MY BELOVED KNIGHT

MY BELOVED KNIGHT
PENOLAKAN ERNEST


__ADS_3

Setelah Tira tampak pergi menjauh, mau tidak mau Ernest kembali menatap ke arah Janetta yang sedang menunggu jawaban darinya dengan wajah berharapnya, dan tidak bisa menyembunyikan bagaimana tatapan Janetta yang sedang memandangi Ernest dengan tatapan menyelidik, dari kepala hingga kaki, mengamati bentuk tubuh Ernest yang memang terliaht begitu sempurna sebagai seorang pria.


Bukan sekedar sempurna, tapi juga tampan, sehingga membuat Janetta tidak bisa menahan diri untuk tidak menatapnya tanpa berkedip.


Dan Ernest bisa melihat dari sikap dan tatapan mata Janetta kalau gadis itu sedang memikirkan hal yang aneh-aneh tentangnya, dan mungkin juga kea rah pikiran yang kotor, membuat Ernest merasa tidak nyaman.


Hah… Janetta ini sepertinya benar-benar gadis yang agresif. Aku harus segera menghindarinya daripada ke depannya dia akan menjadi masalah baru untukku. Lebih baik aku segera mencari alasan untuk menolaknya permintaannya. Aku berada di Amerika untuk mengawal putri Tira sebaik mungkin, bukan untuk bersenang-senang.


Ernest berkata dalam hati dengan sikap canggung karena merasa tidak nyaman dengan cara Janetta menatapnya, seolah ingin menelanjanginya bulat-bulat, sehingga membuat Ernest merasa sangat tidak nyaman.


“Maaf Janettta, setelah ini aku sudah ada janji dengan teman-temanku yang berkunjung dari jauh.” Dengan sikap tenang dan wajah ramahnya, Ernest mencoba menolak permintaan Janetta dengan halus.


“Janji dengan teman? Dimana? Apa mungkin tempat pertemuannya searah dengan rumahku? Kalau begitu aku bisa menumpang mobilmu kan sambil kamu pergi ke tempat pertemuan?” Ernest sedikit menahan nafasnya mendengar bagaimana Janetta yang masih berusaha untuk tetap ikut dengannya.


“Pertemuan kami berada di wilayah X.” Erenest yang selalu mengamati orang-orang di sekitar Tira dan tahu detail info tentang mereka termasuk tempat tinggalnya, langsung mengatakan wilayah yang benar-benar berlawanan arah dengan rumah Janetta.


“Ah, sayang sekali, wilayah itu berlawanan arah dengan arah rumahku, dan letaknya cukup jauh dari rumahku. Sepertinya kali ini kamu tidak mungkin bisa mengantarku.” Dengan nada kecewa Janetta berkata pelan.


“Kalau begitu maaf aku tidak bisa banyak membantumu kali ini… ah sebentar….” Ernest menghentikan bicaranya begitu mendengar ada suara notifikasi pesan masuk di handphonenya.

__ADS_1


Ernest, kunci mobilmu ada di aku. Aku akan menunggumu di dekat parkiran kalau kamu mau mengambilnya. Atau aku titipkan di security? Supaya kamu tidak merasa canggung kalau sampai Janetta yang akan kamu antar pulang melihatku menunggumu di parkiran, karena aku juga mau segera pualng ke apartemen.


Sebuah pesan masuk dari Tira memebuat Ernest sedikit menyungingkan senyum tipis.


Aist... dengan senyum setipis itupun dia terlihat begitu tampan. Bagaimana bisa ada pria sesempurna Ernest di dunia ini? Sepertinya aku harus berjuang cukup keras untuk mendapatkan hatinya. Tapi kalau bisa mendapatkan laki-laki sekeren dia, seberat apapun perjuangannya pasti akan impas dengan hasilnya.


Janetta berkata dalam hati dengan tatapan penuh kekaguman menatap Ernest yang buru-buru membalas pesan dari Tira.


Tidak putri. Saya tidak ada rencana mengantar Janetta. Tidak mungkin saya membiarkan putri pulang sendiri tanpa pengawalan. Saya akan segera kesana mengambil kuncinya. Tolong jangan pergi sendirian dan menunggu saya agar bisa mengawal putri pulang.


Balasan pesan dari Ernest, membuat wajah murung dari Tira tiba-tiba berubah cerah, sambil kedua bibirnya yang terlipat di dalam menyunggingkan senyum yang berusaha ditahannya, tapi ternyata rasa puas dan bahagia dalam hatinya membuat dia tidak bisa menyembunyikan senyum manisnya itu.


Tira kembali menuliskan pesan kepada Ernest sambil membuka pintu mobilnya sendiri dan masuk ke dalamnya.


Baik Putri. Saya akan segera kesana untuk menemui Putri.


Pesan balasan selanjutnya dari Ernest disambut dengan sebuah senyum lebar oleh Tira yang tangannya menarik tuas yang ada pada samping kursi pengemudi, untuk sedikit menggerakkan bagian sandaran kursi agar lebih nyaman untuk dia sedikit berbaring sambil menunggu Ernest.


Kegiatan belanja di mall juga latihan musik hari ini cukup menguras energinya, sehingga Tira ingin sedikit beristirahat.

__ADS_1


Lebih baik aku menunggu Ernest sambil beristirahat sebentar.


Tira berkata dalam hati sambil membenarkan posisi duduknya supaya bisa bersandar dengan nyaman setelah menyalakan musik dengan suara pelan.


Tidak perlu menunggu menit berlalu, Tira yang memang merasa lelah langsung memejamkan matanya sambil menikmati alunan musik klasik yang sedang dia dengar.


"Brak!"


Sebuah suara benda yang tebentur benda keras membuat Tira yang sedang memejamkan matanya dan bersandar di kursi mobilnya langsung tersentak kaget dan dengan cepat menegakkan tubuhnya yang tadinya setengah berbaring berniat untuk beristirahat barang sebentar.


Suara apa itu tadi?


Tira langsung bertanya-tanya dalam hati sambil menatap keluar kaca jendela mobilnya.


Sekilas Tira bisa melihat bagaimana seseorang yang sedang mengendarai sepeda dengan kecepatan tinggi sudah melempar sesuatu dan mengenai kap mobilnya.


Meskipun Tira berusaha mengenali sosok orang yang mengendarai sepeda dengan cepat itu, namun pada akhirnya Tira tidak bisa mengenali siapa orang tersebut karena memakai jaket tebal, kacamata hitam, masker dan topi yang membuat Tira sulit bahkan untuk sekedar menebak siapa sebenarnya orang itu.


Mata Tira langsung melotot begitu melihat dari balik kaca mobilnya, tampak sebuah kotak bewarna merah muda seperti biasanya, tergeletak di dekat ban bagian depan mobilnya karena terlempar setelah terbentur kap mobil Tira.

__ADS_1


Dengan tubuh sedikit bergetar, Tira memandang ke sekelilingnya tanpa berani keluar dari mobil, dan Tira bisa melihat bahwa saat ini tidak ada seorangpun yang ada di area perkiran itu, sehingga Tira memutuskan untuk tetap berdiam di tempatnya, tanpa berani membuka pintu mobilnya yang terkunci, apalagi mengambil kotak berwarna merah mudah itu.


__ADS_2