Ma Queen ROSE

Ma Queen ROSE
Rose: Pulang Ke Desa


__ADS_3

Pagi harinya setelah menunggu Adam berangkat ke lokasi proyek, Rose segera kembali ke negaranya. Semalam lagi-lagi dia mendapat mimpi yang aneh. Dia melihat seseorang tengah menodongkan senjata ke arah kakeknya. Namun itu seperti terjadi di tahun yang sudah terlewat karena kakeknya belum terlihat setua sekarang. Gelisah memikirkan keadaan sang kakek, Rose pun berniat akan langsung pulang ke desa. Dia harus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.


"Tidak perlu mengantarkan aku!" ucap Rose dingin pada anak buahnya Adam setelah mereka keluar dari dalam pesawat.


"Tapi Nona, Tuan Adam....


Ucapan penjaga tersebut langsung terhenti saat Rose memberinya tatapan yang sangat tajam. Dia tentu saja tahu kalau suaminya berniat menjadikan pengawal ini sebagai mata-mata. Rose sadar kalau sebenarnya Adam sedikit banyak mulai mengetahui tentang siapa dia sebenarnya. Bukan Rose tak mau jujur, hanya waktunya saja yang belum tepat untuk membongkar semuanya. Masih ada banyak hal yang perlu Rose selidiki, termasuk siapa Rolland di hidupnya.


"M-maaf Nona!"


"Pergilah!" usir Rose kemudian berjalan sambil mengirim pesan pada Lorus.


Rose: Jemput aku sekarang. Kita ke desa hari ini juga


Sambil menunggu Lorus datang, Rose terus memikirkan mimpi yang dia alami. Benaknya sibuk bertanya-tanya tentang siapa orang yang berani menyodorkan pistol ke arah kakeknya. Atau sebenarnya orang ini adalah orang yang menjadi dalang kematian ayah dan ibunya dulu? Atau jangan-jangan masih ada kemungkinan lain yang tidak diketahui oleh Rose? Berbagai macam pertanyaan berkecamuk di hati Rose, membuat kepalanya sedikit berdenyut.


"Pasti ada rahasia besar yang di sembunyikan oleh Kakek. Tapi apa iya mimpiku ini adalah sebuah kebenaran? Dan kenapa mimpi itu baru muncul sekarang setelah aku bertemu dengan Rolland dan keluarganya? Apa ini ada hubungannya dengan mereka? Tapi apa?" ucap Rose bermonolog dengan dirinya sendiri.


Setelah beberapa saat menunggu, dari kejauhan terlihat mobilnya Lorus datang mendekat. Namun tiba-tiba saja mobil itu berhenti dan sedikit mundur menjauh. Rose yang melihatnya pun merasa heran, dia lalu menoleh ke belakang.


Hmm, masih saja ingin menguntit.


Di belakang Rose, ada dua orang penjaga yang sedang bersembunyi mengawasinya. Rose yang tahu alasan Lorus enggan mendekat memutuskan untuk berjalan ke arah sana. Tapi yang tidak di ketahui oleh anak buahnya Adam adalah... Rose mengirim pesan pada anak buahnya untuk membuat kedua pengawal itu lupa akan kejadian yang mereka lihat. Itu tentu saja harus dilakukan oleh Rose karena dia tidak ingin kedua penjaga ini mengikutinya ke desa. Keselamatan sang kakek bisa terancam jika keberadaannya di ketahui oleh orang luar. Karena selama ini, kakeknya Rose selalu menjauh dari orang-orang. Beliau hanya akan keluar dari rumah untuk bertani dan menjual sayuran saja. Seolah ada sesuatu yang selalu membuatnya khawatir dan ketakutan, terlebih lagi pada keselamatan Rose.


"Kita langsung berangkat, Nona?" tanya Lorus begitu nonanya masuk ke dalam mobil.


Rose mengangguk.


"Sudah kau atur?"


"Sudah, Nona. Mereka akan segera datang untuk membereskan kedua penguntit itu," jawab Lorus sambil mengemudikan mobil.


Terdengar helaan nafas panjang saat Rose lagi-lagi terpikir akan mimpinya. Semenjak dia bersama Adam, mimpi-mimpi aneh terus saja berdatangan. Terlebih lagi saat Adam memberitahunya kalau saat makan malam dia memperlihatkan fotonya pada Rolland dan keluarganya. Sungguh, kejadian itu benar-benar sama persis dengan apa yang dia lihat dalam mimpinya.

__ADS_1


"Nona, ada apa?"


Lorus yang melihat nonanya seperti linglung segera bertanya. Dia khawatir telah terjadi sesuatu yang tidak dia ketahui.


"Apa kau percaya dengan orang yang bisa melihat masa depan?"


Kening Lorus mengernyit. Dia sedikit heran mendengar pertanyaan tersebut karena selama ini nonanya sangat anti dengan hal-hal yang berbau mitos dan tabu. Segala hal selalu dipikirkan oleh nonanya menggunakan logika. Tapi pertanyaan barusan....


"Maksud Nona cenayang?"


"Ya,"


"Saya pernah mendengar ada seseorang yang memiliki kemampuan seperti itu, Nona. Tapi saya belum pernah melihatnya secara langsung, jadi tidak bisa menjawabnya dengan pasti," ucap Lorus.


"Apa kau mendengarnya di acara televisi?" tanya Rose sambil berpikir.


"Tidak, Nona. Saya hanya tidak sengaja mendengar pembicaraan orang lain, itupun hanya sekilas dan orang yang memiliki kemampuan itu tidak ada di negara ini. Entah itu benar atau tidak, saya tidak terlalu peduli," jawab Lorus jujur. "Kenapa tiba-tiba Nona bertanya tentang hal seperti ini?"


"Ingin saja,"


Mata Rose menatap ke luar. Dia diam memandangi deretan pohon yang berdiri di pinggir jalan.


"Aku bermimpi melihat Adam menunjukkan fotoku pada Rolland dan keluarganya. Dan mimpi itu benar-benar terjadi di dunia nyata. Adam mendapat undangan untuk makan malam di rumah Rolland lalu ibunya jatuh pingsan setelah melihat fotoku. Ini sangat tidak masuk akal, Lorus. Bagaimana bisa mimpi yang aku lihat benar-benar terjadi, bahkan sama persis. Menurutmu ini hanya kebetulan saja atau bagaimana? Aku sakit kepala memikirkannya" jawab Rose sedikit mendesah.


"Kalau boleh tahu ibunya Rolland pingsan karena apa, Nona? Rasanya ini sedikit ganjil mengingat Nona tidak memiliki hubungan apapun dengan mereka,"


"Mereka menganggap aku adalah saudara kembar Rolland yang hilang tujuh belas tahun yang lalu."


Cciiitttttt


"Apa kau ingin mati?" tanya Rose dingin sambil memegangi kepalanya yang terantuk kaca mobil.


Lorus menelan ludah. Saking kagetnya dia sampai-sampai menginjak rem mobil dengan kuat.

__ADS_1


"M-maaf, Nona," sahut Lorus sedikit tegang.


"Jalan!"


Terdengar helaan nafas panjang dari mulut Rose. Wajar kalau Lorus terkejut sampai seperti ini, karena dia juga sangat kaget ketika Adam mengatakan kalau dia adalah saudara kembar Rolland. Entahlah, Rose sangat bingung dengan apa yang terjadi. Dan satu-satunya orang yang bisa membuktikan apakah dia saudaranya Rolland atau bukan adalah kakeknya sendiri. Ini juga yang menjadi tujuan Rose pulang ke desa, dia ingin menanyakan apakah dulu dia pernah memiliki kalung bernama atau tidak.


Karena terlalu lama melamun, Rose tidak menyadari kalau mobil yang di kendarai oleh Lorus sudah memasuki desa tempat tinggal kakeknya. Dia tersenyum melihat banyaknya anak kecil yang berlarian mengejar mobil. Desa ini lumayan terpencil, butuh waktu sekitar lima atau enam jam untuk bisa memasuki kota. Jadi wajarlah kalau orang-orang di sini sangat udik. Jangankan mobil, sepeda saja hanya orang-orang tertentu yang mampu membelinya.


"Nona, itu Kakek Frans!" ucap Lorus sambil menghentikan mobilnya tak jauh dari rumah yang cukup sederhana.


Di depan rumah tersebut, ada seorang pria tua yang sedang duduk sendirian. Rose yang melihat kakeknya seperti sedang kesepian pun merasa sangat bersalah. Mereka jarang sekali bertemu, jadi wajar saja kalau sang kakek merasa kesepian. Tak ingin lagi membuang waktu, Rose buru-buru keluar dari dalam mobil.


"Kakek!"


Kakek Frans menoleh. Dia langsung berdiri sambil menatap haru ke arah Rose yang sedang berlari-lari kecil ke arahnya. Dengan isyarat tangan, Kakek Frans meminta cucunya agar tidak berlarian. Dia khawatir cucunya jatuh dan terluka.


Greeeppp


Rose langsung memeluk kakeknya dengan sangat erat begitu dia sampai. Dia terkekeh saat kakeknya membuat pola di bagian punggung, yang mana artinya adalah kau pulang dengan siapa, Rose?... Ya, kakeknya Rose tidak sempurna. Beliau adalah seorang tunawicara.


"Aku pulang bersama temanku, Kek. Itu, dia ada di mobil sedang menelpon orangtuanya," jawab Rose berbohong.


Kakek Frans mengurai pelukan. Dia lalu menggerakkan tangan, bertanya pada cucunya kenapa tak memberinya kabar saat ingin pulang. Juga bertanya apakah sekolahnya libur atau bagaimana. Kakek Frans begitu mencemaskan pendidikan cucu kesayangannya ini.


Dengan penuh sayang Rose mengajak sang kakek masuk ke dalam rumah. Dia lalu menceritakan apa saja yang terjadi di kota tempatnya tinggal. Tapi mengenai statusnya yang seorang ketua dari sebuah organisasi, juga perihal pernikahannya dengan Adam, Rose masih menyembunyikannya hal tersebut dari sang kakek. Dia takut sang kakek syok jika mendengar hal ini.


Maaf ya Kek aku belum bisa bicara jujur padamu. Nanti setelah semuanya jelas aku janji akan memberitahumu kalau aku sudah menikah.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


...๐ŸŒนJangan lupa vote, like, dan comment...


...ya gengss ๐Ÿ”ช๐Ÿ”ช๐Ÿ”ช...

__ADS_1


...๐ŸŒนIg: rifani_nini...


...๐ŸŒนFb: Rifani...


__ADS_2