
“Oke, aku ikut saja apa yang kamu katakan Tira.” Ernest berkata sambil bangkit dari duduknya, dengan tas ransel di pundaknya, dan tas saxsofon tergantung di tangannya, membuat penampilannya terlihat begitu muda dan menarik bagi pandangan mata Tira yang barusan kembali menoleh karena merasakan gerakan Ernest yang bangkit dari duduknya.
Dengan penampilan Ernest sekarang, orang tidak akan mengira bahwa laki-laki itu usianya sudah di atas 25 tahun, sebuah angka yang boleh dibilang tidak lagi muda untuk seorang mahasiswa baru di angkatan pertama.
“Terimakasih….” Ucapan terimakasih yang tiba-tiba diucapkan oleh Tira membuat Ernest menghentikan niatnya untuk melangkah pergi dan mengernyitkan dahinya, karena dia sendiri tidak tahu kenapa Tira tiba-tiba saja mengucapkan terimakasih padanya.
Ernest langsung menoleh ke arah Tira dengan wajah bertanya-tanya.
“Untuk lagu indahmu tadi. Aku belum sempat mengucapkan terimakasih.” Dengan senyum malu-malu, Tira berkata kepada Ernest yang membalasnya dengan senyum dan sebuah anggukan kecil.
“Kamu pantas mendapatkan hal-hal manis seperti itu.” Ernest berkata sebelum akhirnya berlalu dari hadapan Tira, karena dia sendiri harus menata jantungnya yang terus berdetak kencang karena kedekatannya dengan Tira selama mata kuliah berlangsung.
Hah… sepertinya aku akan benar-benar terkena serangan jantung kalau terus menerus harus berada di dekat putri Tira. Padahal beberapa waktu ini aku harus bertindak seperti orang yang tergila-gila padanya, meskipun sebenarnya, aku memang benar-benar menyukai putri Tira, seperti orang gila....
__ADS_1
Ernest melenguh dalam hati sambil berjalan menjah dari Tira, meskipun dia tahu, dai tetap mengambil jarak aman untuk bisa terus mengawal Tira.
Ah… kenapa putri semakin hari semakin terlihat begitu cantik dan menarik bagiku? Apakah mungkin jika….Aku benar-benar gila jika mengharapkan ada kesempatan untukku hidup bersama dengannya di masa depan.
Ernest yang tiba-tiba saja memikirkan apakah ada kemungkinan dia bisa hidup bersama Tira di masa depan, langsung mengomeli dirinya sendiri, dan hampir saja berniat memukuli kepalanya sendiri jika tidak sadar Tira masih berada di dekatnya.
Kata-kata jawaban Ernest setelah ucapan terimakasihnya, membuat Tira yang sudah berdiri dan bersiap untuk mengikuti kelas selanjutnya, tersenyum dengan wajah maluk-malu dan sedikit memerah, dan dengan langkah-langkah cepat, Tira menarik pergelangan tangan Anna untuk segera pergi meninggalkan Ernest.
Karena Tira yakin, kalau dia terlalu lama berada di dekat Ernest, wajahnya akan semakin memerah, jantungnya akan semakin keras berdetak, dan pikirannya akan semakin kacau karena tindakan Ernest yang memainkan saxsofon di sampingnya tadi benar-benar sudah membuat otaknya yang biasanya encer menjadi tumpul, bahkan semua yang diajarkan oleh Luis, rasanya tidak ada yang masuk ke otaknya sama sekali.
Tira berkata dalam hati sambil mempercepat langkah kakinya keluar dari kelas, membuat Anna hanya bisa mengikuti Tira dengan wajah bingung, karena sebenarnya, Anna merasa begitu penasaran dengan apa yang sudah terjadi antara Ernest dan Tira, termasuk penasaran dengan tanggapan Tira terhadap pernyataan cinta Ernest melalui alunan musiknya tadi.
Sosok Ernest yang bukan hanya tampan, tapi baik hati, ramah, perhatian dan hebat dalam banyak hal, membuat Anna yakin kalau Ernest adalah sosok laki-laki yang cocok dengan kriteria Tira, hanya saja, dengan perbedaan status mereka berdua, Anna tidak yakin apakah Ernest bisa menjadi laki-laki yang memenangkan hati Tira.
__ADS_1
Karena Tira sendiri, memang belum menceritakan apapun kepada Anna tentang bagaimana dia yang sudah menyadari bahwa dia sudah jatuh cinta pada Ernest dan bertekad untuk membuat Ernest juga menyukainya.
"Hei Ernest! Keren juga caramu menyatakan cintamu. Good luck Ernest." Robin yang berjalan dari arah bangku yang ada di belakang Ernest dan Tira, berkata sambil menyenggol bahu Ernest dengan siku tangannya, dan tanpa menunggu kata-kata balasan dari Ernest, Robin langsung berjalan meninggalkan Ernest.
Apa kamu serius memujiku seperti tadi Robin? Padahal dalam pengamatanku, kamu juga terlihat begitu menyukai putri Tira, dan secara diam-diam matamu tidak pernah lepas mengamati sosok putri Tira.
Ernest berkata dalam hati dengan mata menatap ke arah Robin yang bergegas dengan cepat meninggalkan kelas, seolah-olah ada hal penting yang harus dilakukannya saat ini.
"Kamu benar-benar sudah membuat banyak teman-temanku iri dan cemburu, apalagi kalau Tira benar-benar menerima pernyataan cintamu, sepertinya kamu akan membuat sejarah patah hati yang paling banyak dialami para mahasiswi dalam satu hari di kampus ini." Perkataan Bram yang tiba-tiba saja sudah berada di samping Ernest, membuat Ernest tersenyum kecut dan sedikit menahan nafasnya.
Sama halnya dengan Robin, Ernest bisa melihat dari gelagat yang ditunjukkan oleh Bram beberapa waktu ini, laki-laki itu juga terlihat menyimpan rasa seperti Robin dan beberapa mahasiswa yang lain, yang sebenarnya secara terang-terangan menunjukkan ketertarikan mereka pada Tira.
Hanya saja, Tira yang tidak pernah menanggapi godaan dan usaha pendekatan mereka, membuat mereka tidak berani bertindak lebih.
__ADS_1
Apalagi kebanyakan dari mereka pernah mendengar bagaimana Tira sudah beberapa kali sudah menolak dengan tegas pernyataan cinta dari para pria yang jatuh cinta padanya, membuat beberapa pria yang tertarik apdanya tapi tidak memiliki nyali yang cukup besar, tentu saja tidak berani mendekati Tira, apalagi menyatakan perasaan suka pada Tira, hanya berani mengamati Tira dari kejauhan saja secara diam-diam.