MY BELOVED KNIGHT

MY BELOVED KNIGHT
BERUSAHA TETAP BERTAHAN


__ADS_3

Setelah kata-kata Ernest yang menyangkal tentang tuduhan Tira bahwa dia menyukai salah satu orang yang ada di mansion keluarga Shaw, Tira sengaja memilih untuk berdiam diri, membiarkan Ernest beberapa kali tampak menghela, dan menahan nafasnya.


Sesekali, Tira sengaja pura-pura tidak tahu saat melihat Ernest yang melirik ke arahnya dengan tatapan mata tidak tenang.


Hal itu membuat Tira terlihat menahan senyumnya, yang merasa bangga bahwa rencananya yang masih berjalan setengah itu sepertinya akan berhasil dengan sukses.


Setelah beberapa menit berlalu dengan suasana hening diantara Ernest dan Tira, sambil berusaha menenangkan hatinya, Ernest memarkir mobilnya, dan langsung bergegas keluar dari mobil, untuk membukakan pintu bagi Tira.


“Silahkan Putri….” Dengan sikap hormat dan sopan seperti biasanya, Ernest membukakan pintu mobil di bagian samping Tira, begitu mobil sudah terparkir di tempatnya.


“Ernest… setelah ini ikutlah ke apartemenku, dan bantu aku untuk melakukan rekaman tugas permainan pianoku.” Sambil turun dari mobilnya, Tira segera memberikan perintah kepada Ernest.


“Baik Putri.” Ernest memberikan jawaban singkat sambil berjalan di belakang Tira dengan sikap mengawal.

__ADS_1


“Kenapa sedari tadi kamu berdiri di belakangku?” Tira yang melihat tidak adanya niat dari Ernest untuk mengambil posisi berdiri di sampingnya langsung bertanya, membuat Ernest sedikit menelan ludahnya, karena berita tentang rencana perjodohan Tira sudah membuat pikirannya begitu kalut, sehingga dia memilih untuk sedikit menjauh dari jangkauan pandangan mata Tira, agar gadis pujaannya itu tidak bisa melihat kegalauan hatinya.


Padahal, sejak tadi Tira yang mengamati tingkah laku Ernest, sudah bsia melihat dengan begitu jelas bagaimana kacaunya pikiran Ernest saat ini, yang bahkan sempat salah menekan tombol lift yang menunjukkan ke lantai berapa mereka akan pergi.


“Apa kamu takut jika kamu jadi terbiasa berjalan di sampingku, dan suatu ketika akan membuat kesalahpahaman saat pangeran yang rencananya akan dijodohkan denganku melihat cara kita berjalan berdua?” Dengan sengaja, Tira dan Ernest yang sudah hampir sampai di pintu apartemen Tira kembali memancing emosi Ernest.


“Tidak Putri. Saya tidak berpikir tentang hal seperti itu.” Dan seperti yang diinginkan Tira, dengan cepat Ernest bukan saja menanggapi perkataan Tira, tapi dia juga langsung mengambil posisi berdiri tepat di samping Tira.


Lag-lagi, Ernest mengomeli dirinya sendiri begitu tersadar emosinya kembali terpancing oleh kata-kata Tira, sehingga membuatnya tidak bisa mengendalikan bibir maupun tubuhnya untuk menunjukkan protesnya terhadap kata-kata Tira.


Ernest terus memaki dirinya sendiri, sampai dia tidak sadar bahwa pintu apartemen Tira sudah terbuka, dan Tira bahkan sudah melangkah masuk ke dalam apartemennya, meninggalkan Ernest yang tampak termangu di ambang pintu apartemen.


“Mau sampai kapan kamu berdiri di situ Ernest?” Suara teguran pelan dari Tira mau tidak mau membuat Ernest melangkahkan kakinya untuk memasuki apartemen yang membuat pikiran dan irama dtak jantungnya semakin kacau.

__ADS_1


Karena setiap kali Ernest menginjakkan kakinya di apartemen itu, bayangan tentang suasana kamar Tira yang nyaman dan baunya begitu pekat dengan harum parfum yang biasa dikenakan Tira, ditambah dengan kenangan tentang ciuman mereka waktu itu, akan langsung menghampiri otak Ernest begitu dia berada di apartemen itu.


“Maaf Putri….” Dengan sikap ragu, tidak seperti biasanya, yang selalu tenang, akhirnya Ernest melangkah masuk dan menutup kembali pintu apartemen itu.


“Kenapa denganmu Ernest? Apa kamu benar-benar baik-baik saja? Aku akan menyeduhkan teh agar kamu bisa lebih rileks….”


“Jangan Putri….” Mendengar rencana Tira yang bagi Ernest begitu tidak masuk akal, dimana seorang putri seperti Tira akan membuatkan teh untuknya yang hanya seorang knight, membuat Ernest dengan cepat mencegah Tira melakukan hal yang baginya akan sangat memalukan itu.


Tanpa sadar, karena begitu ingin mencegah Tira, tangan Ernest menyambar pergelangan tangan Tira dan memegangnya dengan erat, menahan Tira agar tidak melangkah pergi dari hadapannya untuk membuat teh, dan itu membuat tubuh Tira yang tersentak kaget justru sedikit terlempar ke arah Ernest, sehingga tubuh mereka saat ini saling berhadapan dengan jarak yang begitu dekat, hampir tidak berjarak.


Kondisi barusan membuat dada Tira langsung bereaksi, dengan berdetak keras, dan wajahnya yang kaget, terlihat sedang menatap Ernest dengan pandangan tidak percayanya, sekaligus dengan tatapan penuh harap, agar Ernest, mengakui bahwa dia benar-benar mencintainya.


“Ma… maaf… maaf Putri. Maaf untuk kelancangan saya….” Dengan buru-buru, begitu sadar kalau dia sudah bertindak begitu tidak sopan, Ernest segera melepaskan pergelangan tangan Tira dengan cepat, sehingga terkesan menyentakkan tangan Tira dengan kasar. dan dia sendiri buru-buru bergerak mundur ke belakang dengan dada yang bergemuruh hebat, karena rasa bersalah sudah bertindak kurang ajar bercampur jadi satu dengan perasaan cinta yang semakin sulit untuk dia kendalikan.

__ADS_1


__ADS_2