Ma Queen ROSE

Ma Queen ROSE
Rose: Buah Simalakama


__ADS_3

Lorus mendekati seorang pria muda yang baru saja keluar dari ruangan pribadi di mana Nyonya Vanya berada. Dia mendapat misi untuk mencegah agar wanita p*lacur itu tidak bisa pulang ke rumah keluarga Clarence karena di sana tengah terjadi sesuatu yang sangat penting. Ketua mereka tak ingin wanita ini mengetahui jati diri seorang Zidane Clarence yang sebenarnya. Dan oleh karenanya, Lorus berniat membujuk pria muda tersebut agar kembali masuk kemudian mengajak Nyonya Vanya bercinta hingga kelelahan dan tak mampu untuk pulang.


"Kau ... kemari!"


"Aku?"


"Ya," sahut Lorus singkat. "Aku akan membayarmu dengan setumpuk uang asal kau bersedia membuat Nyonya Vanya tidak pulang ke rumah malam ini."


Pria muda tersebut langsung mengerutkan kening setelah mendengar ucapan Lorus. Mungkin dia merasa heran karena ada orang asing yang tiba-tiba datang menyapa kemudian menawarkan segepok uang agar dia kembali masuk ke dalam ruangan yang baru saja dia tinggalkan. Curiga, itu sudah pasti. Namun tawaran dari orang asing ini membuat jiwanya bergejolak.


"Berapapun jumlah yang kau minta akan aku berikan asal kau mau mengikuti apa yang aku perintahkan. Katakan, berapa uang yang kau butuhkan untuk membuat Nyonya Vanya tetap berada di dalam sana!" ucap Lorus seraya menunjuk ke arah ruangan yang ada di depannya.


Jangan sok jual mahal, kau anak muda. Aku tahu kau sebenarnya sangat amat tergiur akan tawaran dariku. Jawab iya saja, maka kau akan merasakan apa yang di sebut kejatuhan durian montong.


"Aku akan menjawab. Tapi tolong beritahu aku dulu kenapa Nyonya Vanya tidak boleh pulang ke rumahnya malam ini. Karena biar bagaimana pun Nyonya Vanya adalah sugar mommy-ku. Aku butuh dia untuk mencukupi semua kebutuhanku di negara ini," sahut si pria muda dengan tatapan penasaran.


"Anak muda, ada seorang bijak yang mengatakan kalau kau akan semakin cepat mati jika terlalu banyak ingin tahu urusan orang lain. Seperti sekarang!" gertak Lorus yang mulai kesal akan sikap bertele-tele yang coba di mainkan oleh pria muda di hadapannya. "Jangan kau pikir hanya kau saja yang bisa aku datangi untuk membuat Nyonya Vanya tetap berada di dalam. Kau harusnya tahu kalau di luaran sana ada jutaan orang yang siap melakukan semua hal yang aku perintahkan demi yang namanya uang. Tapi kau... kau baru saja menolak rezeki yang begitu besar. Kau harusnya tidak merasa keberatan bukan kalau aku menyebutmu sebagai manusia paling to lol di muka bumi ini. Benar?"


Lorus bukanlah Resan yang penyabar, juga bukan Reina yang suka bercanda. Dia akan bicara dengan sangat kasar jika emosinya sudah terpantik. Dan satu-satunya orang yang bisa membuatnya merasa takut hanyalah sang ketua, Rose.


"M-maafkan aku, T-Tuan. A-aku tidak bermaksud seperti itu. Aku ....


"Kau mau melakukannya atau tidak? Jika tidak, maka jangan buang-buang waktuku di sini. Dasar gagu!" sentak Lorus yang tingkat kesabarannya sudah semakin menipis.


"Mau, Tuan. Aku-aku akan melakukannya. Ya, aku akan membuat Nyonya Vanya tidak bisa pergi kemana-mana malam ini. Aku janji, Tuan!"

__ADS_1


Seulas smirk muncul di sudut bibir Lorus setelah si pria muda menyanggupi apa yang dia inginkan. Segera dia mengeluarkan segepok uang yang dia simpan di balik baju lalu menyerahkannya pada pria muda tersebut.


"Tugasmu hanya satu. Buat agar sugar mommy-mu itu pingsan kelelahan sampai besok pagi. Dan jika malam ini dia sampai kembali ke rumahnya, maka kau harus mengembalikan semua uang-uang ini menjadi seratus kali lipat dari yang kau pegang sekarang. Paham?" ucap Lorus seraya menepuk bahu pria yang akan segera menjalankan tugas darinya.


"Paham, Tuan."


"Kalau begitu masuklah. Segera lakukan tugasmu dengan benar karena anak buahku akan terus mengawasi kalian dari luar ruangan ini. Berani macam-macam, maka nyawa yang akan menjadi taruhannya."


Setelah berkata seperti itu Lorus langsung pergi dari sana. Dia berjalan menuju mobil sambil memeriksa ponsel miliknya. Lorus tengah berkirim kabar dengan Resan kalau misinya telah selesai dilakukan. Kini tiba gilirannya untuk ikut pergi bersenang-senang menyaksikan bagaimana nanti sebuah rahasia besar akan terkuak.


"Kau yakin pria itu bisa melakukan tugasnya dengan baik? Nona bisa menghabisi kita semua kalau wanita itu sampai pulang ke rumah sebelum kita selesai dengan tugas ini."


"Kau tenang saja, Res. Pria muda itu begitu bern*su saat aku mengeluarkan uangnya. Aku berani jamin kalau malam ini p*lacur tua itu akan pingsan di bawah kuasanya. Cuihhhh, membicarakan wanita itu membuat aku serasa ingin muntah. Sudahlah, sekarang aku akan segera pergi menyusul kalian. Pastikan kalian baru akan memulai setelah aku sampai di sana. Awas saja kalau kalian berani bersenang-senang tanpa aku. Aku tidak akan mau bekerjasama dengan kalian lagi!" ancam Lorus sambil menyalakan mesin mobil.


Sementara itu, Resan dan Reina yang sedang berada di pinggiran hutan gelap segera menyeret Eroz keluar dari dalam mobil. Mereka dengan sengaja membiarkan Zalina tetap dalam kondisi setengah sadar agar bisa menyaksikan kekasihnya yang meregang nyawa di tangan mereka.


"Lihatlah, Zalina. Gara-gara kau yang gemar bermain petak umpet, sekarang nyawa kekasihmu yang menjadi taruhan. Kalau saja kau tidak mempermainkan Rose, kau dan kekasihmu ini pasti tidak akan bernasib tragis. Kalian pasti bisa hidup dengan sangat bahagia di suatu tempat. Cihhh!" ejek Reina seraya berdecih jijik melihat reaksi Zalina yang terlihat sangat tidak rela kekasihnya hendak si lukai.


"Re-Reinadelwis, tolong jangan sakiti Eroz. Le-lepaskan dia. Aku janji aku akan menuruti apapun yang Rose inginkan asal kalian mau melepaskan dia. Eroz tidak bersalah, Reina. Aku yang salah!" ucap Zalina menghiba. Dia tidak rela jika harus kembali kehilangan kekasih hatinya.


Reina menyeringai. Akhirnya tiba juga waktu untuk dia mengetahui keberadaan ibu mertuanya Rose. Sambil tersenyum manis, Reina memainkan sebuah pisau kecil di leher Eroz seraya memberikan pertanyaan yang cukup sulit untuk Zalina jawab.


"Zalina, mau kau menuruti keinginan Rose atau tidak, pria ini akan tetap mati di tanganku. Karena apa? Karena kau sudah lancang mempermainkan kesempatan yang sudah Rose berikan. Jadi ... sekarang katakan padaku, kau ingin mengatakan kebenarannya terlebih dahulu atau menyaksikan Eroz mati kehabisan darah di depan matamu. Tolong di jawab dengan cepat ya karena aku tidak terlalu suka menunggu. Oke?"


Zalina panik. Kedua pertanyaan ini sama-sama sangat menjebak. Ibarat kata, sekarang Zalina tengah terjebak buah simalakama. Entah itu maju atau mundur, dia akan tetap kehilangan Eroz. Zalina kini benar-benar menyesal karena malam itu tidak mengatakan yang sebenarnya pada Rose. Andai saja dia mengatakannya secara langsung, semua ini pasti tidak akan terjadi. Zalina merasa sangat to lol karena malah memberikan teka-teki yang cukup rumit dimana teka-teki tersebut jika bisa di pecahkan akan mengarahkan Rose dan anak buahnya pada keberadaan istri pertamanya, Karina Haque.

__ADS_1


Apa yang harus aku lakukan sekarang?


"Zalina-Zalina, sepertinya kau tidak tahu apa makna dari kata satu detik. Kau terlalu bermain-main dengan perasaanmu, sayang!" ucap Reina sambil menggoreskan pisau ke leher Eroz.


Craazzz


Resan mengerjapkan mata saat darah memercik keluar dari urat nadi di leher Eroz setelah Reina memotongnya. Dia terus memegangi tubuh Eroz yang mulai mengejang kuat saat ajal datang menjemput.


"ERROOOZZZZ!" teriak Zalina. Dia syok melihat leher kekasihnya terus mengeluarkan darah yang begitu banyak. Ingin rasanya dia berlari ke sana, tapi tidak bisa. Tubuhnya seperti tidak memiliki tenaga, dan Zalina tidak tahu kenapa hal ini bisa terjadi.


"Suntikan obatnya!" perintah Reina sembari menjilat bekas darah yang tertempel di ujung pisaunya. Dia kemudian membelai lembut mata pria yang baru saja di bunuhnya. "Tuan Eroz, selamat berkumpul dengan teman-teman sealiranmu di alam baka sana ya. Katakan pada mereka semua kalau aku akan kembali menemui kalian semua di kehidupan keduaku nanti. Hahahahaha!"


Setelah Eroz mati terbunuh dan Zalina berada di alam hipnotis, mereka semua segera pergi dari sana. Dan untuk menghilangkan jejak, Resan memerintahkan anak buahnya untuk mengubur jasad Eroz di sekitaran hutan tersebut. Setelah itu mereka semua bergegas pergi menuju tempat dimana target mereka di sembunyikan.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


...MAAF YA GENGSS... EMAK LAGI BUTUH WAKTU UNTUK ISTIRAHAT TOTAL. DI USAHAKAN AKAN TETAP UP, TAPI GK BISA SETIAP HARI. GPP YA???...


...๐ŸŒนJangan lupa vote, like dan comment...


...ya gengss๐Ÿ”ช๐Ÿ”ช๐Ÿ”ช...


...๐ŸŒนIg: rifani_nini...


...๐ŸŒนFb: Rifani...

__ADS_1


__ADS_2