MY BELOVED KNIGHT

MY BELOVED KNIGHT
MEMANCING KEMBALI SI PENEROR


__ADS_3

Aku akan pastikan untuk segera menemukanmu, agar kamu tidak lagi memiliki kesempatan untuk mendekati, apalagi menyakiti putri Tira. Bagaimana bisa kamu memperlakukan gadis sebaik dan lemah lembut seperti putri Tira dengan begitu kasar atas nama cinta. Aku akan benar-benar menghajarmu kalau kamu masih berani mencari gara-gara dengan putri Tira.


Ernest berkata dalam hati dengan tangan masih terkepal erat tanpa dia sadari.


“Ah… sepertinya… apa yang dikatakan oleh Tuan Ernest benar. TL… Tira Lennan.” Edi mempertegas kembali apa yang dikatakan Ernest tadi tentang isial huruf T dan L yang tertara di topi peneror itu.


“Tapi tidak ada salahnya jika kalian berdua mencoba melakukan pengecekan terhadap nama-nama orang di kampus, dan juga di sekitar putri, apakan ada yang memiliki inisial sama dengan nama putri.” Ernest menanggapi perkataan Edi dengan memberikan perintah agar mereka melanjutkan penyelidikan tentang inisial TL.


"Meskipun untuk saat ini kita belum tahu siapa orang itu, tapi kita bisa pastikan bahwa orang yang melempar boneka itu dan juga yang merusak saxsofonku adalah orang yang sama. Ke depannya, aku akan lebih memperhatikan lagi orang yang aku temui di kampus, agar bisa segera menangkap pelaku teror itu." Ernest berkata sambil tersenyum, karena tanpa sengaja, dia mendengar salah satu dari anak buahnya terdengar menguap di seberang sana.


Apalagi Ernest bisa melihat jam di pergelengan tangannya yang menunjukkan waktu sudah mendekati pukul 3 dini hari.


"Sebaiknya kalian istirahat terlebih dahulu. Hari ini sudah banyak kejadian yang cukup menguras energi dan pikiran kita. Besok pagi, kita juga harus melanjutkan penyelidikan kita." Ernest berkata sambil menutup rekaman cctv yang dia lihat, agar yang lain benar-benar tidak lagi terfokus pada rekamana itu.


"Tuan Ernest, dengan kejadian hari ini, apakah putri tetap berencana untuk pergi ke kampus besok?" Edi bertanya kepada Ernest yang sedikit menahan nafasnya karena pertanyaan dari Edi yang menunjukkan sikap khawatir dengan kondisi Tira besok, yang sebenarnya juga membuat Ernest khawatir, tapi di sisi lain, jika ingin lebih memancing emosi pelaku, Tira harus bertindak seperti itu.


"Sepertinya iya, karena putri tidak mau peneror itu curiga dia sudah berhasil membuatnya ketakutan dan merasa terintimidasi. Justru tuan putri ingin membuat peneror itu merasa usahanya untuk membiusnya sudah gagal, sehingga beliau harus berpura-pura baik-baik saja di depan peneror itu." Ernest menjawab pertanyaan Edi.

__ADS_1


“Apa putri akan baik-baik saja jika memaksakan dirinya besok Tuan Ernest?” Edi kembali bertanya.


“Untungnya besok jadwal putri hanya mengikuti satu mata kuliah saja, jadi dia tidak perlu berlama-lama ke kampus besok.” Ernest kembali menjawab pertanyaan Edi dengan matanya yang melirik ke arah pintu kamar Tira yang terlihat terbuka setengahnya.


Bagi Ernest, sangatlah tidak mungkin untuk dia berjaga dan tidur di dalam kamar Tira, sehingga dia meminta ijin pada Tira tidur di depan pintu kamar Tira, dan Tira yang sebenarnya masih merasa begitu ketakutan, memaksa Ernest untuk membiarkan pintu kamarnya sedikit terbuka sehingga Tira bisa memastikan Ernest benar-benar tetap tinggal bersamanya, dan tidak jauh darinya.


"Hah... semoga kerja keras kami hari ini tidak sia-sia, dan besok bisa menemukan petunjuk baru tentang pengecut itu." Ernest berkata sambil menatap ke arah pintu kamar Tira, dimana dari posisi duduknya sekarang di atas sofa, Ernest bisa melihat sosok Tira yang tertidur dengan selimut tebal karena sekarang di sana mulai memasuki musim dingin.


"Kenapa gadis sebaik dan selembut dirimu, harus mengalami nasib seperti itu? Harus bertemu dengan seorang psikopat aneh yang tidak bertanggung jawab seperti itu." Ernest berbisik pelan tanpa bisa mengalihkan pandangan matanya dari Tira, meskipun jam terus berjalan, Ernest tahu sepanjang malam ini dia tidak akan bisa tidur, karena setiap kali dia sadar bahwa dia sedang berada di depan pintu kamar Tira, membuat dadanya berdegup dengan begitu kencang, dan pikirannya melayang kemana-mana, membayangkan hal yang tidak-tidak.


Tira sendiri, meskipun terlihat tenang dan tertidur, beberapa kali Tira tampak terbangun dengan tubuh gemetar karena ingat kejadian tadi malam, dan ketika dia terbangun, hal pertama yang dilakukan oleh Tira adalah melihat ke arah pintu kamarnya, dimana terlihat sosok Ernest yang tadi masih sibuk melakukan pekerjaannya bersama dengan Edi dan Steven.


Bagi Tira, meskipun Ernest terlihat sedang tertidur, baginya tidak masalah selama matanya bisa menangkap sosok Ernest yagn benar-benar berada di dekatnya, dan membuatnya merasa tenang karena dijaga oleh Ernest.


Sepanjang malam, baik Tira maupun Ernest, secara bergantian, saling memandang dan mengamati satu sama lain, meskipun tidak pernah mata mereka saling bertemu, tapi perasaan dan hati mereka, mengalami hal yang sama.


Sama-sama saling mengagumi, sama-sama merasa berdebar-debar setiap kali mata menatap dengan tatapan terpesonanya satu dengan yang lain, sama-sama diam memendam rasa, dan sama-sama tidak berani mengungkapkan perasaan yang sebenarnya, meskipun cinta yang mereka rasakan dalam hati semakin lama semakin dalam dan semakin sulit untuk dikendalikan.

__ADS_1


# # # # # # #


"Selamat pagi Tuan Putri." Suara lembut Ernest yang menyapanya membuat Tira yang sebenarnya masih merasa berat untuk bangun, tapi terpaksa bersiap untuk berangkat ke kampus, menjadi melebarkan matanya.


Bagaimanapun, untuk beberapa waktu ini, suara Ernest menjadi seperti suara musik yang begitu merdu di telinga Tira, dan menghangatkan hatinya.


"Selamat pagi Ernest." Tira menjawab sapaan Ernest sambil menatap ke arah Ernest dengan tatapan kagum.


Tira yang merasa ogah-ogahan untuk berangkat ke kampus karena selain masih merasa was-was, dia juga kurang tidur semalam, merasa begitu takjub melihat penampilan Ernest yang sudah rapi dan tampak segar juga harum, padahal semalam Tira berani memastikan kalau sampai dini hari tadi Ernest masih sibuk melakukan panggilan telepon dengan Edi dan Steven.


Pengawal pribadi kak Alvero, benar-benar memiliki stamina yang tangguh. Bagaimana bisa dia terlihat begitu segar dan tidak terlihat lelah sama sekali, padahal banyak hal yang terjadi kemarin, dan dia juga bekerja hingga dini hari bersama yang lain.


Tira berkata dalam hati dengan wajahnya yang terlihat kagum pada Ernest.


Ernest pasti sudah sangat terlatih fisiknya, dan itu terlihat dari bentuk pertunya yang rata, dan juga otot yang membentuk tubuhnya, yang terlihat begitu atletis dan.... Hah....


Tira yang masih mengagumi Ernest dalam hati langsung menghentikan bicaranya begitu pikirannya mulai membayangkan yang tidak-tidak begitu dia mengamati bentuk tubuh Ernest yang begitu sempurna sebagai seorang pria yang fisiknya memang terlatih sejak kecil, dimana bentuk tubuhnya yang mengagumkan itu semakin terliaht jelas dengan kaos slimfit yang dikenakananya saat ini.

__ADS_1


Kaos yang terliaht ketat itu justru membuat bentuk tubuh Ernest tercetak jelas dan membuat Tira harus mengalihkan pandangannya dari Ernest sebelum pikiran mesumnya kembali menghampiri otaknya.


__ADS_2