuk menyakitiku kau sudah mampu untuk membuatku menyerah? Hahaha, tidak semudah itu, sayang. Aku Gheana Lutfer, tidak akan pernah mundur sebelum mendapatkan apa yang aku mau. Harusnya kau itu sadar diri Rose kalau Adamar hanya cocok jika di pasangkan dengan wanita berkelas sepertiku. Tidak sepertimu yang hanya seorang gadis desa biasa bermodalkan tampang dan tubuh seksi saja. Adamar adalah pewaris tahta kekayaan keluarga Clarence, akan sangat terhina para nenek moyang keluarganya jika dunia tahu Adamar menikah dengan orang hina sepertimu. Miris, benar-benar sangat miris. Kalau saja kau lebih sadar diri kemudian pergi meninggalkan Adamar, aku pasti tidak akan menyingkirkanmu. Aku bahkan akan berbaik hati dengan membiarkanmu tetap melahirkan bayi itu. Sungguh," ucap Gheana bicara dengan dirinya sendiri. Mengabaikan raut keheranan di wajah sopirnya yang mengemudi sambil sesekali melirik ke arahnya melalui kaca spion mobil.


Andai saja Gheana tahu kalau apa yang dia katakan barusan akan menjadi bumerang untuk dirinya sendiri, di jamin dia pasti tidak akan berani berurusan dengan wanita yang bernama Rose. Namun sayang, rasa angkuh dan keserakahan akan status dan juga harta sudah menutup mata hatinya di mana dia mengabaikan bahaya besar yang telah menghadangnya di jalur depan. Entah apa yang akan terjadi. Satu yang jelas, kalau nasib dan hidup Gheana akan segera hancur dalam hitungan menit. Apa kalian percaya?


"Datanglah. Rose sudah ada di sini dan sekarang masih dalam kondisi tak sadarkan diri setelah di bius oleh anak buahku. Pastikan keamananmu terlebih dahulu sebelum datang kemari. Anak buah Adamar ada di mana-mana, aku tidak mau mengambil resiko ketahuan olehnya. Oke?"


"Oke, Tuan Cesar. Oke. Kau tenang saja, aku pastikan semuanya akan aman sampai kita selesai membereskan Rose dan bayinya," ucap Gheana sembari membalas pesan. Setelah itu dia menghubungi nomor bawahannya untuk meresmikan pengalihan saham atas nama Cesar. "Halo. Sekarang tolong kau urus semua yang aku minta kemarin. Nanti aku akan mengabarimu kapan berkas itu harus kau serahkan padaku. Mengerti?"


"Mengerti, Nona Gheana."


"Bagus. Kalau begitu kembalilah bekerja. Aku sedang sibuk sekarang!"


Gheana memutuskan panggilan kemudian memasukkan ponselnya ke dalam tas. Dia kemudian menyeringai. Bukan hal kecil jika hanya mengorbankan separuh dari saham yang dia miliki di perusahaan untuk membayar kerja keras Cesar dalam membantunya menyingkirkan Rose. Karena setelah Adamar menjadi miliknya nanti, apa yang hilang sekarang akan terganti menjadi seratus kali lebih banyak dari yang dia berikan untuk Cesar. Sungguh, ini adalah sistem barter paling menguntungkan yang pernah Gheana jalani.


Pertanyaannya hanya satu. Mungkinkah itu terjadi? 😏

__ADS_1


*****


__ADS_2