MY BELOVED KNIGHT

MY BELOVED KNIGHT
MASIH MENCOBA MEMBUKTIKAN LAGI


__ADS_3

Steven sendiri, sebagai seorang pengawal istana, mau tidak mau memiliki kepekaan yang lebih tinggi dibandingkan dengan orang lain karena tuntutan pekerjaan, bisa merasakan kalau sedari tadi Tira sedang menatap ke arahnya tanpa berkedip, sehingga membuatnya melirik ke arah spion untuk memastikan apakah memang Tira sedang menatap ke arahnya.


Tatapan mata serius dari Tira membuat Streven berdehem pelan sambil menarik nafas panjang untuk menghilangkan rasa canggung pada dirinya.


“Maaf Putri… apa ada masalah dengan kepala atau rambut saya? Kenapa Putri memandangnya seperti itu?” Akhirnya Steven memberanikan diri untuk bertanya kepada Tira.


Apa dengan mengobrol bersama Steven bisa membuat dadaku berdebar?


Tira berkata dalam hati sambil tersenyum ke arah Steven.


“Tidak Steven, aku hanya penasaran dengan kehidupanmu selama ini. Apa boleh aku bertanya beberapa hal tentangmu?” Pertanyaan Tira membuat Steven sedikit kikuk.


Terus terang, meskipun tidak sebentar Steven menjadi pengawal istana, tapi dia belum pernah menjadi pengawal pribadi salah satu putri atau pangeran, sehingga sikap ramah dan lembut Tira membuatnya seringkali terpana dan terkagum-kagum, sekaligus meemberikan rasa bangga pada dirinya sendiri.


“Eh… silahkan Putri. Apapun yang Putri tanyakan, saya akan berusaha untuk menjawabnya dengan baik.” Steven berkata dengan mata fokus menatap ke depan namun telinganya terbuka lebar untuk fokus bisa dengan apa yang akan Tira katakan.


Setelah beberapa lama Tira berbincang-bincang dengan Steven tentang kehidupan Steven, bahkan hobi dan keluarganya, Tira terdiam untuk beberapa saat sambil menarik nafas panjang.


Kenapa sampai detik ini, aku tidak merasakan debaran apapun saat berbicara tentang kehidupan Steven? Bahkan jika boleh jujur, aku tidak begitu tertarik dengan kehidupan Steven, tapi kenapa....

__ADS_1


Tira menghentikan kata-katanya dalam hati.


Bahkan memikirkan tentang siapa yang sedangdekat dengan Ernest, apa yang disukainya membuatku merasa begitu penasaran. Apa mungkin....


Tira kembali menghentikan kata-katanya dalam hati lagi.


Apa mungkin aku sudah salah sasaran? Apa seharusnya Edi yang mengawalku hari ini? Kalau dipikir-pikir, sifat Steven yang begitu pendiam memang sangat jauh berbeda dengan Ernest. Tapi Edi memiliki kemiripan sifat dengan Ernest yang memang selalu besikap humble pada siapapun dan selalu terlihat menyenangkan.


Sambil berkata dalam hati angan-angan Tira melayang pada sosok Edi yang memang ramah dan murah senyum seperti Ernest, berbeda jauh dengan sosok Steven yang tidak banyak bicara dan wajah seriusnya selalu terpasang di situasi apapun.


Meskipun sosok Steven tidaklah sedingin Erich, tapi Steven juga bukanlah orang yang bisa dibilang ramah apalagi murah senyum.


Kalau begitu apa yang harus aku lakukan sekarang?


Tira mulai memikirkan cara lain untuk membuktikan apa yang sedang terjadi pada dirinya.


"Hah...." Suara desahhhh.... han panjang dari Tira membuat Steven langsung melirik ke arah spion dan mencoba menebak apa yang terjadi, kenapa Tira terlihat sedikit suntuk wajahnya, sehingga dia bertanya-tanya dalam hati apa dia sudah melakukan kesalahan pada Tira atau salah bicara saat menjawab semua pertanyaan Tira tadi.


Dan rasa penasaran bercampur dengan rasa bersalah terus menghantui Steven sepanjang perjalanan yang akhirnya berlangsung dalam kesunyian, tanpa adalagi kata-kata yang terucap dari bibir Tira.

__ADS_1


"Putri... kita sudah sampai." Dengan suara ragu Steven berkata kepada Tira yang tampak melamun dengan mata menatap ke arah jendela mobil di sampingnya sambil menahan menopang dahunya dengan punggung telapak tangannya.


"Ah ya. Terimakasih Steven. Sebaiknya kamu kembali ke apartemen sekarang dan minta Edi untuk menggantikanmu." Steven langsung menoleh dengan pandangan mata kaget melihat ke arah Tira dengan ragu karena kata-kata Tira barusan.


"Maaf Putri... apa saya sudah melakukan kesalahan pada Putri?" Dengan suara terdengar ragu, Steven berkata kepada Tira karena merasa tidak enak.


"Eh?" Tira yang sedang menyiapkan tasnya untuk dibawanya turun langsung menoleh ke arah Steven.


Aduh, apa perintahku barusan membuat Steven tersinggung ya? Padahal bukan itu maksudku. Mau bagaimana lagi? Aku harus bisa menemukan jawaban atas apa yang terjadi padaku. Aku mau menemukan jawabannya hari ini juga. Untuk itu aku mau lebih meyakinkan diriku sendiri dengan bantuan keberadaan Edi. Kalau keberadaan Steven tidak memberikan pengaruh padaku, apa keberadaan Edi juga tidak akan memberikan efek padaku juga?


Tira berkata dalam hati sambil menunjukkan senyumnya kepada Steven agar tidak merasa tidak enak hati.


"Bukan begitu Steven. Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan dengan Edi. Kamu tenang saja, aku ingin Edi menggantikanmu bukan karena kamu sudah melakukan sebuah kesalahan." Tira buru-buru mengatakan alasannya kenapa tiba-tiba ingin Edi menggantikan posisi Steven.


Meskipun masih dengan rasa penasarannya, akhirnya dengan cepat Steven bergerak untuk membukakan pintu mobil untuk Tira.


"Tapi Putri, jika saya berani meninggalkan Putri tanpa pengawalam sambil menunggu kedatangan Edi, pasti Tuan Ernest akan memarahi dan menyalahkan saya." Steven berkata sambil memundurkan tubuhnya, memberi jalan kepada Tira yang sudah keluar dari mobil dengan membawa tas di bahunya.


"Aku akan menunggu sampai Edi datang menyusul ke tempat ini baru aku pergi ke mall. Aku sendiri yang akan menghubungi Ernest untuk menyampaikan keinginanku barusan. Jangan khawatir, Ernest tidak akan memarahimu karena ini adalah permintaanku." Tira berusaha meyakinkan Steven yang jujur saja tidak berani menyanggah perintah dari Tira meski merasa penasaran dengan sikap Tira yang menurutnya terlihat sedikit aneh hari ini.

__ADS_1


__ADS_2