
“Baik Tuan Ernest. Saya akan melakukan semua perintah Turan Ernest dengan baik.” Steven kembali menjawab perintah Ernest.
“Jika kamu tidak bisa menemukan sesuatu dari yang aku perintahkan tadi, perpanjang waktu penyelidikanmu terhadap orang-orang yang keluar masuk dalam kampus sejak tadi siang, atau kalau perlu sejak kemarin. Sekecil apapun, temukan petunjuk dengan baik dan jangan mengabaikan sedikitpun benda, orang, ataupun gerakan yang bisa menjadi petunjuk untuk kita.” Tambahan perintah dari Ernest membuat Steven mengernyitkan dahinya.
Waktu penyelidikan yang semakin lebar, akan membuat mereka semakin sulit untuk mendapatkan hasil yang maksimal, tapi Steven hanya bisa menjawab iya untuk perintah Ernest yang satu itu, karena memang tugas mereka untuk bisa segera menemukan peneror itu agar kehidupan Tira kembali aman.
*Dilihat dari sisi manapun, entah itu dari depan ataupun dari samping, tetap saja Ernest terlihat begitu keren. *Saat terlihat serius seperti ini… Ernest terlihat semakin menawan dan menunjukkan betapa dia begitu menguasai dunia kerjanya, dan membuatnya tampil hebat seperti ini. Memang pantas dia dan Erich selalu menjadi epngawal pribadi kak Alvero dan belum pernah ada yang bisa menggeser posisi mereka hingga saat ini.
Lagi-lagi Tira mengucapkan kata-kata dalam hatinya tentang Ernest dengan penuh kekaguman, dan mata yang begitu sulit berpaling dari sosok tampan Ernest.
Aku sungguh ingin tahu bagaimana perasaan Ernest padaku, dan meyakinkan diriku sendiri bahwa perasaan sukaku padanya tidak bertepuk sebelah tangan. Tapi bagaimana caranya? Aku tidak mungkin bertaya secara langsung apakah dia menyukaiku atau tidak. Tapi… sebagai knight dengan posisi di bawahku, pasti canggung baginya untuk menjawab pertanyaanku yang seperti itu.
Tira berkata dalam hati dan sedikit mengalihkan pandangan matanya dari wajah tampan Ernest kalau tidak ingin Ernest menyadari begitu lama Tira sudah menatapnya tanpa berkedip.
Kalau sampai aku benar-benar bertanya langsung padanya, pasti dia akan merasa sulit untuk menjawabnya dengan jujur. Mau menjawab tidak, mungkin takut aku tersinggung. Tapi kalau dia menjawab iya karena dia tidak berani menolakku secara terus terang padahal dia tidak memiliki perasaan apapun padaku, itu juga akan jadi masalah. Aku ingin tahu isi hatinya tanpa ada yang membuatnya ragu mengatakan apa yang sebenarnya dengan sikap jujur. Tapi posisi kami berdua, membuat hal itu sulit terjadi.
__ADS_1
Tira kembali berangan-angan dalam hati sambil memikirkan cara bagaimana agar dia bisa mengorek isi hati Ernest tentang perasaan yang ada di hati Ernest, pendapat Ernest tentangnya.
“Apa? Ada hal seperti itu juga yang terjadi?” Suara Ernest yang tiba-tiba diucapkannya dengan nada sedikit tinggi membuat lamunan Tira buyar seketika dan dia langsung menoleh ke arah Ernest yang wajahnya tampak begitu serius.
“Baik, bawa bunga itu bersamamu ke apartemen, dan kita akan mulai melakukan analisa terhadap apa benda-benda itu. Lakukan perintahku dengan baik, dan aku akan menunggu kedatangan kalian di apartemen. Sampai nanti.” Ernest berkata sambil melirik ke arah Tira dengan wajah merasa bersalah karena sudah membuat Tira tersentak kaget.
“Maaf kalau saya mengagetkan Putri barusan.” Ernest berkata setelah memutus panggilan teleponnya dengan Steven dan melepa earphone Bluetooth dari telinganya.
“Apa yang dikatakan oleh Steven? Kenapa kamu telihat sedikit panik tadi?” Tira langsung bertanya sambil menatap ke arah Ernest dengan wajah serius.
“Eh? Setangkai mawar berwarna merah darah? Kenapa ada hal seperti itu? Mungkin itu bukan untukku. Hanya milik orang lain yang tanpa sengaja tertinggal di sana, dan dia lupa untuk mengambilnya kembali.” Tira berusaha untuk berpikiran positif.
“Saya harap memang seperti itu Putri, tapi perasaan saya mengatakan tidak begitu. Saya curiga kalau mawar itu juga pemberian dari pelaku teror itu… Semoga kecurigaan say aitu tidak benar….”
“Sebentar Ernest, ada pesan masuk di handphoneku.” Tira langsung memotong perkataan Ernest dan membuka layar handphonenya karena barusan ada sebuah notifikasi pesan masuk dari arah handphonenya.
__ADS_1
Bagaimana dengan hadiah mawarku yang cantik seperti dirimu hari ini Tira? Apa kamu menyukainya? Seperti hadiah-hadiahku yang lain? Aku dengar tidak ada wanita yang tidak menyukai bunga, karena mereka cantik dan harum seperti bunga. Bunga mawar itu, aku berikan padamu sebagai tanda bahwa aku masih akan memaafkanmu meskipun kamu membiarkan kumbang-kumbang liar terus berkeliaran di sekelilingmu.
Hanya saja, aku tetap akan mengingatkanmu bahwa kesabaranku juga ada batasnya. Jika sampai ada salah satu dari kumbang itu menempel di bunga yang aku cintai, tidak segan-segan aku akan memukul kumbang itu hingga mati, dan berjatuhan di dekat bunga yang ingin mereka hisap madunya itu.
Seberapaun banyaknya kumbang-kumbang itu, aku akan dengan senang hati meyingkirkan mereka satu persatu hingga tak bersisa, sehingga kamu hanya bisa memandang ke arahku saja.
Sebuah pesan yang cukup panjang dari nomer tidak dikenal seperti biasanya, dan langsung membuat Tira tampak gelisah, sehingga Ernest yang sudah memarkirkan mobilnya di parkiran apartemen yang mereka tempati, langsung menarik nafas panjang sambil memandang ke arah Tira.
“Lagi-lagi….” Tira bergumam pelan sambil menghela nafasnya dengan berat.
Meskipun di dunia ini semua laki-laki menghilang dan hanya ada peneror itu sebagai pilihanku, aku tetap tidak akan pernah memilihnya. Apalagi….
Kata-kata dalam hati Tira terhenti sejenak karena dadanya yang kembali berdetak dengan kencang ketika dia memikirkan tentang….
Sepertinya, hatiku benar-benar sudah tertawan oleh pesona seorang Ernest Anzo. Entah sejak kapan, tapi takut, sepertinya, kali ini aku benar-benar tidak bisa lepas dari rasa ini, karena baru pertama kalinya aku benar-benar merasakan perasaan takut kehilangan, ingin selalu dekat dengan seorang laki-laki, dan jantungku tidak mau berhenti berdetak kencang saat berada di dekatnya.
__ADS_1
Tira kembali melanjutkan kata-katanya dalam hati dengan wajah gusar. Bukan karena isi dari ancaman itu, tapi karena dia yang tersadar bahwa dia benar-benar sudah jatuh cinta pada Ernest dan merasa tidak bisa melepaskan diri lagi dari rasa itu