
“Benarkah? Lalu bagaimana dengan Janeta dan Angel yang selalu mencari kesempatan untuk mendekatimu? Jujur saja, aku tidak nyaman saat melihat mereka sibuk mencari cara untuk mendekatimu, dan berusaha menarik perhatianmu seperti itu.” Ernest langsung tersenyum mendengar pertanyaan balik dari Tira.
“Ah… ternyata Putriku ini juga punya rasa cemburu ya?” Ernest berkata sambil meraih tangan Tira dan mengarahkannya ke bibirnya, lalu mencium lembut punggung tangan itu.
“Apa kamu pernah melihat aku menanggapi mereka? Apa kamu pernah melihat aku sedekat ini dengan mereka? Dan apakah, kamu pernah melihat aku melakukan ini pada gadis lain?” Ernest mengakhiri kata-katanya dengan mencium lembut bibir Tira yang sedikit terkejut dan membeliakkan matanya begitu merasakan hangatnya bibir Ernest yang sedang menempel di bibirnya saat ini.
Tentu saja tidak… kamu selalu terlihat menolak mereka, tapi tetap saja tidak bisa menghapus rasa tidak sukaku saat melihat bagaimana mereka berusaha mendekatimu.
Tira menjawab pertanyaan Ernest dalam hati, dengan tangan yang langsung melingkar di pinggang Ernest, memeluknya erat sambil mendekatkan tubuhnya ke arah Ernest, sehingga Ernest bisa semakin berdekatan, dan tanpa adanya jarak dengan Tira, yang sebenarnya membuat jantung Ernest berdetak dengan begitu keras, seolah sedang berlompatan di dalam sana.
Sensasi yang dirasakan oleh Ernest saat ini, saat tubuh Tira betul-betul menempel di tubuhnya, sungguh membuat pikiran dan hati Ernest betul-betul melayang, dipenuhi dengan rasa bahagia dan juga sensasi yang tidak dapat dia ungkapkan dengan kata-kata, hingga membuat suhu tubuhnya tiba-tiba terasa naik.
__ADS_1
Begitu juga dengan Tira yang langsung merasakan tubuhnya seolah ringan dan melayang, dengan perasaan di perutnya seolah ada ratusan kupu-kupu yang sedang berterbangan di sana, menimbulkan rasa geli, berdebar, dan juga bergairah.
Untuk kesekian kalinya, bibir mereka bertemu dan saling menikmati keberadaan mereka satu sama lain yang masing-masing menikmati bagaimana debaran dada mereka yang menggila, karena sadar bahwa orang yang sedang memeluk dan menciumnya saat ini, adalah orang yang paling mereka cintai, orang yang membuat mereka bisa merasakan penting dan berharganya keberadaan mereka satu sama lain.
Tanpa sadar, Ernest yang sedang menikmati manis dan lembutnya bibir Tira terbawa oleh hasrat yang menggiringnya untuk semakin memperdalam ciumannya, sehingga tanpa bisa dia kendalikan, tangannya bergerak kea rah tengkuk Tira dan menariknya untuk lebih mendekat ke arahnya, sekaligus menahan kepala Tira agar tetap berada di dekatnya, dengan bibirnya yang memaksa bibir Tira untuk terbuka, agar lidahnya bisa menjelajah masuk ke dalam sana.
Meskipun awalnya Tira merasa kaget dengan apa yang dilakukan Ernest, tapi rasa cinta yang dirasakan pada Ernest, membuatnya dengan senang hati mengikuti keinginan Ernest, dan membiarkan lidah Ernest menjelajahi mulutnya dengan penuh gairah, mengabsen setiap gigi yang ada di sana.
“Hah….” Tira menghembuskan nafasnya dengan menundukkan kepalanya begitu Ernest melepaskan ciumannya, lalu sedetik kemudian Tira langsung mendongak ke atas memandang ke arah Ernest sambil tersenyum manis.
“Sebaiknya… aku segera kembali ke apartemenku, sebelum aku kehilangan kendali atas akal sehatku, dan melakukan hal yang belum boleh untuk kita lakukan….” Ernest berkata sambil menggerakkan ujung ibu jari tangan kanannya, mengelus bibir Tira yang tampak sedikit membesar karena bengkak dan juga basah, akibat ciuman panas mereka barusan.
__ADS_1
Sentuhan itu, sebenarnya membuat Ernest kembali menginginkan bibir itu untuk bisa dia nikmati kembali, tapi Ernest sadar dia harus berhenti sekarang sebelum dia tidak bisa mengendalikan dirinya dan menginginkan hal yang lebih dari Tira, sedang mereka masih baru saja resmi menjadi sepasang kekasih hari ini, dan belum menikah.
Bagaimanapun, Ernest yang menjunjung tinggi norma-norma yang ada di Gracetian yang kadang sering diejek terlalu kolot, Ernest ingin menghormati Tira, dan dia tidak mau melanggar batasan yang tidak boleh dia lakukan sebelum mereka menikah, untuk menunjukkan bahwa dia sungguh mencintai sekaligus menghormati Tira sebagai kekasihnya.
Kata-kata Ernest membuat Tira tersenyum geli, karena dia dengan jelas bisa menlihat bagaimana nafas Ernest yang tadi semakin lama semakin menderu saat mereka berciuman tadi, sehingga Tira tidak merasa heran kalau Ernest memang harus menghentikan ciuman itu tepat pada waktunya, sebelum Ernest kehilangan kendali atas dirinya sendiri.
“Sebaiknya… memang begitu….” Tira yang masih saja kesulitan untuk menghentikan debaran di dadanya, berkata pada Ernest dengan sikap ragu.
“Apa… kamu baik-baik saja jika malam ini tidak ada yang menemanimu?” Dengan ragu Ernest bertanya kepada Tira.
Memang di satu sisi Ernest sadar bahwa dia harus segera pergi dari apartemen Tira agar dia bisa menata hatinya yang sedang bergejolak oleh gairah yang membara dalam tubuhnya, karena baru pertama kalinya dia merasakan bagaimana sensasi panas dalam tubuhnya karena hasratnya yang meledak-ledak karena kedekatannya fisik dan intenst dengan gadis yang yang dia cintai untuk pertama kalinya, yang sudah sejaka lama mengisi hati dan pikirannya. Membuat Ernest harus belajar untuk membiasakan diri dan mengendalikan diri saat di dekat Tira di masa depan, agar tindakannya kepada Tira tidak melewati batas.
__ADS_1
Akan tetapi, di sisi lain, Ernest yang baru beberapa waktu lalu mengetahui adanya peneror yang berusaha membius Tira, membuat Ernest tidak bisa tenang membiarkan Tira harus tidur sendirian tanpa pengawalan ketat darinya malam ini, dan jika dia membiarkan Edi atau Steven yang menjaga Tira, tentu saja dia tidak akan rela sedikitpun.