MY BELOVED KNIGHT

MY BELOVED KNIGHT
USAHA GAGAL TIRA HARI INI


__ADS_3

“Putri… saya….” Pertanyaan Tira membuat Ernest langsung terlihat begitu gugup, apalagi Ernest melihat Tira berjalan mendekat ke arahnya.


Aku mohon putri, jangan bertanya tentang hal yang tidak bisa aku jawab dengan mudah seperti itu. Aku… tidak akan bisa menjawab pertanyaan itu di depan putri.


Ernest berkata dalam hati dengan sikap diam terpaku dan sikap yang terlihat kaku, membuat Tira merasa semakin penasaran dengan jawaban Ernest.


“Kenapa Ernest? Apa begitu sulit menyebutkan nama gadis yang begitu beruntung itu?” Pertanyaan Tira berikutnya membuat Ernest semakin tidak tahu apa yang harus dikatakannya untuk menjawab pertanyaan Tira.


Bisa saja dia berbohong saat ini, tapi dengan tatapan mata Tira yang sednag menatap lurus ke arahnya dengan tatapan tajam, Ernest tahu akan membuat dia sulit untuk berbobong pada gadis cantik itu.


“Saya…..”


“Ting tong….” Sebuah suara bel membuat hati Ernest yang rasanya hampir meledak karena pertanyaan Tira barusan, langsung terasa lega, apalagi suara bel itu membuat Tira langsung menoleh ke arah pintu, membuat Ernest memiliki kesempatan untuk mengatur nafasnya yang tadi hampir tersengal, dan wajahnya yang tampak tegang.


“Saya akan memeriksa siapa yang datang Putri.” Dan dengan cepat Ernest berkata sambil berjalan dengan langkah lebar ke arah pintu, sehingga dia tidak bisa mendengar bagaimana Tira baru saja menghela nafasnya karena kecewa tidak berhasil mendapatkan jawaban dari Ernest.

__ADS_1


“Selamat siang Tuan Ernest.” Suara sapaan dari Steven dan Edi yang dibukakakn ointu oleh Ernest, membuat Ernest langsung menghembuskan nafas lega lewat sela-sela bibirnya.


Jika saja yang datang adalah orang lain, mungkin Ernest tidak akan bisa lepas dari pertanyaan Tira yang pasti akan kembali dia pertanyakan saat tamu yang datang pergi dan berlalu.


Akan tetapi dengan kehadiran Steven dan Edi, yang akan membantu untuk membereskan apartemen Tira, paling tidak akan membuat pikiran Tira sedikit teralihkan, dan Ernest berharap kalau Tira melupakan apa yang tadi sempat dia tanyakan itu dengan kesibukan mereka setelah ini.


Ah… padahal aku hampir saja mendapatkan jawaban atas rasa penasaranku terhadap isi hati Ernest, ternyata aku harus mencari kesempatan lain untuk bisa membuat Ernest mengatakan perasaannya. Aku harap aku segera menemukan cara untuk itu.


Tira yang melihat kehadiran Steven dan Edi hanya bisa berkata dalam hati dengan mata menatap ke arah Steven dan Edi dengan sikap pasrah.


“Selamat siang Putri…”


“Waktu kita tidak banyak, sebaiknya kita mulai sekarang berberesnya.” Ernest berkata tanpa berani membiarkan matanya bertatapan dengan mata Tira yang kebetulan sedang fokus pada handphone di tangannya setelah mendengar suara nada dering yang merupakan panggilan telepon dari seseorang.


“Hallo Kak Deanda….” Ernest sedikit menoleh mendengar bagaimana Tira yang menyebutkan nama Deanda begitu mengangkat panggilan telepon itu.

__ADS_1


“O ya? Aku senang sekali mendengarnya Kak….” Tira berkata sambil melangkah masuk ke dalam kamarnya, meninggalkan Ernest yang terus menatapnya tanpa henti meski hanya melalui sudut matanya.


“Cladia dan Laurel ingin bertemu denganmu. Bagaimana kalau setelah kami mampir ke apartemenmu, beberapa hari ini kamu ikut bersama kami tinggal di mansion keluarga Shaw?” Pertanyaan Deanda membuat Tira yang sudah mengambil posisi duduk di sofanya, yang ada di kamarnya tersenyum lebar.


“Apakah kehadiranku tidak akan mengganggu kalian?”


“Omong kosong macam ap aini?” Deanda langsung memprotes kata-kata Tira sambil tertawa kecil.


“Seperti yang aku katakan sebelumnya, Laurel dan Cladia ingin bertemu denganmu, kenapa harus merasa sungkan? Kamu ini ada-ada saja.” Tira langsung tersenyum lebar mendengar kata-kata Deanda, seorang sosok wanita yang sejak pertemuan pertama mereka di istana, saat Alvero memperkenalkannya sebagai calon istrinya, sudah membuat Tira begitu tertarik dan ingin dekat dengannya.


“Oke-oke Kak, jangan marah… tidak baik untuk kesehatan bayi di perut Kakak.” Tira langsung berkata dengan nada bercandanya.


“Kalau tidak ingin begitu lahir keponakanmu ini kesal padamu, kamu harus mendengarkan apa yang diminta oleh mamanya.” Deanda berkata dengan nada senangnya karena meskipun Tira tidak menjawab iya, dia yakin Tira benar-benar akan ikut dengannya untuk menginap di mansion keluarga Shaw untuk beberapa lama ini.


“Kalau begitu, tolong kamu bersiap Tira, karena sebenarnya malam ini adakn ada acara makan malam resmi di mansion keluarga Shaw, karena mereka baru pertama kalinya mendapatkan kehormatan untuk mendapatkan kunjungan dan bertemu dengan Ornado. Kamu tahu sendiri, teman kita yang satu itu, selalu saja membuat orang lain heboh dengna kehadirannya sebagai sosok pengusaha hebat yang merajai hampir seluruh lini bisnis di dunia ini.” Deanda berkata sambil tertawa kecil.

__ADS_1


Kata-katanya sendiri itu membuat Deanda sedikit geli karena mengingat bagaimana Cladia sebagai teman dekatnya seringkali menceritakan bagaimana susahnya Cladia menghadapi sorotan banyak orang saat pergi bersama Ornado kemanapun, apalagi jika orang-orang di sekitar mereka menyadari siapa sosok Ornado yang membuat mereka memperlakukan mereka secara berlebihan.


Bagi Deanda, sebagai istri dari Raja Gracetian yang dikenal sebagai salah satu negara dengan tingkat kemakmuran yang tinggi dibandingkan dengan negara lain, Deanda yang memang statusnya adalah seorang permaisuri, kadang harus siap menghadapi orang-orang yang meliaht kehadirannya sebagai sosok yang dinilai dalam segala tingkah laku maupun penampilan fisik dan juga caranya bersosialisasi.


__ADS_2