MY BELOVED KNIGHT

MY BELOVED KNIGHT
MIMPI BURUK ERICH


__ADS_3

Dengan gerakan bola matanya, Erich memberi kode kepada Ernest untuk bisa berpamitan kepada Alvero dan yang lain, agar bisa meninggalkan tempat itu, karena ada banyak hal yang sedang dipikirkan Erich untuk mempersiapkan rencana penyusupan mereka malam ini.


Selain itu, sebelum Ernest kembali ke apartemen, dia ingin sedikit mengobrol dengan Ernest, karena jujur saja, beberapa hari ini perasaan Erich merasa tidak tenang setiap kali dia teringat tentang Ernest.


Bahkan, kemarin malam, tiba-tiba saja Erich bermimpi tentang peristiwa hilangnya Ernest waktu itu, terseret aliran air setelah terkena luka tembak saat melawan pasukan pemberontak yang berusaha melawan pasukan kerajaan Gracetian.


Dengan nafas tersengal-sengal dan keringat dingin yang membasahi kening dan juga punggungnya, semalam Erich bangun dari tidurnya karena dikagetkan oleh mimpinya, disertai detakan jantungnya yang berdebar begitu keras.


Rasa takut kehilangan Ernest yang dulu sempat dia rasakan, dan begitu menghancurkan hatinya, seolah-olah terasa begitu nyata kembali dia alami semalam, membuat hati Erich merasa tidak tenang setelah malam kemarin, dan membuatnya tidak bisa tertidur lagi meskipun hari belum pagi dan waktunya dia bangun.


Sejak mengalami mimpi itu, Erich semakin yakin kalau ada sesuatu yang sedang terjadi pada Ernest, sehingga dia ingin mencari waktu agar bisa membicarakan hal itu dengan Ernest, dan sebisa mungkin ingin membantu Ernest jika memang saudara kembarnya itu benar sedang mengalami masalah.


Ernest… aku mohon… meskipun itu hanya mimpi, aku tidak mau kamu terluka dan menghilang dari kehidupanku secara tiba-tiba seperti waktu itu. Ketika itu kamau memang sangat beruntung bisa bertahan tanpa makan dan minum cukup lama, dengan tubuh penuh luka seperti itu. Tapi keberuntungan, tidak selalu ada bersama kita. Karena itu… aku harus menjagamu dengan baiak, agar kamu tidak mengalami hal mengerikan seperti itu kembali. Aku… tidak akan mampu bertahan untuk tetap di samping yang mulia alvero, jika kamu sampai terluka dan menghilang.


Erich berkata dalam hati sambil menunggu Ernest berpamitan kepada Alvero dan yang lain. Mewakili mereka berdua.


“Kalau begitu, kami pamit terlebih dahulu….” Ernest berkata sambil berencana sedikit mengangkat sedikit tubuhnya dari kursi.

__ADS_1


“Tunggu Ernest! Erich!” Ernest dan Erich yang sudah bersiap untuk bangkit dari duduknya langsung menghentikan gerakan tubuhnya begitu Alvero memeberinya perintah untuk berhenti.


“Ya Yang Mulia… ada apa?” Dengan sikap sopan, Ernest bertanya kepada Alvero yang sedang menatap ke arahnya.


“Nanti malam kalian berencana untuk melaksanakan rencana penyusupan kalian kan?”


“Ya Yang Mulia.”


“Ernest, untuk beberapa hari ini, karena Tira juga tinggal di sini, sehingga kamu tidak perlu mengawalnya salama 24 jam seperti biasanya, lebih baik kamu tinggal di mansion ini juga untuk sementara waktu.” Kata-kata Alvero membuat Ernest tertegun, karena tidak menyangka kalau secara tiba-tiba Alvero memintanya untuk tetap tinggal di mansion, dan itu artinya, Ernest bisa lebih sering melihat dan bertemu dengan Tira, meskipun mungkin hanya bisa saling berpapasan, menatap dari jauh, tanpa berani terlihat bicara berduaan di lingkungan mansion yang dipenuhi dengan banyak orang itu, sehingga mengharuskan mereka untuk bisa saling menjaga jarak, sementara waktu ini.


“Kenapa kamu terlihat begitu ragu untuk menjawab Ernest? Tinggalah di sini untuk sementara waktu ini. Atau kamu sedang memikirkan tentang penyelidikan lanjutan peneror Tira? Apa yang sedang kamu pikirkan?” Alvero yang teringat dengan perkataan Ernest bahwa dia juga mencurigai Luis sebagai pelaku teror pada Tira, berkata kepada Ernest begitu Ernest tampak diam dan tidak langsung menjawab iya atas permintaannya agar Ernest tinggal di mansion itu.


“Ah, maaf Yang Mulia….” Ernest yang sedikit tersentak kaget karena melamun sebelumnya, segera meminta maaf pada Alvero, membuat Alvero mendess..ssah pelan melihat Ernest yang terlihat sedikit salah tingkah saat ini.


“Kalau kamu khawatir dengan masalah penyelidikan peneror Tira, biarkan Edi dan Steven yang menyelesaikannya. Selama Tira di sini, mereka juga tidak perlu mengawasi Tira selama 24 jam, jadi biarkan mereka fokus dengan penyelidikannya.” Kata-kata Alvero menunjukkan itu adalah keputusan yang ingin ditaati.


“Baik Yang Mulia, saya akan segera mengatur tentang hal itu kepada Edi dan Steven….”

__ADS_1


“Bagus, kamu bisa lebih fokus bersama Erich untuk menyelesaikan tugasmu menyelidiki tentang laki-laki bernama Theo itu.” Alvero berkata sambil menoleh ke arah lain Erich yang memilih untuk diam tanpa ekspresi, hanya melihat dan mendengar apa yang terjadi di depannya tanpa mengeluarkan komentar apapun.


“Kalau begitu, kami mohon pamit…” Ernest kembali mengulang perkataannya untuk berpamitan kepada Alvero.


“Silahkan… kalian harus mempersiapkan dengan baik rencana kalian malam ini. Istirahatlan dengan baik hari ini, agar malam nanti kalian bisa lebih fokus dan segar.” Kali ini Alvero menjawab permintaan Ernest dengan sikap puas, karena Ernest mau mendengarkan dan mengabulkan permintaannya agar Ernest tinggal di mansion selama beberapa waktu ini.


Tanpa sadar, beberapa waktu ini, Alvero sungguh merindukan suasana dimana Erich dan Ernest yang selalu ada untuknya dan siap setiap saat untuk menemani dan melakukan tugasnya, dan itu normal sekali untuk Erich dan Ernest yang sudah belasan tahun ada bersamanya sebagai pengawal pribadinya, yang tahu banyak hal tentang Alvero melebihi siapapun di istana itu, kecuali nyonya Rose yang sudah merawatnya sejak bayi, dan Deanda sebagai istrinya, dimana tidak adalagi yang berusaha ditutup-tutupi Alvero di depan istri tercintanya itu.


Sejak kepergian Ernest ke Amerika untuk menjadi pengawal pribadi Tira, secara otomatis, posisi Ernest menjadi kosong, dan Alvero memutuskan untuk tidak menggantinya dengan siapapun, karena sifat Alvero yang tidak mudah untuk menerima kehadiran orang baru di sekitarnya.


Apalagi level rasa cemburu Alvero yang terlalu tinggi terhadap laki-laki lain karena keberadaan istri cantiknya, membuat Alvero yang mudah meledak-ledak tidak ingin adanya pria lain yang belum cukup dikenalnya, berada terlalu dekat dengannya, yang artinya, juga mendapatkan kesempatan untuk bisa sering berada dekat dengan permaisurinya.


“Terimakasih Yang Mulia, selamat siang. Selamat siang juga untuk Anda sekalian.” Ernest yang sudah bangun dari duduknya, segera berpamitan kepada Alvero dengan memberikan salam penghormatan khas Gracetian, dan juga sedikit membungkukkan tubuhnya untuk berpamitan kepada Ornado dan yang lain.


“Ernest, Erich, kalau ada sesuatu yang mungkin kalian butuhkan, hubungi saja salah satu pelayan yang ada di mansion ini, dan minta mereka untuk menyediakan itu untuk kalian.” Dave buru-buru berkata sebelum Erich dan Ernest berlalu dari hadapan mereka.


“Baik Tuan Dave, terimakasih untuk perhatiannya pada kami berdua.” Ernest menanggapi perkataan Dave dengan senyum, sebelum akhirnya mengalihkan pandangan matanya ke arah lain, dimana tampak sosok Evan, Enzo dan Tira sedang berjalan ke arah yang mereka yang sedang berkumpul saat ini.

__ADS_1


__ADS_2