
Bughhhhhh
Dengan marah Lorus menendang dada pria yang baru saja membuka pintu kamar. Matanya berkilat marah, menandakan kalau saat ini Lorus sedang berada di tingkat emosi yang sangat tinggi.
"T-Tuan, a-ada apa?"
"Ada apa? Kau berani bertanya ada apa padaku di saat kau lancang menghabiskan uang yang sudah aku berikan? K*parat! Kau sudah bosan berada di dunia ini ya? Hah!" teriak Lorus.
Wajah pria tersebut pucat pasi saat menyaksikan betapa mengerikannya emosi pria yang ada di depannya. Dia yang saat itu hanya mengenakan celana kolor langsung duduk bersimpuh di hadapan Lorus sambil mengatupkan kedua tangannya.
"T-Tuan, tolong maafkan kesalahanku. Tadi itu aku sudah berusaha menahan Nyonya Vanya agar tetap menginap di sini sampai besok pagi. Tapi dia menolak dengan alasan takut di curigai oleh suaminya. Dan mengenai uang yang waktu itu kau berikan padaku, jumlahnya masih sama seperti semula karena aku sama sekali belum menyentuhnya sedikitpun. Se-sebenarnya aku ingin mengabarkan hal ini lebih awal, tapi aku tidak memiliki nomor teleponmu. Aku bingung, aku tidak tahu harus menghubungi siapa untuk memberitahukan kalau Nyonya Vanya memaksa pulang ke rumah. Dan ... dan maaf kalau tadi aku tidak mengenalimu, Tuan. Kau datang dengan raut wajah yang berbeda dari kemarin. Jadi, jadi aku sedikit lupa!" jelasnya dengan seluruh tubuh gemetar hebat.
Lorus terdiam. Dia juga lupa karena telah menarik anak buah yang tadinya dia tugaskan untuk mengawasi Vanya dan pria muda ini. Bisnis mereka mengalami sedikit masalah, jadi Lorus terpaksa menarik mereka ke markas untuk sementara waktu. Tapi siapa yang menyangka kalau hal tersebut malah membuatnya kecolongan seperti ini.
Sialan. Untung saja Vanya itu tidak terlibat dengan anggota manapun, jadi identitas mereka aman. Ck, kenapa kau bodoh sekali, Lorus. Nona bisa marah besar jika tahu kau lalai dalam menjalankan tugas. Arggghhhh.
Setelah puas membatin, Lorus mencengkeram kerah belakang dari pria yang masih duduk bersimpuh di hadapannya. Dia menariknya berdiri, dengan kuat mencekik lehernya hingga membuat wajahnya memerah karena kesulitan bernafas.
"Malam ini kau selamat berkat kesadaran dirimu. Sekarang aku tanya, kau ingin mati atau tetap hidup?" tanya Lorus penuh penekanan.
"H-hidup, T-Tuan!"
"JAWAB YANG BENAR!"
"Hidup, Tuan."
"Bagus. Kalau begitu pergilah yang jauh dari negara ini. Aku tidak mau satu udara dengan pecundang sepertimu. Bawa juga semua uang yang aku berikan padamu kemarin. Dan satu hal lagi, ini yang paling penting!"
Jeda sejenak.
__ADS_1
"Semakin sedikit kau bicara, maka nyawamu akan aman-aman saja. Paham?" ancam Lorus kemudian melepaskan cekikan tangannya.
"Paham, Tuan."
"Pergilah!"
Pria muda tersebut langsung bergegas mengemasi semua barang-barang miliknya. Sesekali dia terlihat melirik ke arah Lorus yang masih mengawasinya dari depan pintu. Setelah semuanya selesai di kemas, dia langsung pergi melarikan diri dari kamar tersebut. Tak lupa juga dia membawa gepokan uang yang di berikan oleh pria yang hampir membunuhnya.
Sepeninggal pria muda tersebut, Lorus mengamuk seperti orang gila di dalam kamar itu. Dia marah, emosi karena kesalahannya sendiri. Saat Lorus sedang memporak-porandakan ruangan tersebut, ponsel di sakunya bergetar. Dia mendengus kasar saat tahu siapa yang menelepon.
"Kembali kesini. Jangan buang-buang tenagamu untuk menghancurkan barang-barang yang ada di sana. Pulang dan lampiaskan kekesalanmu pada Zidane. Dia masih belum mati!"
Sebuah smirk jahat langsung muncul di bibir Lorus begitu dia mendengar nama Zidane. Dia kemudian memutuskan panggilan, segera melangkah keluar setelah meninggalkan setumpuk uang untuk membayar ganti rugi atas kerusakan yang dia perbuat.
Seperti orang kesetanan, Lorus mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Hingga tak butuh waktu lama dia sudah sampai di markas Queen Ma. Dengan langkah lebar Lorus berjalan menuju ruangan dimana mangsanya berada. Dia tertawa, senang melihat banyaknya darah yang berceceran di lantai begitu dia masuk.
"Ada apa dengan darah-darah itu? Apa kau berkamuflase menjadi seorang vampir penghisap darah?" tanya Lorus keheranan.
"Sembarangan saja kau!" jawab Reina jengkel. "Tadi Zidane memberontak saat aku ingin mencongkel bola matanya. Dia menampar mulutku, tapi tidak berasa karena dia memukul seperti wanita yang belum makan selama satu tahun. Sangat lemah!"
"Lalu darimana asal darah di sudut bibirmu itu?"
"Ooh, ini. Coba kau lihat tangannya Zidane, Lorus. Aku berhasil mencabut kuku di jari manisnya agar nanti dia tidak bisa memakai cincin dari pacarnya lagi. Dan darah dari luka itu yang tertempel di mulutku. Tahu kau!!"
Resan dengan santai mengabadikan moment pertengkaran kedua temannya ke dalam rekaman video. Mereka asik sendiri, sengaja melupakan keberadaan Zidane yang tengah meringkuk menahan sakit di sekujur tubuhnya. Sayang, malam masih sangat panjang dan penyiksaan ini belum ada tanda-tanda akan berakhir. Sangat menyedihkan bukan? Dan inilah yang di namakan karma. Mata di balas mata, nyawa di balas nyawa. Andai Zidane sadar, sebenarnya apa yang sedang dia rasakan sekarang adalah duplikat dari perlakuan kejamnya terhadap Karina. Dia tengah menabur apa yang sebelumnya dia semai. Tapi ini juga belum seberapa. Karena orang yang paling sakit hati atas kejahatannya masih belum melakukan apapun kepadanya. Ya, Adamar baru akan memulai menyiksa ayah palsunya ini setelah nanti dia di pindahkan ke tempat dimana dulu ibunya di sekap. Kalian bayangkan sendiri saja akan separah apa penyiksaan yang akan Adamar lakukan nanti.
"Lorus, bagaimana?" tanya Resan.
"Jangan bahas itu sekarang. Nanti biar aku saja yang langsung menghadap ke Nona Rose. Aku lalai, dan aku siap menerima hukuman darinya," jawab Lorus dingin.
__ADS_1
"Ini bukan soal hukuman dari Nona, tapi ini tentang mereka. Apa tidak sebaiknya kita pergi memeriksa apakah Nyonya Vanya memiliki koneksi dengan orang luar atau tidak. Akan sangat berbahaya jika wajah mereka sampai di kenali oleh musuh!" ucap Resan dengan tatapan yang sangat serius.
Tatapan mata Reina langsung berubah menajam. Sambil tersenyum penuh arti, Reina berjalan mendekat ke arah Lorus yang sedang diam berfikir. Dia kemudian mengalungkan satu tangannya ke pinggang Lorus, setelah itu berbisik.
"Jangan main-main, Lorus. Kesayanganku sedang hamil, aku bisa memenggal kepalamu kalau sampai terjadi sesuatu padanya. Cepat selesaikan, pastikan kalau semuanya aman untuk keselamatan Rose dan calon keponakanku!"
"Kau sedang mengancamku?" tanya Lorus tanpa merasa takut akan intimidasi yang coba di tunjukkan oleh Reina.
"Oh, ayolah Lorus. Kau tahu bukan kalau aku pasti akan langsung menghabisi orang-orang yang berani menyentuh kesayanganku? Tak terkecuali juga dirimu. Dan aku bersumpah akan membunuhmu dengan cara yang tak pernah terfikirkan olehmu agar ruhmu menyesal karena gagal mati sebagai anggota Queen Ma yang terhormat. Paham?" jawab Reina sembari menekan kuat bagian organ tubuh milik Lorus.
"Brengsek!"
Khawatir kalau kelalaiannya akan benar-benar membahayakan keselamatan Nona-nya, dengan marah Lorus akhirnya pergi dari sana. Namun sebelum keluar, dia masih menyempatkan diri untuk menginjak perut dan dada Zidane untuk memelampiaskan kekesalannya. Setelahnya barulah dia merasa tenang saat akan pergi ke kediaman keluarga Clarence untuk membereskan kekacauan yang terjadi di sana.
"Ckck, sikap arogannya masih belum hilang juga. Tolonglah kau maklum pada sikap temanku itu ya, Zidane. Lorus sebenarnya orang baik, dia hanya terlalu mudah tersinggung saja," ucap Reina sembari menatap penuh bersalah ke arah Zidane yang sudah terkapar tidak sadarkan diri di lantai.
Malam masih sangat panjang. Tapi sepertinya tubuh tua Zidane sudah tidak kuat lagi untuk menanggung siksaan dari Resan dan Reina. Alhasil, mereka akhirnya pergi dari sana setelah menggantung Zidane pada tiang yang di bawahnya terdapat puluhan ular berbisa.
Apa kalian pikir Reina dan Resan akan membiarkan Zidane tidur dengan nyenyak malam ini? Hohohoho, tentu saja tidak. Mereka adalah pentolan kelompok Queen Ma, akan sangat memalukan kalau mereka bermain dengan masih memakai hati nurani karena itu bukan ciri khas dari orang-orang yang datang dari kelompok mawar hitam. Mereka kejam, bengis, dan juga mematikan. Jadi berpikirlah ribuan kali jika ingin mencari masalah dengan salah satu dari mereka. ๐
๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น
...๐นJangan lupa vote, like dan comment...
...ya gengss๐ช๐ช๐ช...
...๐นIg: rifani_nini...
...๐นFb: Rifani...
__ADS_1