MY BELOVED KNIGHT

MY BELOVED KNIGHT
TETAP BERSIKAP WASPADA


__ADS_3

Meski untuk saat ini Ernest hanya bisa membayangkan bagaimana bisa bertemu dengan Tira 3 hari lagi, tapi detakan dalam dada Ernest rasanya begitu sulit untuk bisa dikendalikan olehnya.


3 hari lagi... semoga hari cepat berlalu sehingga 3 hari lagi akan segera tiba untukku.


Ernest berkata sambil dengan keras berusaha menahan senyum bahagianya membayangkan bisa bertemu lagi dengan Tira dalam waktu 3 hari lagi.


"Tuan Ernest...." Edi memanggil nama Ernest yang tampak diam beberapa saat setelah dia mengatakan tentang perintah Tira adar Ernest menjemputnya beberapa hari ke depan.


"Ehem...." Ernest berdehem pelan dengan wajah berpura-pura berpikir keras untuk menyembunyikan bagaimana senang dan tidak sabarnya hati Ernest untuk menunggu waktu untuk menjemput Tira tiba.


"Ya Edi, aku mendengar apa yang baru kamu katakan. Karena putri memintmu untuk menyampaikan pesan padaku, tolong kamu sampaikan kepada putri kalau aku sudah menyatakan kesediaanku untuk menjemputnya." Ernest berkata dan setelah itu sedikit mengalihkan wajahnya, agar Edi dan Steven tidak bisa melihat wajahnya yang terlihat canggung saat ini.


"Baik Tuan Ernest, saya akan menyampaikannya pada putri...."

__ADS_1


"Tapi Edi...." Perkataan Ernest yang memotong perkataannya membuat Edi langsung terdiam sambil memandang ke arah Ernest.


"Apa tidak salah 3 hari lagi? Aku dengar kemarin dari Erich, acara ulang tahun tuan Augistin baru akan diadakan minggu depan." Bukannya Ernest tidak ingin secepatnya bisa bertemu lagi dengan Tira, tapi info dari Erich kemarin membuatnya merasa penasaran, kenapa Tira tidak tinggal disana sampai acara perayaan ulang tahun Augistin Shaw.


"Saya tidak tahu menahu tentang hal itu Tuan Ernest, tapi putri mengatakan kalau dia akan tinggal sebentar saja di apartemen untuk menyelesaikan tugas-tugasnya, sebelum kembali lagi ke mansion keluarga Shaw." Penjelasan Edi membuat Ernest menghela nafasnya.


"Ah ya, memang sedang ada banyak tugas di kampus beberapa waktu ini....'


"Iya Tuan Ernest. Mungkin putri memutuskan untuk sementara kembali ke apartemen, karena memang jarak antara apartemen ini dengan kampus jauh lebih dekat daripada jarak mansion keluarga Shaw dan kampus putri, karena putri tadi sempat mengungkit masalah itu di telepon tadi." Perkataan Edi membuat Ernest tersenyum lega, karena memang sepertinya itu yang sudah terjadi.


Ernest yang sampai detik ini belum bisa sepenuhnya menghilangkan rasa cemburunya kepada Luis, berkata dalam hati dengan sikap sedikit lega karena kata-kata Edi cukup membuatnya terhibur.


"Untuk selanjutnya, apa yang harus kami lakukan terhadap kasus Robin ini? Apakah ada tugas baru untuk kami Tuan Ernest?" Edi bertanya sambil melirik ke arah Steven yang terlihat matanya masih saja sibuk mengamati rekaman cctv di layar laptopnya.

__ADS_1


"Lebih baik kamu sekarang ke kantor polisi tempat Robin ditahan, dan kamu harus tetap mengawal kasus ini sampai semuanya beres dan berakhir dengan baik. Untuk Steven, kamu harus tetap melakukan pengawasan di sekitar apartemen karena jika tiga hari lagi putri kembali tinggal di apartemennya, aku berharap semuanya tetap dalam kondisi aman dan terkendali. Kita tidak boleh lengah sedikitpun..."


"Baik Tuan Ernest." Baik Steven maupun Edi langsung menjawab perintah Ernest secara bersamaan.


"Kalau begitu, lebih baik saya pergi ke kantor polisi sekarang juga, agar saya tidak tertinggal berita sedikitpun. Kamu tidak ada rencana keluar kan Steven? Aku akan membawa mobil bersamaku." Edi berkata sambil meraih jaket dan kunci mobil dari atas meja, dekat dengan lengan Steven yang tampak menumpang di atas meja dengan wajah serius.


"Tidak, aku tidak ada rencana kemana-mana sampai besok, kecuali ad perintah dari tuan putri Tira atau tuan Ernest." Steven menjawab pertanyaan Edi tanpa mengalihkan pandangan matanya dari layar laptop.


"Pakai saja mobil itu Ed. Kalau memerlukan sesuatu, masih ada mobilku juga. Steven bisa memakainya jika dia memerlukan itu." Sahutan dari Ernest membuat Edi langsung menganggukkan kepalanya.


"Oke, aku pergi dulu ke kantor polisi kalau begitu, sebelum aku melewatkan banyak hal di sana. Melihat cerita dari pak Romeo tadi di kantornya, menurutku Robin bukan orang yang akan tinggal diam dan menerima nasib dengan penangkapannya ini. Dengan latar belakang keluarganya, sekarang mungkin dia sedang sibuk mencari bala bantuan." Perkataan Edi membuat Ernest merasa lega sebagai bagian dari timnya, Edi sudah bersikap begitu waspada, dan ternyata Edi bisa menilai dengan baik dari pembicaraan mereka tadi dengan Romeo.


"Hati-hati Edi, dan jangan lepaskan sedikitpun bukti ataupun info yang ada dan terjadi di sana. Jangan sampai ada kesempatan untuk Robin bisa keluar dari sana dalam waktu dekat, meskipun ada orang yang mau memberikan jaminan untuknya. Segera beritahukan padaku jika ada sesuatu yang mencurigakan di sana." Ernest memberikan beberapa perintah kepada Edi sebelum akhirnya Edi pergi ke kantor polisi.

__ADS_1


"Steven, apa yang sedang kamu amati?" Setelah Edi pergi, Ernest berkata sambil mendekat ke arah Steven.


"Tidak ada yang terlalu penting Tuan Ernest. Hanya saja kata-kata Tuan Ernest tadi membuat saya berpikir dan merasa penasaran dengan apa yang dikatakan Tuan Ernest, sehingga saya mencoba mengamati kembali semua rekaman cctv itu untuk menemukan petunjuk baru, tapi saya tidak berhasil menemukannya." Steven memberikan penjelasan kepada Ernest dengan tangannya yang terus sibuk menggerak-gerakkan cursor pada komputer, dan sesekali memperbesar ukuran rekaman yang dilihatnya saat dia ingin fokus mengamati sesuatu.


__ADS_2