MY BELOVED KNIGHT

MY BELOVED KNIGHT
BAHAGIANYA ERNEST


__ADS_3

Sebuah senyum tipis terlihat di wajah Ernest yang dengan sikap sopan dan hormatnya, begitu melihat sosok Tira yang sedang memandang ke arahnya.


Sebuah rasa bahagia langsung memenuhi seluruh rongga dalam dada Ernest saat melihat bagaimana sosok Tira yang dari sikapnya, terlihat jelas tidak ada niat untuk kembali menghindar dan mengacuhkannya seperti yang sudah dia lakukan beberapa hari ini padanya.


Hal yang sudah membuat Ernest seperti cacing kepanasan dan bersikap tidak seperti layaknya seorang Ernest biasanya.


Tidak kusangka, ternyata aku begitu mencintaimu, hingga membuat dadaku rasanya mau meledak karena begitu bahagia bisa melihatmu saat ini.


Ernest berkata dalam hati dengan mata yang menatap Tira dengan wajah penuh kerinduan.


Dada Ernest terasa berdegup kencang di dalam sana setelah melihat bagaimana Tira yang sedang duduk berhadapan dengan Alvero dan Deanda yang juga langsung tersenyum melihat sosok Ernest.


Deanda juga merupakan orang yang bisa membedakan antara Ernest dan Erich karena selama ini dia lebih sering bersama dengan Ernest daripada Erich.


Lagipula, saat-saat pertemuannya dengan Alvero sebelum menikah, Ernest adalah orang yang seringkali berada di samping Alvero dibandingkan Erich.


"Halo Ernest. Apa kamu baru datang? Kenapa tidak dari kemarin-kemarin ikut berlibur di sini bersama kami?" Dengan suara ramah dan sok dekat, James menyapa Ernest sambil memukul pelan punggung Erich karena menyangka kalau Erich adalah Ernest.


"Selamat pagi Tuan James." Begitu Ernest yang asli menjawab sapaan James, James langsung mengernyitkan dahinya sebentar, setelah itu langsung meringis.

__ADS_1


"Lagi-lagi, aku salah ya? Tidak bisa membedakan Erich dan Ernest." James berkata sambil menatap keduanya secara bergantian dengan menyipitkan matanya, berusaha menemukan perbedaan antara Ernest dan Erich yang baginya selalu saja membingungkan baginya.


"Aist. menyerah deh. Tetap saja aku tidak bisa membedakan yang mana Erich dan yang mana Ernest kalau kalian tidak menunjukkan tanda-tanda padaku." James berkata dengan sikap menyerah setelah dia tidak berhasil membedakan mana Ernest dan mana yang Erich.


"Apa di masa depan istri kalian bisa membedakan kalian ya? Kalau tidak, bisa berbahaya tentunya. Tapi aku rasa... orang yang mencintai kalian pasti bisa membedakan kalian berdua. Aku harap sih begitu supaya tidak terjadi kesalahpahaman di masa depan. Ha ha ha." James berkata sambil tertawa dan berjalan ke arah Alvero dan yang lain, yang tadinya sedang mengobrol sebelum kedatangan James.


"Kenapa harus menunggu istri-istri mereka di masa depan? Kamu saja yang tidak bisa membedakan mereka berdua." Alvero berkata dengan nada meremehkan, membuat James meringis.


"Yang benar? Kalau kamu sih aku percaya, karena kamu kan sudah puluhan tahun bersama mereka sudah seperti keluarga kandung bagi mereka. Coba yang lain." James berkata sambil mencibirkan bibirnya ke arah Alvero.


"Siapa bilang? Selain aku pasti ada yang bisa membedakan mereka berdua meskipun tidak begitu dekat dengan si kembar identik itu." Alvero langsung menyanggah kata-kata dari James.


Aduh... bukannya aku datang ke tempat ini untuk menjemput putri Tira? Kenapa aku harus terjebak dengan permainan tuan James?


Ernest berkata dalam hati dengan mata menatap ke arah Alvero, tanpa berani mencuri pandang ke arah Tira.


Apa-apaan ini? Apa maksud tuan James dengan permainan untuk membedakan aku dan Ernest? Kenapa harus ada kegiatan seperti itu?


Erich yang memang tidak terbiasa untuk melakukan hal-hal yang berbau candaan, hanya bisa melakukan protes dalam hati karena tidak mungkin dia menentang perkataan James yang merupakan sahabat dekat Alvero.

__ADS_1


"Tira! Bagaimana kalau kamu yang mencobanya?"


"Eh?" Wajah Tira langsung terlihat bingung begitu mendengar ucapan James padanya, yang diucapkan dengan senyum lebar.


“Aku?” Tira bertanya pada James sambil menunjuk dirinya sendiri.


“Tentu saja tidak mungkin Alvero yang pasti bisa membedakan mereka berdua.” James berkata sambil terkikik geli.


“Harus aku?” Tira kembali bertanya dengan wajah canggung, merasa tidak nyaman dengan apa yang sedang direncanakan oleh James.


“Betul. Aku yakin kamu tidak akan bisa membedakan yang mana Ernest dan yang mana Erich.” Dengan percaya dirinya, James berkata kepada Tira yang sudut matanya melirik ke arah Ernest yang wajahnya tidak kalah kagetnya dengan Tira.


“Memang, kalau dia bisa melakukan itu, apaa yang akan kamau berikan pada Tira sebagai hadiah?” Laurel yang merasa ada sesuatu yang menarik sedang terjadi di depannya, langsung ikut berkomentar.


“Mmmm, apa ya?” Pertanyaan Laurel membuat James sedikit bergumam dengan wajah terlihat sedang berpikir, lalu tersenyum dengan wajah isengnya ke arah Tira.


“Bagaimana kalau… aku memberimu kesempatan untuk bertemu dan mendengar permainan secara langsung dari Sonya Belousova kalau kamu berhasil menebak mana Ernest dan Erich?” Mata Tira langsung membulat sempurna begitu James menjanjikan tentang hal itu.


“Sonya Belousova?” Tira bertanya untuk meyakinkan bahwa apa yang baru saja dikatakan oleh James padanya, bukan sesuatu yang salah didengar olehnya.

__ADS_1


“Kenapa? Bukannya kamu begitu mengidolakan Sonya Belousova? Aku dan dia memiliki hubungan baik, dana aku yakin dengan senang hati dia akan mengabulkan apapun permintaanku padanya.” Mata Tira semakin membulat dengan wajah tidak percayanya begitu mendengar apa yang dikatakan oleh James tentang salah satu pianis yang selama ini dikaguminya itu, Sonya Belousova.


__ADS_2