
Rasa panas di hatinya dan juga emosi yang tadinya memenuhi dada Tira karena Angel yang berusaha mendekati Ernest, tiba-tiba digantikan dengan debaran kencang karena sikap Ernest yang melelehkan hati, membuatnya diam mematung seperti orang yang terkena hipnotis.
Ernest sendiri begitu menarik nafasnya, bau harum dari tubuh Tira, membuatnya menelan ludahnya sendiri, bahkan tanpa dia sadari, hampir saja membuat Ernest yang hidungnya begitu dekat denga telinga Tira, ingin semakin mendekat dan menempelkan hidungnya di sana, untuk bisa lebih lagi menikmati harum dari tubuh Tira yang memabukkan dirinya, dan melumpuhkan pikirannya.
Sepersekian menit kemudian, tubuh Ernest sedikit tersentak dan kembali menjauhi Tira, yang karena gerakan tiba-tiba yang baru saja dilakukan Ernest, membuatnya langsung tersadar dari lamunannya.
Gila... aku harus segera berhenti, atau aku benar-benar tidak bisa mengendalikan diriku lagi. Bagaimana bisa aku berpikir untuk bisa mencium putri? Sungguh keterlaluan!
Ernest melenguh dalam hati, marah apda dirinya sendiri yang hampir saja melakukan hal yang tidak pantas pada Tira.
Akhirnya Ernest berusaha sedikit memalingkan wajahnya, sambil meraih tas ranselnya, dan bertingkah seperti yang dilakukan oleh Tira sebelumnya, berpura-pura fokus dan mengobrak-abrik tasnya, seolah sedang mencari sesuatu di dalam sana.
"Ehem...." Sambil berdehem pelan, tangan Tira bergerak ke arah kotak berbentuk hati yang berisi coklat di hadapannya.
"Aku akan mencobanya...." Dengan suara pelan, Tira berkata sambil mengambil sebutir coklat dan memasukkannya dalam mulutnya.
__ADS_1
"Apa kamu mau Anna?" Anna yang melihat sikap canggung Tira yang menawarinya coklat itu langsung tersenyum lebar.
"Tidak, terimakasih. Coklat yang diberikan dengan penuh rasa cinta seperti itu, mana tega aku ikut memakannya." Kata-kata Anna langsung membuat salah seorang yang duduk tepat di belakang mereka menepuk bahu Anna sambil tertawa kecil.
Anna sendiri setelah menolak coklat pemberian Tira, meraih tutup kotak coklat yang tergeletak di meja, menutupkannya, lalu memasukkannya dalam tas milik Tira yang resletingnya masih terbuka, membuat Tira jadi bertambah salah tingkah.
"Keputusanmu tepat sekali Anna. Jangan mengganggu pemberian orang yang sedang dimabuk cinta." Mahasiswa itu berkata di tengah-tengah tawa gelinya, membuat wajah Tira yang bisa mendengar perkataan temannya itu terlihat semakin memerah.
"Anna, daripada kamu mengganggu mereka, bagaimana kalau kamu menjauh dari mereka berdua. Memberikan kesempatan pada mereka untuk bisa berduaan saja." Kata-kata dari temannya yang lain membuat Anna mencebikkan bibirnya.
Anna berkata dalam hati dengan mata melirik ke arah Ernest maupun Tira.
Untuk Tira sendiri… sebagai teman dekatnya, aku berani bertaruh kalau Tira sepertinya betul-betul menyukai Ernest dan benar-benar jatuh cinta pada Ernest. Dan sepertinya meskipun badai pasti akan mereka hadapi jika mereka benar-benar bersama, Tira sudah siap untuk itu demi cintanya pada Ernest. Semoga kalian berdua bsia melalui badai itu.
Lagi-lagi Anna melakukan penilaiannya dalam hati, dan berharap bahwa badai yang pasti akan timbul dari keluarga Tira, tidak membuat cinta mereka berdua kandas.
__ADS_1
"Sepertinya itu bukan ide buruk. Kalau begitu, aku pindah ke bangku lain ya Tira?" Tanpa menunggu jawaban Tira, Anna mengakhiri kata-katanya dengan bangkit dari duduknya, membawa tasnya dan pergi menjauh dari Tira, sebelum dosen pengajar mereka datang.
"Eh?" Tira yang melihat Anna pergi menjauh darinya, terpekik pelan dengan tangan yang beusaha menghalangi Anna untuk pergi, tapi sayangnya Anna sudah berjalan menjauh darinya.
Dan begitu Tira menoleh ke belakang, ternyata teman-temannya yang tadinya duduk tepat di belakangnya juga mengikuti tindakan Anna, mencari bangku lain yang letaknya jauh dari posisi Ernest dan Tira yang jadi duduk berdua saja.
Kelas yang sedang diikuti oleh Tira saat ini merupakan kelas dimana mahasiswa yang mengambil kelas itu tidak banyak jumlahnya, sehingga banyak bangku kosong yang tidak terisi oleh mahasiswa.
Posisi duduk Tira dan Ernest yang di depan sendiri tadi, menyebabkan tidak ada mahasiswa lain yang duduk di depan mereka.
Setelah Anna pergi disusul teman-temannya yang lain, posisi duduk Tira dan Ernest saat ini jadi terlihat menyendiri, karena semua teman yang duduk sebarisan dan tepat di belakang mereka langsung pindah begitu ada kode dari salah satu teman mereka untuk sengaja membiarkan Ernest dan Tira hanya duduk berdua saja bangku paling depan, sedang teman yang lain, paling dekat duduk 4 baris di belakang mereka.
Tira yang menyadari bagaimana para teman-temannya sengaja sedang menggoda dia dan Ernest, dengan membiarkan mereka hanya duduk berdua bersama Ernest dengan jarak yang jauh dengan yang lain, hanya bisa menundukkan kepalanya, berpura-pura tidak menyadari apa yang sedang terjadi, meskipun dadanya saat ini terus berdetak kencang karena hal itu.
“Ehem… apa kamu suka coklatnya?” Ernest berdehem pelan sebelum akhirnya memutuskan untuk mencairkan suasana canggung diantara mereka berdua, sambil menunggu dosen yang tak kunjung datang, seolah ikut menggoda mereka seperti teman mereka di ruangan itu.
__ADS_1
“Eh… lumayan…. Aku tidak tahu kalau ternyata kamu tahu aku paling suka coklat yang ada campuran susunya.” Tira menjawab pertanyaan Ernest dengan suara pelan, setelah lidahnya merasakan bahwa coklat yang diberikan Ernest adalah jenis coklat susu yang memang sangat disukainya, dan seringkali menjadi obat di kala dia merasa stress.