
π’MAAF YA GENGS,KEMARIN EMAK KETIDURAN,SOALNYA UJAN TERUS. JADI LUPA BUAT UP ππ€£
π’JANGAN LUPA BOM KOMENTAR BESTIE
- Love Story( Gabrielle & Eleanor)
- My Destiny ( Clara & Eland)
- Pesona Si Gadis Desa
- Marriage Contract With My Secretary
BOM KOMENTAR SEBANYAK-BANYAKNYA YA BESTIE. OK π
πππππππ
"Selamat siang, Bibi Shireen!" sapa Dante ramah. Dia lalu tersenyum pada neneknya Mona yang tengah berdiri di depan pintu.
"Oh kau, Dante. Ayo masuk!" sahut Shireen.
"Terima kasih banyak, Bibi."
Shireen membuka pintu lebar-lebar lalu mempersilahkan Dante untuk masuk ke dalam rumah. Setelah itu dia memerintahkan pelayan untuk memanggilkan Mona yang sejak pagi tadi masih belum keluar dari dalam kamarnya.
"Nah, duduklah. Kau ingin minum apa?"
"Tidak usah repot-repot, Bibi. Kedatanganku kemari adalah untuk menjemput Mona. Kami ingin makan siang di luar," jawab Dante dengan sopan menolak tawaran Bibi Shireen.
"Oh, jadi kalian mau pergi keluar ya?"
__ADS_1
Shireen menghela nafas. Di tatapnya lekat wajah laki-laki tampan yang adalah saudara Rose, wanita yang di sukai oleh cucunya. Jujur, Shireen sangat amat menaruh harapan besar pada Dante. Dia begitu berharap kalau kedekatannya dengan Mona bisa membuat sang cucu kembali ke jalan yang benar. Walaupun sekarang Rose dan Mona hampir tidak pernah bertemu, tapi Shireen tahu kalau Mona masih mendambakannya. Hal ini tidak sengaja dia ketahui saat Mona mengingau dan menyebut-nyebut nama Rose dalam tidurnya. Sakit, sedih, hancur, semua perasaan itu tercampur menjadi satu di benak Shireen. Dia ingin Mona bisa terbebas dari bayang-bayang iblis yang di kirim oleh k*parat Flynn, tapi entah kenapa harapan tersebut seakan begitu sulit terwujud.
"Bibi, ada apa? Apa ada sesuatu yang ingin Bibi katakan padaku?" tanya Dante langsung paham kalau neneknya Mona tengah memendam sesuatu di hatinya.
"Em, bagaimana ya. Bibi tak enak hati untuk memberitahumu, Dante," jawab Shireen ragu.
"Bi, jika ragu jangan sekali-kali pernah berharap. Dan jika sudah terlanjur berharap, jangan pernah ragu-ragu untuk tetap melanjutkan. Mommy Grizelle pernah bilang padaku bukanlah hal yang baik jika suka menunda-nunda waktu. Karena dengan menunda waktu itu hanya akan menambah beban masalah menjadi semakin besar. Jadi saranku, apapun yang Bibi pikirkan lebih baik di ungkapkan saja. Lagipula kita ini bukan orang lain lagi 'kan? Bibi dan Paman Niel adalah orang penting di keluarga Ma. Jadi tolong Bibi jangan merasa sungkan padaku ya?" ucap Dante meyakinkan neneknya Mona agar tidak memendam permasalahan yang sedang dia rasa.
Shireen terdiam sejenak. Setelah itu dia memutuskan untuk mengikuti saran yang di katakan oleh Dante.
"Pertama-tama Bibi ingin minta maaf jika kata-kata Bibi nanti ada yang menyakiti hatimu," ucap Shireen sambil menarik nafas dalam. "Dante, kebersamaanmu dengan Mona apakah mungkin mendatangkan rasa lebih di antara kalian? Maaf, Bibi bukan bermaksud lancang. Bibi hanya ingin tahu saja sudah sejauh mana kedekatan kalian. Sungguh!"
"Tidak perlu meminta maaf padaku, Bi. Aku paham, juga sangat mengerti akan apa yang Bibi maksud," sahut Dante dengan tenang. "Sejauh ini hubunganku dengan Mona masih dalam taraf biasa saja, Bi. Memang, terkadang di antara kami terjadi beberapa hal yang sedikit kurang pantas untuk aku katakan di sini. Akan tetapi dalam bayangan Mona bukan aku yang sedang bersamanya, melainkan Rose. Cukup sulit untuk aku membawanya keluar dari hal sesat itu!"
Dante terdiam setelah mengatakan hal tersebut. Ekor matanya kemudian melirik ke arah tangga, tersenyum simpul saat menyadari ada yang sedang menguping pembicaraannya dengan Bibi Shireen.
Mona, kau adalah tantangan terberat yang pernah aku terima dari Nenek Liona dan Mommy Grizelle. Walaupun aku tahu kau tidak akan pernah bisa kembali dengan perasaanmu yang normal, aku tetap tidak akan membiarkanmu mengganggu kehidupan adikku. Di antara kita memang tidak ada cinta, tapi jika Nenek dan Mommy-ku meminta agar aku menikahimu, hal itu pasti akan terwujud. Maaf jika aku egois, aku hanya tidak ingin ada yang terluka jika kau tetap di biarkan dengan perasaanmu yang salah itu. Ku harap kau mau mengerti keputusanku, Mona.
"Jadi ... apa kau mencintai Mona?" tanya Shireen hati-hati. Dia sampai menahan nafas saat menunggu jawaban dari Dante.
"Hmmm, kau cukup cerdas dalam menjawab semua pertanyaan Bibi, Dante. Bibi puas mendengarnya,"
"Syukurlah kalau memang Bibi bisa menerima perkataanku dengan baik,"
Sudut bibir Dante berkedut saat dia melihat siluet tubuh seseorang tengah berjalan menuruni anak tangga. Dia lalu berpura-pura membalas pesan seseorang agar tak memancing kecurigaan Mona yang kini tengah berjalan menuju ke arahnya.
"Dante?"
Tatapan mata Mona begitu datar terhadap pria yang beberapa waktu belakangan ini selalu rajin mendekatinya. Mona tidak bodoh, dia sangat tahu apa tujuan Dante sebenarnya.
"Oh, kau sudah datang rupanya," ucap Dante sambil tersenyum pada Mona. "Sudah siap untuk pergi?"
__ADS_1
"Sudah."
Sesingkat itu jawaban Mona. Dan hal tersebut membuat Shireen menghela nafas. Dingin, cucunya benar-benar sangat dingin. Tak salah jika Dante berkata tidak mencintainya, sedang Mona saja bersikap seperti patung di hadapan pria setampan dan sedewasa Dante. Hmmmm.
"Mon, kalau kau merasa tidak nyaman pergi bersamaku, maka jangan di paksakan. Nanti Rose bisa marah padaku dengan mengira aku memaksamu untuk pergi menemuinya!" ucap Dante langsung melempar umpan besar pada gadis yang menatapnya tanpa ekpresi.
Dan benar saja. Begitu nama Rose di sebut, ekpresi di wajah Mona langsung berubah seketika. Dan tanpa Mona sadari, perubahan di wajahnya itu telah membuat perasaan sang nenek merasa sedih.
"Benarkah kita akan pergi menemui Rose, Dante? Di mana? Kita yang akan menjemputnya atau dia sendiri yang akan datang menemui kita?" tanya Mona bertubi-tubi. Sungguh, rasanya sangat menggembirakan bisa bertemu lagi dengan Rose setelah sekian lama mereka tak bertemu. Ini adalah kabar terbaik yang Mona dapat sejak insiden persembahan waktu itu.
"Rose akan datang bersama Adam. Dia sedang hamil muda, jadi baru boleh bepergian jika ada Adam bersamanya. Kau tidak keberatan bukan?" jawab Dante.
Jika tadi Mona terlihat bahagia, kini wajahnya berubah sedih saat dia tahu kalau Rose akan datang bersama Adam. Sontak saja hal ini membuat Mona kehilangan semangat, dia enggan untuk pergi.
"Dante, bisakah kita pergi ke tempat lain saja? Aku ... aku tidak mau bertemu Rose," tanya Mona lirih.
"Why?"
Sebelah alis Dante terangkat ke atas. Tebakannya meleset. Dante pikir Mona akan menolak pergi, siapa yang menyangka kalau gadis ini malah berbalik mengajaknya pergi ke tempat lain.
"Kau tahu semuanya tentang apa yang aku rasakan. Dan jujur, hatiku masih tak siap mengakui kalau Adam adalah suaminya Rose," sahut Mona. "Oke, aku tahu ini menjijikkan dan tidak seharusnya aku rasai. Tapi aku ini hanya orang biasa yang tidak bisa memilih pada siapa aku akan menjatuhkan rasa. Jika bisa, akupun tak ingin berada dalam posisi seperti ini, aku ingin memiliki kekasih seperti yang orang lain miliki. Kalian paham 'kan?"
"Oke. Kita pergi ke tempat lain!" sahut Dante kemudian langsung berdiri. Tanpa merasa canggung sedikit pun, dia menggandeng tangan Mona lalu berpamitan pada Bibi Shireen. "Bibi, kami pergi dulu. Di karenakan ini sangat amat mendadak, mungkin aku dan Mona akan sedikit terlambat saat pulang nanti. Bibi tidak keberatan bukan?"
"O-oh, tidak, tentu saja tidak. Seperti yang tadi kau katakan kalau kita ini adalah keluarga. Bibi percayakan Mona padamu, Dante!" sahut Shireen tergagap. Dia kemudian tersenyum ke arah cucunya yang terlihat murung.
Sayang, berusahalah untuk sembuh ya. Nenek sangat berharap kau bisa memiliki kehidupan normal seperti para gadis lainnya. Cepat sembuh ya.
"Nenek, aku pergi dulu ya," pamit Mona.
"Iya, sayang. Hati-hati, dan jangan lupa untuk selalu dekat dengan Dante. Nenek menyayangimu,"
__ADS_1
Setelah berpamitan, Dante pun membawa Mona pergi dari rumah Bibi Shireen. Senyum puas nampak tersungging di bibirnya ketika menyadari kalau Adam bisa Dante jadikan sebagai tembok untuk meruntuhkan perasaan Mona terhadap Rose.
*****