
Sesampainya di tempat penjual rujak, Rose dengan tidak sabar meminta pada penjualnya agar mencampurkan banyak mangga muda ke dalamnya. Tak lupa juga dia memesan minuman yang membuat si penjual tercengang kaget.
"Istriku sedang hamil muda. Tolong buatkan minuman seperti yang dia minta. Dia sedang mengidam," ucap Adam pada penjual rujak. Dia merasa sangat tergelitik melihat raut terkejut di wajah penjual tersebut. Tapi jangankan orang ini, dia saja sangat kaget saat mendengar permintaan Rose yang sangat nyeleneh itu. Mangga muda di campur dengan lada, entah apa rasanya.
"Adam, duduklah. Jangan mengganggu penjual itu membuatkan pesananku. Ayo kemari!" protes Rose yang kesal melihat suaminya dan di penjual rujak malah asik mengobrol.
Sambil menahan tawa Adam menuruti apa yang di inginkan oleh Rose. Meski hanya warung di pinggir jalan, baik Rose maupun Adam sama sekali tidak merasa risih ataupun jijik. Mereka dengan santainya membaur dengan para pembeli yang sedang makan rujak di sana. Sebenarnya sekarang sudah lewat tengah malam, tapi si penjual rujak masih nekad berdagang di tempat ini bersama para pedagang yang lainnya. Padahal jika di pikir-pikir, makanan sejenis rujak biasanya hanya di nikmati di hari siang yang terik. Tapi apapun alasannya, keberadaan penjual ini menyelamatkan Adam yang hampir putus asa karena tidak menemukan penjual rujak di tempat lain. Berkatnya, Adam tak harus melihat kekecewaan di wajah istrinya karena gagal menikmati makanan dan minuman yang dia mau.
Drrrttt drrrttt
Rose menatap dalam ke arah Adam saat mendengar suara getaran ponsel. Dia penasaran siapa yang berani menghubungi suaminya di tengah malam begini.
"Cesar yang menelpon. Boleh aku menjawabnya?" tanya Adam meminta izin. Dia tahu kalau istrinya sedikit terganggu dengan getaran telepon tersebut.
"Di sini saja. Aku tahu kalian ingin membicarakan tentang kekacauan tadi," jawab Rose.
"Kau tahu?"
Rose mengangguk.
"Aku bahkan sudah tahu semuanya sebelum datang menghampirimu tadi. Kau suamiku, Adam. Lupa ya kalau anak buahku bekerja siang malam untuk menjaga keamanan kita?"
Adam tersenyum. Dia lalu mengelus puncak kepala Rose yang selalu saja membuatnya merasa takjub akan kecerdasannya.
"Aku jawab sekarang ya?"
"Ya."
Segera setelah Rose memberi izin, Adam menjawab panggilan dari Cesar. Dia kemudian menekan tombol loudspeaker lalu mengecilkan sedikit volume suaranya agar tidak di dengar oleh pembeli yang sedang makan di sana.
__ADS_1
"Ada apa, Ces?"
"Dam, mau kita apakan pengkhianat ini? Tanganku benar-benar sudah sangat gatal ingin segera memenggal kepalanya. Tapi rasanya sedikit sayang kalau harus membuatnya mati dengan cepat. Coba kau beritahu aku jalan mana yang jauh lebih berkesan untuk membuatnya merasa menyesal karena sudah lancang mencari masalah dengan kita. Otakku seperti buntu setelah mendengar berita di televisi tadi. Aku kecewa karena mereka tidak mengatakan kalau bubuk putih yang awalnya mereka duga adalah narkoba ternyata hanya sagu biasa yang di pakai para koki memasak di dapur. Padahal itu adalah plot twist paling menarik dari drama yang terjadi. Sungguh sialan wanita yang membacakan berita itu. Kita culik saja bagaimana, Dam? Aku sangat gemas ingin mencubit ginjalnya."
Sudut bibir Rose dan Adam sama-sama berkedut saat mendengar keluhan Cesar yang tidak terima kalau beritanya tidak di bacakan sedetail mungkin. Tapi wajar saja sih kalau Cesar sampai merasa kecewa seperti ini. Karena dialah yang berperan paling besar dari drama ledakan tersebut. Sudah pasti Cesar akan merasa sangat amat tidak di hargai oleh pemerintah.
"Masalah pembaca berita itu terserah kau ingin bagaimana, Ces. Tapi untuk pengkhianat itu, jika bisa jangan membuatnya cepat mati. Terlalu terhormat jika dia pergi dengan mudah, karena hal itu akan sangat tidak adil bagi ruh-ruh pengkhianat lainnya. Mereka pasti tidak terima!" ucap Adam sambil melayangkan tatapan dingin pada wanita yang sejak tadi terus menatapnya. Jijik sekali dia.
"Ya sudah kalau begitu. Haihhh, transaksi kali ini sukses besar, Dam. Sebagian uangnya sudah di kirim ke rekeningmu. Lalu yang sebagiannya lagi tunggu setelah dia menjual beberapa saham miliknya."
"Oke, tidak masalah. Kau urus saja semuanya, aku terima beres saja!" sahut Adam sambil menyeringai puas. Ratusan triliun ada di depan mata.
Rose sudah tidak fokus mendengarkan percakapan Adam dengan Cesar saat penjual rujak datang mengantarkan pesanan. Seperti orang yang kelaparan, Rose menyantap rujak yang di dominasi mangga muda dengan begitu lahap. Bahkan orang-orang yang ada di sana ikut menelan ludah melihat cara Rose menikmati makanan. Maklum, beginilah jika sedang hamil. Meski hanya rujak biasa, tapi rasanya sangat luar biasa. Dan kebahagiaan seperti ini rata-rata hanya bisa di rasakan dan di nikmati oleh ibu hamil yang tengah mengidam.
"Pelan-pelan saja, Honey. Tidak akan ada orang yang berani berebut rujak denganmu!" ucap Adam dengan lembut memperingatkan sang istri agar jangan terlalu lahap dalam menyantap rujak yang membuat air liurnya seperti akan menetes keluar.
Kekhawatiran yang Adam rasakan akhirnya berbuah petaka. Dia yang tadinya hanya takut istrinya tersedak, malah diminta untuk mencicipi makanan yang entah seperti apa rasanya. Ingin menolak, tapi Adam tak berani melakukannya. Dia yakin sekali istrinya pasti akan langsung marah atau bahkan merajuk jika dia sampai tidak memakan rujak tersebut. Alhasil setelah menimang penuh rasa terpaksa, Adam membuka mulut untuk menerima irisan mangga muda yang telah di campur dengan saus kacang pedas. Dan begitu makanan tersebut masuk ke dalam mulutnya, bulu yang ada di tubuh Adam berdiri semua.
S*it, makanan apa ini? Kenapa rasanya masam sekali? Astaga, ini namanya membunuh diri sendiri. Ya Tuhan, lidahku mati rasa.
"Bagaimana, enak kan?" tanya Rose sembari menyuapkan rujak ke dalam mulutnya.
"Enak. Enak sekali malah," jawab Adam mati-matian berusaha mengunyah mangga muda sialan tersebut. Sebisa mungkin dia menyunggingkan senyum saat Rose terus menatapnya tak berkedip.
"Kalau begitu mau tambah lagi tidak? Punyaku masih banyak, kita bisa berbagi."
"O-oh, tidak usah, Hon. Rujak itu untukmu dan untuk bayi kita saja. Aku masih cukup kenyang!" sahut Adam dengan cepat menolak tawaran istrinya. Entah apa jadinya kalau Rose benar-benar membagi rujak tersebut. Bisa-bisa Adam mati berdiri karena tak kuat menahan rasa masam yang berasal dari irisan mangga muda.
Sebenarnya Rose bukan tidak tahu kalau Adam sudah tidak kuat menahan rasa masam dari rujak yang sedang dia makan. Tapi entah mengapa tiba-tiba saja dia ingin sekali menjahili suaminya ini. Semenjak hamil, ada-ada saja keinginan yang muncul di pikiran Rose. Padahal dulu Rose bukanlah tipe orang yang suka melakukan sesuatu yang tidak berguna seperti sekarang.
__ADS_1
"Dam?"
"Hmmm?"
"Terima kasih."
Kening Adam mengerut.
"Terima kasih untuk apa, Hon?" tanya Adam keheranan.
"Untuk kesabaranmu dalam menghadapiku yang mendadak jadi aneh begini. Dan untuk rujak tadi, aku minta maaf karena sudah menjahilimu agar ikut mencicipinya. Jujur, aku suka mengerjaimu. Dan kalau kau bertanya apa alasannya, jawabannya adalah tidak tahu. Maaf ya?" jawab Rose malu-malu.
Adam terkekeh. Dengan gemas dia mengacak rambut Rose yang terlihat malu setelah mengakui dosa-dosanya. Kapan lagi Adam bisa melihat seorang Rose bersikap malu-malu begini? Sungguh petaka yang membahagiakan hati.
"Habiskan makananmu. Kau harus segera tidur setelah ini. Ya?"
"Iya."
๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น
...Gengsss, karena kemarin bom komentarnya kurang memuaskan, emak nggak jadi crazy up sore. Jangan lupa bom komentar lagi ya biar emak makin semangat. ๐...
...๐นJangan lupa vote, like dan comment...
...ya gengss ๐ช๐ช๐ช...
...๐นIg: rifani_nini...
...๐นFb: Rifani...
__ADS_1