
Semua orang menatap khawatir ke arah Rose yang sedang di periksa oleh dokter. Mereka harap-harap cemas, khawatir terjadi sesuatu pada janin yang tengah di kandung olehnya.
"Bagaimana? Istriku tidak kenapa-napa kan?" tanya Adam sambil menatap tak sabar ke arah dokter yang masih sibuk memeriksa keadaan Rose.
"Untuk kandungan Nona Rose sendiri tidak mengalami masalah, Tuan Adamar. Akan tetapi sepertinya ada yang salah dengan emosi Nona Rose. Tidak stabil, semacam ada sesuatu yang membuat perasaannya terguncang," jawab dokter menjelaskan.
Adam terdiam. Dia lalu menoleh ke arah Nenek Liona dan juga ibu mertuanya.
"Dante. Rose jadi seperti ini setelah mendengar nama Dante."
Semuanya terdiam. Pandangan mereka kemudian teralih ke arah Dante yang sedang terkaget-kaget karena menjadi penyebab adiknya jadi seperti ini. Sadar kalau semua orang menginginkan dia bicara, Dante pun maju mendekat ke arah ranjang. Dia bertatapan lama dengan Rose.
"Kau mengingatku?"
"Tidak!"
"Aku ada di pihakmu dulu. Kau ingat Kak Rando tidak? Kami yang mengajarkan kau dan Rolland merakit senjata."
Rose mengerutkan kening. Bingung, tapi seakan familiar dengan kata-kata Dante. Mungkin karena kata-kata Dante mempengaruhi ingatannya, Rose kembali mendesis kesakitan sambil memegangi kepalanya. Reaksinya tersebut membuat dokter langsung memberi kode agar Dante diam.
"Honey, jangan memaksa untuk mengingat masa lalumu dulu. Ingat, di perutmu ada anak kita yang sedang tumbuh. Aku takut kalian kenapa-napa!" ucap Adam dengan cepat ketika melihat istrinya kembali kesakitan setelah mendengar perkataan Dante.
Merasa kalau kedatangan Dante mengancam keselamatan istri dan calon anaknya, Adam dengan penuh amarah langsung menarik kerah baju Dante dan membawanya menyingkir dari sana. Dia sama sekali tak mempedulikan raut terkejut di wajah orang-orang begitu melihat tindakannya yang cukup brutal. Karena yang di pedulikan oleh Adam hanya satu, yaitu keselamatan Rose dan bayinya.
"Siapapun kau, jika kehadiranmu di sini bisa mencelakai anak dan istriku, maka aku tidak akan segan untuk mengirimmu pergi keluar dari negara ini. Paham!" gertak Adam dengan tatapan berkilat marah.
"Santai dulu, Dam. Aku ini kakaknya Rose, jadi mana mungkin aku tega menyakiti dia dan juga calon anak kalian. Tenanglah, relaks!" sahut Dante sabar. Dia tidak merasa terprovokasi karena paham betul kenapa Adam bisa agresif seperti ini kepadanya.
__ADS_1
Adam mendengus.
"Sorry kalau kata-kataku pada Rose membuatmu merasa tersinggung. Aku hanya berharap kalau dia masih menyimpan sedikit ingatan tentangku dan juga tentang almarhum Kak Rando. Dulu kami bersama-sama melatih Rolland dan Rose merakit senjata. Jadi siapa tahu dia masih mengingat tentang kenangan itu. Segala kemungkinan bisa saja terjadi bukan? Dan buktinya tadi dia langsung bereaksi saat aku menceritakan kebersamaan kami dulu. Kau lihat sendiri kan tadi?" tanya Dante.
"Tapi istriku kesakitan, brengsek! Pikirkan apa yang akan terjadi pada bayi kami kalau Rose sampai merasa tertekan karena di paksa untuk mengingat masa lalu kalian. Kau jangan egois, Dante!" teriak Adam kian murka.
Dari dalam kamar, Drax dan Greg segera datang melerai. Mereka berdua sedikit kesulitan saat ingin melepaskan cekikan tangan Adam dari lehernya Dante.
"Dam, tahan emosimu. Di dalam Rose baru saja istirahat, pertengkaran kalian bisa membuatnya terbangun!" ucap Greg memperingatkan.
Dan benar saja. Rupanya perkataan Greg langsung mempengaruhi kemarahan Adam. Dia melepaskan cengkeraman tangannya lalu meninju perut Dante sebelum akhirnya kembali masuk ke dalam kamar.
Buggghhhh
"Sampai ke neraka pun kau akan kukejar jika sampai terjadi sesuatu pada anak dan istriku. Ingat itu baik-baik, Dante. Dasar brengsek kau!"
"Sebentar lagi Dantian Group akan berulang tahun. Apa semuanya sudah siap?" tanya Drax sambil menatap ke arah kamar di mana ibunya Adamar berada.
"Sudah, Dad," jawab Dante sembari mengelus bekas pukulan Adam di perutnya. Sakit juga ternyata.
"Tempat si kembar bermain?"
"Sudah selesai semuanya. Kita berdoa saja semoga nanti Rose bisa mengingat kenangan itu saat datang ke perusahaan. Sekalian saja kita umumkan kalau dia sudah di ketemukan."
"Kalau masalah ini perlu mendiskusikannya dulu dengan Adamar. Karena biar bagaimana pun Rose sudah menjadi istrinya. Kita tidak boleh melangkahi izin dari Adamar karena sekarang dia yang lebih berhak atas masa depan Rose. Jika dia mengizinkan, barulah kita berharap lebih. Tapi jika Adamar tidak mengizinkan, kita tidak boleh egois. Dia seperti itu karena sangat menyayangi istri dan calon anaknya. Kita harus bisa memaklumi!" imbuh Greg.
Dante dan Drax kompak mengangguk. Mereka sama-sama melihat ke arah kamar tempat ibunya Adamar berada saat terdengar suara jeritan dari arah sana.
__ADS_1
"Apa itu kamar Nyonya Karina?" tanya Dante yang belum melihat seperti apa rupa ibunya Adamar.
"Ya. Dan sebaiknya kau tidak memiliki keinginan untuk masuk ke sana," jawab Drax. Dia lalu menarik nafas, terkenang dengan kondisi besannya saat pertama kali di bawa masuk ke markas ini.
"Kenapa tidak boleh, Dad? Apa Nyonya Karina mempunyai penyakit menular?"
"Zidane menghancurkan mentalnya tanpa sisa. Dari informasi yang di dapat, setiap kali ruangan tempat Nyonya Karina di sekap di datangi oleh orang baru, dia akan menerima siksaan yang sangat berat. Itulah kenapa dia selalu berteriak histeris saat ada dokter yang masuk ke sana untuk memeriksa dan membersihkan tubuhnya. Dia trauma!"
Terdengar umpatan kasar dari mulut Dante begitu dia mendengar kekejaman yang telah dilakukan Zidane. Dia jadi ikut merasa gatal ingin mencabut ginjal pria biadap itu lalu memberikannya pada anjing jalanan. Tak lama kemudian kembali terdengar suara teriakan yang jauh lebih kuat dari yang sebelumnya. Membuat mereka bertiga terdiam lama sambil menggelengkan kepala. Kerasnya harta, tahta, dan juga status membuat seseorang tega menghancurkan hidup orang lain hingga mencapai titik terendah dalam hidupnya. Sungguh, Zidane bagaikan reinkarnasi dari Huan Rong dan juga Aaron yang tega mencelakai wanita tidak bersalah hanya untuk memuaskan dahaga pribadi mereka. Jika di kasus Liang Zhu, Huan Rong tega memp*rkosa Liang Wei tepat di hadapan Liang Zhu kemudian membunuh kedua kakak beradik tersebut hanya demi sebuah bayaran yang bisa dia gunakan untuk bersenang-senang dengan para wanita. Sedangkan di zamannya Liona, ada Aaron yang tega memperjualbelikan para gadis muda untuk memupuk kekayaan yang mana dia gunakan untuk hal-hal yang tidak benar. Popularitas dan hidup mewah salah satunya. Dan sekarang, kembali muncul Huan Rong dan Aaron lagi, tapi dalam bentuk yang berbeda. Kali ini yang memangku reinkarnasi terkutuk itu bukanlah penikmat wanita, tapi memiliki jati diri sebagai seorang wanita yang mempunyai hati kejam layaknya iblis jahanam. Melemparkan seorang pria ke atas ranjang istrinya demi untuk menutupi aibnya yang penyuka sesama jenis lalu menyekap dan menyiksa istrinya sendiri hingga jadi seperti yang sekarang. Sungguh tindakan yang sangat tidak manusiawi bukan?
"Dad, apa aku boleh menemui bajingan itu? Tanganku gatal sekali ingin menghancurkan paru-parunya," tanya Dante sembari membunyikan tulang di jari-jari tangannya.
"Jangan. Sekarang Zidane berada di bawah kekuasaan Reina, Resan dan juga Lorus. Kalau kau sampai berani datang ke sana, itu artinya kau menantang mereka bertiga untuk berduel," jawab Drax. Setelah itu dia mendekatkan wajahnya ke samping telinga Dante. "Orang-orangnya Rose sangat berbahaya, Dan. Daddy menyarankan agar kau jangan sampai bersitegang dengan mereka. Kelompok Queen Ma di dirikan atas dasar rasa sakit hati yang di alami para anggotanya. Mereka tidak ada yang takut mati, dan hanya akan tunduk pada perintah adikmu saja. Dari sini kau paham kan?"
Sambil menghela nafas panjang Dante menganggukkan kepala. Meski penasaran, dia mencoba berdamai dengan keinginannya untuk tidak bertemu dengan laki-laki yang bernama Zidane.
Rose, adik kecilku, kenapa kau bisa seberbahaya ini, hmm? Aku kan jadi takut.
๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น
...๐นJangan lupa vote, like dan comment...
...ya gengss ๐ช๐ช๐ช...
...๐นIg: rifani_nini...
...๐นFb: Rifani...
__ADS_1