
"Kak, haruskah ada seorang pengawal pribadi untukku? Dia pasti akan sangat cerewet dan banyak melarangku untuk melakukan ini dan itu...." Tira berkata dengan sedikit memberengut.
"Tira, dengarkan kata-kata kakakmu Alvero. Kalau kamu tidak mau ada pengawal pribadi untukmu, lebih baik kamu tidak lagi melanjutkan kuliahmu di Amerika. Toh di Gracetian juga ada universitas yang memiliki jurusan musik." Ava langsung menanggapi perkataan Tira yang langsung menoleh ke arah Ava sambil memegang bagian bawah lengan Ava.
"Please Ma, jangan paksa aku untuk melakukan itu.... Kalau begitu aku akan menuruti apa kata kalian, asal pengawal itu bukan orang yang bersikap menyebalkan, dan sok mengaturku mentang-mentang dia menjadi pengawal pribadiku yang dipilih oleh kalian untuk mengawasiku." Tira berkata sambil melirik ke arah mamanya, berharap wanita itu tidak lagi memaksanya untuk keluar dari kampusnya yang sekarang.
"Bagaimana denganmu Auntie Ava? Apa ada pengawal istana yang menurutmu pantas untuk menjadi pengawal pribadi Tira untuk sementara waktu ini?" Alvero bertanya kepada Ava yang terdiam sesaat.
"Untuk saat ini, ada beberapa nama pengawal yang aku kenal cukup baik dan memiliki dedikasi baik. Tapi untuk kemampuan mereka, aku tidak tahu apakah dia cukup mumpuni untuk melindungi Tira dari orang gila itu." Ava berkata sambil mengingat beberapa nama pengawal istana yang menurutnya cocok untuk bisa menjadi pengawal pribadi Tira.
"Kalau begitu, aku akan panggil Erich dan Ernest untuk meminta pendapat mereka berdua." Alvero berkata sambil meraih handphonenya dan segera meminta kedua pengawal pribadinya dengan wajah bak pinang dibelah dua itu untuk datang ke ruang kerja pribadinya yang ada di istana itu.
"Selamat malam Yang Mulia Alvero...." Baik Ernest maupun Erich langsung memberikan salam penghormatannya kepada Alvero dan juga yang lain begitu sampai di ruangan itu.
Sebuah anggukan kepala dan senyum di wajah Tira, Ava maupun Victor langsung terlihat begitu melihat sosok Ernest dan Erich di dalam ruangan itu.
Sosok dua pengawal pribadi Alvero, yang tentu saja dikenal oleh semua mereka yang tinggal di istana, termasuk keluarga Tira, meskipun diluar sana, sosok Erich dan Ernest tidak selalu tampil di depan umum walaupun mereka akan selalu di dekat Alvero.
Kehadiran Tira di ruang kerja pribadi Alvero cukup membuat Ernest sempat menahan nafasnya sebentar sebelum akhirnya kembali fokus pada Alvero, dan berusaha menenangkan desiran halus di hatinya saat matanya melihat sosok cantik dari Tira.
__ADS_1
"Erich! Ernest! kemari sebentar." Alvero langsung meminta Erich dan Ernest mendekat ke arahnya.
"Baik Yang Mulia." Dengan sikap sigap mereka berdua segera berjalan dan berdiri tepat di hadapan Alvero.
"Coba sebutkan padaku, siapa kira-kira pengawal di istana ini yang memiliki kemampuan terbaik, dengan karakternya yang juga sudah teruji tidak bermasalah." Alvero langsung meminta Erich dan Ernest menyebutkan siapa diantara teman-teman sejawatnya di istana yang cocok dengan kriteria yang baru saja disebutkan oleh Alvero barusan.
Sebelum Erich dan Ernest menjawab pertanyaan Alvero, mereka berdua saling berpandangan, lalu menggerakkan kepalanya sedikit, menganggukkan kepala mereka, seolah sedang melakukan telepati, sehingga tanpa mengucapkan kata-kata lewat bibir mereka, mereka sudah tahu apa yang harus dikatakan kepada Alvero.
"Edi."
"John."
"David."
"Georgio."
"Fedrich."
Secara bergantian Erich dan Ernest menyebutkan beberapa nama yang bagi mereka merupakan kelompok pengawal yang patut diakui kehebatan, loyalitas sekaligus attitude mereka yang baik.
__ADS_1
(Attitude adalah sikap terhadap objek tertentu dan seringkali disertai dengan tindakan. Dalam bahasa Indonesia, attitude sering diartikan sebagai sikap.
Sikap adalah pernyataan evaluatif terhadap objek, orang atau peristiwa. Hal ini mencerminkan perasaan seseorang terhadap sesuatu. Menurut Nuning Minarsih, Attitude itu sangat penting dan sangat memengaruhi kualitas dari seseorang.
Sikap atau attitude menurut Sherif bukan merupakan faktor hereditas. Maksudnya, sikap tidak dibawa manusia sejak dilahirkan. Sikap baru terbentuk lewat proses pembelajaran yang diterima manusia seiring perkembangan hidup serta hubungan manusia dengan objek yang memunculkan attitude-nya).
Nama-nama yang disebutkan oleh Erich dan Ernest, bukannya membuat Victor maupun Alvero merasa menemukan jalan keluar, justru membuat mereka bingung, karena kebetulan orang-orang yang disebutkan oleh Erich dan Ernest, kebanyakan dari mereka seringkali bertugas di sekitar istana, bukan di dalam istana, sehingga baik Victor maupun Alvero tidak terlalu mengenal nama-nama itu.
"Alexa...."
"Eh, sudah cukup... jangan menyebutkan lagi nama-nama orang yang tidak aku kenal itu." Alvero segera menghentikan Ernest yang bermaksud menyebutkan salah satu nama lain yang dia ingat cukup ahli dalam hal beladiri dan penggunaan senjata api, salah satu penembak jitu yang terlatih.
"Aku tidak mengenal semua nama yang kalian sebutkan tadi." Alvero mengucapkan kata-katanya sambil menghela nafasnya.
"Maaf Yang Mulia, sebenarnya untuk keperluan apa Yang Mulia membutuhkan nama orang-orang terpilih itu?" Ernest berusaha memberanikan diri untuk bertanya kepada Alvero yang tampak menghembuskan nafasnya melalui sela-sela bibirnya, karena tidak berhasil menemukan satu nama yang cocok untuk menjadi pengawal pribadi Tira untuk sementara waktu.
"Aku butuh seseorang untuk membantu putri Tira selama di Amerika, menjadi pengawal pribadi putri Tira." Ernest hampir saja menelan ludahnya tanpa sadar begitu Alvero menjelaskan tujuannya mencari info tentang para pengawal yang bisa dijadikan pengawal pirbadi untuk Tira.
"Eh...." Tiba-tiba Alvero yang masih memandang ke arah Ernest setelah menjawab pertanyaannya, sedikit menyipitkan matanya dengan mata tetap memandang ke arah Ernest.
__ADS_1
"Kenapa bukan kamu saja yang berangkat ke Amerika dan menjadi pengawal Tira untuk sementara waktu?" Secara spontan Alvero mengucapkan usulnya yang membuat semua mata langsung memandang ke arah Ernest, termasuk Tira yang hampir saja membuat Ernest tersentak kaget dengan wajah bingungnya menatap ke arah Alvero dengan pandangan tidak percaya.