
Di kamar hotel, Rose baru saja terbangun dari tidurnya setelah siang tadi meminum obat penenang. Dia sedikit mendesis saat merasakan nyeri di bagian kepalanya.
"Honey, kau tidak apa-apa?"
Hampir saja Rose terlonjak saat mendengar suara seseorang. Segera dia menoleh ke arah samping, kaget karena ternyata Adam ada di sana.
"Kapan kau pulang?" tanya Rose.
Adam menatap lama ke arah istrinya sebelum menjawab. Dia lalu duduk di sebelahnya, merengkuhnya dalam pelukan sambil membaui aroma rambutnya yang sangat wangi.
"Belum lama. Mungkin sekitar lima menit,"
Melihat sikap Adam yang terkesan dingin, Rose jadi penasaran. Dia lalu mendongak, mencoba menelisik apa yang sedang dipikirkan oleh suaminya.
"Sesuatu terjadi lagi di proyek?"
Kepala Adam menunduk. Dia lalu menggeleng.
"Lalu?"
"Mau ikut pergi denganku tidak?" tanya Adam.
"Pergi?"
Adam mengangguk. Dadanya sedikit berdebar.
"Kemana?"
Pasti ada sesuatu yang terjadi. Rose yakin itu.
"Ke rumah sakit,"
Kening Rose mengernyit. Dia menatap manik mata Adam dengan seksama. Suaminya tengah menyembunyikan sesuatu, itu terlihat jelas dari bola matanya yang terus bergerak gelisah.
"Ibunya Rolland masuk rumah sakit. Dan aku ingin mengajakmu pergi menjenguknya ke sana," ucap Adam menjelaskan.
"Bukankah kau bilang malam ini akan pulang terlambat? Lalu kenapa tiba-tiba kau sudah ada di rumah dan mengajakku pergi ke rumah sakit? Rahasia apa yang sedang coba kau sembunyikan dariku Dam?" cecar Rose curiga.
Lagi-lagi nama Rolland di sebut. Rose mulai menyambungkan kejadian ini dengan mimpi yang beberapa waktu ini terus mengganggunya.
Mungkinkah mimpi yang aku lihat ada hubungannya dengan sakitnya orangtua Rolland?
"Rose, jika aku mengatakan sesuatu yang selama ini tidak kau ketahui, apakah kau akan marah dan membenciku?" tanya Adam hati-hati.
"Apa maksudmu?"
"Begini....
__ADS_1
Adam menjeda ucapannya.
"Tadi, saat aku sedang makan malam bersama keluarganya Rolland, tiba-tiba saja ibunya memintaku untuk memperlihatkan fotomu. Dan setelah aku menuruti keinginan ibunya Rolland, beliau langsung jatuh pingsan. Wajahmu ternyata sangat mirip dengan ayahnya Rolland, dan mereka menganggap kalau kau adalah Rose yang selama ini mereka cari."
"Lalu?"
Ada getaran tak biasa di hati Rose setelah mendengar hal tersebut. Marah, juga penasaran. Apakah hal ini yang membuat neneknya Rolland begitu gencar ingin menguak identitasnya?
"Kalau kau berkenan, aku ingin membawamu pergi menemui mereka. Mereka begitu menantikanmu di rumah sakit," ucap Adam sambil terus memperhatikan reaksi di wajah istrinya.
"Atas dasar apa mereka meyakini kalau aku adalah anak mereka yang hilang? Bukankah aku sudah pernah bilang padamu kalau aku tidak memiliki kalung bernama yang Rolland maksud tempo hari. Lagipula kedua orangtuaku juga sudah meninggal saat aku berusia lima tahun, jadi sangat mustahil kalau aku adalah bagian dari mereka!" kesal Rose.
Adam menghela nafas. Sudah dia tebak kalau istrinya akan bereaksi seperti ini. Tapi apapun itu, Adam harus bisa membujuk Rose agar mau datang ke rumah sakit. Karena dengan begini semua rahasia akan terbongkar apakah benar Rose adalah saudara kembarnya Rolland atau bukan. Karena jujur saja, masih ada sedikit keraguan di hati Adam. Rolland dan Rose mempunyai usia yang berbeda. Jika benar mereka adalah kembar, harusnya usia mereka sama. Sedangkan ini, usia istrinya dua tahun lebih muda dari Rolland. Satu perbedaan yang membuat benak Adam tak henti bertanya-tanya.
"Honey, aku tahu kau tidak suka dengan hal ini. Tapi tidak ada salahnya kan kalau kau tetap datang menjenguk ibunya Rolland agar mereka melihat sendiri seperti apa rupa wajahmu?" ucap Adam berusaha membujuk istrinya.
"Haruskah?"
"Menurutku iya. Karena dengan begini mereka baru akan paham tentang siapa kau sebenarnya. Di sana nanti kau juga bisa menjelaskan tentang keluargamu supaya mereka tidak salah paham lagi. Mau ya?"
Rose terdiam. Perkataan Adam ada benarnya juga. Kalau masalah ini tidak segera diluruskan, yang ada Rolland dan keluarganya akan terus merong-rong tentang siapa dirinya. Rose sangat tidak suka dengan pengusik, dan apa yang dilakukan oleh neneknya Rolland siang tadi cukup membuatnya merasa kesal.
"Bagaimana Hon, kau mau kan pergi bersamaku?" tanya Adam lagi.
"Aku akan bersiap,"
Sambil menunggu Rose selesai mandi, Adam dengan telaten mengambil baju dari dalam kopernya. Dia tersenyum, lega karena istrinya mau ikut pergi ke rumah sakit.
Semoga saja Rose dan Rolland bukan saudara kembar.
Tak lama kemudian Rose keluar dari dalam kamar mandi hanya dengan berbalut handuk setengah paha. Adam yang melihat hal itupun langsung menelan ludah. Tubuh istrinya sangat menggoda, membuat kelelakiannya langsung mengacung tegak.
"Nanti saja. Bukankah kau ingin mengajakku pergi ke rumah sakit?" ucap Rose menyadari gairah di mata suaminya.
"Ck, menyebalkan."
Sambil mendengus karena keinginannya tidak bisa terpenuhi, Adam membenamkan wajahnya di atas selimut. Dia sungguh kesal.
"Baju ini kau yang ambil?" tanya Rose sambil menahan tawa melihat kelakuan suaminya.
"Pakai itu saja. Aku tidak mau pria lain memandang tubuhmu, Hon" jawab Adam tanpa melihat ke arah istrinya.
Rose langsung memakai pakaian tersebut tanpa banyak bicara lagi. Setelahnya dia mengeringkan rambut, sesekali juga melirik ke arah ranjang dimana suaminya masih menenggelamkan wajah di sana.
"Dasar perajuk" gumam Rose lirih.
Drrttt, drrtttt
__ADS_1
Adam mengumpat saat ponselnya bergetar. Sambil bersungut-sungut dia akhirnya mengangkat panggilan tersebut.
"Ada apa?"
"Kapan kalian akan turun? Pantatku sudah berjamur gara-gara terlalu lama menunggu kalian!"
Terdengar helaan nafas yang cukup keras dari mulutnya Adam. Rose yang mendengarnya pun langsung menoleh. Sebelah alisnya terangkat ke atas.
"Sebentar lagi aku dan istriku baru akan turun ke bawah. Kau bersibuklah dulu dengan jamur yang tumbuh di pantatmu," ucap Adam sarkas.
"Jangan bilang kalian sedang membuat adonan ya? Kalau memang benar, aku akan langsung memborgol juniormu karena sudah berani bersenang-senang di atas penderitaanku. Awas saja kau Dam!"
"Omong kosong!" kesal Adam kemudian memutuskan panggilan.
"Siapa?" tanya Rose.
Bukannya menjawab, Adam malah berjalan menghampiri istrinya. Dia lalu menunduk, mencium tengkuk istrinya yang sangat putih seperti salju.
"Biarkan di urai saja, Hon. Jangan diikat," bisik Adam.
"Kenapa begitu?"
"Karena tengkukmu yang putih ini akan membuatku menelan air liur terus," jawab Adam yang mulai kesulitan mengendalikan n*fsunya.
Rose yang sudah selesai bersiap segera mendorong mundur tubuh suaminya saat menyadari kalau deru nafasnya mulai tak beraturan. Dia sedikit tersenyum, lucu melihat wajah suaminya yang sudah memerah seperti buah tomat.
"Honey, kita main sebentar yuk!" bujuk Adam penuh harap.
"Nanti aku akan menjamumu sampai puas. Sekarang lebih baik kita segera pergi sebelum orang yang tadi menelponmu kembai merusuh," sahut Rose tak menanggapi keinginan suaminya.
"Benar sampai puas?" tanya Adam senang. Matanya sampai berbinar.
"Memangnya kau akan berhenti jika aku memintanya?"
"Tidak," jawab Adam kemudian merengkuh pinggang istrinya. "Ayo berangkat, kemudian pulang. Aku sudah tidak sabar dengan jamuan yang akan kau suguhkan nanti!"
Rose mengangguk. Setelah itu mereka pun keluar dari kamar hotel. Di dalam lift, Adam masih sempat mencuri-curi kesempatan untuk menikmati bibir ranum istrinya. Lumayan, untuk pemanasan, begitu pikirnya. Sedangkan Rose, dia hanya diam membiarkan suaminya melakukan apa yang dia mau. Semua yang ada di tubuhnya adalah milik Adam, jadi Rose sama sekali tidak merasa keberatan saat tangan suaminya tidak berhenti merayap ke balik pakaiannya.
Mesum.
๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น
...๐นJangan lupa vote, like, dan comment...
...ya gengss ๐ช๐ช๐ช...
...๐นIg: rifani_nini...
__ADS_1
...๐นFb: Rifani...