Ma Queen ROSE

Ma Queen ROSE
Rose: Jamuan Malam


__ADS_3

Begitu sampai di hotel, Rose langsung masuk ke dalam kamar mandi. Kepalanya tidak berhenti berdenyut sejak dia meninggalkan rumah sakit, dan dia tidak ingin Adam melihatnya dalam kondisi seperti ini. Perkataan Rolland dan tangis kesedihan ibunya membuat Rose merasa sakit hati. Entah apa penyebabnya, dia tidak tahu. Tapi yang jelas, Rose sebenarnya tidak benar-benar ingin bersikap dingin pada orangtuanya Rolland saat di rumah sakit tadi. Hanya saja dia tak ingin memberi harapan tak jelas pada mereka. Rose sangat yakin kalau dirinya itu bukan bagian dari keluarga Rolland, makanya dia sengaja memperlihatkan reaksi yang cukup keras. Rose mempunyai orangtua sendiri meskipun sudah tiada, jadi mustahil kalau orangtuanya Rolland adalah orangtuanya. Itu sangat tidak masuk akal.


Tok, tok, tok


"Honey, kau baik-baik saja?" tanya Adam cemas.


Pintu kamar mandi dikunci dari dalam, membuat Adam tidak bisa menyusul istrinya masuk ke sana. Sepanjang perjalanan menuju hotel, Adam dan Rose sama sekali tidak bicara. Bukannya Adam tak peduli, dia hanya tidak mau membuat istrinya merasa tidak nyaman. Karena jujur saja, atmosfer di dalam mobil terasa begitu dingin dan sedikit... mencekam. Rose-nya terlihat seperti gunung es yang membeku dengan lava panas di tengah-tengahnya. Adam tentu tahu kalau hal ini disebabkan oleh pertemuan mereka dengan keluarga Rolland. Sepertinya Rose sangat terkejut mendengar pengakuan mereka saat di rumah sakit tadi. Makanya dia sampai bersikap sedingin ini padanya.


"Honey, buka pintunya, Hon. Jangan membuatku khawatir!" ucap Adam saat pintu kamar mandi tak kunjung di buka.


Rose yang mendengar suara suaminya pun hanya diam saja. Jika kalian berpikir kalau Rose sedang berendam di dalam bathup atau sedang berdiam diri di bawah shower, maka kalian salah besar. Saat ini Rose sedang duduk di belakang pintu sambil memegangi kepalanya yang terasa sangat sakit. Wajahnya sudah memucat sejak tadi, dan seluruh tubuhnya sudah di banjiri keringat dingin. Salah satu alasan yang membuatnya tidak siap untuk bertemu dengan suaminya.


"Honey, kalau dalam hitungan ketiga kau masih tidak mau membukanya, maka jangan salahkan aku kalau pintu kamar mandi ini aku dobrak. Aku mohon tolong buka pintunya, Hon. Aku tahu kau sedang terguncang, tapi tidak seperti ini juga cara menenangkan diri. Kita bisa bicarakan hal ini baik-baik, kita cari jalan keluarnya bersama-sama. Ya... Buka pintunya Hon, aku mohon!" teriak Adam sambil terus menggedor pintu kamar mandi.


Kalau saja Adam tidak terus mengetuk pintu, mungkin Rose sudah tidak sadarkan diri sejak tadi. Dia butuh obatnya, dia butuh obat itu untuk menghilangkan rasa sakit di kepalanya. Sambil menahan rasa sakit, Rose menguatkan diri untuk mengirim pesan pada anak buahnya. Dia harus secepat mungkin meminum obat itu sebelum Adam benar-benar mendobrak pintu kamar mandi ini.


Rose: Aku butuh obatku sekarang juga


Setelah mengirim pesan, Rose segera melucuti pakaiannya. Dia kemudian merangkak menuju bathup lalu mengisinya dengan air hangat. Adam tidak boleh melihatnya seperti ini, jadi dia membuat rencana seolah dirinya tengah berendam untuk menutupi keadaannya yang sudah bermandikan keringat. Dan benar saja, begitu Rose masuk ke dalam bathup, Adam benar-benar masuk dengan cara mendobrak pintu.


Brraaakkk


"Honey, k....


"Kau mengganggu waktuku, Dam!" tegur Rose sambil menatap dingin ke arah suaminya.


"Maaf,"


Sambil menggaruk tengkuknya, Adam berjalan mendekat ke arah istrinya. Dia lalu berjongkok, mengelus pipi istrinya sambil menatapnya dalam-dalam.


"Kau baik-baik saja?"


Rose mengangguk. Sentuhan Adam entah kenapa membuat sakit kepalanya sedikit mereda. Sadar akan perbedaan tersebut, Rose pun langsung menarik tangan Adam agar terus mengelus wajahnya. Dia memejamkan mata, meresapi rasa hangat yang mampu menjadi pereda dari rasa sakitnya.


"Jangan berhenti," bisik Rose saat Adam tidak menggerakkan tangannya. "Aku butuh kau."

__ADS_1


Ada yang tidak beres, dan Adam menyadari hal tersebut. Tak mau banyak bicara, dengan satu tangan Adam mulai melucuti pakaiannya. Dia terus memperhatikan Rose yang terlihat begitu nyaman dengan sentuhan yang dia beri. Ini seperti de ja vu. Ya, kejadian ini mengingatkan Adam pada malam dimana dia membantu Rose yang sedang ketakutan. Juga pada malam yang membuatnya mengikat wanita ini dalam suatu hubungan pernikahan.


"Jangan pergi, Dam!" rengek Rose saat Adam tiba-tiba menarik tangannya.


"Tidak, Hon. Aku hanya ingin membuatnya semakin nyaman untukmu. Tunggu sebentar ya," sahut Adam kemudian buru-buru masuk ke dalam bathup.


Rose tersenyum samar saat Adam duduk di belakangnya. Dia segera merebahkan kepalanya, menarik tangan Adam agar kembali memberinya obat.


Apa yang terjadi padamu, Rose? Kenapa aku merasa kalau kau sedang sangat kesakitan?


"Honey,"


"Hmmm....


Rose sedang sangat terlena dalam belaian tangan suaminya. Dia bahkan sudah tak lagi merasa kesakitan.


"Apa kau benar-benar tidak mengenal Rolland dan keluarganya?" tanya Adam hati-hati.


"Apakah yang terjadi di rumah sakit tadi masih belum bisa membuatmu menarik kesimpulan sendiri, Dam?" sahut Rose balik bertanya.


"Mereka sungguh kasihan, Hon. Tujuh belas tahun mereka menunggu kembaran Rolland pulang ke rumah. Bukannya aku tidak percaya padamu, aku hanya merasa iba saja. Sebenarnya mau kau keluarga mereka atau bukan, itu sama sekali tidak masalah untukku. Aku....


"Dam....


Perkataan Adam langsung terhenti begitu Rose menyelanya. Dia malas untuk membahas masalah ini, Rose takut kepalanya akan kembali sakit seperti tadi.


"Jam berapa kau akan pulang ke Negara S, Hon?" tanya Adam mengalihkan pembicaraan.


"Setelah kau berangkat bekerja,"


Sudut bibir Rose tertarik ke atas saat satu tangan suaminya mulai sibuk menjalar kemana-mana. Adam sungguh tidak mau kehilangan kesempatan untuk menyentuhnya. Padahal saat ini mereka berdua sedang dalam situasi yang sedikit tidak menyenangkan.


"Tidak bisa menginap satu malam lagi, hm?"


Suara Adam mulai terdengar serak. Bagaimana tidak! Saat ini tangannya sudah bertengger di atas dua gundukan kembar yang begitu kenyal dan lembut. Dan di bawah saja, juniornya sudah mulai menuntut meminta agar segera dipuaskan. Namun menyadari kalau istrinya sedang dalam kondisi hati yang buruk, Adam berusaha mati-matian memadamkan api yang sedang berkobar di dalam tubuhnya. Dia tidak mau di cap sebagai suami yang egois. Adam tidak ingin membuat perasaan Rose menjadi semakin tidak nyaman.

__ADS_1


"Tidak bisa, Dam. Bukankah aku sudah memberitahukan padamu kalau aku ada acara di kampus?" jawab Rose dengan suara yang sedikit tercekat.


Tangan Adam tak lagi membelainya, tapi sudah mulai meremas setiap bagian sensitif yang ada di tubuhnya. Meskipun sedang tidak enak badan, Rose masih sadar akan kewajibannya sebagai seorang istri. Apalagi mulai besok pagi dia dan Adam akan kembali terpisah jarak. Sudah semestinya bagi Rose memberikan jamuan terbaik untuk suaminya sebagai kado perpisahan sebelum dia pulang.


"Honey,"


Adam tak lagi bisa mengendalikan n*fsunya.


"Jangan ditahan, lakukan saja."


"Apa boleh?"


"Tubuhku dan perasaanku semuanya adalah milikmu, Dam. Kau berhak memintanya kapanpun kau mau," jawab Rose mengizinkan.


Adam menghisap tengkuk istrinya perlahan, tapi dia buru-buru melepaskannya saat ingat kalau Rose masih harus pergi ke universitas. Adam mendesah, dia tak kuat lagi menahan candu yang ada di depannya ini.


"Aku sudah berjanji akan memberimu jamuan terbaik sebelum aku pulang. Dan kau bisa mengambilnya sekarang," ucap Rose saat menyadari keengganan di diri suaminya.


"Kau benar-benar seperti heroin, Hon. Kau membuatku gila!" keluh Adam kemudian mengangkat tubuh istrinya keluar dari bathup.


Rose dan Adam saling menatap saat keduanya sudah berada di atas ranjang. Tubuh mereka sudah tak lagi terbungkus pakaian, hanya ada selimut putih yang menutupi sebagian dari tubuh mereka berdua.


"I love you,"


Seulas senyum tipis muncul di bibir Rose. Dia lalu mengalungkan tangan ke leher Adam, memberi tanda kalau dirinya sudah siap menyerahkan jamuannya.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


...๐ŸŒนJangan lupa vote, like, dan comment...


...ya gengss ๐Ÿ”ช๐Ÿ”ช๐Ÿ”ช...


...๐ŸŒนIg: rifani_nini...


...๐ŸŒนFb: Rifani...

__ADS_1


__ADS_2