
Meskipun sikap Ernest terlihat begitu canggung saat duduk di samping Tira, tapi bagaimana Tira berbicara dengan sikap santai padanya, membuat lama kelamaan Ernest ikut merasa santai.
Apalagi sepanjang menceritakan tentang apapun yang ada di kampusnya, semua aturan, orang-orangnya, termasuk para dosen dan juga petugas perpustakaan, seringkali Tira tertawa kecil dan tersenyum lebar sambil menatap ke arah Ernest.
"Jadi... apa kamu sudah mengerti dengan situasi disana? Kamu bisa membayangkannya?" Pertanyaan yang diutarakan Tira setelah panjang lebar berusaha menjelaskan tentang suasana dan kehidupan di kampusnya, membuat Ernest tersenyum.
Baru kali ini aku menyadari kalau ternyata, adakalanya, putri Tira terlihat begitu cerewet, tidak seperti biasanya.
Ernest berkata dalam hati, menahan dirinya untuk tidak tertenyum geli di hadapan Tira, karena merasa sikap Tira yang ternyata cukup banyak bicara di depannya, saat tidak ada orang lain.
Melihat sosok Tira seperti hari ini, dalam posisi yang begitu dekat dengannya, mau tidak mau Ernest harus mengakui bahwa hatinya semakin berdesir setiap kali dia mendapatkan kesempatan untuk menatap ke arah wajah cantik putri Gracetian tersebut.
Suatu kesempatan langka yang dulunya, hanya memikirkan dan membayangkannya saja bagi Ernest adalah hal yang sangat musthil.
Akan tetapi sejak hari dimana Alvero meminta Ernest untuk menjemput Tira di istana dan mengantarnya ke penthouse, Ernest selalu berharap kalau suatu ketika, dia akan kembali mendapatkan kesempatan untuk bisa dekat dengan Tira, dan mengobrol dengannya.
Tidak disangka kesempatan itu kembali datang di saat Ernest sama sekali tidak memikirkannya, dengan kurun waktu yang tidak terlalu lama dari yang pertama kalinya dia berada di dekat Tira waktu itu, sebagai sopir yang mengantaranya pergi.
__ADS_1
Dan sampai sekarang, berada di dekat Tira, masih saja membuat Ernest merasa canggung dan jantungnya selalu berlompatan ke sana kemari di dalam sana.
"Ernest! Sedang melamun ya?" Pertanyaan Tira yang diucapkan sambil mengibas-kibaskan tangannya di depan wajah Ernest, membuat Ernest tersentak kaget.
"Ah... ya... Putri... ada apa?" Dengan suara sedikit gugup, Ernest segera menjawab sapaan Tira dengan sebuah pertanyaan balik, yang cukup membuat Tira tersenyum geli.
"Sepertinya kamu tadi sedang benar-benar melamun ya Ernest? Kalau tidak, tidak mungkin kamu sampai sekaget itu." Tira berkata sambil mengambil handphone yang tadinya dia geletakkan di depannya.
"Eh... tidak Putri... tidak.... Maafkan saya." Jawaban Ernest yang semakin menunjukkan sikap gugupnya, membuat Tira semakin tersenyum geli.
"Oke-oke... tidak masalah. Ini, beberapa foto yang aku ambil saat aku berada di kampus. Coba kamu lihat...." Tanpa ragu dan merasa canggung, Tira berkata sambil menunjukkan foto-fotonya dengan latar belakang berbagai lokasi yang ada di kampusnya, entah gedung ataupun taman, bahkan loker dimana dia bisa menyimpan barang-barang miliknya di kampus.
Bagi Ernest, dinginnya suhu ruangan ber AC itu tidak membuat rasa gerah yang tiba-tiba dia rasakan secara tiba-tiba itu bisa dengan mudah menghilang dari dirinya.
Kenapa udara di sekitarku terasa panas dengan tiba-tiba?
Ernest berkata dalam hati sambil berusaha menatap ke arah layar handphoe yang sedang disodorkan Tira ke arahnya.
__ADS_1
Melalui foto-foto itu, Ernest ingin agar pikirannya teralihkan, tapi foto-foto dimana sebagian besar tersdapat gambaran sosok Tira disana, justru membuat Ernest semakin sering menahan nafasnya.
Tira dengan berbagai pose foto dan juga pakaian yang dikenakannya, membuat mau tidak mau Ernest harus mengakui bahwa pesona gadis cantik itu membuatnya tidak lagi fokus pada gedung kampus atau taman yang menjadi latar belakang Tira, tapi justru fokus dengan puluhan sosok Tira dalam foto yang ada di galeri handphone Tira itu.
"Bagaimana? Bagus kan kampusku?" Dan lagi-lagi Ernest harus tersentak kaget begitu Tira berkata sambil menarik kembali handphone itu dari dekat Ernest, yang jujur saja belum puas mengagumi sosok Tira dalam foto-foto tersebut.
"Ba... bagus...." Jawaban Ernest yang sedikit tersendat, membuat Tira tersenyum senang, karena berpikir bahwa Ernest memang sedang memuji kampusnya.
"Kalau dari foto saja, itu hanya 50% keindahan yang bisa kamu nikmati, jauh dari kenyataannya yang memang lebih indah. Setibanya di sana, kamu nanti pasti setuju dengan pendapatku itu." Tira berkata sambil memandangi kembali foto-foto dalam galeri handphonenya, dengan mata Ernest yang mencoba melirik apa yang sedang dilihat oleh TIra.
# # # # # # #
"Ah, akhirnya juga di tempat ini." Tira berkata sambil mendorong pintu apartemen yang akses masuknya menggunakan fingerprint dari kelima jari-jari tangannya.
"Masuklah...." Perintah Tira selanjutnya membuat Ernest, Steven maupun Edi masuk ke dalam, dengan Edi dan Steven yang menyeret tas koper beroda milik Tira, sedangkan milik mereka sendiri, dibiarkannya berada di dekat pintu masuk masuk, karena mereka akan tinggal di apartemen yang ada di samping apartemen milik Tira.
"Steven, Edi...." Panggilan dari Ernest yang diucapkannya sambil menggerakkan sedikit kepalanya ke samping dan mata melirik ke arah dalam rumah, membuat Steven dan Edi langsung menganggukkan kepala dan melangkah masuk ke dalam apartemen Tira.
__ADS_1
'Eh?" Tira sedikit bergumam kaget melihat Steven dan Edi yang segera masuk ke dalam rumahnya tanpa pamit,
"Maaf Putri, kami harus melakukan cek apartemen ini sesuai aturan baku kami saat dalam tugas mengawal. Hal itu kami lakukan untuk menghindari datangnya penyusup." Ernest segera memberikan penjelan agat tidak terjadi kesalah pahaman sehingga Tira berpikir mereka sudah bersikap lancang di tempat kediamannya.