
Angel sendiri terlihat langsung mendengus kesal begitu melihat Ernest yang sudah menyusul Tira, dan meninggalkannya tanpa berpamitan padanya,s eolah menganggapnya angin lalu saja.
Melihat itu, Angel langsung membalikkan tubuhnya untuk pergi, karena sebenarnya dia juga harus menghadiri kelasnnya sendiri, yang berbeda dengan Tira dan Ernest, sehingga dia tidak bisa berlama-lama di sana dan mencegah Ernest mendekati Tira.
Tira Lennan, beraninya kamu membuat seorang laki-laki tidak melihat dan menganggap keberadaan dan pesonaku sama sekali. Aku harus segera memikirkan cara untuk membuat Ernest kecewa kepada Tira, dan pada akhirnya tidak lagi mengejar-ngejar Tira seperti itu. Aku saja yang seorang idola di kampus ini, belum pernah ada laki-laki yang memperlakukanku semanis itu dan mengejar-ngejarku seperti yang dilakukan Ernest pada Tira.
Angel berkata dalam hati sambil mempercepat langkah-langkah kakinya sebelum, berharap bisa mengusir rasa kesal di hatinya.
Dengan apa yang dia lakukan pada Tira di media sosial ekmarin malam, Angel berharap Ernest akan berpikir ulang untuk mendekati Tira, tapi dengan pembicaraan mereka tadi, Angel tidak melihat sedikitpun ada rasa kecewa atau kesal Ernest kepada Tira.
Yang didengar oleh Angel justru pernyataan cinta Ernest untuk Tira, yang membuat dadanya seakan mau meledak karena rasa tidak suka sekaligus cemburu yang bercampur menjadi satu.
"Maaf sudah membuat An... kamu menunggu Tira...." Ernest berkata pelan sambil berusaha mengubah sikapnya dari sikap hormat dan formal kepada Tira menjadi lebih santai begitu mengingat tentang kesepakatan mereka sebelumnya, tentang aturan bagaimana dia harus bersikap terhadap Tira sat berada di tengah-tengah banyak orang.
"Tidak ada yang menghalangimu untuk bergaul dengan yang lain di sini." Jawaban Tira yang baginya tidak selembut biasanya membuat Ernest sedikit mengernyitkan keningnya.
__ADS_1
Apa yang terjadi dengan putri? Kenapa dia terlihat jelek moodnya. Apa dia masih merasa tidak tenang karena kejadian pembiusan tadi malam?
Ernest yang tidak tahu letak kesalahannya, berkata dalam hati, berusaha mereka-reka apa yang membuat wajah Tira terlihat suram, padahal setelah mereka berpisah dari acara makan pagi bersama tadi, Ernest masih melihat wajah cerah Tira ketika dia memasuki mobilnya sendiri untuk berangkat ke kampus tadi.
Tira dan Ernest memang sengaja mengendarai mobil mereka sendiri-sendiri ke kampus, karena saat ini mereka masih berakting bahwa Ernest adalah orang yang sedang mengejar-ngejar Tira, bukan sebagai pengawal pribadi Tira yang memang seharusnya selalu berada di dekat Tira.
Atau mungkin ada sesuatu yang sudah terjadi pada putri ketika tadi aku sedang bersama Angel? Apa ada seseorang yang berusaha mengganggunya? Tapi pengamatanku tadi, tidak ada orang yang terlihat melakukan hal buruk pada putri.
Ernest kembali bertanya-tanya dalam hati sambil mengingat bahwa, meskipun tadi dia sedang bersama dengan Angel, tapi matanya tidak lepas dari sosok Tira yang terus diawasinya walaupun dari jarak yang cukup jauh, karena tadi Tira terlihat buru-buru meninggalkan tempat parkir, tanpa Ernest tahu itu dilakukan Tira karena hatinya yang panas begitu melihat Angel yang berusaha untuk langsung menempel pada Ernest.
Ernest yang melihat sikap Tira yang acuh tak acuh, akhirnya mengambil posisi duduk tepat di samping Tira, sengaja karena dia masih sedang dalam aktingnya untuk menunjukkan pada banyak orang bahwa dia sedang mengejar-ngejar Tira.
"Hai Ernest, Tira...." Anna yang sudah duduk di dekat bangku yang ditempati Tira terlebih dahulu langsung menyapa Ernest dan Tira.
"Pagi Anna." Dengan sopan Ernest langsung menanggapi sapaan Anna, berbeda dengan Tira yang tampak diam, bahkan terlihat berpura-pura sibuk dengan isi dari tas kuliahnya.
__ADS_1
Melihat sikap Tira yang tidak seperti biasanya, Anna langsung memandang ke arah Ernest dan menggerakkan matanya, memberi kode bahwa dia sedang bertanya apa yang sudah terjadi pada Tira.
Ernest hanya bisa menanggapi perkataan Anna dengan mengangkat kedua bahu dan telapak tangannya yang menengadah ke atas.
"Masa kamu tidak tahu apa yang terjadi pada Tira?" Anna berkata kepada Ernest dengan bibir yang bergerak tanpa mengeluarkan suara, dan tangan yang bergerak kesana kemari seolah ingin memberikan penegasan pada kata-katanya yang tanpa suara itu.
"Tidak tahu." Ernest membalas pertanyaan Anna gerakan bibir tanpa suara juga, membuat Anna langsung mengalihkan pandangannya kepasa Tira, untuk memastikan bahwa Tira sedang baik-baik saja.
Seingat Anna, Tira adalah salah satu temannya yang lemah lembut dan sabar, sehingga dia tidak pernah melihat Tira berwajah galau seperti pagi ini, dan itu cukup membuatnya khawatir dan Anna jadi berpikir yang bukan-bukan.
"Kenapa wajahmu seperti itu Tira? Apa peneror itu kembali mengirimimu pesan berisi ancaman?" Anna yang tidak tahu adanya peristiwa pembiusan pada Tira semalam, bertanya sambil mendekatkan wajahnya ke Tira.
"Memang kenapa dengan wajahku?" Tira balik bertanya kepada Anna dengan sengaja memiringkan tubuhnya ke arah Anna yang duduk di samping kanannya, sehingga dia sedikit membelakangi Ernest yang duduk di samping kirinya.
“Dari pertama aku lihat kamu datang ke kelas, wajahmu terlihat masam sekali.” Anna berkata sambil tersenyum, sedang Tira langsung menarik nafas dalam-dalam mendengar komentar Anna tentang dirinya.
__ADS_1