
Kedua orang itu tampak mengernyitkan dahinya begitu melihat bagaimana Ernest maupun Erich tampilannya tampak seperti orang berpendidikan dari pakaian mahal yang dikenakan oleh mereka.
Dan wajah kusut mereka, seperti seorang pekerja keras yang baru saja menyelesaikan pekerjaannya yang menumpuk di kantor tempat mereka bekerja, yang dari bagaimana cara mereka berpakaian menunjukkan kalau tempat kerja mereka pastinya bukan tempat kerja yang biasa-biasa saja, tapi sebuah perusahaan besar, dan mereka berdua adalah dua orang dengan posisi cukup penting melihat tampilan dan jenis pakaian mereka.
Erich yang melihat bagaimana mobil pengejarnya sedang berusaha mengimbangi kecepatan mobilnya agar bisa melihat dan mengamati dia dan Ernest, justru membuka kaca jendelanya dan membalas tatapan mereka, sambil berpura-pura tersenyum ramah ke arah mereka, yang wajahnya tampak serius dan tampak tidak perduli dengan sikap Erich yang wajahnya sengaja dia buat kaget, dan juga bertanya-tanya, karena ada mobil yang terus memepetnya.
Melihat wajah tidak bersahabat dari mereka yang ada di mobil itu, membuat Erich menganggukkan kepalanya pelan sebelum dia akhirnya menutup kembali jendelanya tanpa perduli dengan tanggapan para anak buah Theo itu.
Ernest sendiri dari sudut matanya yang sedikit terbuka mencoba melirik ke arah samping dan mengamati apa yang sedang dilakukan oleh para penumpang dari mobil yang sedang mengejar mereka itu.
Setelah mereka bertiga, kecuali petugas yang bertugas mengamati mereka, pada akhirnya, mereka bertiga tidak mendapatkan petunjuk apapun tentang penyusup itu, dan melihat tampilan Ernest dan Erich yang tidak mirip dengan sosok yang tadi menyusup ke rumah tuannya, akhirnya tanpa melanjutkan pengamatan mereka pada Erich dan Ernest, mereka kembali melajukan mobil mereka dengan kecepatan tinggi.
“Sepertinya mereka berniat mengejar penyusup itu lagi.” Ernest langsung berkomentar begitu dari sudut matanya yang sedikit terbuka tadi melihat bahwa mobil yang mengejar mereka sekarang justru menjauh meninggalkan mobil mereka dengan kecepatan tinggi.
__ADS_1
“Mereka pasti sedang berpikir kalau mobil yang sedang mereka kejar saat ini sudah berada jauh di depan sana.” Ernest kembali mengucapkan kata-katanya sambil menarik tuas di samoing temapt duduknya kembali, membuat posisi kursi yang ditempatnya kembali dalam posisi tegak lurus.
“Semoga mereka saadar kalau kita sudah menghilang setelah mereka jauh di depan sana.” Erich berkata sambil membelokkan setir mobilnya, menuju jalanan yang mengarah pada mansion keluarga Shaw.
“Ernest… sebenarnya, apa yang kamu dapatkan dari ruang kerja tuan Theo? Apa kamu menemukan sebuah petunjuk penting?” Erich yang tiba-tiba teringat bagaimana dia belum sempat membicarakan dengan Ernest tentang apa yang dia temukan, bertanya dengan mata tetap fokus ke arah jalanan yang boleh dibilang tidak sepi, meskipun juga tidak padat, padahal sudah dini hari.
“Aku menemukan beberapa petunjuk, salah satunya adalah belasan surat yang sepertinya sengaja disembunyikan dengan baik oleh tuan Theo….” Ernest berrkata sambil emnghela nafasnya, karena selain surat itu, dia kembali teringat akan tulisan yang tertera di balik lukisan seorang wanita muda dan seorang bayi mungil dalam gendongannya.
“Surat apa sampai terlihat begitu penting, hingga harus disembunyikan seperti itu?” Erich bertanya setelah sedikit menoleh ke arah Ernest meskipun hanya satu dua detik saja dan kembali fokus pada tugas mengemudinya.
‘Kenapa? Apa ada hal lain yang kamu temukan di ruang kerja itu? Petunjuk aneh atau bagaimana?” Erich langsung bertanya sambil berusaha untuk menebak-nebak begitu mendengar bagaimana Ernest tampak ragu menyampaikan apa yang sedang dipikirkannya.
Sebagai seorang saudara kembar Ernest yang sangat peka, Erich bisa langsung merasakan kalau ada hal besar lain yang sedang dipikirkan oleh Ernest saat ini.
__ADS_1
“Sebenarnya, lukisan yang aku ceritakan tadi, sepertinya adalah lukisan masa muda baroness Eliana bersama dengan tuan Theo saat bayi.” Kata-akta Ernest langsung membuat dahi Erich terlihat mengernyit dan tatapan matanya terlihat tajam.
“Apa dia anak yang diadopsi tuan Theo ketika bayi?” Pertanyaan dari Erich membuat Ernest menghela nafasnya, karena hubungan Eliana dan Theo tampaknya tidak sesederhana itu.
“Itu tidak mungkin Erich. Kamu tahu sendiri dari info yang sudah kita kumpulkan tentang kehidupan masa lalu tuan Theo. Tuan Theo menghabiskan masa kecil sampai remajanya di panti asuhan, dan baru keluar setelah usianya cukup untuk hidup secara mandiri di luar sana.” Ernest langsung menyanggah kata-kata Ernest.
“Lalu apa yang terjadi? Apa mungkin mereka berdua memiliki hubungan ibu dan anak?” Pertanyaan Erich yang begitu tepat sasaran, membuat Ernest sedikit tersentak kaget, tidak meyangka tanpa tahu kondisi yang sebenarnya, Erich sudah bisa dengan cepat menebak apa yang sudah terjadi antara Theo dan Eliana, hubungan apa yang dimiliki oleh mereka berdua.
“Aku akan bacakan tulisan yang tertulis rapi di balik lukisan itu….” Ernest berkata sambil mengambil handphonenya, dan membuka gallery di handphonenya untuk melihat hasil jepretan kamera handphonenya yang dia gunakan untuk mengambol foto tulisan di balik lukisan ayng sebenarnya tampak indah tapi memancarkan aura kesedihan yang dalam itu.
“Gadis yang cantik tapi sarat dengan kesedihan dan penyesalan. Aku berharap lukisan ini bisa membuatnya berpikir ulang untuk tidak melakukan hal yang mungkin akan disesalinya di kemudian hari. Aku harap sampai akhir dia tetap membawa bayi tampan itu dalam dekapannya, dan tidak membuangnya, seperti yang dia katakan sebelum aku melukisnya, sebagai kenangan terakhirnya bersama putra pertamanya Theo William sebelum mereka berpisah. Untuk sahabat baikku Eliana. Tgl xx, bulan xx, tahun xxxx.” Ernest membacakan tulisan itu sambil melirik kea rah Erich yang tangannya tampak mencengkeram dengan erat setir mobil yang dipegangnya.
Meskipun Erich sudah bersiap dengan cerita yang sudah ditebaknya itu, tapi mendengar apa yang dibacakan oleh Ernest itu cukup membuat jantungnya berdegup kencang dengan perasaan tidak tenang.
__ADS_1
“Ternyata… Eliana masih memiliki seorang anak lagi selain Dion dan juga Desya. Kenapa kita tidak bisa menemukan info tentang anak itu? Kita benar-benar telah dibodohi oleh Eliana karena menganggap semuanya akan baik-baik saja selama Eliana tetap terkurung di tempatnya. Padahal ada seorang lagi anak Eliana yang berpotensi besar menimbulkan kekacauan kembali di Gracetian.” Ernest langsung menghela nafasnya begitu mendengar apa yang dikatakan oleh Erich.
“Salah satu alasan kenapa kita tidak bisa dengan mudah menemukan info tentang tuan Theo sebagai anak dari baroness Eliana, mungkin karena keberadaan tuan Theo yang ada di Amerika. Kalau dilihaat dari waktu kejadiannya, itu terjadi ketika baroness Eliana sedang menyelesaikan kuliahnya di Amerika. Saat itu memang sebagai bangsawan kelas menengah ke bawah seperti kita, sosok baroness Eliana tidak banyak dikenal di kalangan bangsawan yang ada di Gracetian.” Ernest berusaha memikirkan hal yang paling masuk akal tentang apa yang sudah terjadi di masa lalu itu.