
"My Al, masalah pinggang pegal adalah hal yang umum terjadi pada wanita hamil, apalagi dengan usia kehamilan yang semakin tua. Belum lagi bayi dalam perutku adalah laki-laki, yang biasanya memang lebih aktif daripada bayi perempuan. Tapi aku baik-baik saja my Al. Jangan terlalu khawatir, karena ini adalah hal normal yang dialami wanita hamil. Hal yang sangat normal…." Penjelasan Deanda membuat Alvero mengernyitkan dahinya dan menatap Deanda tanpa berkedip.
"Kamu tidak berbohong padaku kan? Kamu bukan sekedar membuatku tenang hanya karena ingin aku mengijinkanmu pergi kan?" Deanda sedikit menaikkan salah satu alisnya mendengar apa yang dikatakan Alvero padanya.
"Ist... my Al... jangan berpikir yang aneh-aneh. Bagiku, jagoan kita yang ada di dalam sini adalah hal terindah yang akan ada diantara kita. Aku pasti akan menjaganya dengan baik dan tidak akan melakukan hal yang bisa membahayakannya. Kamu tahu bahwa keberadaan bayi kita adalah hal yang sangat penting bagiku, bukan hanya bagimu saja my Al. Kalian berdua, adalah hal terindah hadiah dari surga untukku." Deanda berusaha meyakinkan Alvero bahwa dia memang baik-baik saja dengan kehamilannya.
Ah… bahkan bagiku kamu adalah segala-galanya bagiku, yang sudah membuat hidupku yang awalnya seperti berada di tepi jurang, jadi berubah ke tempat dimana semuanya terasa begitu indah di sekelilingku. Dan aku selalu ingin yang terbaik bagimu, yang membuatmu merasa bahagia.
Alvero berkata dalam hati sambil menatap lembut ke arah Deanda untuk menunjukkan rasa sayangnya pada permaisurinya itu.
"Kalau begitu biarkan dokter yang memutuskan apa kamu boleh terbang ke Amerika atau tidak. Jika boleh, dengan senang hati aku akan mengantarmu, tapi jika tidak, kamu harus berjanji tidak akan bersikeras untuk pergi." Alvero akhirnya mencari solusi terbaik yang dia bisa, yang tetap membuat hatinya tenang, dan Deanda juga merasa lega.
"Oke, kita sepakat... terimakasih my Al...." Deanda berkata sambil tertawa senang sebelum menghadiahi Alvero sebuah ciuman hangat di bibir Alvero yang langsung tersentak kaget dan hampir tersedak mendapat hadiah dari istri tercintanya itu.
“Sweety….” Dengan lembut Alvero langsung menyebutkan nama panggilan kesayanganya terhadap Deanda dengan tangan yang sudah bersiap menelusup kembali ke balik kemeja yang dikenakan oleh Deanda.
Namun dengan cepat, tangan Deanda dnegan buru-buru menahan gerakan Alvero dan berusaha meenjauhkan tangan itu dari tubuhnya.
__ADS_1
“My Al, waktu istirahat sudah habis, waktunya kembali bekerja.” Deanda berkata dengan senyum manisnya, meskipun bagi Alvero itu adalah senyum memeatikan yang memberinya peringatan keras agar dia tidak meneruskan aksinya dan membiarkan beberapa jam ke depan pasti pikirannya tidak tenang, karena juniornya baru saja terbangun, dan akan sulit untuk dia tidurkan kembali sebelum bertemu dengan sarangnya.
Untuk itu, Alvero tahu bahwa seharian ini pasti pikirannya akan tidak fokus dan mengembara kemana-mana sampai nanti malam, dimana tidak adalagi alasan dan hal yang bisa mengusiknya menghabiskan waktu berdua dengan wanitanya miliknya itu.
# # # # # # #
Ah, rasanya lega sekali mendengar penjelasan kak Alvero tentang Ernest. Meskipun dia tidak pandai memainkan alat musik, paling tidak dia bisa. Seperti yang dikatakan kak Alvero, itu sudah cukup dan itu penting karena jika tidak dia akan benar-benar membuat nilaiku hancur.
Tira berkata dalam hati dengan hati yang merasa lega, dan membuatnya dengan cepat tanpa ragu langsung mengiyakan rencana pertemuan mereka untuk berlatih dengan membalas chat dari Bram yang sudah membuat grup baru dan mengajak mereka menentukan hari dimana mereka bisa bertemu dan mencoba mulai berlatih.
Bagaimana dengan rencana pertemuan awal kelompok kita? Sebaiknya kita sesegera mungkin bertemu untuk bisa melakukan koordinasi, karena waktu kita tidak banyak.
Besok sore atau lusa jadwalku kosong karena tidak ada jadwal kuliah.
Tira menuliskan sebuah pesan di grup yang berisikan dirinya, Bram, Ernest dan juga Janetta yang berada dalam satu kelompok untuk membentuk band musik dan memainkan salah satu lagu dengan tipe instrumental sebagai bahan ujian, salah satu syarat kelulusan dalam mata kuliah yang diikuti mereka.
Bagaimana dengan yang lain? Kapan kalian bisa mengaturkan waktu untuk pertemuan pertama kita kali ini?
__ADS_1
Sebuah pesan masuk dari Bram segera kembali telihat masuk dalam grup tersebut.
Besok aku bisa, justru lusa aku tidak bisa karena sudah ada janji dengan seseorang dan tidak bisa aku batalkan.
Janetta membalas pesan Bram.
Aku bisa baik besok sore atau lusa. Aku ikut suara terbanyak saja.
Ernest juga ikut memberikan jawaban atas pertanyaan Bram, membuat Tira tersenyum lega, karena besok dia bisa segera tahu apa alat musik yang bisa dimainkan oleh Ernest, dan sejauh mana kemampuan Ernest untuk memaminkan alat musik itu.
Dan selagi ada waktu, Tira sudah berangan-angan akan mencarikan guru les private untuk Ernest jika memang itu diperlukan agar Ernest bisa memiliki kemajuan pesat dalam memainkan alat musik dan membuat kelompok mereka berhasil dengan baik menyelesaikan tugasnya.
Kalau beegitu kita putuskan besok jam 6 sore kita bertemu di studio gedung kampus musik sebelah utara, untuk berlatih bersama dan menentukan lagu yang akan kita pilih, dan alat musik apa yang akan kita mainkan untuk setiap masing-masing anggota.
Bram sebagai ketua kelompok yang sudah ditunjuk oleh mereka segera membuat keputusan untuk waktu dan tempat pertemuan mereka besok.
Sebuah pertemuan yang tanpa sadar membuat Tira merasa begitu penasaran, karena ingin segera mengetahui kemampuan Ernest dalam memainkan salah satu alat musik, dan tanpa bisa menghindar, ada rasa berdebar dalam dada Tira saat dia memikirkan tentang hal itu.
__ADS_1
Sebuah debaran halus di dadanya yang cukup membuat wajahnya tiba-tiba terasa panas sehingga dia mengipas-kipaskan telapak tangannya ke wajahnya sendiri tanpa sadar.