MY BELOVED KNIGHT

MY BELOVED KNIGHT
MENGAKUI RASA YANG ADA DALAM HATI


__ADS_3

Sambil memainkan pianonya, bait demi baik, kata demi kata dalam lagu itu diucapkan oleh Tira dalam hati sambil sesekali mencuri pandang ke arah Ernest yang terlihat begitu menikmati memainkan saxsofonnya.


Setiap kata-kata dari lagu A Thousand Years yang sedang diucapkan Tira dalam hati, membuat dada Tira terasa sesak dan penuh dengan rasa meledak-ledak dalam hatinya, yang tidak bisa dia jelaskan dengan kata-kata.


Yang pasti rasa bahagia, berdebar, senang, kagum bercampur aduk jadi satu di dalam hati Tira saat ini setiap kali matanya mencuri pandang ke arah Ernest yang sedang memainkan saxsofon dengan piawainya.


Lagi-lagi, Tira harus mengakui bahwa dia kembali dikejutkan dan terpana karena kemampuan Ernest dalam memainkan saxsofon bukanlah seperti orang yang hanya sekedar bisa, tapi dia begitu ahli dalam memainkan alat musik yang satu itu, seolah dia banyak menghabiskan waktu berlatih untuk memainkan saksofon seperti para pemusik profesional.


Kalau tidak mendengar dengan telingaku dan melihat dengan mata kepalaku sendiri, aku pasti tidak akan percaya kalau Ernest bisa memainkan saxsofon seperi pemain saxsofon profesional. Ternyata, setelah dilihat dengan jelas dan sudah lebih mengenalnya, memang Ernest adalah tipe laki-laki yang mudah untuk membuat para gadis jatuh cinta padanya. Dan sepertinya aku juga menjadi salah satu dari mereka.


Tira berkata dalam hati dengan hati yang semakin berdebar karena sosok Ernest yang kembali menunjukkan sisi lain darinya yang membuat Tira semakin terkagum-kagum pada laki-laki tampan itu.


Dan tanpa disadari oleh Tira, Ernest pun beberapa kali tampak mencuri pandang ke arah Tira yang bagi Ernest tampak begitu memukau saat berada di depan piano dan memainkannya dengan begitu indah.


Sebentar kemudian, Tira melirik ke arah Bram yang juga terlihat sedang menikmati permainan gitarnya dengan kepala sedikit menunduk, dan melihat ke arah jari-jarinya yang sedang memetik gitar dengan lincah di sana.

__ADS_1


Sedang Janetta, yang sedang memegang biola, juga tampak berusaha memainkan biolanya dengan baik, sambil memejamkan matanya untuk menambah konsentrasinya dalam menggesek senar biola di tangannya agar dia bisa maksimal.


Pada akhirnya tanpa sadar terbawa oleh permainan musik teman-temannya yang lain yang begitu piawai memainkan alat musik yang dipegangnya masing-masing, Janetta mulai bisa mengikuti mereka meskipun belum sempurna.


Meskipun beberapa kali Bram meminta mereka menghentikan permainan musik mereka saat dirasa ada irama yang sedikit menyimpang satu dengan yang lain, tapi tidak perlu waktu lama untuk membuat mereka menjadi kompak, dan musik yang mereka mainkan menghasilkan satu musik instrumental yang cukup bagus, meskipun mereka tahu hasil yang mereka dapat belum maksimal dan masih perlu banyak berlatih untuk itu.


# # # # # # #


"Kita akhiri latihan kita hari ini ya. Aku rasa kita sudah cukup berlatih hari ini." Bram langsung berkata, begitu musik terhenti karena sudah mencapai akhir lagu setelah mereka berusaha memainkan lagu itu beberapa kali dan melakukan evaluasi terhadap kekurangan dari permainan mereka.


(Bow pada biola disebut dengan busur biola. Sebagai seorang pemain biola (violinist), mempunyai busur atau bow yang bagus merupakan salah satu hal yang penting.


Bow biola adalah tongkat kayu dengan kumpulan rambut. Bow adalah kunci untuk memainkan biola, karena diperlukan menggesek rambut ke senar yang disetel untuk menghasilkan suara yang diinginkan. Bow tidak cuma digunakan pada biola, tetapi juga pada cello, viola, dan bass, tapi biasanya bow-bow tersebut akan memiliki berat dan ukuran yang berbeda.


Alat penggesek biola atau terkenal dengan sebutan Bow, umumnya terbuat dari surai atau rambut ekor kuda atau serat sintesis).

__ADS_1


"Maaf kalau hari ini kita langsung mulai berlatih dengan waktu cukup lama, karena kalian semua tahu, meskipun kita punya waktu untuk berlatih, tapi waktu kita tidak banyak." Bram langsung berkata sambil tersenyum melihat bagaimana tindakan Janetta menunjukkan kalau dia cukup lelah memainkan bila tadi.


Apalagi Bram bisa melihat bagaimana Janetta yang sudah meletakkan kembali biolanya, tampak sedang sibuk memijat-mijat dan sesekali memukul-mukul kedua bahunya bergantian dengan tangannya yang terkepal.


"Tidak masalah Bram, yang penting kita bisa memberikan penampilan terbaik kita di hari H nanti." Janetta berkata sambil tersenyum, toh sebenarnya, meskipun harus berlatih cukup lama dan membuatnya lelah, memandang sosok Ernest dengan saxsofon di tangannya tadi membuat rasa lelah itu jadi tidak berarti dibandingkan dengan pemandangan keren Ernest tadi.


Jawaban dari Janetta membuat Bram tersenyum puas, karena sebenarnya dia merasa beruntung bisa satu kelompok dengan Tira yang memang permainan pianonya, teman-teman satu angkatannya belum ada yang bisa mengalahkannya, termasuk para seniornya yang sampai saat belum bisa menyaingi kemampuannya sehingga untuk pertunjukkan amal bersama dengan grup band jazz yang merupakan artis terkenal Tira yang terpilih.


"Aku senang sekali mendengar itu Janetta. Dengan permainan hebat kalian semua, aku yakin kita bisa mendapatkan nilai tertinggi yang harus kita capai untuk mata kuliah ini." Bram berkata sambil meraih tas ransel yang tadinya dia letakkan di salah satu sudut ruangan dengan ukuran luas yang berisi berbagai alat musik yang bisa digunakan oleh para mahasiswa jurusan musik untuk berlatih.


"Kalau begitu sebaiknya kita pulang sekarang, aku butuh asupan energi setelah berlatih keras hari ini. Sampai besok teman-teman." Janetta menanggapi perkataan Bram sambil berjalan mendekat ke arah Ernest yang sudah bersiap melangkah meninggalkan ruangan itu.


"Ernest... kebetulan tadi aku diantar oleh sepupuku karena tidak ada kendaraan yang bisa aku bawa ke kampus. Bisakah malam ini kamu mengantarku pulang?" Permintaan Janetta kepadanya, membuat Ernest sedikit menahan nafasnya sebelum akhirnya tersenyum dengan ramah kepada Janetta.


Sedang di bagian lain ruangan itu, Tira yang bisa mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Janetta kepada Ernest dengan jelas, mengernyitkan dahi dan memilih pura-pura untuk tidak mendengar itu, dan bergegas mendekat ke arah pintu keluar ruangan, dengan mata Ernest yang melirik ke arah Tira yang pergi menjauh dari mereka dengan terburu-buru.

__ADS_1


__ADS_2