MY BELOVED KNIGHT

MY BELOVED KNIGHT
PERTEMUAN TIDAK TERDUGA


__ADS_3

Ernest langsung menoleh begitu mendengar suara Tira yang dengan buru-buru membuka pintu mobil yang ada di sampingnya dan langsung memuntahkan isi perutnya.


Melihat itu, Ernest hanya bisa menahan nafasnya, dan langsung mengambil tissue untuk Tira.


Bagi Ernest, itu adalah hal yang normal sekali terjadi pada Tira begitu melihat foto dari tulang belulang e foto-foto itu bukanlah sekedar lukisan atau hasil editan dari orang iseng, tapi benar-benar kenyataan, sehingga bisa membuat orang seperti Tira merasa mual dan bahkan muntah seperti yang terjadi yang terjadi pada Tira saat ini.


Jika saja yang dilihat oleh Tira hanya sekedar setumpuk tulang belulang biasa dalam foto itu, bagi Tira mungkin tidak akan terlalu menjadi masalah, dan hanya akan memikirkan penyebab kematian mereka


Akan tetapi tulang dimana di beberapa bagian masih menyisakan daging membuat Tira yakin kematian pemilik tulang-tulang tersebut oasti tidak normal, ditambah lagi seperti yang dilihat Ernest, Tira juga melihat salah satu dari tengkorak kepalaj itu terlihat hancur setengahnya.


"Tira... apa kamu baik-baik saja?" Ernest bertanya dengan tangannya yang satu sibuk mengelus-elus punggung Tira, sedangkan tangannya yang lain masih memegang tissue.


"Mmmm... " Tira menjawab pertanyaan Ernest dengan sebuah gumaman pelan, karena perutnya masih saja terasa diaduk-aduk meskipun sudah sebagian besar dari isi perutnya.


Dengan melihat foto-foto itu pikiran Tira langsung melayang kemana-mana dan membayangkan hal yang tidak-tidak tentang bagaimana jahat dan kejamnya Luis terhadap orang lain.

__ADS_1


"Jangan terlalu dipikirkan. Aku yakin semua kejahatan pasti akan mendapat hukuman yang setimpal. Meskipun bukan kita yang memberikan hukuman, alam akan memberikan hukumannya." Ernest berkata sambil menyeka bibir Tira dengan tissue yang dipegangnya, setelah itu dengan cepat Ernest menyodorkan sebotol air mineral kepada Tira yang langsung meneguknya setelah Ernest membukakan tutup botol itu.


"Aku harap kita bisa segera membuatnya mendapatkan hukuman itu. Dan jika saja memungkinkan... kita bisa mengetahui siapa saja korban dari kekejaman pak Luis dan memberitahukan kepada keluarganya. " Tira berkata dengan sikap penuh simpati kepada para korban Luis.


Entah siapapun mereka dan entah kesalahan apa yang sudah dilakukan oleh mereka kepada Luis, bagi Tira mereka tidak pantas mendapatkan hukuman kejam seperti itu.


# # # # # # #


Apa sebenarnya yang sudah terjadi padaku? Aku sungguh tidak pernah menyangka orang seperti pak Luis yang begitu aku kagumi ternyata adalah orang yang sangat mengerikan.


Awalnya memang Janeta sedang mencari barang-barang yang dia butuhkan untuk dia beli sambil menenangkan pikirannya yang masih saja galau setelah pembicaraannya dengan Ernest dan Tira tadi., akan tetapi karena pikirannya yang terus melayang kemana-mana dan tidak fokus membuatnya sedari tadi Janeta berjalan berputar-putar di dalam swalayan tanpa ada satupun barang yang diambilnya.


Ah, pikiranku benar-benar kacau sekarang. Apa sebaiknya aku hentikan saja belanjaku sekarang. Aku bisa melakukannya lain kali. Lebih baik aku pulang ke rumah dan menenangkan diriku di kamarku.


Janeta berkata sambil mempercepat langkah kakinya sambil mendorong keranjang belanjaannya untuk bisa dia kembalikan ke tempatnya semula karena keinginannya untuk belanja sudah hilang.

__ADS_1


Hampir saja Janeta mencapai tempat dimana keranjang dorong yang berjajar rapi di tempatnya ketika Janeta mendengar adanya panggilab telepon dari Bram.


Bram sengaja menghubungi Janeta untuk membatalkan janji latihan mereka karena Bram harus mendadak pergi mengunjungi neneknya yang tiba-tiba masuk rumah sakit karena terkena serangan jantung.


"Oke Bram. Semoga nenekmu cepat sembuh." Janeta berkata sebelum memutus panggilan teleponnya dengan Bram.


"Aduh.... " Janeta yang mendengar suara pekikan kecil dari seseorang langsung menoleh kaget, karena Janeta langsung tersadar bahwa teriakan orang itu dikarenakan tabrakan dari keranjang belanja dorong yang tadinya dengan sembarangan didorong Janeta ke tempatnya karena Janeta merasa sudah sangat dekat dengan tempatnya.


"Ma... af...." Janeta yang berniat meminta maaf langsung tersentak kaget begitu melihat bahwa orang yang baru saja tertabrak kereta belanja dorongnya yang tadi dengan sembarangan hendak dia tinggalkan setelah Janeta mendorongnya.


Pak... pak Luis....


Dengan wajah kaget dan suara terbata Janeta menyebutkan nama Luis yang tampak sedang tersenyum ke arahnya, sebuah senyum yang bagi Janeta seperti senyum seorang malaikat penncabut nyawa yang tampan tampan tapu senyumnya sungguh membuat bulu kuduk merinding.


Apalagi dalam ingatan Janeta, Luis adalah orang yang sangat bahkan seingat Janeta tidak pernah tersenyum kepada mahasiswanya kecuali kepada Tira yang waktu hampir terlamnat mengikuti kelasnya.

__ADS_1


__ADS_2